Masih Tidur?

Sleeping Butterfly

Sleeping Butterfly

Iklan

Penjual Jajan Pasar Keliling

Tumben-tumbenan sore tadi ada penjual jajan pasar keliling. Di lingkungan dimana saya tinggal biasanya tidak ada. Kalau pun ada, biasanya adalah pedagang sayur keliling di pagi sampai menjelang siang. Jajanan yang dijual adalah pelengkap saja.

Ketika mengobrolkan hal ini dengan seorang teman, saya mengomentari, kalau pedagang jajan pasar keliling ini terus berjualan tiap sore sampai setidaknya sebulan, ini indikator kalau penduduk di desa dimana saya tinggal sekarang ini ada uang baru yang bisa dibelanjakan.

Jadi kita lihat besok sore dan besok lusa. Kalau ibu-ibu penjual jajan pasar keliling itu lewat lagi, saya akan membeli. Dan akan menfotonya. Tadi saya tidak kepikiran untuk menfoto si penjual jajan pasar itu. πŸ˜€

Webmail Hanya Bisa Dibuka Di Firefox

Beberapa hari terakhir ini, untuk keperluan korespondensi suatu instansi, saya diberi email jarwadi@******.sch.id. Sejak saya mulai menggunakan email itu sudah muncul masalah. Interface webmail tidak bisa dibuka selain dari web browser Mozilla Firefox. Tidak bisa dengan Google Chrome dan browser lain. Dibuka dengan push mail di Blackberry dan Mail Client di desktop pun tidak pernah bisa saya lakukan. Jadi repot sekali, untuk mengirim dan mengecek email yang saya tunggu-tunggu, saya harus menyalakan komputer. Tidak bisa dilakukan dengan ponsel bila sedang mobile.

Hmmm. Jadi saya terpaksa mengirim email dalam dua alamat email. Satu dengan alamat email instansi itu agar bisa mereka gunakan untuk keperluan pengarsipan. Satunya lagi dengan email pribadi saya. Ini selain merepotkan saya, juga merepotkan pihak-pihak yang perlu berkorespondensi dengan saya. Tapi harus bagaimana lagi, saya harus mengerjakan kerjaan lain sambil mobile.

Iseng melihat-lihat layanan corporate mail yang dipakai oleh instansi ini, ternyata merupakan satu paket dengan web hosting yang menggunakan layanan idwebhost.

Ini mungkin pertama kali dalam 5 tahun terakhir saya menggunakan interface Squirrel Mail dan Horde. Lucu … πŸ˜€

 

Mencoba Google Drive

Kemarin pagi ketika orang-orang di social media heboh dengan kapasitas Gmail gratisannya bertambah besar, menjadi 10 giga, dan kehebohan mereka menjajal layanan penyimpanan file online milik Google yaitu Google Drive, saya masih melongo. Tidak ada perubahan kapasitas Gmail saya, masih di kisaran 8 giga. Pun ketika saya mencoba membuka Google Drive, masih dibisiki Google agar menunggu email notifkasi dari mereka.

Ketika saya mengeluhkan kejengkelan saya di social media karena tidak cukup beruntung menjadi golongan awal yang mencoba Google Drive, Mas Ikhlasul Amal malah berseloroh: Sabar saja, harus ngantri, penduduk dunia sekarang sudah mencapai 7 milyar. πŸ˜€

Sebenarnya kenapa Google Drive menarik dan membuat penasaran bagi saya. Dilihat dari segi ukuran kapasitas gratisan yang ditawarkan kelihatannya juga biasa-biasa saja. Bahkan saat ini saya sudah terdaftar di beberapa layanan cloud drive yang berukuran jauh lebih besar seperti Microsoft Sky Drive yang segede 25 giga, Boxnet dan yang paling saya favoritkan adalah Dropbox. Saat ini dropbox sudah saya gunakan tanpa masalah baik dari PC, Laptop dan semua gadget mobile saya.

