Air Putih Lebih Baik

Saya 120% percaya kalau meminum lebih banyak air putih (air jernih) itu baik untuk kesehatan. Namun demikian, menjadikan keyakinan selaras dengan perbuatan juga senantiasa tidak mudah. Ketidakmudahan itu bukan berarti karena sulit untuk mendapatkan air putih. Di rumah maupun di tempat dimana saya bekerja, air minum berupa air jernih selalu tersedia gratis dalam jumlah yang melimpah.

Begitu juga dengan jenis minuman lain. Teh dan Aroma kopi yang menggoda iman juga tersedia. Juga gratis. Kalau soft drink dan air minum kemasan juga tersedia. Meski harus ditebus dengan sekian rupiah yang dipungut dari dompet. πŸ˜€

Ngngngng … Baiklah saya sambilan minum air putih terlebih dulu untuk ginjal yang lebih sehat.

Iklan

Tidak Ada Lagi Tempat Berteduh.

Dari blog_stuff

Gambar diatas merupakan puing – puing reruntuhan Gardu Ronda di dusun Karangmojo A. Entah mengapa Gardu Jaga ini diruntuhkan. Mungkin karena usia Gardu ini sudah jompo sehingga masa baktinya sudah dianggap cukup. Atau bisa jadi, letak Pos Ronda ini tidak strategis lagi sehingga dipandang perlu untuk direlokasi.

Meskipun bagi saya pribadi, sangatlah merasakan betapa penting dan strategis keberadaan Gardu Jaga ini. Siang kemarin misalnya, hujan lebat tiba tiba mengguyur dan saya bingung kemana saya harus berteduh.

Dari blog_stuff

Untung, pada siang itu saya masih bisa mencari alternatif untuk berlindung dari hujan yang membasah kuyupkan di salah satu rumah warga.

Susah itu yang bikin Enak

Siang ini saya sedang menyimak lagu – lagu yang saya suka pada tahun 1995 – 1998. Yang entah kenapa, beberapa lagu – lagu yang saya suka pada tahun itu senantiasa ingin saya dengar berulang – ulang. Beda dengan lagu yang hit setelah tahun 2003. Hit setelah 2003 rasanya berdaur lebih pendek.

Ketidakmudahan untuk setiap saat memperdengarkan untuk saya, lagu yang sangat disuka pada tahun sebelum tahun 2000 bisa jadi merupakan alasan penting. Mengapa? Harga kaset atau CD pada tahun itu tentu saja sangat mahal untuk kantong ukuran pelajar dari keluarga pas – pasan seperti saya. Beda dengan era sekarang yang kalau mau beli sudah sedikit – sedikit bisa mengumpulkan uang. Atau kalau mau bisa – bisa saja mengunduh dari internet sepuasnya. πŸ˜€

Masih kuat diingatan saya, bagaimana semalaman mantengin lagu – lagu di radio. Dan sekali – kali berharap kebaikan hati penyiar radio untuk memutar lagu – lagu yang di request. Pernah suatu kali jadi pusing kepala gara – gara kaset pita pinjaman jadi kusut karena mekanik tape yang tidak beres.

Sudahlah, saya dengerin lagu – lagu ini dulu! :). #nowplaying MLTR Nothing to Loose

Betah di Kampung Halaman

Kemarin sore, saya bertemu dengan salah seorang teman sepermainan. Rasa seperti sudah sangat lama tidak bertemu. Memang kami bertemu tidak sering. Hanya beberapa kali dalam setiap tahun. Umumnya kami bertemu pada hari – hari libur atau hari raya saja. Kebetulan kemarin teman saya yang biasa dipanggil Pak Bina itu pulang kampung bersama anak istrinya karena orang tua/ ayah nya perlu di jenguk karena sedang sakit. Ayah Pak Bina ini sakit mungkin karena merasa kesepian ditinggal merantau semua anaknya.

Seperti orang – orang lain yang jarang bertemu, biasa kami ngobrol apa saja. Saya senang teman saya itu punya banyak cerita dan berkenan berbagi untuk saya. Kalau saya sih, rasanya tidak ada yang perlu banyak – banyak saya ceritakan. Teman saya itu pernah mengalami apa yang saya rasakan. Sedangkan saya belum pernah merasakan bagaimana rasa hidup lama jadi perantau di ibukota.

