Jadwal Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Gunungkidul

Semarak Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2014 telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Even kebudayaan yang dihelat setahun sekali ini digelar di banyak tempat di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Jogja yang dikenal sebagai kota budaya tentu saja menampilkan produk kreatifitas terbaiknya pada acara festival seperti ini. Banyak pentas dan pertunjukan yang bagi saya sangat menarik. Hanya saja karena tempat pertunjukannya jauh dari rumah tinggal saya membuat tidak memungkinkan bagi saya untuk menonton semua event dalam rangkaian acara FKY ini.

Beruntung event Festival Kesenian Yogyakarta itu juga digelar di Gunungkidul, di kota Wonosari, tepatnya di bekas terminal lama yang terletak di desa Baleharjo. Event FKY diselenggarakan juga di Gunungkidul ini baru saya ketahui siang tadi ketika ada pemasangan jadwal FKY di pertigaan Siyono.

Berikut ini adalah Jadwal Festival Kesenian Yogyakarta di Gunungkidul:

1. Rabu, 3 September 2014

  • Jam 11:00 – 15:00 WIB – Kirab Budaya yang diikuti 18 kesenian unggulan yang mewakili 18 kecamatan se-Gunungkidul
  • Jam 15:00 – 17:00 WIB – Upacara Pembukaan dan Tarian Jathilan Kolosal
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Gelar Sanggar Tari
  • Jam 21:00 – 23:00 WIB – Pentas Campursari SRGK – Dhimas Tedjo Blangkon Gunungkidul

2. Kamis, 4 September 2014

  • Jam 15:00 – 17:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:30 WIB – Pentas Seni Reguler: Parade Kesenian Anak
  • Jam 21:30 – 02:00 WIB – Wayang Kolaborasi PEPADI Gunungkidul

3. Jum’at, 5 September 2014

  • Jam 15:00 – 17:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 23:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Parade Band

4. Sabtu, 6 September 2014

  • Jam 15:00 – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Gelar Sanggar Tari
  • Jam 21:00 – 23:00 WIB – Sendratari Ramayana

5. Minggu, 7 September 2014

  • Jam 15:00 WIB – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Gelar Sanggar Tari
  • Jam 21:00 WIB – 23:00 WIB – Reog Wayang Satria Pinandhita

6. Senin, 8 September 2014

  • Jam 15:00 WIB – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Musik Tradisional Thek Thek Laras Mudho – Tawar Sari
  • Jam 21:00 – 23:00 WIB Wayang Kampung Sebelah Ki Jlitheng Suparman

7. Selasa, 9 September 2014

  • Jam 15:00 WIB – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Orkes Keroncong
  • Jam 21:00 WIB – 23:00 WIB – Kethoprak Kolosal karya Bondan Nusantara

Mata acaranya ada banyak sekali. Rencananya besok malam saya akan menonton Gelar Sanggar Tari di Panggung Pentas Reguler dan bila tidak belum ngantuk akan menonton Campur Sari Tejo. Jadi bila kebetulan di sana ada yang melihat saya jangan segan untuk menyapa. Apalagi bila mau nraktir saya wedhang ronde, hehe.

Iklan

Wedhang Teh Nasgitel Pak Bedher Lagi

Poci Teh khas Pak Bedher. Penyuka teh nasgitel yang mana yang tidak ngiler melihat teh yang disajikan dengan piranti ini.

Malam ini, akhirnya saya dan beberapa teman yang biasanya nongkrong di wonosari[dot]com kesampaian untuk ngumpul-ngumpul menikmati suasana malam kota Wonosari. Sambil menikmati teh nasgitel racikan Pak Bedher. Jayeng teh yang paling menjadi ikon kuliner malam Wonosari.

Rencana untuk ngumpul-ngumpul wedangan sebenarnya adalah kemarin malam. Namun rencana kemarin gagal oleh hujan. Sampai rencana dadakan yang baru beberapa jam tadi dibuat dengan mention-mention di twitter -lah yang seolah mendapat restu oleh alam. Malam ini berlangsung cerah. Jadi wedangan tidak masalah.

Wedangan saya kali ini adalah yang pertama kali sejak kepindahan Pak Bedher ke tempat berjualan yang baru. Tidak jauh sebenarnya dari tempat jualan sebelumnya. Sebelumnya tempat jualan Pak Bedher ada di depan Bank BNI 46 Cabang Wonosari. Sekerang di seberang jalan. Di sebelah selatan jalan. Baca lebih lanjut

Nasib Ngangkot (Naik Angkutan Umum)

update:

Ah, akhirnya dapat juga gambar yang saya maksud. Gambar di atas saya ambil dari sini. Saya mendapatkan gambar ini setelah di Facebook saya diberi tahu oleh Marini Salwa akan kutipan yang sebenarnya:

A developed
country is not where the poor
have cars. It’s where the rich
use public transportation.

