Akurasi, Korban Berita Cepat Saji

Meninggalnya mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi telah menjadi simpang siur sejak dini hari sampai saat sekarang saya mengetik posting ini. Mulanya beredar kabar kalau mbah Maridjan meninggal bersama belasan orang lainnya di dalam rumah mbah Maridjan yang terbakar awan panas. Tidak lama berselang disusul kabar mbah Maridjan dtemukan dalam kondisi lemas tetapi masih hidup oleh tim evakuasi. Dan pagi ini santer beredar mbah Maridjan ditemukan meninggal dengan posisi bersujud di ruang dapur, ada versi di dalam kamar mandi. Berita dari sumber yang berbeda melaporkan mbah Maridjan meninggal dalam perjalanan ke RS Sarjito – Yogyakarta.

Kesimpangsiuran berita yang lain yang membuat orang awam seperti saya kebingungan tujuh keliling adalah mengenai jumlah korban meninggal dan hilang pada bencana Tsunami yang terjadi di Mentawai – Sumatra Barat. Dalam waktu hampir bersamaan beberapa media berita online telah melansir jumlah korban yang sangat berbeda.

Sekarang ini tiap – tiap media berita, terlebih media online, media televisi dan media radio, seolah berlomba untuk adu cepat dalam mempublikasikan hasil liputanya dan menomor sekiankan akurasi berita. Saat ini saya mulai merasakan efek samping dari mengkonsumsi berita cepat saji. Media 2.0 . Web 2.0 Yah OK -lah kalau begitu.

Paling tidak di era dimana mendapatkan dan menyebarkan lagi berita bisa dilakukan dengan mudah dan seketika, saya harus lebih berhati – hati dalam menerima kebenaran suatu kabar dan tidak tergesa – gesa untuk menyebarkan kembali suatu berita sebelum benar – benar verified.

Iklan

Jatuh Dalam 5 Perkara Dosa

… Menurut guruku, ada kemungkinan orang berilmu seperti kakek jatuh ke dalam 5 macam dosa. Dosa pertama ialah pada kemanusiaan. Kita diciptakan Tuhan sebagai manusia. Bukankah manusia itu sebaik – baik ciptaan-Nya? Mengapa kita ingin berjalan diatas air seperti katak dan menghilang seperti jin? Dosa kedua adalah pada diri sendiri. Kita berbuat riya karena ingin dilihat orang. Pamer menyebabkan kita bergantung kepada orang, kalau tidak ada orang kita akan berhenti berbuat. Perbuatan baik hilang maknanya karena ingin dilihat orang. Baca lebih lanjut

Paliyan , Semifinalis DIY Green & Clean 2010

Keren, Paliyan masuk sebagai 60 Padukuhan/RW yang menjadi semifinalis DIY Green and Clean 2010. Tidak hanya sepanduk itu saja yang saya lihat, melainkan sisi kiri – kanan jalanan lintasan jogging saya yang menjadi lebih bersih.

Doa kita semoga Paliyan masuk sebagai finalis dan lebih dari itu bukan semangat menjadi pemenang konteslah yang terpenting, melainkan tumbuhnya budaya di dalam masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat, bersih, hijau atau lebih kereeenya eco friendly.

Dan saya usul mulai bagi pedukuhan/RW yang menjadi semifinalis DIY Green and Clean 2010 sekalian dibersihkan dari spanduk – spanduk semacam dibawah ini :

Alamat IP Cantik, 8.8.8.8

Alamat IP siapa lagi kalau bukan milik DNS Server Google. Pagi ini baru saja membuktikan betapa menguntungkannya sebuah alamat IP cantik. Ceritanya, DHCP server di tempat bekerja teman saya telah gagal meminjamkan seperangkat alamat IP pada komputer yang ingin saya pakai buat nge-net. Kemudian teman saya itu memberi tahu kepada range alamat IP yang bisa dipakai. Sayangnya dia tidak tahu/tidak ingat alamat IP gateway dan DNS.

