Task Manager di Google Chrome

Task Manager on Google Chrome

Task Manager on Google Chrome

Saya tidak tahu sejak versi berapa Google Chrome memberikan fitur Task Manager. Saya baru saja melihat fitur ini di Google Chrome yang terpasang di Laptop Ubuntu 11.10, yaitu Google Chrome versiΒ 20.0.1132.43.

Menurut saya keberadaan fitur ini cukup menarik. Saya bisa bisa melihat tab mana yang menghabiskan memory, memperberat kerja processor, graphic dan menghabiskan bandwidth, sampai dengan menghentikan secara paksa bila ada halaman web yang terbuka di suatu tab yang menyebabkan crash. πŸ™‚

Bila anda belum tahu, fitur ini bisa diakses melalui Tools => Task Manager.

SocialScope Tidak Bisa Login Twitter

Pagi ini kedua account twitter di SocialScope yang terpasang di ponsel saya meminta otorisasi. Saya pun segera mengklik tombol permintaan otorisasi itu dan segera diarahkan ke halaman otorisasi di web browser di ponsel. Saya mengetikan username dan password. Otorisasi kemudian dikatakan berhasil. Namun ketika sampai di twitter client SocialScope permintaan otorisasi muncul lagi.

Saya telah mencoba memberikan otorisasi sampai beberapa kali. Sampai saya mencoba logout account twitter di SocialScope dan mencoba login lagi. Sayang cara ini sampai sekarang belum membantu. Dan saya belum bisa nge-tweet dari SocialScope. πŸ˜€

Saya tidak tahu apakah permasalahan ini ada di twitter atau di SocialScope. Katanya Uber Social pun bagi ini mengalami masalah serupa. Ada yang yang mempunyai masalah dengan SocialScope atau Uber Social pada pagi ini?

Mengirim Surat Pos

Saya kemarin ke Kantor Pos Playen. Untuk mengirim surat beneran. Maksud saya surat yang ditulis di kertas dan diamplop kemudian dikirim melalui pos. Bukan surat elektronik, email, tentu saja.

Ketika saya membeli perangko dan amplop, oleh petugas pos, saya langsung diberi satu ampop dan satu perangko. Keduanya harganya Rp 3.000,-. Perangkonya sendiri tertulis Rp 2.500,-.

Coba lihat, berapa lama waktu yang bisa digunakan oleh perangko Rp 2.500,- untuk mengantarkan surat saya ke Lampung. Atau bisa jadi surat saya tidak sampai karena pak pos pusing tujuh keliling membaca tulisan tangan saya. πŸ˜€

Surat Pos

Surat Pos

Ayo siapa yang mau saya kirimi surat? Nanti kalau selo saya kirimi, hehehe

Makin Elektronik

e-payment poster

e-payment poster

Sejak beberapa waktu yang lalu, saya melihat semacam reader di halte trans Jogja. Saya kira itu merupakan reader untuk kartu berlangganan yang khusus diterbitkan oleh Jogja Tugu Trans (pengelola Trans Jogja).

Ternyata kartu berlangganan ini tidak diterbitkan sendiri oleh Jogja Tugu Trans. Saya baru melihat dari dekat posternya tadi. Seperti yang terfoto di atas. Kartu itu diterbitkan oleh BCA, Bank Mandiri, dan bahkan Indomart Card. Iklannya mengatakan lebih murah berlangganan. Namun mungkin yang lebih menarik adalah kepraktisannya.

Namun saya juga tidak tertarik untuk memiliki kartu-kartu itu. Meski saya sering naik Trans Jogja. Saya pikir akan mempertebal dompet dengan kartu baru itu.

Saat ini Trans Jogja terlihat akrab dengan Telkomsel. Ini saya lihat dari logo Telkomsel di seragam harian karyawan Trans Jogja dan iklan-iklan yang terpasang di halte-halte Trans. Maksud saya kenapa Trans Jogja tidak bekerja sama dengan Telkomsel Tap Izy. Bila tiket Trans Jogja bisa dibayar dengan Tap Izy, tentu akan lebih manfaat buat saya. hehehe

Kalau dilihat secara fisik, reader itu halte trans itu sepertinya menggunakan teknologi RFid sebagaimana halnya dengan Telkomsel Tap Izy. Bener ngga sih?

Kopdar Blogger, Masih?

Saya tidak serta merta menyanggupi ajakan Dhenok melalui twiter pada beberapa hari yang lalu untuk kopdar dengan beberapa teman blogger di suatu tempat di Yogya. Belakangan tempat kopdar yang dipilih adalah di Tomyan Kepala Ikan Pak Agus, Jalan KH Ahmad Dahlan.

