Gaya Hidup Sederhana

Beberapa hari yang lalu ada suatu posting yang terbaca menarik di beranda Facebook saya. Posting ini datang dari teman FB saya yang kebetulan menjadi kepala desa tetangga, tepatnya kepala desa Logandeng. Posting menarik itu adalah foto suatu rapat ibu-ibu PKK yang dijelaskan mengusung tema “Sosialisasi Gaya Hidup Sederhana”.

Hidup Sederhana

Hmm.. sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan “gaya hidup sederhana”?

Berbicara tentang gaya hidup sederhana mengingatkan saya pada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Di sekolah dasar dulu, saya dan teman-teman oleh ibu guru diajari bahwa hidup sederhana itu sesuai kemampuan, tidak berlebihan, tidak mewah. Ada pengertian lain?

Namun kemudian saya malah berpikir begini: bila gaya hidup sederhana adalah hidup tidak mewah apakah sekarang ini hidup mewah telah menjadi begitu mudahnya sehingga perlu diperangi sampai ke desa-desa? hehe

Selamat Hari Senin man teman 🙂

 

Iklan

Madam Tan Ristorante, Italian Feast with Indonesian Twist

Bila pada siang hari beberapa bulan yang lalu saya menikmati Nasi Bakar Tangkuban Perahu yang gurih dan tenggorokan saya disegarkan oleh siraman minuman ber-es di Madam Tan Wok Bar di jalan C Simanjuntak Yogyakarta (baca ceritanya di SINI),  pada akhir pekan lalu untuk kedua kalinya saya ke Madam Tan Resto. Bedanya akhir pekan lalu saya tidak ke Wok Bar, tetapi ke Madam Tan Ristorante yang terletak di Hotel Aston Garden di Jalan Urip Sumoharjo 37, Yogyakarta.

Tentu saja di Madam Tan Ristorante saya tidak akan menemukan Nasi Bakar yang rasanya gurih banget itu dan masakan yang sangat Indonesia lainnya sebagaimana di Wok Bar yang di Jalan C Simanjuntak. Sesuai namanya Madam Tan Ristorante –ristorante merupakan kata dalam bahasa Italia yang berarti Restoran–, di sini akan tersedia semua jenis pizza dan pasta.

Sabtu, 17 Mei 2014, saya dan beberapa teman blogger dan onliner di Jogja memang diundang oleh Madam Tan Ristorante pada acara icip-Icip/food tasting. Acara icip-icip yang di selenggarakan di halaman yang luas di bawah tenda yang sangat besar itu dipandu secara langsung oleh seorang chef yang bertanggung jawab terhadap semua menu dan cita rasa di Madam Tan Ristorente. Adalah chef Fuuzi atau Muhammad Fuuzi, seorang pria yang sebelumnya berprofesi sebagai chef di Amerika ini yang kemudian membeberkan semua menu secara lengkap mulai dari ide, proses, bahan-bahan sampai suatu masakan tiba di meja penyajian.

Apabila menu makanan merupakan sebuah produk budaya, maka apa yang saya tangkap dari presentasi chef Fuuzi, Madam Tan Ristorente mengusung konsep akulturasi budaya, yaitu budaya Italia (dengan pizza dan pasta) dengan budaya (masakan) Indonesia. Beberapa menu yang diperkenalkan kepada kami adalah Pizza Rendang, Pizza Tuna Rica-Rica, Piza Semur, Roast Baby Chicken, Spaghetti Ayam Rica-Rica dan menu penutup Mango Tango.

Menurut chef Fuuzi semua menu di sini tidak hanya istimewa karena menggunakan topping dan taste Indonesia tetapi juga semua bahan-bahan yang digunakan semua berasal dari Indonesia. Istimewanya untuk memperkuat taste Indonesia, semua pizza di sini tidak dimasak menggunakan oven listrik atau oven berbahan bakar gas, kayu bakar oleh chef Fuuzi dipercayai memberikan keunikan rasa tersendiri. Keyakinan chef Fuuzi tetap menggunakan kayu bakar ini mengingatkan saya kepada nenek saya dulu yang selalu lebih suka ribet dalam memasak yang mana kayu bakar dibilangnya tidak tergantikan, memasak dengan kompor minyak/kompor gas tidak enak. Sedangkan untuk memasak spaghetti, chef Fuuzi mengawinkan 3 budaya (memasak) yang berbeda, yaitu budaya Itali dengan speghettinya, budaya Indonesia dengan kayu bakarnya dan budaya Cina dengan alat masaknya. Saya lupa apa nama alat memasak Cina yang sering kita lihat di TV sampai apinya masuk membakar.

