Batoer Hill Resort and Resto

Mendengar nama Batoer apa yang serta merta terlintas di pikiran saya adalah deret gunung api purba Batur. Sisa gunung api purba yang telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai heritage gugus Gunung Sewu Geopark. Terbentang mulai dari Nglanggeran sampai pantai Wedi Ombo.

Tak heran ketika saya memberi tahu seorang kawan bila foto senja yang saya kirimkan melalui whatsapp merupakan yang saya potret di Batoer Hill Resort, kawan saya mengira saya sedang berada di suatu tempat di sekitar pantai Wedi Ombo.

Sejujurnya, saya malah mengira Batoer Hill Resort didirikan di sekitar Gunung Nglanggeran atau tidak jauh-jauh dari Embung Nglanggeran. Mengingat Gunung Nglanggeran dan Embung Nglanggeran merupakan salah satu destinasi Eko Wisata yang mendapat apresiasi positif dari banyak pihak. Ia bahkan mendapatkan pengakuan sebagai Desa Wisata dengan pengelolaan terbaik.

Saya salah. Namun tidak sepenuhnya salah. Batoer Hill Resort terletak di dusun Batur, Putat, Patuk, Gunungkidul. Batur terletak berdekatan dengan kampung kerajinan Batik Topeng Bobung, berdekatan dengan Kampung Emas Plumbungan, sekaligus tidak jauh-jauh dari Kampung Pitu di Nglanggeran. Untuk menuju ke Batur Hill Resort saya bisa mengikuti jalan yang sama yang menuju Gunung Nglanggeran. Baca lebih lanjut

Iklan

Taman Tebing Breksi

Senja Taman Tebing Breksi

Senja Taman Tebing Breksi

Saya sudah dua kali mengunjungi Taman Tebing Breksi. Pertama ketika saya mengikuti event Sleman Temple Run 2016. Kunjungan kedua saya ke sana belum lama. Akhir pekan lalu. Mengikuti acara NgabubuTRIP yang diadakan oleh komunitas Gerakan Pesona Indonesia Jogja (GenPI Jogja).

Tebing Breksi atau Taman Tebing Breksi menurut saya hampir sama dengan Telaga Biru di Semin – Gunungkidul yang beberapa waktu lalu pernah ngehit.  Persamaannya adalah keduanya merupakan bekas area tambang batu tradisional yang meninggalkan pemandangan alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Tempat-tempat itu akhirnya digarap menjadi suatu destinasi wisata.

Sejujurnya tempat wisata buatan bagi saya tidak menarik. Itulah kenapa meskipun keberadaan Tebing Breksi sudah lama saya dengar dan foto-fotonya pun telah bertebaran di media sosial tidak serta merta menarik saya berkunjung. Andai tidak karena mengikuti Sleman Temple Run atau NgabubuTRIP bisa jadi sampai sekarang saya belum menginjakkan kaki di Taman yang cukup dijangkau satu jam perjalanan dari rumah itu. Baca lebih lanjut

Menikmati Degub Ombak Pantai Buron

Pantai Buron Giri Karto Panggang Gunungkidul

Pantai Buron Panggang Gunungkidul Yogyakarta

Pantai Buron. Bukan Pantai Baron. Begitu saya menegaskan ketika kawan saya mempertumbenkan rencana saya ke pantai itu.

Pantai Baron bagi saya sudah terlalu biasa. Saya sudah ke sana pada tahun 90-an. Sampai sekarang tak terhitung sudah berapa kali saya ke pantai nelayan itu.

Berbeda dengan Buron. Keberadaan Pantai Buron baru saya dengar beberapa waktu. Memang selama ini saya kemana saja. 🙂 Perlu peta untuk secara pasti mengetahui letak pantai itu.

Menurut Google Maps Pantai Buron terletak persis di sebelah barat Pantai Gesing.  Berarti tidak ada masalah bila saya ke sana. Jarak dari rumah saya tidak begitu jauh. Hanya dulu ketika ke Gesing, sebagian jalan menuju pantai memang rusak. Ini juga bukan halangan berarti.