Seberapa maju suatu kota jangan dilihat dari seberapa banyak mobil pribadi yang dikendarai oleh penduduk di jalanan kota, tetapi lihatlah dari seberapa banyak masyarakat yang memanfaatkan sarana transportasi publik. Kira-kira begitu terjemahan bebas dari suatu baliho yang fotonya pernah diunggah ke situs jejaring sosial Facebook pada beberapa waktu lalu. Foto baliho itu kalau tidak salah diambil di suatu jalanan kota di suatu negara di Afrika. Poster yang bagi saya inspiratif.

Sebenarnya saya ingin memasang foto baliho itu di sini. Sayangnya saya lupa siapa teman saya yang mengunggah foto itu. Usaha saya untuk “ngubek-ubek” foto-foto di Facebook teman-teman saya pun berakhir nihil.

Kembali ke Laptop, halah 😀

Apa yang saya tangkap dari pesan baliho tersebut adalah adanya kecemasan akan dampak semakin membludaknya kendaraan pribadi di jalanan. Ini merupakan gejala umum di negara-negara berkembang. Baik itu di kota-kota di negara-negara di Afrika atau di negara berkembang manapun termasuk di Indonesia.

Sebagai orang yang tiap hari tetap mengandalkan angkutan umum untuk sarana utama mobilitas selama bertahun-tahun, saya mulai mengandalkan sarana transportasi umum sejak menginjak sekolah menengah sampai sekarang, tentu saja dengan mudah melihat dan merasakan dengan jengkel apa yang sedang terjadi.

Di kota kecil di daerah dimana saya tinggal dan bermobilitas, kota Paliyan, Playen, Wonosari, Yogyakarta sampai saat ini kualitas dan kuantitas angkutan umum semakin menurun. Semua armada kendaraan umum baik itu angkot kobutri, mini bus, dan bus saya lihat sudah tua renta. Saya duga armada-armada kendaraan umum itu paling muda berusia 20 tahun. Bisa dibayangkan kenyamanan seperti apa yang bisa diberikan oleh armada serenta itu. Selain armada yang renta, masalah lain dari pengguna angkutan umum seperti saya adalah jam keberangkatan angkutan umum yang tidak pasti. Tidak jarang saya merasa sangat jengkel karena harus menunggu angkot sampai lebih dari 30 menit, lebih dari 1 jam. Untungnya sekarang ada twitter dan facebook untuk membunuh waktu. hehehe Paling apes bila sampai tidak dapat angkot. Kalau sudah begini maka solusinya hanya naik ojek, atau mengandalkan jemputan teman saudara.

Bagi orang yang tiap waktu bermobilitas demi kelangsungan hidupnya, tidaklah banyak yang betah secara terus menerus bergulat dengan masalah angkutan umum yang payah. Kalau sudah begitu tentu saja mereka akan mulai mengadopsi dan menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitasnya. Saya amati dalam beberapa tahun terakhir jalanan sudah mulai makin padat dengan kendaraan pribadi. Kendaraan-kendaraan pribadi semakin bertambah seiring makin berkurangnya kendaraan umum yang beroperasi.

Saya kira tidak dalam waktu yang sangat lama lagi di kota-kota kecil dimana saya tinggal ini akan menyusul jakarta dalam hal masalah kesemrawutan lalu lintas. Bila negara/pemerintah tetap absen mengupayakan permasalahan yang tidak kelihatan mendesak ini. Bukankah di sini sudah ada terlalu banyak permasalahan yang harus segera selesai dipikirkan pemerintah. 😦

Saya kadang berpikir, apa keputusan saya untuk tetap menggunakan angkutan umum ini sesuatu yang konyol. Sebaiknyakah saya seperti banyak orang yang lain segera menggunakan kendaraan sendiri setiap hari daripada ngangkot. Toh tidak ada yang menghargai upaya orang-orang yang tetap ngangkot dengan pemerintah dalam hal ini memberikan fasilitas yang layak. Kok malah curhat, hehehe.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca Jokowi mulai berusaha membenahi sistem transportasi khususnya angkutan umum Jakarta yang akut, parah dan laten dengan segala pro kontra. Saya ingin melihat bagaimana Jokowi bisa mengurai kemacetan, lalu lintas dan sarana transportasi publik Jakarta. Harapan saya, Jokowi bisa melakukan sesuatu meskipun tidak dalam waktu dekat. Tidak ada hubungan sebenarnya antara angkot yang akan saya tumpangi dengan Kopaja atau Mayasari yang renta di di Jakarta sana. Namun mudah-mudahan bila berhasil bisa memberi Jokowi-effect ke kota-kota dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Bakmi Jawa yang Enak di Wonosari, Dimana?

Bakmi Jawa

Bakmi Jawa

Kawan dari Cianjur (Jawa Barat) ketika semalam kami tawari ajakan makan memilih ingin mencicipi Bakmi Jawa. Ia penasaran dengan Bakmi Jawa asal Gunungkidul yang terkenal enak-enak.

Bicara kuliner malam khas Wonosari memang belum afdol tanpa mencicipi Bakmi Jawa. Bakmi Jawa ada dimana-mana di tiap sudut malam kota Wonosari dan sekitarnya. Mana yang enak?