Nah, setelah berdiri dan motret motret, semua peserta icip-icip dipersilakan kembali ke meja dan tempat duduk masing-masing.

Chicken Quesadillas

Ini merupakan makanan yang pertama kali dihidangkan, sebagai makanan pembuka. Begitu porsi Chicken Quesadillas sampai di meja saya, saya tertarik dengan penyajianya dengan taburan beberapa jenis sayur. Lapisan Quesadillas nampak tidak terlalu kering tetapi juga tidak nampak lembek. Kita saya mencicipi pertama kali, gurih yang pas terasa nyaman di lidah. Melumat dan menelannya pun terasa enak. Sayur-sayuran sebagai bagian dari Quesadillas ini memberikan tambahan rasa renyah ketika dikunyah-kunyah.

Spaghetti Ayam Rica-Rica

Menu kedua ini hadir dengan warna merah cabe yang menantang di atas mie yang warnanya kuning agak putih namun terkesan bersih dan mewah. Mulanya saya ragu apakah saya akan mencicipi Spaghetti Ayam Rica-Rica ini apa tidak. Saya sendiri memang cenderung menghindari makanan pedas karena lambung saya yang sensitif. Mie juga saya hindari mengingat maag saya juga tidak cukup ramah dengan mie.

Namun sejenak kemudian, nafsu menanggalkan kehati-hatian saya akan makanan. Pikir saya sekali-kali tidak apa. Saya pun segera mengambil garpu, memilin mie dan pelan-pelan menikmatinya dengan sedikit was-was. Sampai ketika saya sampai pada bagian yang berlumar saos merah saya merasa lega. Saos rica-rica ini tidak sepedas warnanya. Bahkan bisa dikatakan tidak pedas. Syukurlah aman.

Pizza Rendang, Pizza Tuna Rica-Rica dan Pizza Semur

Sebenarnya saya bukanlah penggemar Pizza. Saya bukanlah orang yang bisa menikmati makan pizza. Saya biasanya memesan Pizza hanya untuk menemani atau ‘nglegani‘ teman-teman.

Tetapi Pizza Rendang Madam Tan yang konon menggunakan resep dari chef Wiliam Wongso ini mengakomodasi lidah saya yang sangat njawani. Rasa gurih daging sapi dan rempah-rempah beresepkan Rendang dari Sumatra di atas roti pizza seolah menjadi penyesuai pizza dengan syaraf-syaraf lidah saya. Sementara Pizza Tuna Rica dan Pizza Semur saya tidak bisa mengomentarinya lebih banyak, yang jelas ketiga jenis pizza rasa Indonesia yang disajikan ke saya bisa habis tanpa sisa.

Yang jelas bila kelak ada teman-teman saya yang ingin mengajak makan pizza maka saya akan memilih yang di Madam Tan Ristorante. Terserah teman-teman saya mau memesan pizza yang seperti apa, yang jelas pizza rendang -lah yang akan saya pilih untuk diri saya sendiri. 😀

Roast Baby Chicken

Ngomong-ngomong, olahan daging ayam merupakan makanan yang paling sering saya pesan. Saya suka semua olahan ayam, baik itu masakan Jawa, Indonesia, Asia, Eropa maupun fast food macam KFC dan Mac D. Saya senang langsung senang ketika tahu salah satu yang dihidangkan untuk dicicipi adalah Roast Baby Chicken. Padahal apa tidak sudah kenyang coba dengan telah melahap Chicken Quesadillas, Spaghetti Ayam Rica, dan 3 jenis Pizza.

Roast Baby Chicken ala Madam Tan ini disajikan dalam presentasi yang sangat fotogenic. Jadi jangan heran bila saya malah sibuk memotret dengan ponsel alih-alih segera mencicipinya.