Jawaban saya adalah integrasi dengan layanan-layanan Google yang lain tentu saja.

Katakanlah Gmail, saya tinggal mengunggah sebuah file di google drive untuk sebuah file yang ingin saya email ke banyak orang, nanti tinggal di email saya kasih link yang mengarah ke file yang sama di cloud drive. Ini sih biasa saja ya, dengan layanan cloud drive yang lain pun tentu saja tetap bisa.

Google Doc. Apabila fitur dari Google Doc terus diperbaiki dan koneksi internet semakin dimana-mana, saya pikir Google Drive akan menjadi Β killer aplication untuk layanan cloud drive. Semua orang akan beramai-ramai mengerjakan document dengan pengolah document dan data online yang tentu saja file-file nya akan sangat praktis disimpan di Google Drive. Saya sendiri sekarang semakin suka menggunakan aplikasi-aplikasi online dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

Apa lagi? Bila Anda juga tertarik mencoba Google Drive apa alasan Anda? Sebaliknya apa alasan Anda bila tidak tertarik menggunakan layanan Google Drive?

Mungkin bagi saya ada fitur yang penting untuk ditambahkan, kalau fitur ini belum ada, yaitu security yang lebih baik seperti yang dijanjikan Google sebaiknya juga ditambahkan dengan viewing history. Misalnya kita menempatkan file di sebuah public folder agar kita bisa melihat siapa saja yang telah melihat dan mendownload file tersebut lengkap dari IP? Adanya activity log seperti pada Gmail saya pikir juga penting. πŸ™‚

 

Cerewet Tapi Miskin Ide

Saya sering kali merasa geli dengan orang-orang yang dengan begitu mudahnya meneruskan suatu konten dari satu milis ke milis lain, dari satu grup ke grup yang lain, atau dari mana saja ke channel komunikasi publik yang lain. Konten yang saya maksud bisa berupa gambar lucu, gambar serem, cerita-cerita humor, kisah inspiratif aneka tips dan lain-lain.

Dalam beberapa milis dan grup pun masalah ini sudah sering dibahas karena diakui bisa menimbulkan ketidak nyamanan dengan posting yang berulang-ulang. Tetapi apakah pemosting konten ini salah? Salah-salah bila diingatkan akan membuat mereka lebih tidak nyaman, marah-marah dan keluar dari suatu kelompok diskusi.

Apa yang saya tangkap dari penerusan suatu posting (forwarding) adalah kemungkinan si pemosting masih newbie menggunakan teknologi komunikasi. Malas belajar dan mengamati termasuk newbie, bukan? hehehe. Jadi begitu melihat sesuatu yang menarik mereka buru-buru ingin berbagi ketertarikannya itu. Tanpa menyadari atau tanpa pernah tahu kalau konten yang mereka posting sebenarnya telah banyak beredar katakanlah 10 tahun yang lalu, atau baru beberapa berselang meramaikan dunia social media.

Berbicara tentang forwarding saya jadi teringat pada presentasi Enda Nasution di TEDx Bandung pada tahun lalu. Kesimpulan Enda dari mengamati percakapan di social media menemukan bahwa onliner Indonesia itu kebanyakan suka cerewet bercakap-cakap. Permasalahanya adalah kebanyakan mereka itu miskin ide. Jadi tidak heran bila banyak posting baik di milis, facebook, twitter dan channel media sosial yang lain kebanyakan hanya merupakan forwarding, Retweet, RePost atau Copy Paste dari sumber lain. Bukan lemparan ide original mereka sendiri.

Jadi tidak heran bila dibanyak group dan channel media social meskipun ada banyak sekali user yang aktif, namun sangat mudah dipengaruhi oleh beberapa orang saja yang “bisa” membuat konten kreatif yang bermanfaat.

