ASUS ZenPower, Cukupkah “Amankah” untuk Smartphone Kita?

IMG_5471

Masa transisi saya dari feature phone ke smartphone adalah ketika pertama kali saya menggunakan Blackberry Bold 9000 pada sekitar tahun 2010. Terlepas dari segala kelebihan, kemudahan dan pengalaman baru yang dibawa oleh sebuah smartphone ada satu hal dimana saat itu saya harus beradaptasi. Saya harus mulai belajar menerima akan sebuah Blackberry yang daya tahan baterenya jauh lebih singkat dari handphone saya sebelumnya. Bila sebelumnya saya cukup sekali charging dalam 2-3 hari, saat itu dalam sehari saya bisa sampai 3 kali melakukan charging. Seperti minum obat saja. Hal itu jelas merepotkan. Apalagi ketika saya harus bepergian ke tempat-tempat yang tidak mudah menemukan colokan listrik.

Memang, pada saat itu beberapa teman saya yang menggunakan Blackberry dan smartphone lain sudah ada yang menggunakan batere backup yang kemudian populer dikenal sebagai Power Bank. Namun saat itu saya enggan menggunakan Power Bank untuk Blackberry saya. Alasannya saya khawatir charging dengan Power Bank yang tidak jelas spesifikasi, standard dan kualitasnya akan merusakan gadget yang harganya tidak murah ukuran saya. Jangankan mencoba menggunakan Power Bank, mengisi ulang batere dengan charger non ori/charger pihak ketiga saja tidak ingin saya lakukan. Kecuali bila terpaksa.

Baca lebih lanjut

League Ghost Runner: Sepatu Long Run yang Responsif, Ringan, Soft dan Berdesain Keren

League Ghost Runner

League Ghost Runner

Desain sepatu long run ini keren sekali. Begitu kesan pertama saya ketika unboxing League Ghost Runner dari kotak kemasannya yang minimalis berwarna hijau. Kombinasi warna hijau volt dan biru navy, serta warna putih di bagian midsole yang dipilih oleh desainer untuk sepatu ini dengan cepat saya rasakan mampu memberikan suatu ‘bold message‘ sebuah long run shoes yang tidak akan biasa-biasa saja menyelesaikan sebuah lintasan lari. Curved line warna hijau volt di sekujur sepatu yang dikombinasi dengan exo skin yang didesain sebentuk polygonal menciptakan kesan kokoh sekaligus membawa nuansa aestetik tersendiri. Aesthetic feels ini dipermanis dengan digunakannya tali sepatu berpola seperti batik. Saya suka.

Dibanding produk sepatu League lain, apa yang paling saya suka dari desain Ghost Runner adalah penempatan logo L (League) yang sekarang dipindah di sisi belakang sepatu. Karena entah kenapa saya tidak suka dengan logo L yang ditempatkan di samping luar sepatu.

Sampai ke tangan saya pada awal Ramadhan bulan lalu, Ghost Runner telah menjadi bagian dari ujian kesabaran tersendiri. Ketika sedang berpuasa jelas-jelas saya tidak akan bisa mencoba menggunakan sepatu ini untuk long run. Saya yang kebetulan sedang sakit flu dan batuk pada bulan puasa telah memaksa untuk membatalkan niat untuk beberapa kali berlari pada malam hari. Baiklah, saya harus menunggu sampai hari raya Iedul Fitri usai.

Apa yang bisa saya lakukan dengan ‘keluarga baru’ ini pada Ramadhan lalu adalah sebatas mencoba-coba mengenakan sepatu ini di kaki, merasakan insole yang lembut di kaki, merasakan toebox yang roomy dan tentu saja suka dengan desain sepatu yang menurut saya terasa sporty. Itulah kenapa pertengahan Ramadhan kemarin saya ‘meng-abuse’ kenyamanan dan desain sporty sepatu ini ketika saya sebagai blogger diundang oleh PT Sampoerna untuk mengikuti Cultural Trip dan Parade Bedug asyik selama sehari-semalam di kota tetangga.

