Kamu yang menjadi Imam. Tidak Kamu saja

Di suatu shalat Isya di suatu masjid, hanya ada beberapa pemuda yang bertampang tidak alim. Tidak seperti biasa, jamaah yang lain sepertinya sedang tidak akan  bershalat Isya’ di masjid itu.

Beberapa pemuda itu entah kenapa terus saja ngobrol entah apa yang dibicarakan. Mereka cuek atau memang tidak mendengar kalau di masjid tetangga, Iqamah sudah dikumandangkan. Atau mungkin ada yang mereka tunggu. Mungkin menunggu biar jamaah lain terkumpul agar jamaah lebih banyak. Atau apa?

“Kamu yang jadi imam ya” dari ngobrol tidak karuan mereka, kalimat itu yang agak terdengar.
“Ngga bisa, kamu saja”
“Kamu …”
“Kamu …”

Salah satu pemuda tidak alim itu kemudian menyudahi pertengkaran dan legawa menerima musibah untuk mengimami jamaah isya yang tidak banyak itu.

Shalat Isya berlangsung cepat. Bacaan shalat di baca cepat. Tajwid dan Qalqalah sepertinya bukan isu yang perlu diseriusi malam itu.

Beberapa pemuda itu tanpa banyak apa segera menuju tempat nongkrong di perempatan yang biasanya. Memang itulah rutinitas mereka sehari hari.

Tidak terlalu lama  waktu berselang. Di jalan itu lewat serombongan orang yang sepertinya mirip dengan mereka mereka yang menjadi pemuka dan berjamaah di masjid. Kalau tidak salah loh … Mereka itu dari menunaikan acara kenduri, ‘genduren‘ untuk selamatan bagi orang yang telah meninggal di kampung mereka.

Oh jadi itu sebabnya jamaah pada malam itu tidak biasa!

Iklan

Ingat ini : Ging Gang Golly

Di Radio, kemarin malam, lagu ini memperdengarkan untuk saya suasana puluhan tahun silam ketika bersama teman teman sekolah menengah pertama menuju ke Bandung untuk studi wisata.

Lagu itu memang istimewa untuk saya. Istimewa karena memang saat itu terdengar pas ber beat dan bernuansa riang, meskipun tidak mengerti kata kata apa yang dipakai, apalagi maksud lagu itu. Bahkan  berjudul apa dan siapa yang menyanyi juga tidak tahu. Yang penting senang begitu saja. Buktinya saya masih mengingatnya sampai sekarang.

Sekarang judul lagu ini dapat saya pinjam sebagai judul posting ini karena jasa baik paman google yang telah menunjukan. Beberapa kata yang dapat di tangkap oleh telinga yang saya konsultasikan ke paman google ini mereferensikan ke Ging Gang Gooly. Kemudian versi yang saya unduh dibawakan oleh Inner Kneipe.

Kalau Mas Eko membaca posting ini, mudah mudahan juga mengingatkan ke kita semua warga III B SMP Playen kita.

Tes Posting via Flock installed on uBuntu JJ

Screen shot ini di upload ke Picasaweb juga dengan campur tangan Flock. Memang, saya belum banyak mengeksplorasi fitur fitur utama Flock, tetapi kesan pertama menggunakan setelah tadi menginstalasi di uBuntu.

Ini merupakan tool all arround yang cool, eh all in one service

Blogged with the Flock Browser

Penasaran dan intepretasi informasi …

Banyak orang suka menjadi penasaran. Dan banyak orang jengkel di buat penasaran. Sudah watak dasar saya, kalau suka dengan hal hal kepenasaran. Namun pada dasarnya saya  lebih suka membuat orang lain (jengkel) penasaran.

Penasaran menurut saya merupakan permainan informasi. Orang berusaha menangkap aliran data  yang sering kali tidak lengkap dan mentranslasikan menjadi suatu informasi yang bagi dia mudah di mengerti. Dalam usaha pengintepretasian ini, orang menggunakan teknik menduga duga atau menebak nebak untuk memperoleh informasi sebagai kompensasi atas ketidak sempurnaan aliran data terkirimkan.

Dalam hal ini, keakuratan pekerjaan interpreter ditentukan oleh kualitas/kelengkapan aliran data (1), keterampilan dan pengetahuan si interpreter (2) dan keberuntungan (3). Keberuntungan, karena dalam banyak kesempatan pengambilan keputusan teknik gambling tetap sering dipakai.

Bagi saya, menjadi menariknya adalah kerap tidak akuratnya permainan menduga duga. Terlalu mudah dalam menebak atau melakukan sesuatu bagi saya tidak ada menariknya. Kesalahan dan gagal  itu dinamis. Namun pernyataan ini bukan untuk men-justifikasi sering tidak sukses nya saya dalam melakukan sesuatu.

Saat ini saya sedang menikmati menebak nebak dalam menggunakan komputer yang language nya saya set ke bahasa yang tidak tahu, bahkan menbaca font -nya saja tidak bisa, yaitu bahasa Jepang.

Japan_View

Salah Diagnosa di Rumah Sakit : Wajarkah?

