Cara Mudah Mendapatkan Penghasilan dari Blog

Selama ini dan sepanjang yang saya ketahui, untuk mendapatkan penghasilan uang dari blog tidaklah selalu mudah. Apalagi bagi blogger yang kurang mengerti terhadap hal-hal teknis terkait blog monetizing. Tak heran bila banyak blogger pemula kemudian menanggalkan keinginannya untuk memperoleh penghasilan dari blog yang dikelolanya.

Saya sendiri selama ini bukanlah blogger yang fokus untuk mencari penghasilan dari blog. Selain karena saya sendiri tidak piawai dengan hal-hal teknis blog monetize, saya memang blogger yang senang berbagi konten.

Nah, bagi blogger teman-teman yang berkeinginan mendapatkan penghasilan atau mengoptimalkan penghasilan dari blog yang dimilikinya. Ini ada tawaran menarik dari PT Interspace Indonesia.

PT. Interspace Indonesia adalah sebuah perusahaan Affiliasi dari Jepang yang baru masuk di pasar Indonesia. Sebagai perusahaan digital agency baru di Indonesia, PT Interspace Indonesia mengundang teman-teman blogger untuk bergabung sebagai publisher.
PT. Interspace Indonesia ini menawarkan banyak program afiliasi yang bagus sehingga akan memudahkan blogger dalam memonetisasi/mencari penghasilan finansial dari blog-blog yang dikelolanya.
Cara untuk bergabung menjadi publisher pun cukup mudah. Teman-teman silakan mengklik banner berikut dan melakukan pendaftaran di website access trade dengan lengkap.

Bila ada pertanyaan terkait pendaftaran Program Afiliasi ini, silakan menghubungi saya. Saya akan berusaha membantu.

Karena banyak yang bertanya bagaimana mekanisme Acces Trade Affiliation berikut ini saya tempelkan video yang memberikan cukup penjelasan mengenainya:

Selamat Pagi dan Selamat Beraktifitas

Monetisasi Musik Indie

Apa yang saya bayangkan ketika dengan teman-teman saya berbicara tentang monetisasi (mendapatkan uang dari) suatu, karya musik adalah dengan menjual lagu itu kepada para penikmat musik. Misalnya menjual lagu dalam bentuk kaset atau CD, atau dalam bentuk dan format lain. Apa yang sebelumnya juga kami bayangkan adalah menjual musik itu harus melalui label. Ini masalah, mengingat salah seorang teman saya yang pernah bekerja di industri rekaman/label tahu betul birokrasi berliku yang harus dilewati untuk menembus suatu label.

Cak Usma and Digital Music Opportunity

Cak Usma and Digital Music Opportunity

Itulah kenapa ketika dulu kami masih rajin merekam karya musik kami –maksud saya karya musik dari teman-teman saya yang pandai bermain musik– hanya berhenti menjadi koleksi pribadi. Atau paling-paling kami share di sound cloud. Seperti salah satu karya kami yang ini.

Wawasan saya tentang monetisasi karya musik baru terbuka ketika pada Sabtu, 22 Februari 2014 di Telkom JDV Yogyakarta, saya mengikuti presentasi yang dibawakan oleh Cak Usma dari Melon Indonesia.

Melon Indonesia adalah anak perusahaan dari Telkom yang fokus bisnisnya adalah konten musik digital dan hal-hal terkait dengan musik. Melon menjual baik konten musik dari industri rekaman dan label maupun karya musik dari band-band indie. Melon tidak hanya menjual musik kepada end user dalam bentuk mp3 atau musik berformat DRM, melainkan juga membuka API untuk pihak ketiga. Dari API yang dibuka ini misalnya operator seluler bisa menjual RBT, developer bisa membuat aplikasi yang menggunakan bank lagu di Melon dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Masyarakat Yogya Deklarasikan Gerakan #AntiMiras

Minuman Keras (Miras) sudah sejak lama menjadi masalah dan biang keresahan di masyarakat. Miras sering kali didapati sebagai biang dari berbagai tindak kriminalitas dan banyak kecelakaan mematikan. Kita sering kali mendengar kecelakaan lalu lintas yang belakangan diketahui disebabkan oleh pengendara yang sedang dalam pengaruh minuman keras. Pun Miras bukan hanya menjadi masalah di perkotaan. Di pedesaan dimana saat ini saya tinggal pun miras dari dulu sampai sekarang tetap menjadi penyebab banyak masalah sosial.

