Musim Panen, dan Itu …

IMG_2421Musim panen di desa dimana saya tinggal belum benar-benar selesai. Musim panen yang sudah dimulai sekitar dua pekan yang lalu mungkin baru akan benar-benar selesai satu sampai dua minggu lagi. Saat ini keluarga saya sendiri baru menyelesaikan memanen padi di sawah. Selanjutnya proses pemanenan masih dilanjutkan dengan mengeringkan gabah, menggiling menjadi padi dan pekerjaan pasca panen lainnya. Kesemuanya itu harus disegerakan agar bisa segera menanam lagi. Menanam lagi ini segera, bila berlambat-lambat tidak segera maka hukum alam yang akan menjawab. Kedatangan musim kemarau tidak bisa ditawar agar ditunda.

Bila dilihat dari hasil panen padi di lingkungan dimana saya tinggal, maka bisa dipastikan untuk desa saya swasembada beras sudah tercapai. Betapa tidak, hampir semua keluarga bertani padi, hasil panen padi pun bagus-bagus, lahan yang ditanami padi pun juga lebih banyak karena lahan yang dulunya ditanami jagung dan kedelai kini dialih fungsi sebagai lahan padi.

Saya dan Adik saya suatu kali berkelakar. Bila beras hasil panen ini dikonsumsi untuk keluarga sendiri, maka panen pada musim ini cukup untuk kebutuhan makan nasi selama 2 sampai 3 tahun. Ini tidak berlebihan. Bila keluarga saya yang terdiri 4 orang dalam satu hari menghabiskan beras 1.5 kg, dalam satu tahun hanya akan habis 540 kg saja. Panenan beras 2 ton akan cukup sampai 3 tahun. Hasil panen para tetangga tidak jauh berbeda. Bahkan yang panen lebih banyak ada banyak.

Baca lebih lanjut

Populasi Burung Emprit Berlebih, Pak Tani Terancam

Seperti halnya populasi ulat bulu yang berlebih di beberapa daerah di Jawa yang menimbulkan kekhawatiran dan keresahan bagi masyarakat. Di Gunungkidul, terutama di lingkungan petani padi di desa dimana saya tinggal, Desa Grogol, sejak beberapa tahun belakangan ini, populasi burung pipit, di desa ini dikenal sebagai burung emprit, si burung pemakan biji padi muda, yang berlebihan menjadi masalah tersendiri bagi petani. Kawanan burung – burung pipit ini sanggup meludeskan biji – biji padi muda dalam hitungan jam.

Bila tidak ingin gagal panen, tidak ada cara lain yang diketahui petani kecuali menunggui tanaman padi dan menghalau secara manual burung – burung yang tidak pernah jera berusaha meng-invasi sawah ladang padi pak tani. Serangan bertubi – tubi burung – burung pipit ini berlangsung selama sekitar 2 pekan sampai padi menguning dan dipanen. Memang tidak efisien waktu dari habis subuh sampai bakda maghrib yang dihabiskan pak tani bekerja sebagai penunggu padi sawah. Yah! Mau gimana lagi? Mau panen ngga? 😦

Departemen Pertanian punya riset belum sih guna mengantisipasi hama – hama tanaman padi, termasuk burung pipit yang mewabah? Misalnya populasi burung pipit berlebih sebenarnya bukan masalah baru. Serangan burung emprit sudah ada sejak jaman kaki nini, jaman saya masih SD, sekarang ada lagi. Tetapi cara yang digunakan untuk mengamankan tanaman padi agar tidak gembrang masih cara lama. Bukankah produktifitas padi dan swa sembada pangan sangat penting bagi social safety network dan ketahanan negara. Entahlah.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Ponsel Menyebar, Tengkulak Sulit “mainkan” Harga

WONOSARI: Sejumlah tengkulak kacang tanah di Gunungkidul mengaku kesulitan ‘memainkan’ harga. Peredaran ponsel ke pelosok desa mulai tiga tahun yang lalu malah memudahkan petani memantau harga kacang tanah. HARIAN JOGJA, 2 April 2011

Nah tuh kutipan berita koran lokal ini memberi bukti bahwa teknologi informasi memberi manfaat kepada semua orang. Bukan hanya kalangan tertentu saja. Petanipun sekarang tidak hanya bisa memakai ponsel untuk menelpon dan SMS -an. Mereka sekarang sudah dapat “memanfaatkan” teknologi.

Jadi jangan kaget bila tidak lama lagi kita akan melihat harga gabah, harga kacang tanah, kacang kedelai, jagung, sayur mayur, dll muncul di trending topic di jejaring informasi twitter.

Hal ini seyogyanya dapat dibaca dan ditindaklanjuti oleh otoritas pertanian dan pemerintah dengan misalnya membuat website, atau langkah mudah seperti membuat Facebook page Informasi Harga Hasil Pertanian.

Kepada para tengkulak yang saat ini masih bermain kotor dengan memanipulasi timbangan, memanipulasi harga dan bentuk ketidak jujuran lain, segera bertobatlah sebelum nama – nama anda di catat malaikat dan terpampang di jejaring sosial dan jejaring informasi.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Musim Hujan tlah Tiba, horeee …

Dedaunan di pekarangan kami telah mulai bersemi. Hujan yang mulai turun sejak beberapa hari yang lalu telah menitikan harapan akan tumbuhnya kehidupan. Mencurahkan rahmat Tuhan setelah selama beberapa bulan kehidupan harus melawan keras dan kering musim kemarau. Baca lebih lanjut