Roast Baby Chiken ini mempunyai rasa yang unik dengan saos seperti saos kacang yang kita jumpai ketika membeli sate ayam Madura. Tapi percayalah saos untuk Roast Baby Chicken Madam Tan ini mempunyai rasa yang berbeda. Ketika kamu menanyakan kepada Chef Fuuzi dibuat dari apa, rupanya chef Fuuzi tidak mau sedikit buka-buka rahasia dapurnya. Jangan menebak-nebak chef Fuuzi menggunakan minyak babi ya, semua makanan di Madam Tan itu 100% halal.

Karena menggunakan ayam yang memang muda, kata chef Fuuzi dengan ayam yang bobotnya kurang dari 500 gram per ekor membuat daging ayamnya terasa empuk, mudah dikunyah dan tidak mudah tertinggal di gigi. Ini penting bagi yang gigi nya tak rapi. 😀

Mango Tango

Sebagai dessert adalah Mango Tango. Dari namanya mudah ditebak makanan ini berbahan apa dan berbentuk seperti apa. Tapi bukan Madam Tan kalau tidak menyajikannya dalam presentasi yang fotogenik.

Sekali lagi karena perut saya tidak ramah dengan segala makanan asam, saya agak paranoid sebelum mencoba mencicipi Mango Tango yang aromanya saja langsung menembus dinding otak. Apa akhirnya tentu sekali lagi saya tidak bisa untuk menahan diri dari godaan Mango Tango. Untuk mengkonfirmasi enaknya Mango Tango ini.

***

Madam Tan Ristorante yang terletak di komplek Hotel Aston Garden yang beralamat di Jalan Urip Sumoharjo no 37 Yogyakarta tentu saja tidak hanya menawarkan ke-enam menu yang kami cicipi. Keenam menu di atas hanyalah sebagian yang kami cicipi sebagai menu baru.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai menu makanan dan minuman yang menjadi andalan Madam Tan Ristorante silakan langsung saja membuka halaman web http://madamtan.com atau mengikuti akun twitter dan instagram: @MadamTanResto

Sedikit kabar baik yang saya bocorkan di sini adalah bahwa semua makan enak dengan Italian style ini berharga sangat Jogja, cukup terjangkau untuk kantong orang kebanyakan, termasuk saya. Untuk menikmati satu loyang pizza topping daging rendang berdiameter 28 cm bisa didapatkan dengan harga kurang dari empat puluh ribu rupiah.

 

 

Opera Coast, Browser #SimpelTapiKeren

Opera Coast sebelumnya saya kenal sebagai Coast by Opera. Saat itu bulan Desember 2013 di University Club Universitas Gajah Mada, Huib Kleinhout (Head of Coast by Opera Software) memperkenalkannya sekaligus sharing tentang ide tentang sebuah web browser mobile yang simple, cantik, elegan tetapi fungsional. Juga pengalamannya selama mengembangkan mobile browser ini. Baca di SINI

Menyimak paparan tentang Coast by Opera dan bagaimana Huib mendemokan web browser simpel besutan Opera saat itu saya hanya bisa melongo dan sesekali manggut-manggut. Saat itu saya ingin mencoba sendiri, tapi terkendala pada saat itu saya belum mempunyai iPad, sampai sekarang saya juga belum punya iPad sih. Untungnya saat ini Coast by Opera yang sudah berganti nama menjadi Opera Coast bisa dijalankan di iPhone.

Begitu mengetahui Opera Coast tersedia untuk iPhone, saya pun segera mengunduhnya dari App Store.

Pertama kali menjalankan Opera Coast, saya langsung disambut dengan ikon/thumbnail beberapa situs web populer di Indonesia seperti MakeMac, Kapanlagi.com, Kaskus dan lain-lain. Di antara ikon website populer yang secara default sudah terbookmark itu pun ada 9gag, gmail, youtube dan layanan google yang lain.

Dari home screen Opera Coast ini saya tinggal tap icon web itu saja untuk membuka isi website. Untuk back tinggal swipe layar iPhone dari kiri ke kanan dan untuk forward tinggal di swipe ke arah sebaliknya, dari kanan ke kiri. Kalau untuk menutup sebuah halaman web saya tinggal melakukan swipe ke atas. Pengguna iOS harusnya sudah familiar dengan gesture seperti ini.