Ini disebabkan salah satunya oleh  mudahnya akses masyarakat terhadap miras. Tidak peduli berapa umurnya, sekarang ini dimana-mana di Indonesia mendapatkan minuman keras sama mudahnya. Tak heran sejak dini anak-anak bangsa ini sudah banyak yang akrab dengan miras, bahkan telah mengkonsumsinya secara rutin karena kecanduan.

We Support #AntiMiras

We Support #AntiMiras

Peredaran Miras yang memasyarakat bukan berarti karena bahayanya tidak diketahui. Hampir semua orang sudah tahu apa bahanyanya. Yang kurang saat ini adalah kepedulian  terhadap dampak miras. Pemerintah pun seolah setengah hati dalam membuat regulasi peredaran Miras, apalagi penegakannya di lapangan. Regulasi peredaran miras sudah longgar, di lapangan masih ditambah dengan banyak praktek pembiaran.

Salah satu contoh kasus pembiaran peredaran miras ilegal terjadi di Wonosari Gunungkidul yang menyebabkan habisnya kesabaran banyak elemen masyarakat. Sampai masyarakat harus turun dengan tangannya sendiri melakukan penggrebegan. Adalah terjadi pada hari Sabtu malam tanggal 1 Februari 2014, beberapa organisasi masyarakat seperti Forum Jihad, Hizbullah, Komando Keamanan Muhammadiyah melakukan penggrebegan miras milik Marni di Karangsari, Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul. Penggrebegan yang membuat  pihak kepolisian kebakaran jenggot karena belakangan diketahui Marni merupakan keluarga seorang oknum polisi yang bertugas di Gunungkidul. Baca lebih lanjut

Mudah Membeli Vandroid S5H di Lazada

Ponsel Android yang pertama kali digunakan oleh adik saya sejak dua tahun yang lalu adalah Samsung Galaxy Young atau yang sering diplesetkan dengan sebutan ‘gayung’. Samsung Galaxy Young saat itu merupakan ponsel Android termurah yang dibuat oleh Samsung dan paling mudah didapatkan dipasaran dengan kisaran harga satu jutaan. Mulanya Android Gayung dengan resolusi layar 240 pixel x 320 pixel 3 inch, RAM 290 MB, Memory Internal 180 MB, Processor ARM v6 830 MHz, Kamera 2 MP dan OS Ginger Bread itu cukup digunakan untuk menopang kebutuhan komunikasi telepon dan berjejaring sosial.

Namun, ketika adik saya makin mahir menggunakan ponsel Android dan juga semakin berkembangnya tuntutan kebutuhan komunikasi saat ini, Galaxy Young sudah tidak  dianggap lagi mencukupi. Beberapa hari yang lalu hal ini dikeluhkan oleh adik kepada saya. Mendengar keluhan adik, setidaknya saya bisa menangkap kebutuhan apa saja yang ia inginkan, diantarnya adalah: ia ingin memasang aplikasi instant messaging: Blackberry Messenger, ingin memasang lebih banyak games, kamera dengan hasil foto yang bagus, layar yang lebih besar.

Seolah ini hal yang mudah. Antarkan saja si adik ke toko ponsel. Yang tidak membuatnya mudah adalah dana untuk membeli ponsel dengan kriteria itu. Dana yang dianggarkan untuk membeli ponsel baru adalah berkisar satu setengah juta saja.

Dimintai saran ponsel dengan semua kriteria di atas tentu tidaklah mudah bagi saya. Saya pun harus googling sana googling sini, baca review ini baca review itu. Merepotkan sekali. Ketika saya mendapatkan sebuah kandidat ponsel dengan harga yang sesuai, seringkali belakangan saya ketahui kalau keberadaan dan ketersediatanya kurang jelas. Atau misalnya ada yang menawarkan dengan harga agak miring, belakangnya saya ketahui ada banyak syarat dan ketentuan yang rumit.

Sampai akhirnya saya ingat dengan toko online Lazada. Dan untungnya aplikasi Lazada ini sudah saya pasang di iPhone 5s saya. Nah ini. Saya pun segera membuka aplikasi, menuju sub menu Handphone dan Tablet Lazada Indonesia dan langsung saja menyortirnya berdasarkan harga untuk lebih cepat menemukan ponsel dalam rentang harga satu setengah jutaan.  

Membanding-bandingkan spesifikasi dari banyak ponsel di rentang harga satu setengah jutaan di Lazada, akhirnya saya memilih untuk menyarakan Advan Vandroid S5H. Tentu itu saran berdasarkan beberapa alasan teknis. Vandroid S5H mempunyai memory cukup lega 4 GB, processor mumpuni quad core 1,2 Ghz, RAM 512 MB, kamera belakang 8 MP dan kamera depan 2 MP, juga layarnya yang lebar, yaitu 5 inch dengan kerapatan pixel 1280×720. Dan  Avan Vandroid s5H sudah menggunakan OS Android Jelly Bean. Jadi secara native sudah langsung bisa dipasangi Blackberry Messenger.

