Jogging Restarted, Alhamdulillah

Boleh dikatakan, pagi hari tadi memberikan restu kepada saya untuk memulai lagi ritual minggu pagi yang telah dengan sengaja saya hentikan selama hampir dua bulan. Satu bulan penuh suspended jog itu memang agar saya dapat dengan nyaman menunaikan puasa Ramadhan, sedang hampir sebulan berikutnya adalah karena saya dihadang oleh duet maut antara kemalasan diri dan hujan yang mengguyur tak kenal musim. Menurut perhitungan cuaca dan pranata mangsa –BMG -nya orang Jawa kuno– ini merupakan bulan yang mana seharusnya tidak banyak curah hujan atau dalam bahasa Jawa disebut mongso ketigo.

Memulai atau memulai kembali itu saya yakini sebagai perbuatan yang tidak mudah. Selain dengan membulat tekad, sejak minggu kemarin, saya sudah membuat beberapa persiapan. Menyiapkan sepatu jogging dan kaos kaki yang sudah lama teronggok di kolong. Kaos dan celana yang ringan, nyaman dan warna sesuai mood juga tinggal pakai. Tidak boleh ada alasan takut hitam, lebih hitam karena memang sudah hitam :), SPF 24 sunblock sudah saya beli dari mini market sebelah tempat kerja. Gear yang tidak boleh tidak siap adalah ponsel music + bluetooth headset. Kalau guru IPA sekolah menengah saya dulu bilang sumber energi itu adalah Karbohidrat, Protein, Lemak + vitamin pembantu maka saat ini saya bisa bilang itu kurang lengkap. Hard beat music nyata – nyata membuat saya lebih energik dan bersemangat.

Kesegaran jalan Karangmojo – Paliyan yang segar tadi pagi, alhamdulillah bisa saya tempuh sampai km 4. Sampai di depan Puslatpur Paliyan. Target saya, jog kedua minggu depan bisa menambah coverage distance. Syukur – syukur sampai bukit Sodong.

Selesai jogging, tentu saja fitur cooling down pada ponsel saya manfaatkan. Fitur cooling down itu adalah Camera 3.2 MP Autofocus. Mainan ini dalam sekejab menghilangkan rasa terengah dan kaki pegal – pegal.

Agar apa yang saya tuliskan tidak dibilang hoax, biarlah foto ini menjadi saksi bahwa saya telah menginjakan kaki di jalan arah bukit Sodong. Bagi yang sering mengunjungi blog ini mungkin akan menuduh bahwa ini foto – foto lama yang di re-post. Silahkan anda mengecek metadata di account flicker saya.

Beberapa foto – foto amatir saya yang lain bisa ditengok di http://twitter.com/jarwadi , http://facebook.com/jarwadi atau di http://jarwadi.posterous.com

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.3

Iklan

Framed Nature

Foto bunga kapas ini saya ambil pagi ini di depan rumah saya. Seperti biasa, saya menggunakan ponsel Sony Ericsson Cybershoot kuno untuk mengkonversi apa yang dilihat mata ini ke dalam citra digital agar mudah dibagikan di dunia maya.

Tombol shutter pada Cybershoot yang beberapa waktu lalu -sudah cukup lama- saya keluhkan, akhirnya diganti. Uang sekitar $ 14 telah saya barter dengan part ini. Tapi senang juga, saya bisa leluasa menfokus obyek sebelum menekan penuh tombol pengambil gambar.

PS : Posting ini saya buat dengan ponsel sekaligus saya siap – siap ditertawakan bila gambar yang saya pamerkan ini kelihatan jelek di monitor.

Tombol Keypad Terlepas. Untung Ketemu

Mungkin ini termasuk kejadian yang jarang terjadi. Setidaknya bagi saya.  Salah satu tombol pada keypad pada ponsel QWERTY tercecer dan saya baru menyadari beberapa saat kira – kira setelah kejadian karena saya akan memakai ponsel itu. Saya menduga ini terjadi karena tadi tergesa – gesa memasukan ponsel ke dalam holster ketika akan berjabat tangan dengan teman. Wah, celaka, saya pikir. Tadi kejadiannya di keramaian. Namun saya memutuskan untuk berspekulasi melakukan pencarian. Hitung – hitung itu adalah pilihan termurah sebagai tindakan pertolongan pertama karena selama seharian komunikasi saya pasti akan terancam tanpa berfungsi normalnya ponsel hitam ini. Dan … Keberuntungan rupanya sedang berpihak pada saya. Benda kecil mungil dekil tombol “alt” itu bisa saya temukan dan dengan mudah bisa saya pasang di tempat semula. Alhamdulillah, masih rejeki. Terbayang berapa ratus ribu uang yang harus saya bayarkan untuk mengganti tombol keypad itu. Membeli satu tombol “alt” pasti tidak boleh. Biasanya pembelian harus satu set. Dan selain Rp yang saya keluarkan, akan ada waktu down time ponsel yang paling tidak satu atau dua hari.

Tidak terbayang produk si buah hitam kok seringkin ini dalam desain produknya. Apa kebetulan saja apa yang saya punya cacat secara produksi? Atau karena saya yang over ceroboh? Entahlah …

Mau beli Laptop? Bukan?

“Clock Speed Processor -nya berapa Giga?”

“RAM nya berapa Mb?”

