Momentum untuk Pola Tani Organik

Beberapa hari ini, kenaikan harga pupuk untuk petani di desa saya telah naik. Kenaikan itu berkisar kira – kira 30% untuk jenis pupuk Ponska, TSP dan Urea. Rerasanan yang berkembang diantara para petani gurem mencerminkan betapa berat arti kenaikan harga pupuk. Dirasakan sebuah pukulan telak akan arti Keadilan Sosial yang setiap hari Senin dulu kami bacakan bersama di tengah lapangan Upacara Bendera. Memang kontras apabila yang digunakan pembanding adalah angka – angka potensi kerugian 100+ T yang ditimbulkan oleh mengguritanya korupsi yang baru – baru ini terungkap di Perpajakan, kantor si Gayus Tambunan dan teman – teman itu.

Loh, kok saya malah ikut terjebak rerasanan. Alih – alih betapa rasa nyeri dari kenaikan harga pupuk kimia itu. Bukan berarti para petani menyerah dengan keadaan. Menariknya, petani tidak hanya tidak jemu mencangkul sawah ladang mereka. Mereka dengan gigih mencari jalan ketiga.

Bapak saya sendiri tadi rasan – rasan akan membeli lagi pupuk organik. Pupuk organik ini sebelumnya memang telah digunakan oleh beberapa orang petani. Dan sudah terbukti dampak produktifnya. Nah, benarkan. Kenaikan harga pupuk kimia semoga menjadi momentum untuk mengoptimalkan dan memasyarakatkan pola tani Organik. Proses memang tidak bisa dilompati tahap – tahapnya. Termasuk tahap terbesar adalah merubah mindset petani itu sendiri. Bukti akan manjurnya pupuk organik tidaklah akan serta merta mengubah kebiasaan pak tani seperti halnya menghapus beberapa line dalam sebuah source code dan menggantikan dengan code code yang terbaru.

Rencananya sore ini, penjual pupuk organik akan mengirim ke tempat kami. Menariknya, penjual itu adalah teman sepermainan saya. Berbeda halnya dengan pupuk kimia yang distribusinya diatur oleh pemerintah dengan menunjuk distributor untuk suatu daerah, penjualan pupuk organik berada di tangan banyak start up dan umumnya wira usahawan baru dan muda.

Mohon doa restu untuk pola tani yang lebih organik untuk Indonesia yang lebih seha