“Kamu kok betah sih, tinggal di kampung?” Giliran teman saya bertanya. Pertanyaan ini bukan yang tidak pernah ditanyakan kepada saya sebelumnya. Namun tetap itu bukan pertanyaan yang bagi saya mudah untuk mejawab. Persis beberapa hari yang lalu juga ada teman lain yang bertanya, “Mase, mase … Mengapa tidak mencoba berkarir di ibukota sih?”. Saya pun menjawab enteng sekenanya, “ngngngng, karena saya tidak cukup punya kompetensi untuk mengadu nasib di ibukota, non”

Jawaban itu saya tahu kalau bukanlah jawaban yang diinginkan orang – orang yang menanyai saya. Tetapi biarlah jawaban itu dulu yang saya gunakan sebelum saya menemukan jawaban yang bener tur pener.!

Selamat Berakhir Pekan, Sahabat!

Mengapa di-SEO?

Konon SEO itu Search Engine Optimizer. Saya tidak mudeng – mudeng amat sih. Kalau tidak salah konon merupakan cara untuk mengoptimasi website kita agar lebih mudah di kenali oleh mesin pencari, terutama google. Syukur – syukur bisa dapat page rank tinggi. Meski website itu belum banyak yang akses atau konten yang ada masih belepotan. SEO identik dengan menggenjok trafik ke dalam suatu website.

Page rank mungkin penting bagi pebisnis yang mengandalkan internet sebagai media utama promosi, atau sekalian eBussines, eMarketing. Atau juga penting bagi yang pengin narsis di internet.

Saat ini saya tidak atau belum tertarik untuk belajar SEO. Saya masih cuek cuek saja dengan tawaran untuk berbagai seminar dan pelatihan SEO. Memang itu juga terkait dengan pengalaman kekecewaan pribadi.

Kecewa rasanya ketika saya googling mencari suatu informasi dan mendapati apa yang tampil di pencarian teratas sama sekali tidak berkorelasi dengan apa yang saya maksud. Tidak jarang apa yang saya perlukan malah ada di halaman dua atau lebih bontot. Dihalaman depan malah berisi link – link iklan tak jelas. Seperti yang paling mengganggu adalah freejit. Entah apa itu, yang jelas sering menjadi sampah yang sering tiba tiba nongol di depan mata.

Itu ulah SEO, demikian saya pikir. Entah kenapa googleΒ  membiarkan keberadaan pengganggu – pengganggu kualitas mesin cari itu?

Mengapa suatu berita penting dibaca?

Di keseharian, kita tinggal dan hidup bersamaan dengan arus informasi yang sangat deras dan cepat. Bagi saya tidak mudah untuk dapat senantiasa mengikuti aliran informasi itu, meskipun saya tahu, bahwa sangat penting untuk senantiasa update. Membaca media berita, bagi saya adalah penting untuk menjadi tidak kuper dan membuka diri.

Meski rasanya juga tidak mudah untuk membaca semua kabar yang ada di media. Sekarang ini, pilihan media ada terlalu banyak. Dan tidak jarang dari banyak media itu, saya tidak menemukan informasi yang saya cari. Atau informasi yang tepat untuk suatu kebutuhan.

Tidak mudahnya mencari informasi yang sesuai itu telah sepertinya sejak lama di sadari banyak orang sehingga telah ada banyak mekanisme untuk mengelombokan suatu berita dalam genre genre tertentu. Benar ngga ya saya memakai istilah genre? Ngga pa pa tidak masalah. Itu adalah pilihan kata saya. hehehe

Mekanisme umum yang saya gunakan untuk membedakan penting dan tidak layaknya suatu berita diikuti memang dengan memilih kategori atau genre nya, kemudian dari headline, top news, de el el. Namun lama kelamaan saya pikir itu tidak cukup.

Harus ada mekanisme yang lebih personal dan cocok dengan pilihan kepribadian dan kultur sosial dimana saya berinteraksi. Saat ini, rasanya saya lebih sesuai memanfaatkan rekomendasi dari orang – orang di sekitar saya yang saya percaya.

Rekomendasi saat ini bagi saya sudah menggantikan online. Itulah mengapa saya saat ini lebih dulu men skim, posting di twitter dan umpan berita (RSS) yang di share oleh teman teman saya.

My first Buzz, yay

Akhirnya, saya dapat nge-buzz dari inbox gmail saya. Memang saya yang ketinggalan sampai – sampai tidak mendengar gosip – gosip akan buzz sejak jauh hari. Rasanya seperti berbeda dengan Wave beberapa waktu lalu yang bikin heboh semua orang. Namun entah mengapa malah – malah teman teman saya menyepi dari deburan wave.