Race Review, Full Marathon Mandiri Jogja Marathon 2018

Mandiri Jogja Marathon bisa jadi merupakan salah satu event marathon yang paling dinanti pada tahun ini. Lomba lari yang dihelat pada pertengahan bulan April 2018 itu sudah menjadi perbincangan di komunitas-komunitas lari di Indonesia sejak penghujung tahun lalu.

Antusiasme para pelari baik pelari hobi, pelari hore seperti saya maupun pelari profesional sangat terasa sejak awal. Saya tidak tahu apakah antusiasme ini bermula karena penyelenggaraan Mandiri Jogja Marathon 2017 yang bagus, karena Jogja Marathon mengambil race village di tempat yang paling “majestic” di Candi Prambanan, karena aura istimewa Yogyakarta atau karena akumulasi dari kesemua itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Race Review: Adisucipto Urban Obstacle Run 2018

29067036_10214715633511792_116810010800947200_nBiaya pendaftarannya yang terbilang mahal membuat kami nyaris urung mengikuti Adisucipto Urban Obstacle Run 2018. Mahal ini tentu saja menurut ukuran kami, pelari-pelari hore yang tergabung dalam komunitas Gunungkidul Runners.

Padahal, biaya pendaftaran Rp 200 ribu untuk kategori 5K dan Rp 250 ribu untuk kategori 10K, tidak benar-benar mahal bila dilihat benefit yang akan didapatkan. Benefit bagi peserta pelari selain racepack standar, apa yang menurut saya istimewa adalah pengalaman berlari di landasan pacu Jupiter Pangkalan Udara TNI AU Adisucipto – Yogyakarta. Setelah mengikuti event pun peserta akan terus dimanjakan dengan airshow baik atractive maupun static. Baca lebih lanjut

Garmin VO2 max Prediction Bikin Saya Ge-er

VO2 max prediction
VO2 max Prediction/Estimation
 
Saya tidak tahu seberapa akurat angka VO2 max yang ditunjukkan oleh Garmin. Yang jelas saya apriori dengan penuh kemafhuman. Namanya saja prediksi, estimasi, mengira-ira. Ada salah-salahnya itu wajar.
 
Meski dalam hal akurasi saya pertanyakan, namun indikator yang menunjukkan kemajuan jelas membuat senang. Biarpun tidak akurat-akurat amat kenyataannya toh bisa menjadi, bagi saya, sebuah motivator. Bolehlah dalam tiga atau sebelas hal membuat saya ge-er.
 
Setelah berbulan-bulan saya berlari ala kadarnya, tanggal 14 januari ini saya mulai rada-rada serius. Saya niat ingsun bismillah untuk memulai program latihan full marathon untuk Jogmar pada tanggal 15 april 2018.
 
Minggu sore ketika saya mulai lari tipis-tipis sejarak 10K, Garmin begitu saya selesai lari menyodori angka 55 untuk VO2 max. Saya memincingkan mata tak percaya.
 
3 hari kemudian setelah saya selesai berlari, lagi-lagi Garmin ngasih tahu VO2 max saya naik 1 poin menjadi 56.
 
Pagi ini saya lari sampai tingkat agak terengah sejauh 4 K, pace nya biasa saja, 4.32 menit/km. Lagi-lagi pada ujung lari ke 10 saya ini Garmin ngasih tahu VO2 max saya saat ini menjadi 57.
 
Superior untuk rentang usia saya.
 
Saya benar-benar merasa ge-er menyandang predikat VO2 max SUPERIOR. (nah kan saya ketik bold).
 
Padahal untuk mengukur VO2 max beneran ya harus menggunakan peralatan-peralatan yang rumit dan memadai, O2 Supplier, Treadmill, dan VO2 Max meter. Perlu biaya mahal yang mana saya pasti pelit untuk membayarnya.
 
Bukan saya namanya kalau tidak berusaha mencari cara lain yang lebih murah. Saya pun Googling mencari cara mengukur/meng-estimasi VO2 max yang lebih murah.
 
Balke Test adalah salah satu cara pengukuran yang saya temukan di: https://www.brianmac.co.uk/vo2max.htm#vo2
 
Ini sebenarnya cara lama yang sudah digunakan sejak tahun 1960 -an. Kuno sekali. Namun karena gratis jadi sayang bila tidak dicoba.
 
Balke Test adalah berlari secepat mungkin dalam 15 menit agar mendapatkan jarak terjauh. Hasilnya (dalam meter) dimasukkan ke dalam suatu rumus. Rumus itu sudah ditaruh dalam web yang saya sebut di atas. Jadi kita tinggal memasukkan angka jarak, hasil VO2 max sudah keluar.
 
Nah, estimasi VO2 max menurut metode Balke adalah: 54. Angka ini saya dapatkan karena saya bisa mendapatkan jarak sejauh 3800 meter dalam berlari selama 15 menit.
 
Ada selisih 3 di antara VO2 Max versi Garmi dan Versi Balke.
 
Nah, besok saya akan mencoba mengestimasi VO2 max dengan cara lain lagi.

