Mengairi Kebun Kacang Panjang

Tidak hujan 2 minggu saja sudah cukup untuk mengeringkan tanah – tanah pertanian di desa dimana saya tinggal. Tanah di kebun kacang panjang keluarga pun sudah pecah – pecah. Istilahnya sudah “nelo”. Memang sih sekarang sudah tiba masanya kemarau tiba. Kebun kacang panjang keluarga sekarang sudah tidak boleh terlalu mengandalkan air hujan. Anggap saja sebagai berkah kiriman Tuhan bila dalam satu atau dua bulan ke depan masih turun hujan.

Tadi pagi, saya, adik dan bapak memasang pompa air di kebun kacang sayur itu. Airnya diambil dari sungai yang mana airnya masih cukup melimpah. Kacang yang sudah berusia sekitar 2 minggu itu masih perlu penyiraman intensif selama sekitar 2 minggu, dosis penyiraman kira – kira 2 kali seminggu, untuk kemudian mulai dapat dipanen.

Baca lebih lanjut

Ponsel Menyebar, Tengkulak Sulit “mainkan” Harga

WONOSARI: Sejumlah tengkulak kacang tanah di Gunungkidul mengaku kesulitan ‘memainkan’ harga. Peredaran ponsel ke pelosok desa mulai tiga tahun yang lalu malah memudahkan petani memantau harga kacang tanah. HARIAN JOGJA, 2 April 2011

Nah tuh kutipan berita koran lokal ini memberi bukti bahwa teknologi informasi memberi manfaat kepada semua orang. Bukan hanya kalangan tertentu saja. Petanipun sekarang tidak hanya bisa memakai ponsel untuk menelpon dan SMS -an. Mereka sekarang sudah dapat “memanfaatkan” teknologi.

Jadi jangan kaget bila tidak lama lagi kita akan melihat harga gabah, harga kacang tanah, kacang kedelai, jagung, sayur mayur, dll muncul di trending topic di jejaring informasi twitter.

Hal ini seyogyanya dapat dibaca dan ditindaklanjuti oleh otoritas pertanian dan pemerintah dengan misalnya membuat website, atau langkah mudah seperti membuat Facebook page Informasi Harga Hasil Pertanian.

Kepada para tengkulak yang saat ini masih bermain kotor dengan memanipulasi timbangan, memanipulasi harga dan bentuk ketidak jujuran lain, segera bertobatlah sebelum nama – nama anda di catat malaikat dan terpampang di jejaring sosial dan jejaring informasi.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Momentum untuk Pola Tani Organik

Beberapa hari ini, kenaikan harga pupuk untuk petani di desa saya telah naik. Kenaikan itu berkisar kira – kira 30% untuk jenis pupuk Ponska, TSP dan Urea. Rerasanan yang berkembang diantara para petani gurem mencerminkan betapa berat arti kenaikan harga pupuk. Dirasakan sebuah pukulan telak akan arti Keadilan Sosial yang setiap hari Senin dulu kami bacakan bersama di tengah lapangan Upacara Bendera. Memang kontras apabila yang digunakan pembanding adalah angka – angka potensi kerugian 100+ T yang ditimbulkan oleh mengguritanya korupsi yang baru – baru ini terungkap di Perpajakan, kantor si Gayus Tambunan dan teman – teman itu.

Loh, kok saya malah ikut terjebak rerasanan. Alih – alih betapa rasa nyeri dari kenaikan harga pupuk kimia itu. Bukan berarti para petani menyerah dengan keadaan. Menariknya, petani tidak hanya tidak jemu mencangkul sawah ladang mereka. Mereka dengan gigih mencari jalan ketiga.

Bapak saya sendiri tadi rasan – rasan akan membeli lagi pupuk organik. Pupuk organik ini sebelumnya memang telah digunakan oleh beberapa orang petani. Dan sudah terbukti dampak produktifnya. Nah, benarkan. Kenaikan harga pupuk kimia semoga menjadi momentum untuk mengoptimalkan dan memasyarakatkan pola tani Organik. Proses memang tidak bisa dilompati tahap – tahapnya. Termasuk tahap terbesar adalah merubah mindset petani itu sendiri. Bukti akan manjurnya pupuk organik tidaklah akan serta merta mengubah kebiasaan pak tani seperti halnya menghapus beberapa line dalam sebuah source code dan menggantikan dengan code code yang terbaru.

Rencananya sore ini, penjual pupuk organik akan mengirim ke tempat kami. Menariknya, penjual itu adalah teman sepermainan saya. Berbeda halnya dengan pupuk kimia yang distribusinya diatur oleh pemerintah dengan menunjuk distributor untuk suatu daerah, penjualan pupuk organik berada di tangan banyak start up dan umumnya wira usahawan baru dan muda.

Mohon doa restu untuk pola tani yang lebih organik untuk Indonesia yang lebih seha