First 10 KM with League Ghost Runner

First 10 KM with League Ghost Runner

Lari pertama saya setelah beristirahat latihan selama hampir satu bulan pada tanggal  19/07/2015 saya persiapkan dengan hati-hati. Melengkapi League Ghost Runner sebagai pilihan sepatu untuk sebuah easy paced medium distance run, saya memilih menggunakan kaos kaki dry fit namun yang lebih chussy dari biasanya. Saya menginginkan perlindungan maksimal untuk telapak kaki dan jari-jari kaki. Untuk itulah saya juga mengoleskan Vaseline di sela-sela jari-jari kaki.

Sambil menjalankan aplikasi Running Tracking, saya mengingatkan diri sendiri sekaligus berjanji agar tidak tergoda untuk tergesa-gesa menaikan pace. Saya mulai berlari dengan pelan, memastikan foot strike saya benar, memastikan gesture dan cadence agar saya berlari dengan running form terbaik yang saya bisa, termasuk bagaimana seharusnya saya mengatur pernafasan.

Ghost Runner memberikan kaki saya landing yang lembut di jalan aspal jam 6 pagi yang masih lengang di desa dimana saya tinggal.  Saya tidak merasa sepatu ukuran 42 ini memberikan berat pada kaki saya selayaknya baru saja mengenakan sebuah sepatu long run setelah tidak menggunakannya selama sebulan. Rasanya Ghost Runner jauh lebih ringan dari sepatu lari harian saya. Benar saja karena kemudian menurut timbangan sepatu ini hanya berbobot kurang dari 250 gram. Jauh lebih ringan dari sepatu harian saya dari brand lain yang berbobot lebih dari 320 gram.  Baca lebih lanjut

Memilih Rumah, Tidak Mudah Bagi Pemula

Ditanya bila suatu saat harus tinggal di Jakarta kira-kira lebih memilih membangun sebuah rumah baru atau membeli sebuah rumah yang siap huni? Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah sulit. Saya pasti memilih membeli sebuah rumah baru yang siap huni.

Pertanyaan berikutnya adalah rumah seperti apa persisnya yang saya inginkan untuk saya beli dan kemudian dijadikan tempat tinggal (hunian) bersama keluarga. Ini mulai tidak mudah untuk menjawabnya. Mengingat akan ada banyak sekali faktor yang harus diperhatikan dengan cermat dan seksama.  Dan banyak hal yang harus dikompromikan dipastikan menjadi faktor kenapa memilih sebuah rumah hunian membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak singkat.

urbanesia

Untuk memilih sebuah rumah hunian apa yang pertama kali akan saya pertimbangkan adalah spefisikasi rumah harus memenuhi kebutuhan tinggal nyaman keluarga saya. Rumah hunian harus memiliki setidaknya 3 kamar, satu ruang tamu, sebuah ruang dapur dan kamar mandi di dalam. Sebagai penyuka gaya hidup minimalis, saya tidak mementingkan sebuah rumah yang didesain terlalu rumit, rumah yang dirancang mudah dibersihkan, ditata dan dikonfigurasi ulang akan lebih saya suka. Namun bagi saya apa yang harus ada di sebuah rumah hunian adalah ketersediaan sarana air bersih, listrik yang stabil, dan yang selalu terpenting adalah ketersediaan akses internet. Itulah kenapa rumah yang berada dalam jangkauan jaringan fiber optik akan saya lirik pertama kali demi kelangsungan pekerjaan saya yang tidak bisa lepas dari koneksi internet cepat dan handal.

Lingkungan dimana rumah hunian adalah faktor pertimbangan saya berikutnya. Baca lebih lanjut

Iedul Fitri 1436 H, Merayakan Kemenangan, Menyebarkan Kebahagian

11717482_10206738365765084_8126820530962927721_o

1 Syawal 1436 di Indonesia jatuh serempak bertepatan pada tanggal 17 Juli 2015. Muslim di Indonesia dari Meraoke sampai Sabang, sepanjang yang saya tahu, sudah shalat Ied kemarin pagi. Saya pada Sabtu pagi ini sudah tidak mendengar ada takbir Ied berkumandang. Kabar bahwa Ied di Indonesia yang akan jatuh pada dua hari yang berbeda yang berhembus sejak pertengahan Ramadhan tidak benar-benar terjadi.

