Twitter Akan Hadirkan Fitur Edit Tweet?

Pagi ini di linimasa,  sepintas saya membaca pro dan kontra akan fitur baru yang sedang digarap oleh Twitter. Fitur baru yang dimaksud adalah fitur: Edit tweet. Melihat tanggapan-tanggapan yang berkembang banyak ngebanyolnya, mulanya fitur penyuntingan (edit) tweet itu saya pikir merupakan guyonan pagi saja. Sampai rasa penasaran membuat saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengetikan kata kunci “twitter’s new features edit tweet”

Hasil googling dengan kata kunci pagi ini bisa ditengok di sini. Kemudian dari beberapa media online terpercaya, sedang digarapnya fitur baru: edit tweet itu bukanlah gosip semata. Menurut yang diantaranya saya baca di halaman berita Foxnews di sini, saya menangkap beberapa hal.

Benar bahwa twitter sedang menggarap fitur baru edit tweet namun belum dipastikan kapan fitur ini akan diluncurkan ke semua pengguna twitter.

Tujuan dari peluncuran fitur ini untuk membantu pengguna memperbaiki salah ketik yang mungkin terjadi, dan mengurangi atau menambahkan karakter tertentu dalam suatu tweet.

Tweet hanya bisa diedit (disunting) dalam jangka waktu tertentu. Berapa lama jangka suatu tweet bisa diedit ini belum dijelaskan. Namun sepertinya tidak bisa untuk tweet-tweet kita yang sudah berselang hari. 🙂

Kemungkinan suatu tweet hanya bisa diedit satu kali saja. Sampai tweet ini akan muncul seperti yang telah diedit. Sampai sekarang saya belum membaca apakah tweet yang telah diedit akan ditandai, diembel-embeli keterangan bahwa suatu tweet pernah diedit. Kalau ada keterangan suatu tweet telah diedit atau belum berarti ini akan sama dengan fitur yang sama di Google+ dan Facebook.

Nah, setelah fitur edit tweet ini selesai digarap, benar-benar siap digunakan oleh semua pengguna, dan telah benar-benar diputuskan oleh Twitter untuk diluncurkan, twitter akan menguji cobakan fitur baru ini ke beberapa selebtwit terpilih, akun twitter official situs berita, dan akun twitter terverifikasi lainnya. Bila Anda merasa selebtwit atau admin akun twitter yang terverifikasi, kemungkinan Anda akan menjadi yang pertama menjajal fitur baru ini.

Penasaran ya? Saya sendiri juga penasaran. Apakah tweet “Aku Cinta Kamu cc @gadis_ayu” bisa disunting menjadi “Aku Sayang Kamu saja kok @gadis_ayu” bila belakangan tidak direspon atau celakanya ditolak. 😀

Ngomong-ngomong apakah Anda setuju dengan rencana penambahan fitur baru: Edit Tweet ini? Apa alasanmu?

Iklan

Di Jejaring Sosial Mana Ada Konten Bagus?

Saya tiba-tiba ingat komentar Mas Ikhlasul Amal tentang Google+ ketika pada suatu saat ngobrol-ngobrol dengan saya. Kata Mas Amal, Google+ benar-benar lebih berbagi. Maksudnya orang-orang yang diikuti Mas Amal di Google+ yang lebih mempunyai semangat yang lebih tulen untuk berbagi? Saat itu tentu Facebook yang digunakan sebagai pembanding utama. Karena Mas Amal sendiri tidak begitu suka dengan Twitter karena batasan 160 karakter merupakan ruang yang sempit.

Meskipun kenyataannya sampai sekarang, sampai hari ini, Mas Amal sendiri lebih banyak berbagi di jejaring sosial facebook. Mungkin selama ini Facebook yang dilihat Mas Amal sebagai banyak keisengan dipandang sebagai lahan dakwah tersendiri yang bisa ia mulai dengan memberi contoh dengan konten-konten positif.

Kalau saya tidak salah ingat, ketika saya awal-awal mainan facebook, konten di facebook pada saat itu juga sangat bagus, tidak banyak ke-alay-an, tidak banyak keisengan, dan tidak banyak sampah. Dibandingkan jejaring Frienster (mengetiknya benar ngga ya) yang populer lebih dulu di Indonesia. Saat itu bahkan ada yang berpendapat bahwa Facebook akan menjadi jejaring sosial untuk orang-orang dewasa yang lebih elegan dan Frienster untuk kawula muda.

Melihat transisi jejaring sosial dari Friendster, Facebook dan barangkali kelak Google+ akan menyusul populer, saya kira permasalahan konten tidak akan terlalu dipengaruhi oleh jejaring sosial apa yang mana. Pada saatnya nanti Google+ pun mungkin akan didatangi oleh penyampah.

Konten yang diposting di Google+ saat ini masih relatif bagus bisa jadi karena penghuni Google+ saat ini adalah early adopter, orang-orang yang suka mencoba-coba teknologi baru, yang mana mereka kebanyakan adalah orang-orang yang relatif lebih dewasa dalam mengelola informasi. Tapi ya entah lah. hehehe

Facebook Makin Sepi?