Managemen penanganan Pasien da Penyakit di Rumah Sakit adalah sesuatu yang mana saya awam terkaitnya. Seandainya saya sedang sakit, sebagai seorang awam, maka apa yang saya lakukan adalah berobat ke dokter atau Rumah Sakit yang saya percaya. Selebihnya saya hanya akan percaya dalam kapasitas saya dan berpikir positif agar bisa lebih kooperatif dengan tim medis untuk mempermudah penanganan kesehatan. Apa yang saya pikir menjadi kewenangan saya sekaligus menjadi kewajiban yaitu mebayarkan biaya pengobatan/perawatan sesuai yang ditagihkan pihak manajemen Rumah Sakit.

Tadi siang ketika saya menjenguk seorang teman yang telah melewatkan waktu beberapa hari di Rumah Sakit. Teman saya itu di punish mengidap usus buntu dan harus menjalani proses operasi. Karena operasi merupakan tindakan yang paling umum untuk mengendalikan usus buntu maka pihak keluarga pun turut pada prosedur. Termasuk menyiapkan biaya dan membeli perlengkapan operasi seperti apa kata pihak RS.

Pengalaman pribadi menjelang masa masa operasi beberapa tahun yang silam memudahkan untuk memahami bagaimana ketakutan dan kecemasan seseorang yang sedang menunggu proses surgery. Teman saya ini saya duga juga sedang memerangi ketakutan akan ruang operasi yang telah menunggu.

Dan ..

Teman saya ini (mungkin merasa) beruntung. Karena ketakutan yang ada di ujung ruang sana tidak jadi terjadi.  Dokter memutuskan –dalam keputusan terakhir– bahwa ternyata penyakit pasien ini bukan usus buntu, melainkan masalah pencernaan. Dan tidak perlu operasi. Dan pada siang tadi dipersilahkan pulang.

Alhamdulillah dan semoga teman saya yang satu ini lekas sembuh dan dapat menikmati aktifitas sedia kala. Amin.

***

Kasus kesalahan diagnosis seperti yang di alami teman ini bukanlah yang pertama kali saya dengar. Sebagai orang awam apa yang bisa berusaha saya pahami adalah bahwa diagnosis merupakan suatu input akan sebuah proses. Nah dari seperti apa input ini baru kemudian diputuskan seperti apa proses yang relevan untuk mendapatkan output yang tepat. Dalam hal ini, output dari proses tindakan medis adalah “sembuh” atau “menjadi sehat”. Prosesnya bisa berupa pemberitan obat yang tepat, suntikan, terapi atau operasi. Bila proses tidak relevan dengan data inputnya maka output “sembuh” tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan efek atau resiko tertentu.

Memang, saya berusaha mengerti bahwa proses diagnosis bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak memerlukan keahlian, input device yang bekerja baik, prosedur, dan sumber daya pengambil keputusan. Kesalahan pada salah satu atau beberapa dari mata rantai akan mempengaruhi mata rantai berikutnya.

Pun demikian, umumnya “pasien”lah yang lebih banyak menanggung resiko dari “kepercayaan” yang telah dikuasakan kepada institusi medis dalam hal ini Rumah Sakit. Resiko itu bisa berupa biaya, perasaan, rasa cemas, efek samping, ketidak sembuhan atau yang paling fatal kematian. Sangat jarang Rumah Sakit yang turut menanggung konsekuensi dari cacat pada mata rantai tindakan medis.

***

Saya belum mengerti apa yang disebut dengan malpraktek dan kaitanya dengan prosedur penangatan kesehatan di institusi Rumah Sakit.

GeForce 7200 mulus di uBuntu JJ

Saya tidak mengira kalau menambahkan Graphic Card di uBuntu JJ sangat mudah. Kemarin, untuk Desktop yang dulu sedikit bermasalah dengan instalasi uBuntu karena kendala Graphic Card yang tidak cukup memenuhi syarat untuk menampilkan kecantikan desktop Gnome di uBuntu, saya mengeluarkan uang 300 an ribu untuk sebuah Graphic Card PCI Express Low End dengan chipset nVidia 7200.

Untuk  mempermudah pemasangan, saya sudah membayangkan yang rumit rumit dan berprasangka buruk akan sulitnya menambahkan hardware baru dalam mesin linux, saya menyambungkan lebih dulu komputer ini  dengan internet dan komputer lain agar mudah untuk googling googling.

Ok, Graphic Card terpasang. Dengan tidak sabar mesin segera saya hidupkan. Desktop Menyala. Resolusi saya setting. 1024 768 px 60 Hz.

Mudah sekali. Dan tidak diperlukan update yang macam macam. Uang 300 ribuan memang smart.

Urusan untuk mengoptimalisasi kinerja si nVidia ini belakangan saja. Termasuk mengaktivasi accelerator Open GL dan mencoba coba S Video Output dan HDMI untuk second monitor. Yang penting sekarang saya dapat mulai mempekerjakan mesin  uBuntu ini untuk nge blog dan rutinitas harian.

Apa alasan kita dalam berteman dengan seseorang

Bila kita sering bertemu dengan seseorang secara intensif apakah otomatis itu bisa disebut sebagai "pertemanan". Hanya berteman dengan orang orang yang menyenangkan bagi kita. Atau kita mengajak suatu pertemanan bila seseorang itu kelihatan akan memberikan suatu keuntungan buat kita seperti keuntungan berupa rasa aman, keuntungan finansial, atau keuntungan berupa popularitas, dll?