Review Running Shoes: League Volans Evo

23733974_8890278504391700_4957203226718896128_n

Merupakan produk sepatu lari flagship dari League, Volans mendapat prioritas untuk mendapatkan pembaruan-pembaruan. Tak heran pada generasi ke-4 Volans ini, Evo nampak amat berbeda dibanding pendahulunya, yaitu League Volan 2.5 maupun League Volans 2.0. Perbedaan itu bisa dilihat dari desainnya yang menonjol serta teknologi yang digunakan.

Baca lebih lanjut

Race Review: Sermo Challenge 3

24831182_754626041401613_9211568975695919348_oLomba lari yang bertajuk Sermo Challenge untuk yang ketiga kalinya sudah selesai dihelat pada hari Minggu, 3 Desember 2017. Untuk yang ketiga kalinya pula saya mengikuti event yang selalu digelar pada penghujung tahun itu.

Saya mengikuti event lomba ini secara berturut-turut. Jadi jangan tanyakan apakah Sermo Challenge merupakan lomba yang bagus atau bukan. Saya pasti punya alasan yang kuat untuk mengikuti satu event lari sampai berturut – turut 3 kali. Bahkan seingat saya baru gelaran Sermo Challenge ini, dalam seumur hidup, yang pernah saya ikuti sampai tiga kali.

Sermo Challenge 3 sempat membuat saya galau. Event yang jauh-jauh hari saya ketahui akan diselenggarakan secara lebih kaya dan akan diperbagus dari banyak sisi ini hampir tidak bisa saya ikuti.

Awal November, salah seorang anggota keluarga saya mengabari akan berkunjung pada awal Desember. Antara bahagia dan dilema, saya harus memilih salah satu. Saat itu saya memutuskan untuk menanggalkan Sermo Challenge 3 berharap event ini akan terus diadakan pada tahun berikutnya. Tak dinyana, keluarga kami mengabari tentang perubahan jadwal kunjungannya.  Baca lebih lanjut

3 Minutes Treadmill Challenge di League Hub Jogja

3 minutes treadmill challenge 1Berlari di treadmill adalah sesuatu yang amat baru bagi saya. Seumur-umur saya baru sekali mencoba berlari di treadmill. Itu pun langsung memberi pengalaman kurang menyenangkan. Dengkul kanan saya memar terjatuh di treadmill di percobaan pertama saya pada beberapa bulan yang lalu di fitness centre di hotel Pullman Central Park.

Treadmill challenge. Ini membuat saya nervous. Apalagi saya yang akan menjadi kapten tim untuk berlomba dalam 3 Minutes Challenge.

Menerima tantangan untuk membentuk tim yang akan saya kapteni untuk memenangkan 3 minutes treadmill challenge saya tahu tidak akan mudah. Namun saya tahu apa yang pertama kali harus saya lakukan. Pertama-tama adalah mencari anggota agar tim saya memenuhi persyaratan 2 pelari putra (termasuk saya) dan 2 pelari putri. Satu syaratnya lagi adalah pelari yang boleh direkrut adalah para pelari non atlet.

Mencari pelari untuk diajak bergabung menjadi bagian tim saya sepintas nampak mudah. Toh selama ini saya cukup aktif di komunitas – komunitas lari. Baik di Facebook maupun Instagram saya juga mempunyai banyak kawan pelari.

Kenyataannya menggemaskan. Tawaran pertama saya ditolak oleh Sri Kustadi. Dengan berbagai alasan mahasiswa pasca sarjana UGM sekaligus pelari Purworejo Runner ini tidak mau bergabung. Baca lebih lanjut

Race Review : Malioboro Kulinerun Fun Run

nrc-20171126_100337-stickeredSebenarnya saya tidak pernah berniat untuk mengikuti ajang lomba lari ini. Saya mengikutinya karena “kecelakaan”. Kecelakaan itu berupa salah kirim biodata. Saya salah mengirimkan biodata saya kepada teman yang celakanya adalah seorang petugas pendaftaran kolektif komunitas untuk Malioboro Kulinerun.

Terlanjur, saya pun memilih kategori 10K. Biar uang pendaftaran yang saya bayarkan pas, Rp 100.000,-. Lagi pula bagi pendaftar kolektif komunitas mendapatkan potongan harga Rp 25.000,- dari harga umum Rp 125.000,-

Sehari menjelang lomba, di grup komunitas ada update informasi. Berisi mengenai perubahan jadwal/rundown acara Malioboro Kulinerun. Bila di website, lomba lari akan dimulai pukul 07.00 pagi, disebutkan di grup lomba ini akan dimulai pukul 06.00 pagi. Saya yang rumahnya berjarak 50 km dari tempat lomba terpaksa berangkat lebih awal dari yang sebelumnya kami rencanakan.

Sampai di Hotel Grand Inna Malioboro dimana lomba akan diselenggarakan pada sekitar pukul 05.20 baru nampak sedikit peserta dan panitia di lokasi. Bagi saya ini menguntungkan karena saya masih bisa memarkir motor di lingkungan hotel.