Bagi saya sebenarnya tidak masalah apakah Ied dilaksanakan secara serampak atau dilaksanakan pada hari yang berbeda sesuai dengan pendapat dan keyakinan masing-masing. Umat Islam di Indonesia sudah terbiasa dan dewasa menyikapi perbedaan jatuhnya hari raya seperti ini. Bahkan kemarin, ketika wacana hari raya akan jatuh pada hari yang berbeda, saya sudah berencana untuk memotret/mendokumentasikan shalat Ied yang dilaksanakan oleh jamaah yang merayakan berbeda dengan hari saya melaksanakan shalat Ied. Ini yang tidak mungkin bisa saya lakukan ketika lebaran jatuh serempak seperti sekarang. Karena saya akan lebih memilih shalat Ied daripada meninggalkannya demi foto-foto.

Hari Raya Iedul Fitri, atau keluarga kami menyebutnya sebagai Lebaran merupakan momen kebahagiaan. Saya percaya semua muslim merayakan hari kemenangan ini dengan riang gembira. Islam sendiri mengajak menyebarkan kebahagian Iedul Fitri dengan mewajibkan ummatnya membayar zakat fitrah agar fakir miskin pun bisa dan turut merayakan hari bahagia dengan gembira sepenuhnya.

Alhamdulillah, pada tahun ini Allah memberikan kepada kami nikmat hari raya ini sepenuhnya tak kurang suatu apa.  Semua anggota keluarga saya bisa berkumpul di rumah dalam keadaan lengkap dan sehat. Tidak akan pernah kami lupakan bagaimana selama bertahun-tahun kami merayakan lebaran tanpa adik saya, bahkan tanpa kabar darinya. Tahun ini sejak beberapa tahun lalu adik sudah kembali ke pelukan keluarga. Sehat adalah nikmat yang tiada tara. Masih lekat di ingatan keluarga kami bagaimana beberapa tahun lalu keluarga kami mendapatkan ujian berupa merayakan lebaran di rumah sakit. Lebaran kali ini saudara-saudara bapak dan ibuk saya pun, alhamdulillah sehat-sehat. Puji syukur ya Allah atas semua nikmat dan bahagia ini.

Nuansa bahagia lebaran kali nampak terlihat dimana-mana. Baca lebih lanjut

Nikmat dan Hikmah Ramadhan

Saya menutup makan sahur saya tadi dengan segelas air putih ketika tanda Imsya’ diperdengarkan dari pengeras suara di masjid-masjid. Ini adalah makan sahur saya yang ke-29 dan Insya Allah merupakan sahur tarakhir Ramadhan kali ini. Tanpa terasa bulan penuh kemuliaan ini berlangsung begitu cepat. Tamu agung akan segera meninggalkan. Insya Allah nanti malam takbir kemenangan akan bergema dimana-mana.

Dibandingkan dengan setidaknya dua bulan Ramadhan sebelumnya ada beberapa hikmah, pelajaran dan nikmat Allah yang diberikan kepada saya sekeluarga kali ini.

Mulai dari berbuka puasa. Dari 28 buka puasa yang dilalui 26 diantaranya kami langsungkan di rumah bersama keluarga yang lengkap: Bapak, Simbok, Saya dan Adik Saya. Hanya dua kali saya berbuka puasa di luar mengikuti acara buka bersama. Ini anugerah yang jarang terjadi mengingat sebelumnya selalu saja ada kegiatan sampai tidak memungkinkannya setiap hari bagi kami untuk makan berbuka puasa dalam satu meja.

Sahur. Sampai makan Sahur yang ke-29 kami sekeluarga belum pernah satu kali pun terlambat bangun. Alhamdulillah.

