Simple Core Training untuk Pelari Jarak Jauh

Memasuki program persiapan inti untuk sebuah perlombaan lari jarak jauh, umumnya kita akan melakukan sejumlah penyesuaian latihan. Penyesuian – penyesuaian itu di antaranya: intensitas latihan yang lebih terpolarisasi, mileage yang lebih tinggi, pola istirahat, nutrisi, dan yang tak kalah penting adalah Strength Training.

Pada masa persiapan umum, umumnya strength training akan menyasar keseluruhan tubuh (full body workout), dan memberi fokus latihan untuk menambal sisi-sisi lemah pada bagian tubuh tertentu. Strength Training akan dirancang untuk memberikan penguatan pada bagian lower body bila misalnya seorang pelari ditemukan mempunyai angkle yang tidak terlalu kuat.

Sukses lomba lari jarak jauh seperti marathon adalah suatu lomba yang keberhasilannya paling banyak ditentukan oleh kemampuan aerobic. Tak heran bila dalam mendesain sebuah program latihan, apa yang menjadi fokus adalah peningkatan kapasitas aerobic. Waktu latihan akan lebih banyak dialokasikan untuk jenis-jenis latihan seperti easy run, long run, speed workout, dan sejenisnya.

Konsekuensinya alokasi waktu dan fokus untuk strength training, flexibility, agility dan sejenisnya harus berkurang. Berkurang bukan berarti dihilangkan. Akan tetapi dalam periode ini kita akan mengambil jenis strength training yang paling esensial (core training), didesain dengan jenis latihan yang tidak menghabiskan banyak waktu, tidak banyak menghabiskan cadangan energi, dan tidak berpotensi untuk menimbulkan terlalu banyak peradangan otot (sore muscles).

Berikut ini saya ambilkan beberapa contoh core training tergartet yang didesain oleh NN Running Team.

 

 

Pentingkah Kita Membeli Nike Zoom Pegasus 36

Sempat galau akankah kali ini saya kembali memilih Pegasus 35 atau mencoba menjatuhkan pilihan kepada Nike Zoom Pegasus 36 yang baru.

Sejatinya tidak ada perbedaan mencolok di antara kedua sepatu lari ini. Setidaknya menurut yang saya baca dari web Nike.com. Nike sebatas memberikan beberapa update minor yang nampaknya tidak akan banyak mempengaruhi keseluruhan pengalaman pengguna. Rumornya update besar-besaran baru akan diberikan untuk edisi tahun depan, yaitu Pegasus 37.

Di pasaran Indonesia, sepasang Pegasus 36 dibanderol dengan harga Rp 1.799.000,-. Sama persis dengan harga baru Nike Zoom Pegasus 35 setahun yang lalu. Sementara saat ini Pegasus 35 di beberapa store sudah dijual dengan harga diskon, menjadi sekitar Rp 1.400.000,-

Bagi pelari rekreasional yang sensitif dengan harga seperti saya, selisih harga hampir Rp 400,000,- inilah yang membuat galau. Saya sempat berpikir bila saya kembali membeli Pegasus 35, maka dengan membelanjakan uang yang sama saya sudah mendapatkan sepasang sepatu daily trainer + sepotong running short, atau sepasang sepatu daily trainer + sepotong running jersey.

Baca lebih lanjut

Sleman Temple Run 2019, Mau Ikut Kategori Apa?

Sleman Temple Run 2019 (STR 2019) akan kembali diselenggarakan pada pertengahan bulan depan. Event yang akan dilaksanakan pada Minggu, 14 Juli 2019 ini akan menjadi gelaran Sleman Temple Run untuk yang ke-5 kalinya.

Saya sendiri pernah mencicipi event lomba lari semi trail yang mengambil rute di wilayah timur Yogyakarta itu pada Sleman Temple Run 2016. Pada Sleman Temple Run 2017 saya tidak bisa berpartisipasi. Sedangkan pada Sleman Temple Run 2018 saya memilih untuk menjadi penonton, menyemangati kawan-kawan saya dari berbagai komunitas yang berpartisipasi dengan cheering di finish line.

Telah diselenggarakan untuk kesekian kalinya saya melihat Sleman Temple Run sudah banyak berubah dibandingkan ketika saya berpartisipasi. Perubahan itu bisa dilihat mulai dari perpindahan race village dari kompleks Taman Tebing Breksi ke Kawasan Candi Banyunibo. Kategori lomba yang dulu hanya tersedia kategori 8K kini telah memperlombakan kategori 7K, 13K dan 25K. Kategori lomba yang beragam dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan pelari yang baru berkenalan dengan trail sampai dengan para pelari berpengalaman yang menginginkan perlombaan yang lebih menantang. Baca lebih lanjut

Borobudur Marathon 2019 Perkenalkan Sistem Ballot, Apa saja yang perlu diketahui?

Menjelang perlombataan Borobudur Marathon 2018 pada tahun lalu saya pernah menuliskan beberapa fakta baru yang perlu diketahui di event marathon yang menjadi impian banyak orang itu.

Mumpung sedang hangat – hangatnya kali ini saya akan menuliskan satu lagi fakta mengenai Borobudur Marathon. Fakta baru itu adalah penggunaan ballot atau undian di Borobudur Marathon 2019.

Mulai menerapkan ballot pada tahun 2019, Borobudur Marathon beranjak menyejajarkan diri dengan perlombaan – perlombaan marathon besar dunia dan merupakan yang pertama di Indonesia yang menerapkan sistem ini.