Untuk membuka halaman web lain pun cukup mudah saya temukan caranya, yaitu dengan men-tab grid bar di bagian bawah layar maka Opera coast akan menampilkan homescreen dengan icon-icon website.

Apa yang ingin saya temukan kemudian adalah bagaimana caranya membuka website-website yang belum ter-bookmark secara default oleh Opera Coast. Dengan sedikit coba-coba akhirnya saya menemukan caranya. Swipe ke bawah di home screen, maka di situ akan muncul kotak pencarian. Nah dikotak pencarian itu tinggal ketikan alamat web yang ingin dibuka atau mengetikkan suatu kata kunci.

Apa yang ingin saya temukan kemudian adalah mengganti beberapa icon/thumbnail default dari Opera Coast. Caranya tidak jauh berbeda dengan bila kita ingin menghapus/meng-uninstall aplikasi di iOS. Caranya tinggal tab and hold beberapa saat pada thumbnail/icon yang ingin dihapus, kemudian swipe ke atas.

Apa yang ingin saya temukan kemudian adalah cara menambahkan icon/thumbnail sebagai bookmark baru. Ini penting mengingat website website favorite yang ingin saya ikuti belum tersedia sebagai icon/thumbnail default. Cara ini pun tidak perlu waktu lama untuk saya menemukannya. Caranya tinggal tab grid bar yang ada di tengah bawah layar, di sebelah atas grid bar akan terdapat icon website yang saat ini sedang terbuka, kemudian tab dan drag ke icon itu ke arena thumbnail.

Apabila kita sudah membuka beberapa halaman website, cara untuk berpindah atar halaman web pun bisa dilakukan dengan sangat mudah. Caranya adalah dengan men-tap pada grid bar di sebelah kanan bawah.

Apa yang paling berkesan bagi saya selama beberapa hari menggunakan Opera Coast adalah user interface nya yang instuitif. Dalam beberapa waktu menggunakannya saya bisa menemukan banyak kemudahan tanpa harus membaca user manual, saya cukup menemukannya dengan mencoba-coba. Pengalaman lain yang ingin ditawarkan oleh Opera Coast adalah keinginannya membuka sebuah website seolah-olah adalah sebuah apps atau mobile apps.

Beberapa hal yang ingin saya temukan kemudian di Opera Coast adalah bagaimana mensinkronisasikannya dengan Opera Coast di iPhone saya yang lain. Tentu saja pengalaman yang kurang menyenangkan bila saya harus mengkonstumisasi icon/thumb nail/bookmark di tiap iPhone dan iPad saya. Memang punya berapa iPhone sih, iPad juga belum punya kok, hehe. Pengalaman lebih menyenangkan mungkin pada versi Opera Coast yang akan datang akan hadir kemampuan untuk mensinkronisasikannya dengan Opera Browser yang saya gunakan di Laptop/Desktop

Ajaran Hidup Hemat

Hidup hemat sudah diajarkan kepada kita sejak kecil. Di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat anjuran untuk berhemat mudah sekali kita temukan. Hemat pangkal kaya adalah salah satu bentuk anjuran hidup hemat dalam bentuk kata-kata mutiara yang banyak tertera di buku-buku tulis dan di tempel di dinding-dinding kelas sekolah dasar. Anjuran hidup hemat dalam bentuk lisan seringkali kita datang sebagai nasihat yang datang secara membosankan dari orang tua kita, terutama dari ibu, hihi. Saking pentingnya hidup hemat dianjurkan, lagu pun digunakan untuk membawa pesan ini. Ada yang ingat ngga, apa judul lagu anak-anak jaman kita yang membawa pesan hidup hemat?

Saya kira ajaran (atau anjuran) untuk hidup hemat berawal dari ide untuk menggunakan apa yang kita punya secara lebih bijak. Hidup hemat berbeda dengan pelit. Hidup hemat berawal dari kesadaran bahwa apa yang kita miliki selalu terbatas, ada batasnya dan bisa habis. Ajaran hidup hemat selalu relevan dimana-mana karena pengetahuan koloni manusia menyakini bahwa luas bumi yang kita huni tidak akan pernah bertambah sedangkan manusia terus beranak pinak.