Bukan apa-apa. Bukan karena saya sombong atau sok sibuk. Sejujurnya saya seneng-seneng saja untuk kopdar-kopdar dengan blogger-blogger muda yang hebat-hebat, gaul dan berpendidikan. Orang ndeso mana sih yang tidak akan seneng sesenang yang saya alami ketika benar-benar memutuskan turun gunung untuk kopdar beneran pada Selasa sore sampai petang kemarin. πŸ™‚

Jadilah kemarin sore itu, sambil malu-malu, saya menjadi pendengar yang baik. Berusaha menyimak obrolan dari teman-teman, diantaranya: Dhenok, (gadis kelahiran 1991 yang hampir menyelesaikan studi S1-nya di Palembang) Siti Rasuna (mahasiswi UI yang super duper gaul yang sedang liburan di rumah neneknya di Jogja), Ratnawati Utami (lulusan S1 Ilmu Komputer UGM, tetapi memilih mengabdikan diri di dunia pendidikan anak di Budi Mulia), Aditya Bayu (Sarjana Filsafat UGM yang kalem dan tampak jenius), Huda dan Abdullah yang keduanya adalah pemuda alim yang serius mendongkak webometric Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Anno seorang teman saya yang hampir selesai S1 Universitas Gajah Mada.

Ada yang belum saya sebut?

Ngomong-ngomong kopdar blogger seperti ini bagi saya merupakan suatu hal yang sudah jarang. Tetapi terbukti masih.

Ada beberapa hal yang terungkap melalui kopdar tentang pendapat teman-teman kopdar itu tentang saya dan gaya ngeblog saya. Diantaranya, mereka melihat tampang saya dan mengira masih mahasiswa S1. hihi. Kalau mendengar yang seperti ini, saya jadi punya harapan besar untuk hidup di dunia lebih lama lagi. Pendapat yang lain adalah tulisan saya (meski pendek-pendek) itu serius. Kata Aditya seperti dosen. Masa sih. πŸ˜€ Nah, kalau menurut Denok, saya itu sangat humoris, padahal aselinya pemalu, kecuali sedang khilaf. hehehe

Dan Tomyan Ikan Kakap Utuh kemarin sore itu enak. Percayalah!

Tomyan Kakap Utuh

Tomyan Kakap Utuh

[Photo] Parenting

Parenting

Parenting

Seekor ayam yang sedang memainkan peran parenting. (single parenting) Mengasuh beberapa anaknya di pinggiran sawah.

Foto saya ambil dengan kamera ponsel beresolusi 2 mega pixel tanpa ada fitur auto focus, alias fix focus. Saya mencoba menggunakan mode hitam-putih sekaligus mencoba trik yang dibagikan oleh Mas Ikhlasul Amal beberapa waktu lalu. Menurut mas Amal, dengan mode hitam putih kekurangan dari kamera tidak terlalu kelihatan. Gambar yang dihasilkan tidak terlalu terlihat jelek, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mengantarkan suatu gambar yang artistik. πŸ™‚

Bener ngga sih? hehe

Apoteker Salah Ngasih Obat

Dini hari tadi. Kira-kira pukul 02:00, sakit diare dan muntah-muntah yang diderita oleh ayah saya sejak beberapa hari yang lalu belum membaik. Khawatir dengan keadaanya saya dan keluarga membawanya ke Rumah Sakit Nur Rohmah.

Setelah dokter memeriksa kondisi tubuh ayah dan ngobrol-ngobrol dengan saya tentang riwayat sakit yang diderita ayah saya, saya dipersilakan menunggu untuk diberikan obat dan tagihan biaya pengobatan.

Tidak lama kemudian, di loket pengambilan obat sekaligus pembayaran tagihan, saya diberikan dua macam obat untuk ayah sekaligus dijelaskan aturan memakainya. Saya melihat-lihat obat yang diberikan kepada ayah saya.

Obat itu terdiri dari 2 strip obat. 1 Strip Domperidone dan 1 strip tablet Ambroxol. Domperidone masuk akal untuk mengobati diare. Akan tetapi Ambroxol? Ayah saya tidak sedang batuk.

Saya menanyakan tentang Ambroxol yang diberikan kepada Apoteker di Apotek Rumah Sakit. Kemudian dia mengganti dengan obat lain, yaitu Attapulgite 600mg+Pectin 50mg. Melihat muka saya yang ngantuk dan kecewa, bukannya meminta maaf, apoteker itu malah mengatakan kalau sebenarnya tidak salah obat, hanya menggantinya dengan dosis yang lebih baik.

Apa?????? Saya hampir marah dengan ketidakjujuran apoteker ini. Saya berusaha menahan diri untuk tidak ribut-ribut.

 Apa si apoteker tidak mikir, kalau jaman sekarang tinggal ngetik jenis zat aktif dalam obat di google akan langsung ketahuan apa indikasi dari zat aktif dalam obat itu? 😐

(Masih) untung obat yang salah itu belum digunakan. Dan kesalahan terjadi pada obat yang bisa dilihat, dicek lagi. Coba kalau kesalahan ada di obat yang disuntikan. Mana bisa kita tahu jenis obat apa yang disuntikan oleh perawat. 😦

Menjumpai ketidaktelitian dalam proses penanganan pelayanan kesehatan di rumah sakit seperti ini membuat saya semakin paranoid saja.