Menurut race director Borobudur Marathon, Andreas Kansil, alasan penerapan ballot atau undian adalah antusiasme masyarakat pelari yang amat besar untuk berpartisipasi dalam event marathon di Jawa Tengah ini. Sedangkan di sisi lain dengan pertimbangan kapasitas kompleks Candi Borobudur, jalan – jalan yang digunakan sebagai rute di sekitar Borobudur dan infrastruktur pendukungnya hanya cukup untuk 10.000 pelari. Memaksakan untuk menambah jumlah peserta bisa berakibat kepada kenyamanan pelari dan penurunan kualitas lomba secara keseluruhan.

Sistem ballot diharapkan memberikan kesempatan yang sama kepada semua pendaftar Borobudur Marathon 2019. Setiap calon pendaftar Borobudur Marathon tidak perlu saling berebut dan beradu cepat dalam mendaftar. Selama mematuhi semua peraturan dan mendaftar pada jadwal yang telah ditentukan semua akan mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan slot Borobudur Marathon 2019.

Berikut ini beberapa hal penting yang perlu diketahui mengenai sistem ballot Borobudur Marathon 2019: Baca lebih lanjut

Review Mandiri Jogja Marathon 2019, Lebih Baik Namun Belum Baik

Sebetulnya kali ini saya tidak cukup ‘eligible’ untuk mereview perhelatan marathon Mandiri Jogja Marathon 2019. Karena berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya yang mana saya selalu ikut kategori marathon, kali ini saya turun di kategori half marathon. Jadi dalam tulisan ini saya akan lebih banyak menceritakan tentang pengalaman saya mengikuti event yang selalu dihelat pada bulan April setiap tahunnya ini.

Lomba pada tanggal 28 April 2019 pekan lalu di Mandiri Jogja Marathon 2019 merupakan half marathon kedua saya. Half pertama dimana saya memerawani ketegori lomba ini terjadi pada 3 tahun lalu di Jakarta Marathon 2016. Menuntaskan perlombaan pada pekan lalu membuat saya bisa merasakan perbedaan antara dua half marathon yang pernah saya ikuti.

Pada half marathon pertama, saya merasakan betapa diri ini begitu larut dalam euforia lomba. Berlari sepenuhnya mengandalkan andrenalin tanpa didukung oleh strategi lomba dan program latihan yang terstruktur.

Meskipun sama – sama tidak didukung dengan program latihan yang terstruktur, half marathon kedua bisa saya bawakan dengan rileks. Karena sejak awal saya memang sama sekali tidak membebani lomba kali ini dengan target apapun. Tidak ada misi pemecahan personal best seperti ketika saya mengikuti full marathon di Jakarta Marathon 2017, Jogja Marathon 2018 dan Borobudur Marathon 2019. Keinginan saya sepenuhnya ingin menikmati sepanjang lomba. Baca lebih lanjut

5 Alasan Untuk Mengikuti Jakarta Marathon 2019

Foto diambil dari FP Jakarta Marathon

Ada semacam pameo: Jakarta Marathon, lomba lari yang banyak dicaci sekaligus banyak dinanti.

Saya pertama kali mengikuti Jakarta Marathon pada tahun 2016. Saat itu saya mengikuti kategori Half Marathon. Tahun berikutnya saya mencoba naik kelas dengan mengikuti kategori full marathon di Jakarta Marathon 2017.

Pengalaman saya mengikuti Jakarta Marathon tidak semuanya manis. Memang saya berhasil mencetak Personal Best di kategori half pada Jakarta Marathon 2016 (1.42) dan memperbaiki catatan waktu marathon pada percobaan saya di Jakarta Marathon 2017 (4.27). Namun ada beberapa hal yang membuat hati saya jengkel ketika turun di event marathon di ibukota itu. Hal-hal menjengkelkan seperti tersesat/salah jalur di suatu persimpangan yang tidak dijaga marshal (Jakarta Marathon 2016), antrian toilet dan drop bag yang mengular di race central, rute yang tidak steril, dan yang paling menyakitkan adalah saya terlambat start marathon karena waktu start kategori marathon diajukan 10 menit lebih cepat dari jadwal (Jakarta Marathon 2017). Baca lebih lanjut

Membangun Running Endurance Bagi Pelari Pemula

Mendapat pertanyaan bagaimana cara melatih daya tahan berlari atau running endurance membuat saya bingung. Saya memang sudah menyelesaikan beberapa kali marathon, namun sampai sekarang saya belum merasa mempunyai cukup daya tahan atau endurance yang baik. Saya selalu terngiang betapa lelah lahir batin campur aduk di sepanjang sepertiga terakhir lintasan perlombaan demi sekeping finisher medal.

Mundur ke belakang, kira-kira ke 5 tahun yang lalu, tepatnya September 2014, ketika saya mencoba untuk memulai berolah raga lari. Menyelesaikan sebuah marathon, berlari sejauh 42,2 km, sama sekali bukan cita-cita saya. Terlintas dalam mimpi pun tidak pernah. Tujuan saya berlari sangat sederhana. Berlari adalah pilihan olah raga yang saat itu saya pikir paling mudah dilakukan dibanding jenis olah raga lainnya. Tujuan berolah raga supaya hidup lebih sehat. Supaya saya bisa mengurangi anggaran untuk ke dokter.

Untungnya saat itu saya sudah mengenal aplikasi Nike+ Running, aplikasi yang sekarang berganti nama menjadi Nike Running Club. Dengan Nike+ Running yang saya gunakan saat itu (dan sampai sekarang masih saya gunakan) saya bisa dengan mudah menengok lari pertama saya dan memperhatikan lagi setapak demi sejangkah perkembangan saya.

Baca lebih lanjut