Baca lebih lanjut

Menikmati Mungil Pantai Butuh di Gunungkidul

Pantai Butuh Saptosari Gunungkidul

Pantai Butuh Saptosari Gunungkidul

Beberapa saat saya menahan laju sepeda motor yang saya kendarai. Saya memberikan kesempatan kepada sekawanan kera berekor panjang untuk menyeberang. Saya menunggu 30 sampai 40 -an ekor kera itu sampai semuanya berlalu.
Sekawanan kera yang tiba-tiba menyeberang itu membuat saya tertegun. Baru ketika semuanya benar-benar berlalu ada sedikit sesal. Kenapa saya tadi tidak buru-buru meraih ponsel dan memotret sesuatu yang tidak setiap saat bisa saya saksikan?

Sementara lupakan sekawanan kera yang membawa lari rasa sesal itu. Pelan-pelan saya melanjutkan diri berkendara menyusuri jalan cor blok menuju Pantai Butuh.

Butuh kehati-hatian  berkendara tersendiri di sepanjang jalan menuju pantai. Karena di kiri kanan jalan sepanjang kira-kira 3 km menyajikan pemandangan indah berupa ladang, pepohonan jati dan kandang sapi tradisional milik warga. Pemandangan ini jangan sampai membuat terlena. Sedangkan sepanjang jalan itu berupa cor blok sempit yang sangat mepet bila terpaksa berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Tanjakan dan tikungan pun terbilang tidak mudah bagi yang belum terbiasa.

Agar aman bebas dari rasa was-was kendaraan sebaiknya dititipkan. Ada semacam tempat parkir di sana yang dijaga oleh Pak Sutimin. Kalau saya, tadi pagi membawa motor sampai ke bibir pantai, tidak saya titipkan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pantai Butuh, seperti nampak dalam foto merupakan pantai berpasir putih khas Gunungkidul. Pantai yang tidak luas, yang merupakan cekungan yang diapit oleh perbukitan di sisi kanan kirinya.

Bila berkunjung ke pantai ini pada pagi hari, yang akan kita dapati barangkali adalah pantai yang kalem. Semakin siang ombak biasanya semakin garang. Segarang yang menyambut saya siang tadi. Begitu besarnya ombak sampai-sampai hamparan pasir putih yang seyogyanya bisa dipakai duduk-duduk tersapu.

Baca lebih lanjut

Menikmati Kemolekan Pantai Widodaren

IMG_20170501_140450_613

Pantai Bukit Widodaren

Sebuah pertanyaan untuk saya: Pantai indah itu seperti apa? Jawabanya? Seperti yang selalu saya cari. Suatu pantai yang memiliki perpaduan: debur ombak, pasir putih, tebing karang, pohon-pohon pandan atau pohon-pohon cemara. Dan yang terpenting sepi tak banyak polusi bak pantai pribadi.

Apa yang saya sebut terakhir membuat menemukan pantai-pantai ini tidak terlalu mudah. Bila pun ada biasanya harus dibayar dengan mahal. Bukan dengan uang namun setidaknya dibayar dengan menempuh jalan terjal berlanjut dengan menyusuri setapak menyisir bibir tebing curam. Baca lebih lanjut

Seru Seruan di Media Bootcamp Brother di Yogyakarta

Saya bimbang apakah akan menerima tawaran Andre melalui telefon siang itu atau menolak dengan sopan. Meski tanpa berpikir panjang saya mengiyakan undangan untuk mengikuti Media Gathering Brother di Yogyakarta yang akan dilangsungkan pada tanggal 8 – 10 Maret 2017. 2 hari menjelang hari H saya gunakan dengan gegas untuk mengatur pekerjaan-pekerjaan di kantor sebelum saya tinggal beberapa jenak yang akan datang.

null

Meeting point bagi peserta Gathering sesuai di itenary yang dikirimkan kepada para peserta adalah di Handayani Special Culinary di Jalan Laksda Adi Sucipto. Menjelang jam makan siang saya sudah tiba di sana. Sementara teman-teman media yang berangkat dari Jakarta malah sudah jalan-jalan ke Taman Wisata Candi Ratu Boko. Biarlah saya menunggu dulu di resto. Toh mereka tidak setiap saat bisa jalan-jalan ke Candi Ratu Boko, mumpung.

null

Di Handayani Special Culinary ini acaranya memang makan siang saja, sambil diselai dengan perkenalan-perkenalan dengan tim dari PT Brother International Indonesia. Dengan awak media dan blogger yang diundang saya juga belum kenal semua, di sini saya banyak menambah kenalan baru selain berhaha hihi dengan yang sudah kenal baik seperti Rere dan Mbak Injul. Baca lebih lanjut