“ROM nya berapa Mb/Gb”

“LCD -nya berapa inch?”

“Ada wi-fi nya ngga?”

Ini bukan check list orang mau beli Laptop/Computer. Melainkan anak – anak sekarang yang mau membeli hand phone. 😀

Memang saat ini fungsi utama handphone sudah bergeser. Kemampuan untuk menelepon telah menjadi fitur pelengkap saja. Siapa sih yang menggunakan perbandingan seperti ini untuk memilih saat akan membeli ponsel. Yah. megapixel camera yang lebih tingga, auto focus dan xenon flash, pasti lebih memikat.

phone call quality comparation

Gambar di comot dari http://www.gsmarena.com/apple_iphone_4-review-490p6.php

Banyak Acara Syawalan, Jadi Tantangan Puasa Syawal

Inilah alasan mengapa sampai saat ini saya belum memulai mengerjakan puasa Syawal. Syawalan dan Halal bihalal ala Indonesia ini memang unik selalu lengkap dengan hidangan makanan minuman yang melimpah.

Tapi yang paling membuat kangen dan istimewa adalah pada acara ini begitu mudahnya kita terkumpul dengan sanak keluarga dan teman – sahabat serta handai taulan. Tentu saja, mereka – mereka telah dengan tulus ikhlas membayar mahal dengan harga tiket gila – gilaan masih ditambah dengan menyisir kemacetan sepanjang jalanan. Saya pikir saya tidak perlu menuliskan lagi tentang bagaimana tradisi mudik Indonesia yang penuh suka duka lara itu.

Selamat bersyawalan, salam buat orang orang tercinta.

*Minal Aidhin wal Faizin*

PS :

*Minal Aidhin wal Faizin* Saya tadi baru saja dikritik teman, ternyata ejaan yang saya pakai selama ini #Minal Aidzin wal Faidzin# salah. 🙂

Sekaligus posting ini sebagai koreksi atas ketidaktahuan saya selama ini 🙂

Tidak Percaya Dengan Petugas Pengisian SPBU

Siapa tidak jengkel berlama – lama mengular antri untuk mengisi bensin di SPBU yang mana di musim mudik lebaran ini seolah olah semua motor dan mobil berebut minuman energi bau fosil. Entah itu diguyur hujan entah itu di tengah terik, mau tidak mau ya harus antri. Agar kuda – kuda besi mereka dapat dihela mengantar ke tujuan.

Tidak salah bila semua orang ingin dapat pelayanan cepat. Kalau perlu berebut. Untung ada mekanisme antri. Saya kira kebanyakan orang Indonesia tidak mau antri, kecuali bila terpaksa, termasuk saya tentu saja.

Uniknya ketika di POM bensin pak sopir tidak hanya harus ikhlas ngantri, tetapi juga harus turun dari dashboard kemudi. Apa yang dilakukan seorang pak sopir itu adalah untuk memperhatikan indikator volume pengisian bahan bakar dan jumlah biaya yang harus dibayarkan. Memang, bukan rahasia lagi bila di banyak SPBU banyak petugas – petugas pengisian yang nakal yang mencari THR secara diam – diam secara tidak legal. Tidak tahu apakah cara seperti ini dilakukan karena juragan SPBU tidak mengganti labor hour secara layak, Tunjangan Hari Raya yang tidak comply dengan kebutuhan berlebaran minimum propinsi atau memang itu sudah gawan bayi/ sifat warisan nenek moyang bawaan sejak mereka dilahirkan ke muka bumi yang konon subur tongkat kayu dan batu jadi tanaman itu.

Imaginasi liar saya hanya bisa berandai, bila ke insyaf an terjadi secara masal berjamaah terhadap semua petugas SPBU, dengan asumsi waktu untuk pak sopir turun dari mobil memeriksa indikator pengisian adalah 2 menit maka pengantri ke 30 di suatu pom bensin akan menikmati discount waktu seharga 60 menit.

Kapan mimpi saya itu menjadi kenyataan? Silakan tanya pada gurita Paul yang telah sukses meramal kemenangan pertandingan di Word Cup Africa

Bakso Markatam : Ikon Lebaran di Kampung

t KuBagi yang besar di kampung dimana saya dibesarkan dan bertempat tinggal sampai saat ini, terutama mereka – mereka yang seusia sebaya dengan saya, pasti tidak akan asing lagi dengan Bakso Pak Markatam. Bakso Pak Markatam sudah tersohor di seantero kampung kira – kira sejak tahun 90 an, saat itu saya masih SD /SMP.

Pada masa beheula itu, bakso merupakan makanan favorite di seantero kampung yang bernilai gengsi tinggi. Kalau jaman sekarang saya kira tidak akan kalah moncer dengan produk warung kapilatis seperti KFC, Mac D, HokBen, dll

Sampai saat ini, meski harus berkelahi habis – habisan dengan moderisme, aroma sedap dan rasa gurih bakso Markatam masih mempunyai tempat tersendiri di lidah para penggemar, utamanya penduduk dusun Gerjo, Karangmojo B dan sekitarnya.

Bila anda sedang mudik dan belum sempat halal bihalal dan bernostalgila dengan cita rasa bakso Markatam dipersilakan. Mumpung belum habis.

Sebenarnya ada satu lagi legenda bakso di kampung sini, yaitu Bakso Bapak Saekat. Sayang saya belum sempat mencicipi. 🙂