Sayangnya, meski hidup hemat sudah diajarkan dan dinasihatkan secara turun temurun, manusia seringkali melupakannya, atau mengabaikannya. Keabaian manusia akan ajaran hidup hemat itu mudah sekali ditemukan di lingkungan dimana saya tinggal. Entah di lingkungan dimana Anda tinggal. Berbeda ya?

Tiap hari kira-kira pukul setengah tujuh pagi dalam perjalanan saya meninggalkan rumah, saya sering kali melihat lampu-lampu penerangan di jalan dan di teras-teras rumah warga masih menyala belum dimatikan. Padahal lingkungan dimana saya tinggal adalah di wilayah tropis Indonesia dimana jam enam saja matahari sudah tinggi. Kran-kran pengisi kulah di toilet-toilet umum pun saya dapati sering lupa ditutup dan air meluber mengalir kemana-mana. Padalah ini di Gunungkidul dimana pada musim kering kekurangan air selalu datang menjadi masalah.

Dalam dua yang saya contohkan di atas, saya kira masalahnya adalah kurang bijaknya kebiasaan orang dalam menggunakan listrik dan air. Padahal listrik dan air bukanlah sesuatu yang melimpah. Penggunaannya secara bijak adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan ketika kita sembarangan menggunakannya kemudian kita secara sembarangan pula menyalahkan pemerintah (meski bisa jadi pemerintah ada salahnya) bila kemudian terjadi pemadaman listrik secara bergilir terjadi karena kemampuan pasokan listrik PLN tidak lagi mencukupi. Bukan kita kemudian merengek-rengek minta bantuan air bersih kepada pemerintah dan donator bila ketersediaan air bersih di lingkungan kita kekurangan karena kekeringan atau terjadi pencemaran air. Toh masalah kekurangan air bersih terjadi dimana-mana di Indonesia. Konon prosentasi masyarakat Indonesia yang belum bisa menikmati pasokan air bersih secara cukup masih besar.

Listrik dan air di atas hanya sedikit contoh saja. Melalui tulisan blog ini, saya mengingatkan terutama kepada diri saya sendiri mengenai pentingnya hidup hemat. Mengingatkan saya sendiri bahwa seyogyanya saya tidak meninggalkan sisa air minum di gelas dan mengambil makan secukupnya saja sehingga tidak meninggalkan sisa di piring dan di meja makan, tidak menghamburkan bensin untuk bepergian yang tidak penting, dan lain-lain.

Ngomong-ngomong, bagaimana sih cara menghidupkan kesadaran hidup hemat yang lebih menggebrak begitu, sehingga sikap dan perilaku hidup hemat terjadi secara masal?

 

 

 

 

Pemilu 2014 Brutal

Saya sendiri datang ke TPS bukan untuk mencoblos calon legislatif pada Pemilu 2014 yang berlangsung pada tanggal 9 April 2014 yang lalu. Saya datang ke TPS bermaksud untuk merusak/menggugurkan kartu suara yang menjadi hak saya. Saya merusak kartu suara dengan cara mencoblos logo KPU dan mencoblos tanpa membuka kartu suara. Ini saya pikir penting agar surat suara yang tidak tercoblos, tidak digunakan oleh pemilih tidak disalah gunakan.

Pada pemilihan legislatif 2014 ini saya memang memutuskan untuk golput, untuk tidak memilih calon anggota legislatif. Karena menurut saya tidak ada calon anggota legislatif dan partai yang baik yang bisa mewakili suara saya di DPR/MPR/legislatif. Jangankan memilih caleg yang bagus, yang baik, memilih yang tidak terlalu jelek dari yang jelek-jelek sekalipun saya tidak punya ide. It is almost impossible  to determine even the lesser evil.

Betapa tidak, tiap hari kita melihat tontonan banyak anggota DPR yang ditangkap KPK karena kasus korupsi, anggota DPR yang tertangkap media berselingkuh, janji-janji yang mereka ingkari, tidak ada terlihat niat baik dan keberpihakan para anggota DPR kepada pemilih mereka sendiri, tidak ada keperpihakan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat yang konon mereka wakili. Para “wakil rakyat” itu pasti lebih taat pada kepentingan partai daripada yang ingin disuarakan masyarakat. Juga tingkah banyak anggota DPR yang memamerkan watak kekanak-kanakan mereka di sembarang tempat.