Dan alasan penting yang lain bagi saya kenapa memilih membelinya di Lazada adalah karena saya tidak perlu repot-repot pergi mengantarkan adik ke kota Yogya (saya tinggal di Gunungkidul). Saya bisa memesan/membeli kapan saya dan barang akan dengan mudah sampai ke alamat rumah atau alamat kantor dimana saya bekerja. Jadi tidak perlu menunggu akhir pekan ketika saya libur kerja hanya untuk membeli sebuah ponsel baru. Praktis.

Masalah Fokus pada Kamera iPhone 5s

Setiap mempunyai ponsel baru, maka apa yang saya coba-coba pertama kali (dan fitur yang paling saya sukai) adalah kamera. Begitu pun dengan iPhone 5s yang baru saja sampai di genggaman saya beberapa hari yang lalu. Saya menggunakannya untuk memotret apa saja. Dari benda-benda di sekitar saya, landscape sampai hewan-hewan kecil seperti capung, kupu-kupu, lebah dan sejenisnya.

Masalah fokus ini saya temukan beberapa hari yang lalu ketika saya memotret capung di sawah. Sulit sekali untuk memotret capung dengan hasil yang bagus. Kebanyakan gambar capung yang saya dapatkan kabur. Namun aneh ketika saya memotret capung yang berwarna hijau. iPhone 5s cukup mudah menemukan fokus untuk capung berwarna hijau ini.

Kemudian saya menemukan kupu-kupu berwarna cokelat. Memotret kupu-kupu sambil menahan nafas pun tidak menghasilkan foto yang bagus. Foto kupu-kupu kabur, blur. Sampai saya mempunyai sedikit trik untuk mengakali hal ini. Saya mencoba mencari fokus pada obyek lain sebelum memotret obyek utama. Apa yang saya coba adalah daun yang berada di dekat obyek yang akan saya potret. Dengan syarat daun itu kira-kira sama terangnya dengan obyek yang ingin saya potret. Kemudian saya mengambil jarak kira-kira sama dengan rencana saya mengambil jarak dengan obyek yang ingin saya potret. Nah, kepada daun ini lah saya mengunci fokus dan eksposure (sampai di layar iPhone 5s muncul tulisan AF/AE locked berwarna kuning). Baru saya memotret kupu-kupu dan capung itu. Hasilnya lumayan.

 

Nah, dengan trik ini, untuk mendapatkan foto-foto yang lebih bagus sedikit banyak dipengaruhi seberapa akurat saya memperkirakan jarak obyek dengan kamera (untuk dipergunakan menentukan jarak dengan dummy focus). Ini tidak mudah. Toh tidak mungkin saya mempergunakan penggaris untuk menghitung jarak itu. Dan harus hati-hati biar obyeknya (capung, belalang, kupu-kupu) tidak terbang.

Harus banyak latihan!

Foto-foto saya di atas bisa dilihat di akun instagram saya di: http://instagram.com/jarwadi. Silakan tengok ya…

Jalan Sehat Keliling Kampung

Sebenarnya, saya tadi pagi dan sepenuh hari Minggu ini ingin di rumah saja. Tidak akan jogging seperti yang biasa saya lakukan tiap pagi di hari Minggu. Cuaca dan kondisi lingkungan yang masih bertebaran abu dari erupsi gunung Kelud tentu tidak bagus buat kesehatan.

Alih-alih, ternyata di desa dimana saya tinggal pada pagi ini ada kegiatan Jalan Sehat yang diadakan oleh anak-anak mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Ahmad Dahlan. Mulanya saya agak ragu apakah Jalan Sehat cocok dengan kultur masyarakat di desa dimana saya tinggal. Masyarakat di sini yang kebanyakan bertani, berjalan kaki sudah terlalu biasa. Jalan kaki adalah cara masyarakat untuk menempuh sawah ladang yang umumnya tidak dekat dengan rumah tinggal.

Mendengar pengumuman Jalan Sehat  yang dikumandangkan lewat pengeras suara di masjid, saya pun penasaran untuk menuju ke tempat dimana Jalan Sehat akan dimulai, yaitu di Balai Dusun. Di Balai Dusun rupanya sudah ada banyak anak-anak, remaja dan ibu-ibu. Panitia Jalan Sehat pun menyambut siapa saja yang datang dengan membagikan kupon door prize. Di depan balai Dusun, semua door prize yang jumlahnya banyak sudah terpasang menggoda.

