Mengapa Kita Tetap Berbahasa Indonesia.

Saya sempat mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang masih sulit saya jawab: mengapa kita harus tetap menggunakan bahasa Indonesia padahal globalisasi menuntut kemampuan berbahasa Inggris? Jawaban sederhana Mas Eko cukup dapat saya terima meskipun mungkin masih belum dapat memuaskan semua orang:bahasa Indonesia adalah kebanggaan dan jati diri bangsa. Jika bangga sebagai bangsa Indonesia, banggalah juga dengan bahasanya. Apa yang harus dibanggakan? Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, sederhana saja: Tidak usah bangga.

Paragraf diatas saya salin tempel dari tulisan di blog Mas Ivan Lanin di sini . Silahkan membaca artikel selengkapnya di blog mas Ivan.

Bacaan :

http://ivanlanin.wordpress.com/2010/03/28/terapi-kejut-bahasa/

Iklan

Masjid Agung Bantul

Berbeda dengan kebanyakan desain pintu masjid kebanyakan, di Masjid Agung Bantul ini tampak berbeda. Menurut saya pintu tengah masjid di desain mirip dengan karakter pewayangan yaitu Gunungan atau Gara – Gara.

Foto ini saya ambil selepas menunaikan Shalat Jum’at di Masjid Agung Manunggal, Bantul – Yogyakarta

Tahu cara mencari Tahu

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca, kalau tidak salah di status facebook atau di twitter, yang isi kalimatnya kira – kira adalah

Kita tidak mungkin tahu semua Informasi yang kita butuhkan, tetapi yang terpenting, kita tahu cara mencari tahu.

Seratus persen sepakat dengan kalimat itu. Bagi saya yang pelupa sepertinya akan sangat melelahkan mengetahui dan mengingat semua yang pernah saya tahu. Saat ini google dan internet semakin memudahkan pekerjaan mencari tahu. Meski saya menyadari kemudahan mencari tahu linear dengan meningkatnya kepikunan saya.

Andai internet down selama beberapa hari saja. Pasti IQ saya akan serta merta berjalan jongkok.

Kesadaran Masyarakat dan Wabah Demam Berdarah

Sedikitnya dua anak tetangga saya sudah menjalani rawat inap di Rumah Sakit karena terjangkit penyakit Demam Berdarah. Dan beberapa anak di kampung sebelah. DBD merupakan penyakit yang tiap – tiap tahun rajin mewabah di lingkungan dimana saya tinggal.

Ketika saya iseng – iseng googling, DB memang merupakan penyakit mematikan yang belum di temukan obatnya. Atau paling tidak ketika saya googling belum menemukan article tentang penemuan medis untuk mengobati penyakit ini.

Seperti kata – kata mantra yang sejak saya kecil sampai sekarang masih berlaku. Mencegah lebih baik. Mencegah memang kata – kata manis yang mudah diucapkan meskipun sulit sekali dilakukan. Konon mencegah itu bentuk adaptasi yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Binatang mungkin mempunyai cara adaptasi mereka yang unik untuk dapat lolos seleksi alam.

Beberapa tahun yang lalu, setiap dimana ada wabah DBD maka pihak Dinas Kesehatan dan kroni – kroninya akan melakukan fogging, ternyata sekarang tidak lagi. Ketika saya bertanya pada Ibu ibu kader kesehatan di kampung, ibu – ibu itu bilang kalau sekarang fogging sudah tidak efektif lagi. Nyamuk Aides Aigepty sudah hampir sempurna beradaptasi sehingga dapat survive dari kepulan asap fogging. Masih menurut ibu kader itu, cara terbaik untuk mencegah wabah DB adalah melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk. (PSN)

Namun demikian apa yang terjadi saat ini, bukanlah hal yang mudah untuk mengetuk pintu kesadaran masyarakat untuk bersama – sama dengan kompak melakukan PSN. Kesibukan dan tetek mbengeknya selalu menjadi dalih. Kesadaran adalah harga mahal.

Contoh kecil adalah tetangga saya sendiri. Pada hari Senin dia memeriksakan si anak ke dokter karena sedang sakit panas. Oleh dokter diberikan obat dan diberikan surat rekomendasi untuk cek darah anak itu ke lab. Alih – alih mengindahkan saran dokter ibu tadi membiarkan anaknya sampai memarah pada hari Rabu dan baru membawa si anak ke Rumah Sakit/Puskesmas. Dan hasil tes darah di lab Puskesmas menyatakan positif DB. Sudah parah dan sampai sekarang masih di rawat di Rumah Sakit yang lebih besar.

Masing – masing kita memang perlu kesadaran untuk menjaga kesehatan termasuk mencegah wabah DBD, tetapi apa artinya kalau sistem sosial di lingkungan dimana kita tinggal cuek. Bisa saja nyamuk Aides berjentik dan berkembang di tetangga sebelah kemudian terbang mencari makan dan menggigit keluarga anda. Horor!

Biaya Periksa di RSUD

Biaya periksa di Rumah Sakit Umum Daerah ternyata tidak mahal. Karena tadi tidak tahan dengan rasa nyeri pada perut, saya memutuskan, untuk pertama kali menggunakan jasa medis Rumah Sakit milik pemerintah daerah. Posisi Rumah Sakit ini relatif dekat dengan posisi saya saat ini. Dan dokter yang biasa saya kunjungi hanya buka praktek pada petang hari.

Oleh ibu – ibu petugas resepsionis yang ramah itu saya disarankan untuk menuju Poli Penyakit Dalam. Tidak lama menunggu, dokter spesialis penyakit dalam memberikan pemeriksaan. Kebetulan pasien di Poly ini tidak banyak, dan mungkin karena masih pagi sehingga belum lelah, dokter cukup bersahabat ketika saya tanya – tanya macam – macam.

Dari Posterous Photos

Biaya. Menurut saya, biaya periksa tidak mahal. Sangat terjangkau. Seperti pada gambar, biaya periksa dokter Rp 6.000,- dan total Rp 10.000, meski masih ada biaya yang lain sehingga saya diminta membayarkan Rp 15.000. Mungkin ini biaya pembuatan kartu bagi pasien yang datang pertama kali.

Tentu saja saya harus membeli obat secara terpisah di Apotik. Petugas tadi ketika saya minta rekomendasi Apotik mana seharusnya membeli obat, dia mengatakan silahkan membeli dimana saja dan tidak mengarahkan saya untuk membeli di Apotik milik Rumah Sakit ini.

Tata Krama Bertamu

Dari Posterous Photos

Di beberapa tempat, terutama di daerah, peraturan dan tata krama seperti aturan waktu berkunjung masih dipegang teguh. Jadi ketika kita bertamu di suatu daerah untuk pertama kali agar untuk jeli melihat papan – papan dimana ditaruh suatu aturan tertentu. Bila perlu silahkan bertanya.

Awas jangan sampai kita lupa membawa jam yang berfungsi baik dan telah di kalibrasi pada zona waktu setempat.