Iedul Adha 1430 H: 2 sapi, 5 kambing, tidak ada yang hitam

Iedul Adha tahun ini bertepatan dengan awal penghujan. Habis hujan pula. Dingin pula. Pasti tanah lapang desa becek. Pasti jalanan menuju lapangan desa becek. Eh tidak, tahun ini, ruas – ruas jalan utama di desa Grogol sudah bercor blog, sebagian beraspal meski sebagian yang lain dalam pengerjaan.

Shalat Ied di lapangan #grogol #indonesiabanget 02

Masih belum jam 06:00 WIB saya sudah berjalan menuju tanah lapang. Tentu saja setelah saya memenangkan pertarungan dengan kemalasan diri. Mandi bersiramkan kedinginan dan tubuh menggigil dengan pilek menyumbat hidung. Saya berjalan kaki berbarengan dengan Fajar. Sementara bapak dan simbok sudah berangkat lebih dulu. Konon, Shalat Ied tahun ini akan dilaksanakan lebih awal dari tahun – tahun sebelumnya. Karena bertepatan dengan Jum’at, sehingga diharapkan waktu untuk penyembelihan hewan Qurban tidak mengganggu Ibadah Jum’at. Begitu isi Surat Edaran dari P2A Desa Grogol. Setahu saya Ibadah Jum’at sudah tidak wajib bagi yang telah menunaikan Shalat Ied. Tetapi biarlah, mungkin mereka punya pertimbangan tersendiri. Baca lebih lanjut

Iklan

Google Wave : Belum Mudeng

Still don't know what to do with this #googlewave priview #wave

Google Wave Preview

Akhirnya, saya dapat kesempatan juga untuk dapat mencicipi google wave. Terimakasih atas kebaikan hati mas Fajar Saptono yang telah mengirimkan invitasi. Meski sampai saat ini saya masih bingung akan bagaimana cara menggunakan wave.

Maklum untuk hal beginian saya masih terlalu gaptek bin ndeso 😀

Paperless dan Limbah Batu

Sampah Jaman Batu

Sampah Jaman Batu

Tidak tahu apa jenis makhluk yang  tinggal di lingkungan sekitar tempat ini, namun dari apa yang diperlihatkan oleh foto ini membuat saya menduga bahwa mereka bukanlah Homosapien. Bukan manusia kebanyakan seperti kita. Limbah yang memenuhi keranjang – keranjang itu jelas – jelas adalah batu. Bukan limbah rumah tangga ala kebanyakan. Tidak ada plastik  dan kertas.

Jadi bagi teman – teman penggiat gerakan Plasticless atau Paperless mungkin bisa mengambil studi banding di tempat ini. Siapa tahu bermanfaat.

Foto ini saya ambil pada kemarin siang didepan/sebelah utara Puskesmas Playen.

retouch : Bunga ditepi Jalan

Bunga Ditepi Jalan

Bunga di tepi jalan

Bunga ini melambai – lambai di pinggir jalan pada suatu minggu pagi yang sejuk dan basah awal musim hujan ini. Saya pun menghampiri, mengambil ponsel dari saku dan mengatur ponsel pada mode kamera. Setelah mendapatkan sudut terbaik, timbul rasa ragu – ragu, tidak yakin apakah bunga ini akan lebih baik terambil dengan mode close up atau macro. Apa yang diperlihatkan oleh view finder LCD dan apa yang bisa dilakukan oleh suatu kamera ponsel tidaklah cukup membuat saya yakin.  Meski ponsel kamera ini sudah saya gunakan hampir setiap hari. Dalam beberapa menit, puluhan gambar dengan obyek bunga yang sama pun akhirnya terambil. Bilapun ada gambar yang tidak bagus dan tidak sesuai keinginan, biarlah, nanti saya masih bisa menggunakan komputer untuk memilih gambar – gambar bunga terbaik dan sedikit menyuntingnya dengan aplikasi pengolah citra.

Mengambil gambar dengan kamera digital agar memenuhi kualifikasi artistik dan teknis yang bagus tidak pernah mudah. Baca lebih lanjut

Sumur Ngoro Oro Ciut dan Air Kehidupan

Semasa masih hidup, simbah saya sering bercerita bagaimana rasa segar mandi di siang hari di sumur ini ketika beliau pulang dari menggembala sapi di hutan. Sumur ini terletak di hutan  sebelah barat desa kami. Di sebelah barat dusun Senedi. Disebut Sumur Ngoro  Oro Ciut. Entah apa maksud dari nama itu, tetapi kalau saya boleh menerjemahkan secara asal, bisa jadi berarti Padang (rumput) yang sempit.

Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya sumur ini dibuat atau siapa yang membuat, Baca lebih lanjut

Musim Hujan tlah Tiba, horeee …

Dedaunan di pekarangan kami telah mulai bersemi. Hujan yang mulai turun sejak beberapa hari yang lalu telah menitikan harapan akan tumbuhnya kehidupan. Mencurahkan rahmat Tuhan setelah selama beberapa bulan kehidupan harus melawan keras dan kering musim kemarau. Baca lebih lanjut

Pengumuman Jam Belajar Masyarakat sudah Lapuk

Kalau pada posting terdahulu, saya sudah belajar mengarang, maka pada posting kali ini saya akan bernostalgia. Baiklah saya mulai.

Peristiwa itu terjadi pada beberapa tahun yang silam. Mungkin 13 tahun yang lalu. Pada saat itu sebagai pemuda anggota Karang Taruna Cahaya Timur, dengan teman-teman pemuda pemudi yang lain sedang bekerja bakti membuat fasilitas umum. Apa yang ditugaskan kepada Karang Taruna oleh Bapak Kepala Dusun Karangmojo b, Bapak Adiwono, adalah membuat papan-papan penunjuk arah dan papan-papan pengumuman.

Salah satu papan pengumuman yang kami buat adalah Himbauan Jam Belajar Masyarakat. Saat itu Jam Belajar Masyarakat/JBM memang sedang dicanangkan oleh pemerintah yang sedang galak-galaknya. Pemerintahan saat itu di komandoi oleh Presiden dengan masa jabatan terlama di negeri 1001 kisah, Indonesia. Dengan kegalakannya, Jam Belajar di patok pada jam 19:00 sampai 21:00 WIB. Papan Pengumuman pun kami patok di setiap sudut dusun kami. Baca lebih lanjut