Malioboro Kulinerun 2017 tidak benar-benar dimulai pada pukul 06.00 pagi. Peserta lomba baru mulai berkumpul di garis start sekitar pukul 06.10. Melewati beberapa rangkaian acara seperti pemanasan berupa senam Zumba, pementasan tari tradisonal dan sambutan-sambutan, bendera start dilakukan sekitar pukul 06.30 pagi. Untuk kategori lomba 5K dan 1.5K akan dilepas kemudian.

Untungnya, cuaca Jogja, 26 November 2017 itu cukup sejuk, tidak panas karena sisa-sisa hujan yang mengguyur selama beberapa hari terakhir.

Menurut saya Malioboro Kulinerun 2017 adalah cara lain menikmati kota Jogja. Saya sebagai orang Jogja merasa heran merasakan sendiri Jalan Malioboro bisa benar-benar ditutup, bisa dinikmati karena steril dari kendaraan bermotor. Andai saya tidak berlari pemandangan bebas kendaraan di area O KM, cityscape Gedung DPRD Propinsi, Gedung Kepatihan, Gedung Istana Negara sampai Gedung BNI merupakan obyek foto yang ciamik.

Namun berlari mengikuti rute 10K di sepanjang jalan KH Ahmad Dahlan, jalan KH Wahid Hasyim, jalan MT Haryono, jalan Kol Sugiyono, jalan Taman Siswa sampai jalan Mataram, para pelari harus berbagi jalan dengan pengguna lalu lintas. Meski saya tidak merasa khawatir karena marshall dan polisi bisa menjalankan tugas dengan baik mengamankan para pelari.

Water Station untuk kategori 10K saya menemukan ada 3. Masing-masing menyediakan air mineral dan isotonik dalam jumlah yang melimpah. Saya bahkan selalu mengguyurkan beberapa gelas air mineral untuk mendinginkan tubuh.

Cek poin untuk kategori 10K saya jumpai ada 1 saja, terletak di ujung Jalan Taman Siswa. Di Cek poin untuk masing-masing pelari diberikan satu kalung warna ungu sebagai bukti pelari itu telah melintasi rute seharusnya.

isokuiki-1511742160386

Semua ruas jalan yang dipilih sebagai rute Malioboro Kulinerun 2017 adalah jalan aspal yang bagus. Setengah rute 10K cenderung menurun. Setengah terakhir cenderung menanjak tipis. Pelari yang sudah jarang latihan seperti saya akan menikmati kecepatan di setengah rute. Setengah berikutnya adalah masalah. Berlari di jalan yang menanjak tipis di KM akhir tidak mudah. Saya berhenti beberapa kali sampai akhirnya saya memberikan sedikit push di KM terakhir. Bukan untuk mengejar Personal Best melainkan agar seolah – olah saya nampak seperti pelari.

Sayangnya di area finish gate saya tidak melihat banyak photographer. MC pun suaranya tidak saya dengar menyambut pelari yang akan menginjakkan kaki di garis finish.

Di garis finish pelari tidak bisa langsung mendapatkan minuman. Pelari harus mengantri untuk mengambil air mineral, refreshment fruit, medal dan finisher tee. Saya yang masih terengah – engah menjadi frustasi melihat ularan antrian pelari kategori 5K yang sudah finish lebih dulu.

Saya memilih minggir untuk mematikan aplikasi tracking di handphone. Sambil terengah-engah saya mendapatkan Strava menginformasikan bahwa saya baru saja selesai berlari sejauh 9.8 KM dengan pace 4.42. Sambil sepatah dua patah kata ngobrol dengan teman yang finish duluan, saya pun menenggak air mineral yang saya minta darinya.

Merasa tenggorokan sudah cukup basah, saya kemudian ikut masuk ke dalam antrian. Bila menundanya saya khawatir antrian akan memanjang. Dalam beberapa menit saya pun bisa mendapatkan sebotol air mineral, satu paket refreshment fruit dan sepotong kaos finisher.

Masih mendapatkan bagian kaos finisher berarti saya masih masuk 25 pelari 10K yang paling awal mencapai finish. Melihat masih banyak tumpukan kaos finisher 10K saya memprediksi saya mencapai garis finish antara no 10 – 15.

Untuk lomba lari dengan biaya pendaftaran yang murah, Rp 125.000,-, menurut saya fasilitas yang didapatkan pelari selama mengikuti Malioboro Kulinerun cukup baik. Sebut saja medal yang cukup baik, race jersey, finisher tee, aneka makanan seperti gudeg, pecel dan soto yang kesemuanya bisa dinikmati gratis.

Sambil menunggu awarding, karena salah seorang anggota komunitas kami podium 2 untuk kategori 2.5K, kami pun duduk di depan panggung menikmati aneka band performing.

IMG_20171126_181533_324.jpg

Mengusung konsep Fun Run, Malioboro Kulinerun yang diikuti sekitar 1.500 pelari itu memang tidak dilengkapi dengan chip time dan official race result, namun demikian bila tahun depan akan diadakan lagi, Malioboro Kulinerun adalah salah satu event yang saya rekomendasikan.

Sedikit saran saya untuk panitia sebaiknya Malioboro Kulinerun dilengkapi dengan official photographer. Jadi event ini akan membuat peserta terkesan lebih lama.