Door prize ini rupanya yang menjadi daya tarik bagi anak-anak, remaja dan ibu-ibu di lingkungan dimana saya tinggal. Menjelang Jalan Sehat dimulai, nampak ibu-ibu, anak-anak dan remaja pun dengan antusiasnya. Saya pun kemudian ikut. Siapa tahu juga dapat door prize. 😀 Benar saja setelah ikut berjalan kaki mengelilingi lingkungan tinggal dan menunggu pembacaan pemanang door prize, saya mendapatkan sepasang sandal jepit, merek Melly. Horaay! 😀

Ini foto-foto kegiatan Jalan Sehat tadi pagi:

IMG_0157.resized

Baca lebih lanjut

Abu Gunung Kelud

photo 3

photo 2

Kemarin pagi, begitu saya bangun tidur, akan mengambil air wudlu sebelum subuh, saya mendapati rintik-rintik yang tidak biasa. Bukan rintik hujan tapi rintik debu. Ternyata abu dari erupsi Gunung Kelud sampai juga ke desa dimana saya tinggal. Padahal jarak gunung Kelud ke desa saya lebih dari  200 km. Gunung Kelud memang mengalami erupsi pada malam hari, Kamis, 13 Februari 2014 sekitar pukul 23:00 WIB.

Hujan abu nampak melebat pada sekitar pukul enam sampai pukul delapan. Jalan-jalan nampak berubah memutih, atap-atap rumah, daun-daun pohon pun begitu. Sampai banyak ranting dan dahan yang patah karena tidak kuat menahan abu yang menumpuk di dedaunan.

Membaca-baca berita online sambilan mendengarkan berita di televisi,  hujan abu ini saya ketahui merata di hampir seluruh penjuru pulai Jawa. Hujan abu yang sampai memperpendek jarak pandang di beberapa wilayah ini bahkan sampai membuat  beberapa bandara ditutup.  Baca lebih lanjut

Malon Spesial di Cupuwatu Resto Yogyakarta

Cupuwatu, bukan Uluwatu, merupakan salah satu restoran termasyur di Yogya. Resto yang terletak di jalan Solo Km 11, Yogyakarta. Tidak jauh dari Adisucipto Airport. Jarak dari bandara Adisucipto bisa ditempuh dengan kira-kira Rp 20.000,- naik taxi. Saya bisa bilang begitu karena kebetulan begitu selesai makan siang di sana, saya langsung menuju ke bandara dengan menggunakan taxi.

Menu Special di Cupuwatu Resto adalah Malon atau Manuk Londo. Nama menu ini kedengaran aneh, sekaligus menarik. Saking menariknya,  saya penasaran ingin menikmati Malon sejak pertengahan puasa Ramadhan tahun lalu. Saat itu oleh seorang kawan, saya diundang buka bersama di sana. Namun ada-ada saja yang membatalkan niat saya waktu itu. Sampai niatan untuk menikmati Malon itu terpenuhi kemarin ketika kebetulan taxi yang membawa saya dari Gunungkidul mampir di POM bensin di ruas Jalan Solo, tidak jauh dari Resto Cupuwatu. Kebetulan yang dilengkapi kebetulan yang lain, kebetulan saya juga baru saja mendapatkan voucher diskon untuk Cupuwatu Resto. Kata orang Jawa ini ‘Tumbu oleh Tutup’, kebetulan yang lengkap.
image

Karena ini pertama kali saya akan menggunakan voucher diskon, saya pun berkonsultasi terlebih dulu dengan kasir di sana sebelum makan. Kasir Cupuwatu yang cantik-cantik itu helpful semua. Setelah paham aturan main menggunakan voucher diskon, saya pun siang itu segera mencari meja ternyaman. Tidak begitu segera sebenarnya, karena seperti biasa, saya suka foto sana-sini apa saja obyek yang kelihatan photogenic yang terdapat di Cupuwatu.

Beberapa saat duduk, petugas resto datang mengantar buku menu. Apa yang pertama kali saya pesan tentu saja Manuk Londo special yang tersohor itu. Ada beberapa jenis Malon rupanya. Ada Malon regular, Malon Bakar, Malon Bakar Klaten dan Malon BBQ. Membingungkan memilih Malon yang paling enak. Ingin sih saya memesan semua jenis Malon, masalahnya bagaimana memakannya bila dipesan semuanya. Naluri akhirnya yang berbicara. Pilihan jatuh pada Malon Reguler.

Pesanan saya berikutnya adalah Teh Madu Spesial, Kacang Rebus, Air Mineral, Wedang Uwuh dan Sop Iga. Cukup banyak memang yang saya pesan karena memang ingin berlama-lama di resto ini.