Nikmat Sehat. Puasa yang bertepatan dengan pergantian musim di lingkungan dimana saya tinggal merupakan ujian tersendiri bagi kami. Awal puasa adiklah satu-satunya yang tidak tumbang didera pergantian musim yang dingin. Alhamdulillah atas kehendak Allah, di penghujung puasa ini kami lebih sehat sehingga memungkinkan kami berusaha beribadah Ramadhan dengan lebih baik.

Ada beberapa peristiwa yang terjadi semata atas kehendak Allah dan bisa dijadikan pelajaran hikmah. Salah satunya adalah terjadi pada hari Minggu, 5 Juli 2015.

Sesampai di rumah sepulang dari Pantai Kesirat dan Woh Kudu di desa Girikarto, kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul saya sadari dompet yang saya bawa tidak berada di saku lagi. Kemungkinan terjatuh di sepanjang jalan dari tempat parkir Pantai Woh Kudu sampai di rumah saya. Jaraknya kira-kira 30 km. Mencari dompet yang terjatuh di suatu tempat di rentang jarak 30 km saya ibaratkan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Namun saya tetap berusaha mencarinya. Ini adalah ikhtiar saya menjaga amanah Allah yang berupa rejeki yang dititipkan kepada saya.

Baca lebih lanjut

Cultural Trip Solo: Semangat Pertemanan Dalam Bedug Asyiik 2015

IMG_4395.bedug

Rangkaian Cultural Trip Solo pada hari Selasa, 7 Juli 2015 itu sampailah di stadion Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Tempat dimana puncak acara Bedug Asyiik 2015 Solo diselenggarakan. Memasuki stadion menjelang waktu Ashar kami sudah disambut oleh panggung yang megah di tengah lapangan. Sebuah panggung dan area pertunjukan yang nampak didesain interaktif. Saat itu panitia sedang menyelesaikan tahapan akhir persiapan acara ini.

Dari tenda ngobrol/tenda media, kemudian suara tetabuhan mulai terdengar bersahutan dengan audio dari panggung utama yang sedang dilakukan check sound. Berdasarkan itinerary, jam 16:00 wib seharusnya acara lomba Tabuh Bedug sudah dimulai. Kami pun bergegas menuju ke sana. Benar saja salah satu grup Tabuh Bedug sudah unjuk kebolehan sementara beberapa yang lain, kira-kira 5 grup lainnya sedang menunggu gilirannya masing-masing.

IMG_4478.bedug

Saya dan rombongan media pun segera mengambil tempat terbaik untuk memotret dan menikmati akustik tabuhan Bedug yang rampak dengan improvisasi dan kreatifitasnya masing-masing. Baca lebih lanjut

Pantai Ngeden di Desa Krambil Sawit, Apa yang Membuatnya Berbeda?

IMG_4720.ngeden landscape

Memang, Pantai Ngeden di Gunungkidul keberadaannya belum cukup banyak diketahui dan dikenal wisatawan. Pantai yang bisa digolongkan baru dalam destinasi wisata di kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta ini terletak di desa Krambil Sawit, kecamatan Saptosari. Untuk menuju ke Pantai Ngeden dari arah kota Wonosari, pengunjung bisa mengikuti arah jalan Paliyan Panggang. Sesampainya di pertigaan Jetis silakan belok kiri mengikuti petunjuk arah yang sudah manis terpasang. Petunjuk arah ini bertuliskan jarak ke pantai 7 km. Jarak sebenarnya menurut odometer All New Soul GT saya adalah kurang lebih 10 km. Bila melancong ke sana seyogyanya menempuh dengan sepeda motor atau kendaraan off road mengingat beberapa kilo meter jalan menjelang pantai belum lebar dan belum beraspal. Masih berupa jalan berbatu bercor blok.

Minggu (12/07/2015) saya sengaja berangkat ke sana pada pagi cukup awal. Sebagai penyuka keheningan saya berharap menemukan pantai yang belum hiruk pikuk dengan sesedikit pengunjung. Ini tentu menjadi akan susah saya temukan setelah liburan lebaran nanti dimana biasanya semua destinasi wisata di Gunungkidul tumpah ruah oleh wisatawan terutama dari luar daerah.

