review film: a copy of my mind

a copy of my mindsampai satu jam lebih film berjalan, saya belum merasa kalau saya sedang menonton sebuah film.

rasanya saya sedang berjalan-jalan di sudut-sudut kota,di kemacetan, di gang gang sempit, aroma pinggiran dan sisi-sisi gelap jakarta. di kota dimana bisa dengan mudah berbagi bau keringat di dalam bus kopaja yang sesak dan bila lapar datang bisa menemukan makan siang murah di warteg di sudut lain kota. mau beli dvd bajakan sebagai penghibur diri ketika jenuh menghampiri juga ada, tinggal dipilih-pilih.

sebagaimana yang dilakukan sari (tara basro)–seorang gadis desa yang merantau ke kota ini dengan berbekal mimpi-mimpi dan cita-cita besar– untuk menghilangkan kejenuhannya setelah seharian penuh bekerja sebagai tukang facial di salon kecantikan murah bernama “yelo”. sari menikmati menonton dvd bajakan dengan tv usang di kamar kosnya yang sempit dan amat sederhana. ini tidak jarang ia lakukan sambil menikmati semangkuk mie instan.

kegemaran sari menonton dvd kemudian mengantarkannya kepada perkenalannya dengan alex (chicco jerikho). seorang pemuda yang menyambung hidup dengan bekerja sebagai penulis sub title bahasa indonesia untuk sebuah toko dvd bajakan. singkat cerita kisah asmara bermula dari sini. dari suatu kenyataan yang apa adanya.

dalam suatu perbincangan dengan alex, sari tersenyum manis menemukan dirinya sangat bangga. sari mempunyai cita-cita memiliki sebuah home teather. untuk memuaskan kegemarannya menonton dvd film fantasi di kamar. dibandingkan alex yang  sama sekali tidak punya cita-cita.

jangan kaget, alex merupakan visualisasi 2nd class jakartan. selain untuk makan apa hari ini alex bisa dikatakan tidak punya apa-apa. alex tidak punya ponsel, serius. alex tidak punya ktp, tidak punya cita-cita, bahkan agama pun rasanya alex tidak punya.

tidak apa-apa, toh sari datang dan melengkapi ornamen-ornamen dinding kamar alex. ornamen berupa tempelan keping-keping dvd bekas. kehadiran sari membuatnya menemukan bagian hidupnya yang mungkin selama ini terlupakan. menjadi isi ketika kenyataannya ada ruang yang tidak tersedari tetapi ada di hati alex.

terpapar oleh segela kenyataan yang dipunyai jakarta tidak membuat sari begitu saja melupakan mimpi dan cita-citanya. sari ingin naik kelas dengan pindah kerja ke salon yang lebih mewah. berharap mendapat penghasilan lebih dari situ.

bosan menjalani masa-masa training di salon tempat kerja baru, sari menghadap kepada Bandi, manager salon tersebut, agar ia diberi pekerjaan untuk menangani klien. bandi mulanya ragu sampai ia kemudian dengan tetap ragu mengirim sari kepada salah satu langganannya untuk layanan facial di tempat. sari ditugaskan men-facial seorang klien elit di dalam penjara.

mala petaka di mulai ketika sari mengutil sekeping dvd milik kliennya, bu mirna. di sini tiba-tiba saya merasa terlibat dalam masalah besar yang kemudian mau tidak mau harus dihadapi sari (dan alex). dvd yang dikutil sari ternyata bukan berisi film fantasi seperti yang ia duga melainkan adalah bukti rekaman keterlibatan bu mirna dalam perkara suap dan korupsi.

alur cerita yang tiba-tiba berbalik arah 180 derajat, dari romansa sari-alex yang terasakan natural dan landai menjadi thriller penuh intrik politik dengan pace berderap membuat saya terkejut, bingung dan kadang hanya bisa diam (diam dalam arti yang sebenarnya karena saya nontonnya sendirian) dan merasa hampa. Dalam benak saya percaya bahwa urusan politik memang menggurita, bisa mencengkeram dan mencekik siapa saja tidak peduli  orang kecil “sekecil” sari dan alex. Sambil dalam hati saya tidak bisa diam untuk tidak bilang: “kok bisa”.