Bibir saya hampir menyebutkan nama seorang tukang Bakmi Jawa di Piyaman Wonosari. Untungnya nama itu belum terlanjur terlisankan. Saya spontan teringat apa kata Herman Saksono. Apa yang membuat Bakmi Jawa khas adalah lidah tiap orang selalu berbeda dalam merasai Bakmi Jawa. Tidak ada selera umum yang menobatkan Bakmi Jawa yang paling enak dimana. Tidak ada hegemoni selera seperti Soto Tan Proyek untuk cita rasa persotoan, Pak Turut untuk persatean, Mbok Sidas untuk persambelgorengan, Yu Jum untuk pergudhegan dan sebagainya.

Foto di atas adalah Bakmi Jawa yang dimasak oleh chef Suradi yang mangkal di depan garasi bis Maju Lancar. Kalau lidah saya merasa bakmi jawa pak Suradi ini agak manis-manis gurih. Meski saya tidak suka manis pada makanan berasa gurih, toh saya melahapnya dengan tuntas. 😀

Kalau menurut Anda, Bakmi Jawa mana yang paling enak cocok dengan selera? Atau belum pernah mencicipi? Yuk bareng kulineran malam Wonosari. 🙂

Pondok Seafood Bandar Jakarta-Wonosari, Enak dan Murah

Cumi Asem Manis Pedas di Bandar Jakarta Seafood Wonosari

Cumi Asem Manis Pedas di Bandar Jakarta Seafood Wonosari

Barangkali tidak banyak yang tahu tempat untuk menikmati  Seafood di Kota Wonosari – Gunungkidul. Tidak seperti Baso dan Mie Ayam yang terdapat dimana-mana di hampir tiap jalan gang di kota Wonosari, rumah makan Seafood di Wonosari hanya ada beberapa. Salah satunya adalah Baca lebih lanjut

Lampu Bangjo “Moderen”

Count Down Timer Equipped Traffic Light

Count Down Timer Equipped Traffic Light

Gambar di atas adalah apa yang saya maksud dengan Lampu Bangjo Moderen. Kata “Lampu Bangjo” memang kedengaran lucu, tetapi begitulah orang – orang di Gunungkidul dan Yogyakarta menyebutnya untuk menamai suatu Lampu Pengatur Lalu Lintas. Saya menyebutnya “Lampu Banjo Moderen” karena lampu pengatur lalu lintas ini telah dipercanggih dengan tampilan angka yang berhitung mundur menandakan sisa waktu kapan masih harus berhenti dan sampai kapan kendaraan harus terus berjalan. Penghitung angka mundur ini pada jaman saya masih belajar elektronika digital di sekolah di sebut, ya Pencacah Mundur, atau istilah menterengnya Count Down Timer. 😀

Foto di atas saya ambil siang ini di depan Gedung DPR D yang berhadapan dengan Kantor Pemda Gunungkidul. Dekat dengan Kantor Pos, kantor KUA, dan kantor – kantor pangembating praja yang lain.

Pemasangan Lampu Bangjo Moderen di down town 😀 kota Wonosari ini tentu akan mencitrakan kota Wonosari sudah canggih dan tidak ketinggalan dari Kotamadya atau Kabupaten lain yang sudah makmur dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat pemakai jalan. Dengan melihat angka yang berhitung mundur, pelalu lintas bisa memperkirakan kapan harus bersiap menginjak rem dan kapan bersiap dengan hati – hati menginjak/memutar pedal gas. Biar lebih tertib, santun dan enak, gitu.

Walaupun pada kenyataannya para pengemudi yang budiman malah saling adu keras menyalakan klakson ketika digit merah mulai memasuki angka lima. Weleeeh – weleeeeh …

Jaringan Data Telkomsel di Daerah Lebih Cepat

Jaringan Telkomsel Blackberry di perkotaan lebih lemot dari daerah pinggiran. Di daerah pinggiran jaringan terasa lebih lancar dari di kota walaupun di daerah pinggiran hanya mendapat sinyal 2G atau EDGE. Jaringan Telkomsel paling payah pada jam – jam antara 20:00 WIB – 22:00 WIB. Begitulah keluhan yang jadi perbincangan di mail list Telkomsel Blackberry pekan lalu.

Saya pun merasakanya. Kalau sedang di kota Jogja saya sering kali harus berpindah dari jaringan 3G ke 2G atau sebaliknya secara manual hanya agar email – email saya tidak “nyangkut” alias pending. Padahal kalau saya sedang di Wonosari dan sekitarnya tidak perlu serepot itu. Teman mail list saya yang bekerja untuk Telkomsel pun bilang kalau suka download ini itu via BB nya bila sedang tugas di Wonosari. Mengenai kecepatan berikut ini saya capture 2 speedtest pada jam 20:30 WIB dan 21:00 WIB. Yang lebih lambat memang terjadi pada jam 20:30.

Test Network pada jam 21:00 WIB

Baca lebih lanjut