Teh Madu dan Wedang Uwuh datang lebih dulu, kemudian disusul oleh Malon dan pesanan yang lain. Apa yang saya cicipi pertama kali tentu adalah pesanan yang tiba di meja lebih dulu.
image

Teh Madu mempunyai cita rasa khas, pahit sepat dan tidak manis. Pemanisnya terpisah. Dinikmati dengan cara digigit seperti menikmati biskuit. Teh Madu disajikan tidak panas seperti teh poci. Teh Madu di Cupuwatu disajikan dengan temperatur hangat.

Malon (Manuk Londo)

Malon (Manuk Londo)

Nah, Manuk Londo, Malon, yang membuat saya penasaran sejak lama akhirnya mendarat di ujung lidah. Malon mempunyai cita rasa yang striking, maknyus. Rasa gurih cenderung manisnya menghentak. Malon berbahan semacam burung gemak, burung yang dagingnya biasanya akan berserat dan alot, namun entah bagaimana resep Malon di Cupuwatu, daging Malon terasa empuk, lunak dan nyaman di gigi. Kenyamanan mengunyah dading Malon ini baru saya sadari setelah saya selesai makan. Saya tidak perlu tusuk gigi karena memang daging-daging tidak ada yang tertinggal di sela-sela gigi.

Menimati Malon sampai habis hampir separohnya membuat saya tertawa-tawa. Kenapa? Ternyata saya lupa dengan nasi yang sudah dari tadi tersaji di meja. Kekuatan rasa Malon membuat saya lupa kalau seharusnya Malon dinikmati dengan nasi. 😀 Tidak apa-apa sebenarnya, karena toh nanti semua makanan akan bertemu di dalam perut. Nasi yang menyertai Malon ini pulen, enak. begitu saja.

Pelayan yang ramah, menu yang enak dan maknyus, satu lagi, tempat yang cozy membuat kami betah berlama-lama di Cupuwatu. Kira-kira jam 14:00 WIB kami mengakhiri makan siang di Cupuwatu.

Harga. Saya tidak ingat harga satuan masing-masing item yang saya pesan. Seingat saya jumlah harga total makanan pesanan kami adalah Rp 109.000,-. Harga ini masih mendapat diskon 25% dari voucher yang saya gunakan. Jadi uang 100 ribuan yang saya bayarkan ke kasir masih mendapatkan kembalian.

Sebelum meninggalkan meja kasir kami bertanya dimana mencari taxi untuk menuju bandara. Bukan dijawab, tetapi salah satu kasir menelpon taxi untuk kami. Keramahan pelayanan yang lengkap pikir saya. Jadi suatu kali nanti kami pengen makan di Cupuwatu lagi. Lagi pula voucher diskon saya juga masih beberapa lembar. 🙂

image

Foto-foto yang lain bisa dilihat akun Instagram saya di: http://instagram.com/jarwadi

Facebook Lookback

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-10, Facebook memberikan kado kepada penggunannya. Kado yang bagi saya istimewa dan berkesan. Kado itu adalah video kilas balik atau facebook lookback.

Saya membuka kado untuk saya pada kemarin siang. Beruntung koneksi internet saya dalam keadaaan lancar-lancar saja. Saya bisa memainkan video Lookback berdurasi 1 menit 2 detik ini tanpa kendala, tanpa patah-patah. Baca lebih lanjut

Hutan Lestari dan Pragmatisme Ketercukupan Pangan

Hutan Cangkring Menjadi Lahan Jagung

Hutan Cangkring Menjadi Lahan Jagung

Bagi seorang blogger yang senang menulis tentang gadget ini bukanlah topik yang mudah diterjemahkan menjadi postingan blog. Ini  sentilan bagi  saya  yang selalu ingin mengulik gadget terbaru tanpa pernah mempedulikan bagaimana suatu gadget diproduksi. Tohokan terhadap apatisme saya selama ini terhadap berita-berita penambangan timah yang abai terhadap kerusakan alam dan gangguan ekosistem. Kompetisi ini menggugah diri untuk turut bersuara.

Kali ini saya tidak akan menuliskan hal besar seperti deforestasi, konversi hutan menjadi perkebunan sawit yang saat ini masih terus terjadi di Sumatra. Atau membahas  perusahaan  pembeli pasokan minyak sawit mentah kotor, perusahaan-perusahaan yang secara membabi buta menambang batubara di Kalimantan dan  PLTU  haus batubara yang terus diberdayakan oleh PLN. Saya memilih  menuliskan hal-hal kecil tetapi terjadi di depan mata.

Baca lebih lanjut