film yang tiba-tiba berujung dengan rumitnya hidup yang entah darimana tiba-tiba tercekik rumit intrik politik memang oleh joko anwar tidak digambarkan terjadi begitu saja. sejak awal anwar sebenarnya telah memberi penonton “clue”. berupa arak-arakan masa di tengah kemacetan jakarta, kampanye pilpres di senayan dan bahkan berupa sari yang ketahuan oleh alex telah dua kali mengutil keping dvd di toko.

menurut saya apa yang membuat  film ini bagus adalah selain dari arahan joko anwar yang yang berusaha menampilkan jakarta secara nyata dan apa adanya adalah olah peran dari tara basro yang berhasil membuat saya, alex, bu mirna dan siapa saja cepat merasa akrab dan jatuh cinta. adegan yang paling saya suka adalah adegan yang berhasil membuat saya bimbang dan turut merasa bersalah. yaitu ketika tara basro mempertontonkan kegelisahan sari ketika ia di kamar kos kehilangan seorang alex yang selama ini ia rasakan memberi rasa aman. masalah rumit baru sari di tengah-tengah hidupnya yang rumit. masalah baru yang sebenarnya bisa saja tidak terjadi bila ia tidak usil suka mengutil dvd. 😦

nah, pelajaran bagi saya, jangan ceroboh mengabaikan keusilan kecil yang bisa jadi kamu anggap bukan sesuatu kesalahan besar. percikan api kecil bisa jadi adalah kebakaran besar dalam hidupmu.

mudah-mudahan dalam minggu-minggu ini, a copy of my mind masih di putar di bioskop-bioskop di jogja. saya ingin menontonnya sekali lagi.

benar, saya suka dengan adegan berkeringat tara baro dan chicco jerikho di kamar kos alex. hihi. tapi bukan itu sebenarnya yang ingin saya tonton lagi. melainkan saya penasaran dengan:

*bagaimana handphone sari yang dibuang alex di pot bunga di dekat kamar lantai atas tiba-tiba berada di tanganbudhe, pemilik kos-kosan yang dihuni alex, yang digambarkan menderita sakit struk, digambarkan tidak bisa berjalan.

*bagaimana alex yang digambarkan seorang pemuda yang tidak peduli dengan politik dan segala macem, mengerjakan sub title dvd bajakan dan kadang suka berjudi taruhan motor tiba-tiba tahu kalau bu mirna merupakan seorang tahanan kasus korupsi.

*memang siapa saja sih yang tahu kalau alex adalah pacar sari, sampai tiba-tiba ia ditangkap dan digebukin karena masalah dimana keberadaan sari?

*dan beberapa bagaimana yang lain, hihi …

aspek lain yang membuat narasi film ini terasa kuat dan membekas adalah sinematrografi om ical tanjung yang mengusung gaya handheld. saya suka. meski memang ada pada beberapa adegan dimana gerak kamera terasa kurang pas dan sedikit mendistraksi. mengingatkan saya kalau saya sedang menonton film, bukan benar-benar terlibat dalam kehidupan sari. tidak apa-apa mungkin ini karena saya begitu terjebak dengan hand held style-nya om lee daniel dalam menata kamera film before sunrise dan before sunset.

saya suka dengan lagu a copy of my mind yang konon digarap oleh roof top, hanya menurut saya agak bagaimana begitu bila musik itu diputar di kamar kos alex. sementara lagu-lagu yang lain yang kebanyakan digunakan sebagai ambience, saya tidak menyebutnya sebagai sound track, terasa banget sangat natural dan naratif.

btw jadi kapan saya menonton lagi, salinan pikiran joko anwar dan salinan pikiran kita di layar bioskop lagi? mau ikut nonton?

Iklan

7 thoughts on “review film: a copy of my mind

  1. OST-nya Copy of Your Mind mas. Suka juga sama lagu itu. Ternyata liriknya ditulis sama Joko Anwar sendiri.
    Saya lebih dari paruh pertama film itu mikir… ini film lambat banget… tapi memang ngena sih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s