Jadi apa salahnya bila saya menggunakan hak pilih saya untuk memilih untuk tidak memilih. Untuk memilih tidak mempunyai wakil sama sekali di gedung DPR.

Pemilu Paling Brutal

Entah kata apalagi yang tepat saya gunakan untuk menyebut Pemilihan Umum kali ini. Kali ini saya menyebutnya sebagai Pemilu yang paling brutal yang pernah saya alami. Sesuatu yang bahkan tidak saya lihat atau baca pada Pemilu-Pemilu pada jaman orde baru.

Kebrutalan itu adalah penularan kebatilan yang dilakukan oleh para anggota DPR dan para calon anggota DPR. Saat ini mengenai bobroknya para anggota DPR seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Sudah jelas, cetha wela-wela, begitu kata orang Jawa. Harapan orang-orang yang hampir putus asa dengan tingkah para anggota DPR adalah hendaknya jangan menularkan kebobrokan itu kepada masyarakat. Tabiat korupsi dan rendah moral itu “pek pek’en dhewe”. Kenyataannya tidak demikian. Cela-cela itu ditularkan dari para calon anggota DPR kepada masyarakat dengan cara politik uang, dengan cara bagi-bagi duit secara terang-terangan tanpa tedheng aling-aling, dengan cara menyuap Panitia Pemilihan untuk memanipulasi hasil penghitungan suara, dan lain-lain.

Yowis, sudahlah …

Ugrade Ubuntu ke 14.04 Trusty Tahr

Meski terlambat –terlambat beberapa hari– instalasi Linux Ubuntu di Laptop yang saya gunakan untuk bekerja sehari-hari akhirnya saya upgrade juga. Apa yang mendorong saya kali ini untuk meng-upgrade instalasi linux adalah dukungan yang lebih lama dan stabilitas yang ditawarkan pada release LTS (Long Term Support). Seperti kita ketahui bahwa Canonical memberikan support LTS dalam jangka waktu yang lama, yaitu 5 tahun. Jadi dengan melakukan upgrade dari Saucy Salamander (13.10) ke Trusty Tahr (14.04) merupakan antisipasi bila kelak saya terlalu fokus kerja dan malas melakukan upgrade. Halaah 😀

Kali ini saya memilih proses yang paling mudah dan paling praktis. Saya memilih membuka terminal dengan mengetikan: do-release upgrade. Dengan begitu sistem akan mengatur file apa saja yang perlu diunduh, bagaimana menginstalasinya dan bagaimana mengaturnya agar program-program yang saya gunakan beserta file-file yang menjadi bahan dan hasil kerja saya tetap aman pada tempatnya.

Memang proses upgrade dengan cara ini memerlukan waktu yang terbilang lama, hampir setengah harian, namun hampir sama sekali tidak memerlukan campur tangan saya. Saya hanya cukup diminta menekan tombol “Y” dan memasukan password admin/super user saja, bila saya tidak ingat.

Begitu Ubuntu selesai di-restart, dan saya login, rasanya saya tidak menemukan banyak perbedaan dari versi sebelumnya (13.10 Saucy Salamander). Sampai hampir seminggu saya menggunakan Trusty Tahr rasanya tidak ada perbedaan mencolok yang saya temukan. Mungkin ini karena saya hanya melakukan upgrade, bukan fresh install sehingga semua setting yang saya buat di Saucy Salamander tetap dipertahankan atau entah karena apa. Ini ada baiknya karena saya memang harus cepat-cepat fokus balik pada pekerjaan. Ngoprek-ngopreknya kapan-kapan lagi saja bila sudah selo. 😀

 

Rasulan atau Bersih Dusun di Padukuhan Karangmojo B

Di desa dimana saya tinggal, tradisi Rasulan atau Bersih dusun (atau di desa lain dikenal dengan sebutan Bersih Desa) sudah lama dikenal dan sampai sekarang masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat. Sebagaimana di desa-desa agraris lain di Jawa, Rasulan merupakan salah satu cara masyarakat Petani dalam mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan yang telah melimpahkan sejahtera di bumi yang dihuni manusia ini. Jadi tak heran bila tradisi Rasulan dilaksanakan tiap selesai musim panen padi. Mengingat padi (beras) merupakan makanan pokok masyarakat Jawa dan mansyarakat di desa dimana saya tinggal.