Ini adalah kunjungan pertama saya ke Pantai Ngeden. Saya menemukan Ngeden adalah tipikal pantai-pantai di Gunungkidul yang mempunyai ciri utama: terletak di antara gugusan-gugusan bukit kapur, mempunyai pasir putih yang halus, berombak besar dan di sekitarnya terdapat banyak bebatuan cadas dan tebing-tebing karang.

IMG_4619.resized landscape 2

Kalau ‘hanya’ seperti itu apa istimewanya ketika untuk sampai ke sana saja harus membayar dengan menempuh jalan berbatu yang tidak begitu ‘ramah’? Baca lebih lanjut

Cultural Trip Solo: Kerajinan Gamelan di Desa Wirun

Gamelan Jawa bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Ibu dan Bapak saya adalah seorang niyaga (pemain musik gamelan). Pada jaman ibu masih aktif ‘sepel’ menabuh gamelan saya sesekali menonton para niyaga berlatih musik karawitan. Sampai sekarang saya tumbuh menjadi penyuka karawitan/uyon-uyon, wayang kulit, kethoprak mataram dan seni tari tertentu khususnya tarian Jawa. Namun sampai sekarang saya baru akan sekali ini melihat bagaimana seperangkat alat musik gamelan dibuat.

IMG_4390.gamelan

Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo dimana tersohor pengrajin gamelan berkualitas internasional berada cukup ditempuh kira-kira setengah jam perjalanan dari kompleks Masjid Agung Keraton Surakarta. Memasuki gapura desa Wirun suasana desa kerajinan sudah terlihat, tetapi yang kami lihat adalah pengrajin genteng, bukan kerajinan gamelan yang kami maksud. Beberapa kali bertanya kepada penduduk akhirnya sampailah kami di kediaman Bapak Panggiyo. Rumah Bapak Panggiyo dari pintu gerbangnya yang berhias “gong” sudah bisa dipastikan bahwa di sini memang benar Kerajinan Gamelan itu berada. Baca lebih lanjut

Cultural Trip Solo: Masjid Agung Keraton Solo

Membaca itinerary Acara Cultural Trip Bedug Asyik Solo yang ditunjukkan oleh Mas Rika Verry Kurniawan membuat saya susah untuk menolak undangan mengikuti acara ini. Tanpa berpikir panjang saya pun segera mengiyakan, sanggup, siap mengikuti rangkaian acara ini. Betapa tidak, acaranya adalah nge-trip ke Masjid Agung Keraton Surakarta, melihat proses pembuatan gamelan di desa Mirun, Mojolaban, Sukoharjo yang tersohor, menonton kompetisi Bedug Asyiiik di lapangan Mojolaban, ngobrol-ngobrol dengan seniman etnomusikal Joko Gombloh yang beken itu dan ditutup dengan konser band nasional Repvblik dan Tipe-X.

Rangkaian acara sepanjang ini tentu tidak asyik bila saya ceritakan dalam satu tulisan panjang. Karenanya saya berusaha membagikannya dalam beberapa tulisan dalam posting yang berbeda.

IMG_4267.resized

Saya memulai dengan Masjid Agung Keraton Solo. Masjid Agung Keraton Solo sebenarnya bisa dikunjungi hampir kapan saja, namun mengunjungi Masjid ini pada bulan puasa menurut saya adalah saat yang tepat. Saat dimana nuansa Ramadhan dengan aktifitas umat Islam di Masjid yang pada jamannya, jaman Kasunanan Surakarta didirkan sampai sekarang tetap mempunyai peranan penting dalam hal dakwah dan penyebaran agama Islam di Solo dan sekitarnya. Baca lebih lanjut

Menikmati Keperawanan Pantai Kesirat dan Pantai Woh Kudu

Salah satu hal yang saya percayai tidak baik untuk dilakukan adalah tidur sehabis Subuh. Apalagi pada bulan Ramadhan yang karim ini. Minggu pagi (05/07/2015) udara pagi di desa dimana saya tinggal terasa dingin. Menusuk belulang. Perlu perlawanan gigih untuk menghalau tarikan selimut dan kantuk yang terus menghampiri.  Barangkali matahari sudah setinggi penggalah ketika saya membawa skutik All New Seoul GT keluar dan menyalakannya. Nampak di dashbord indikator bahan bakar menunjukkan pertamax masih cukup untuk pergi saja entah kemana.