Kalau kita lihat di ranah social media kebanyakan posting berisi repost (copy paste) dan keluhan-keluhan, apakah hal yang sama terjadi di dunia nyata, dunia offline? Misalnya ada orang ngumpul-ngumpul hanya ada beberapa orang saja yang bisa bercerita membuat konten bagus di situ. πŸ™‚

Ini sebuah renungan sekaligus tantangan bagi saya dalam mengelola beberapa group online sampai saat ini. πŸ™‚

Earphone atau Enakan Headphone

Earphone kesayangan saya siang tadi rusak. Salah satu Earpiece -nya tidak bunyi. Kabelnya terputus. Penyebabnya adalah karena tidak sengaja tertarik paksa. Saya begitu saja beranjak dari tempat duduk lupa kalau di telinga saya terpasang earphone yang tersambung ke komputer. 😦 Biasanya saya memang menggunakan headset bluethooth untuk mendengarkan musik yang diputar di laptop yang saya bawa. Bukan PC seperti pada tadi pagi.

Sebenarnya di PC yang saya pakai tadi pagi sudah disediakan headphone bertipe close air yang teorinya lebih nyaman digunakan untuk mendengarkan musik karena suara-suara lain direduksi secara maksimal. Tapi entah kenapa saya merasa tidak nyaman. Daun telinga saya terasa sakit terjepit oleh headset. Musik yang lebih barsih tidak mengkompensasi sakit daun telinga.

Entahlah, saya yang lebih nyaman menggunakan earphone daripada headphone ini karena faktor kebiasaan atau memang headset yang sering saya coba kebetulan bukan tipe yang sesuai dengan anatomi kepala dan telinga saya. Oh iya, earphone saya yang rusak merupakan bawaan dari blackberry bold. Earphone yang bertahun-tahun terasa nyaman cocok di telinga. hehehehe

Mencari Foto-Foto Lama

Koleksi foto yang ada di hard disk saya sampai saat ini sudah sangat banyak. Umumnya foto-foto itu adalah foto yang saya jepret sendiri baik dengan beragam kamera. Mulai dari kamera saku, kamera ponsel dan kamera SLR. Beragamnya kamera yang digunakan memang tergantung keadaan dan tergantung kamera apa yang saat itu bisa saya pinjam. Saya sudah suka jeprat-jepret foto sejak belum punya kamera sendiri. Koleksi aneka foto dari tahun 2002 sampai sekarang sudah hampir berukuran 200 giga.

Koleksi foto sebanyak ini bisa dikatakan sebagai harta karun yang menyimpan rekaman hidup saya. Ini sangat berharga.

Seiring dengan makin membengkaknya koleksi foto, ada beberapa masalah muncul. Diantaranya adalah menyimpan dan membackupnya. Saya menyimpan foto-foto itu umumnya di harddisk, di beberapa hard disk, kalau dari tahun 2002 saya mem-backup dengan kepingan CD pasti akan menumpuk. Nah, foto-foto itu saya taruh di hard disk yang terpasang di komputer dan di hard disk yang tidak terpasang di komputer. Dulu saya pikir, hard disk yang tidak terpasang itu akan berusia lebih panjang. Kenyataannya, Sabtu kemarin saya mendapati hard disk yang saya simpan di almari, salah satunya tidak berfungsi. πŸ™‚

Permasalahan lain adalah file managemen foto. Maksud saya di sini adalah untuk mencari foto-foto tertentu dalam koleksi foto saya. Saya masih ingat ketika dulu habis memotret, apa yang saya lakukan adalah langsung menyalinnya ke hard disk tanpa menambahkan embel embel keterangan apapun. Untuk file-file foto seperti ini saya hanya bisa mencarinya berdasarkan metadata pada photo. Yang mana meta data yang ada di kamera lama hanya berisi tanggal/jam dan data exif seperti parameter-parameter pengambilan gambar pada kamera. Belum ada Geo location pada metadata kala itu.

Hehehe, sampai saat ini saya belum mempunyai ide untuk mengelola koleksi foto itu secara lebih baik. Padahal sekarang sudah ada teknologi face recognition dan sejenisnya