Di desa dimana saya tinggal, Rusulan atau Bersih Dusun tidak dilaksanakan secara serentak. Desa saya yang terbagi menjadi beberapa dusun, masing-masing dusun umumnya mempunyai hari Rasulan tersendiri. Misalnya di dusun Senedi dilaksanakan pada hari Rabu Legi tiap selesai musim panen dan di dusun Karangmojo dilaksanakan pada hari Jumat Legi seusai musim panen. Seiring waktu, hari pelaksanaan Rasulan bukan lagi hal yang sakral. Jadi tak heran bila terkadang masyarakat menunda atau mengubah hari diadakannya acara Rasulan atau Bersih Dusun ini. Misalnya: Di Padukuhan (dusun) Karangmojo B, Bersih Dusun/Rasulan sudah dilaksanakan pada Hari Jumat Legi, 2 Mei 2014 sedangkan di Padukuhan Karangmojo B rasulan baru akan dilaksanakan setelah Puasa Ramadhan tahun ini, atau sekitar bulan Agustus kelak. Alasan penundaannya karena pada bulan-bulan ini masyarakat padukuhan tersebut sedang sibuk dan bila ditunda sampai bulan Agustus dipandang Rasulan bisa dilaksanakan dengan lebih meriah.

Di beberapa desa di Gunungkidul, pelaksanaan Rasulan dari tahun ke tahun memang dilaksanakan dengan semakin meriah. Rasulan yang pada jaman dulu sebatas berupa kenduri sederhana di balai desa/balai padukuhan dan pada malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang kulit, di beberapa desa kini Rasulan atau Bersih Desa berubah menjadi semacam pesta rakyat yang dilaksanakan secara meriah dalam beberapa hari. Ada desa yang dalam melaksanakan rasulan ini menggelar pasar malam, pesta rakyat, pameran, berbagai pentas seni tradisional dan lain-lain. Ada pula desa-desa di Gunungkidul yang mengoptimasi tradisi Rasulan sebagai daya tarik wisata budaya.

Rasulan di padukuhan saya sendiri bukan termasuk Rasulan yang meriah itu. Dari dulu sampai sekarang tetap dilakukan dengan cara sederhana. Bila tidak mau dibilang makin “sederhana”. Masyarakat di padukuhan dimana saya tinggal merasa cukup melaksanakan Rasulan dengan menggelar kenduri di balai padukuhan. Dengan membawa ke balai padukuhan makanan berupa masakan tradisional yang terdiri dari: nasi, sayur, tempe, rempeyek, nasi gurih, ingkung, ketan, jadah, masakan-masakan lain yang berbahan hasil bumi lainnya. Sesampainya di balai pedukuhan semua jenis masakan itu dikumpulkan dan setelah didoakan oleh pemuka agama, dibagikan lagi kepada masyarakat padukuhan itu sendiri dan kepada masyarakat padukuhan tetangga yang pada hari itu tidak melaksanakan tradisi Rasulan.

Begitu saja.

Bahkan beberapa rangkaian acara Rasulan yang oleh masyarakat dianggap bertentangan dengan ajaran agama, saat ini sudah dihilangkan, tidak dilakukan lagi. Apa yang dihilangkan itu diantaranya adalah: Mbuangi. Mbuangi adalah mengirimkan makanan dalam porsi dan cara tertentu kepada para penunggu sumur-sumur tua yang ada di sekitar Padukuhan.  Mbuangi ini mengingatkan masa kecil saya ketika bersama beberapa teman sebaya diperintah oleh pemuka adat untuk mbuangi ke Sumur Gede, Sumur Senedi dan Sumur Nglundo 🙂

Berikut ini adalah beberapa foto yang saya ambil dari tradisi rasulan yang diselenggarakan di padukuhan dimana saya tinggal:

 

Tulisan Mengenai Rasulan sebelumnya;

Oleh-Oleh dari Rasulan di Padukuhan Karangmojo B

Rasulan, Nonton Wayang