IMG_4143.resized

Benar. Ini bukanlah jalan-jalan yang saya rencanakan. Nama Pantai Kesirat baru benar-benar muncul dari dalam batok kepala saya ketika saya sudah menempuh jarak kurang lebih 10 km. Kesirat, meskipun hanya berjarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, kira-kira kurang dari 40 km, namun belum pernah sekali pun saya berkunjung ke sana. Maklum ada banyak sekali pantai di Gunungkidul. Sedikit yang saya pernah dengar tentang Kesirat adalah sebuah pantai yang terletak di kecamatan Panggang dan merupakan pantai yang belum dipikukan oleh pelancong dan wisatawan.

Kira-kira setengah jam melaju sampailah saya di suatu perempatan di kecamatan Panggang. Saya ragu harus memilih ke arah yang mana. Saya berhenti dan mencoba menemukan arah ke Pantai Kesirat dengan Google Map di iPhone. Namun koneksi Telkomsel hanya menyodori saya kekecewaan. Saya baru mendapatkan arah pasti menuju Kesirat setelah bertanya kepada beberapa orang yang berbeda. Saya disarankan untuk mengikuti jalan ke arah ke dusun Wiloso, desa Girikarto, kecamatan Panggang. Rupanya jalan yang harus saya ikuti adalah jalan yang saya lewati ketika Ramadhan tahun lalu saya menuju Pantai Gesing dari arah kecamatan Panggang.

Sampai di dusun Wiloso, jalan yang saya lalui adalah aspal yang cukup baik, enak ditempuh dengan motor matic. Namun dari Wiloso sampai ke pantai adalah jalanan cor blok dan jalan berbatu, lengkap dengan tanjakan dan turunannya yang sadis yang menantang keterampilan mengemudi motor saya yang pas-pasan. Bukit, lembah, pohon nyiur, dan bebatuan cadaslah yang menjadi pemandangan yang terus menyemangati saya pagi itu.

Tidak jauh dari bibir pantai, saya melihat ada beberapa sepeda motor yang terparkir. Mungkin itu adalah sepeda motor para pengunjung pantai seperti saya. Saya pun memarkir sepeda motor di tempat yang saya rasa cukup aman. Saya melepas helm tapi jam delapanan pagi yang tetap dingin itu membuat saya enggan menanggalkan jaket.

Saya berhati-hati melangkah di jalan sesempit tapak kaki di antara tumbuhan belukar dan gundukan batu cadas. Saya menuju bibir pantai. Di Kesirat jangan membayangkan bibir pantai adalah  pasir putih yang saling jamah dengan air laut. Sepanjang bibir Kesirat adalah ujung tebing yang curam dimana di bawah adalah laut yang ombaknya mendera tegarnya bebatuan karang.

Sendirian berdiri di bibir tebing menghadap laut selatan membuat saya hanya bisa melongo, diam, takjub, merasa kecil dan terkadang seolah ada sepi menghampiri. Iya, sepi itu kadang-kadang di sini menjadi nyata. Pada saat yang tidak begitu beda ada rasa damai, bahagia dan rasa syukur yang entah datang darimana. Mungkin itu dibawa matahari pagi yang beranjak meninggi dengan hangat yang diterpakan ke sisi wajah saya. Mungkin dari semilir angin yang kadang membelai, kadang menampar. Atau mungkin mereka bawa bersamaan. Atau mungkin dibawa entah. Subhanallah …

IMG_4155.resized

Baca lebih lanjut