Tidak kenapa. Setelah mencoba – coba, sebuah router bisa diketahui alamat IP nya. Coba – coba selanjutnya adalah DNS. Dan langsung teringat dengan nomor cantik 8.8.8.8. Avda Kadabra …

Apakah posting ini bisa dibaca dari perangkat browsing Anda?

Wedang Teh Nasgitel & Pak Beder

Saya sudah berulangkali memposting foto – foto ini dan foto – foto yang mirip baik di blog ini, di blog saya yang ada di sebelah maupun di beberapa social media. Ya, karena saya memang menikmati wedang teh “nasgitel”.

Nasgitel berarti panas, legi (manis), kentel (kental). Sebuah akronim yang dipopulerkan oleh iklan sebuah merek teh yang entah sejak kapan mengudara melalui radio lokal yang pada jamannya akrab bagi keluarga di pedesaan.

Di desa dimana saya tinggal, teh merupakan minuman bagi semua. Bisa dipastikan anda akan mendapati suguhan wedang teh bila bertamu. Teh menjadi minuman default pada pesta tradisional atau rapat rembug desa di balai padukuhan/kelurahan. Bila  tidak minum teh maka anda boleh memesan sesuai selera. Ingin air putih, kopi atau yang lain. Silakan. Asal jangan minta coca cola, fanta atau terlebih vodca martini. Kecuali anda siap dipisuh pisuhi dan diumpat tidak tahu adat unggah ungguh tata krama tata trapsilo. hehe

Baca lebih lanjut

Hukum Tidak Identik Dengan Biaya Mahal

Berurusan dengan proses hukum dan aparat penegak hukum itu berbiaya mahal. Entah sejak kapan stigma seperti ini tertanam di benak  masyarakat. Terutama masyarakat di desa dimana saya tinggal.

Terlepas stigma ini beralasan atau tidak, tetapi hal ini mudah diamati dari keengganan sebagian masyarakat untuk memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum. Mereka tidak mau ketika sudah jatuh masih tertimpa tangga. Apabila mereka sedang tersandung masalah mereka akan lebih memilih untuk mencari penyelesaian di luar jalur hukum, menyelesaikan dengan cara mereka sendiri. Dan bilapun mereka gagal atau tidak menemukan solusi atas rasa keterdzaliman yang diderita, maka mereka pun akan memilih diam.

Saya berusaha mengerti sikap sebagian masyarakat ini terjadi di tengah – tengah mereka yang belum sejahtera dalam pendidikan dan ekonomi, akses informasi yang terbatas masih menjadi barang mewah. Dan “mungkin” juga kultur masyarakat yang terbiasa menerima ketertindasan sebagai sesuatu yang “sudah biasa” dan nrimo.

Itu saja?

Tidak. Stigma ini terus mengakar karena bisa dijadikan komoditas bagi kaum dan golongan tertentu. “Daripada masalah ini dinaikan ke jalur hukum dan menghabiskan banyak uang, lebih baik datang saja ke rumah saya“, jadi jangan heran bila suatu ketika kita mendengar ada oknum yang ngomong seperti itu.

Suara – suara mirip seperti ini terdengar ketika beberapa hari yang lalu di desa dimana saya tinggal terjadi tindak kekerasan sampai pada akhirnya keluarga korban berinisiatif menyelesaikan masalah ini dengan jalur hukum. Perlu diketahui bahwa pelaku masih ada hubungan keluarga dengan tokoh masyarakat. Baca lebih lanjut

Menunggu Lapar

Anugerah kesejukan pagi seperti ini akan semakin nikmat bila saya lebih bisa mensyukuri. Bersyukur tidak hanya di bibir dengan mengucapkan kata – kata “syukur”. Tetapi lebih dalam masuk ke rongga mulut dengan bantuan lidah. Siapa yang akan bilang kalau Soto + The hangat tidak menyempurnakan nikmat pagi menjelang siang ini?

Saya tidak munafik. Suka.

Tapi agar nikmat ini menaik sampai ubun – ubun, saya akan menunggu beberapa saat lagi sampai benar benar lapar. “Jangan makan sebelum kamu lapar dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang

Posting ini adalah bagian dari time line proses menuju ke derajat lapar yang lebih tinggi.