Sejak beberapa waktu, saya merasakan Facebook makin sepi. Sepi di Facebook itu terlihat dari jumlah konten yang di-upload. Baik itu status update, note, foto-foto, video dan lain-lain. Indikator di sebelah kanan bawah yang menunjukan berapa teman yang sedang online pun memperlihatkan jumlah yang makin sedikit. Jumlah teman online ini seingat saya malah setengah dari jumlah pada 2 tahun yang lalu. Padahal saat ini saya berteman dengan dua kali lebih banyak orang dibandingkan dua tahun lalu.

Hmmm. Apakah hal ini menunjukan kalau orang-orang sudah mulai jenuh dengan jejaring sosial, terutama Facebook. Atau hanya sebatas teman-teman saya saja yang sudah mulai bosan. Sementara ada orang-orang lain yang kebetulan bukan teman saya yang saat ini masih rajin di Facebook.

Nah, kalau Twitter saya rasakan saat ini jauh lebih riuh. Sampai-sampai saya kesulitan untuk mengikuti timeline saya. Mungkinkah teman-teman saya yang mulanya berjejaring di Facebook saat ini sudah merasa nyaman di Twitter, atau lirik-lirik untuk berpindah ke jejaring sosial yang lain seperti Google+, Path, Pinterest, dan lain-lain.

Cerewet Tapi Miskin Ide

Saya sering kali merasa geli dengan orang-orang yang dengan begitu mudahnya meneruskan suatu konten dari satu milis ke milis lain, dari satu grup ke grup yang lain, atau dari mana saja ke channel komunikasi publik yang lain. Konten yang saya maksud bisa berupa gambar lucu, gambar serem, cerita-cerita humor, kisah inspiratif aneka tips dan lain-lain.

Dalam beberapa milis dan grup pun masalah ini sudah sering dibahas karena diakui bisa menimbulkan ketidak nyamanan dengan posting yang berulang-ulang. Tetapi apakah pemosting konten ini salah? Salah-salah bila diingatkan akan membuat mereka lebih tidak nyaman, marah-marah dan keluar dari suatu kelompok diskusi.

Apa yang saya tangkap dari penerusan suatu posting (forwarding) adalah kemungkinan si pemosting masih newbie menggunakan teknologi komunikasi. Malas belajar dan mengamati termasuk newbie, bukan? hehehe. Jadi begitu melihat sesuatu yang menarik mereka buru-buru ingin berbagi ketertarikannya itu. Tanpa menyadari atau tanpa pernah tahu kalau konten yang mereka posting sebenarnya telah banyak beredar katakanlah 10 tahun yang lalu, atau baru beberapa berselang meramaikan dunia social media.

Berbicara tentang forwarding saya jadi teringat pada presentasi Enda Nasution di TEDx Bandung pada tahun lalu. Kesimpulan Enda dari mengamati percakapan di social media menemukan bahwa onliner Indonesia itu kebanyakan suka cerewet bercakap-cakap. Permasalahanya adalah kebanyakan mereka itu miskin ide. Jadi tidak heran bila banyak posting baik di milis, facebook, twitter dan channel media sosial yang lain kebanyakan hanya merupakan forwarding, Retweet, RePost atau Copy Paste dari sumber lain. Bukan lemparan ide original mereka sendiri.

Jadi tidak heran bila dibanyak group dan channel media social meskipun ada banyak sekali user yang aktif, namun sangat mudah dipengaruhi oleh beberapa orang saja yang “bisa” membuat konten kreatif yang bermanfaat.

Kalau kita lihat di ranah social media kebanyakan posting berisi repost (copy paste) dan keluhan-keluhan, apakah hal yang sama terjadi di dunia nyata, dunia offline? Misalnya ada orang ngumpul-ngumpul hanya ada beberapa orang saja yang bisa bercerita membuat konten bagus di situ. 🙂

Ini sebuah renungan sekaligus tantangan bagi saya dalam mengelola beberapa group online sampai saat ini. 🙂

Nyari Statistik Pengguna Facebook di Gunungkidul

Saat ini saya sedang memerlukan angka-angka statistik dan demografi pengguna jejaring sosial (facebook dan twitter) di kabupaten Gunungkidul. Namun saya tidak tahu dimana informasi itu tersedia. Nampaknya belum ada orang yang mau berbagi informasi tentang pengguna facebook per kabupaten di internet. Apalagi untuk kabupaten, untuk Yogyakarta saja sampai saat ini saya belum menemukan sumber informasi yang kredibel. Ini karena jarang ada orang yang mau berbagi atau karena memang belum ada yang memetakannya.

Sebenarnya untuk angka-angka ini saya ingin mencarinya di salingsilang, tetapi kali ini saya belum beruntung. Situs itu saat ini sedang njegleg. 😦 Statistik dan grafik sosial media yang dapat dengan mudah dilihat baru saya lihat di blog Pitra di: http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/28/refleksi-2011-beberapa-statistik-social-media/. Itupun untuk angka-angka di Indonesia.

Ada yang bisa ngasih saya clue untuk mendapatkan informasi ini?

Hati-Hati Promosi Brand di Social Media

Beberapa hari yang lalu, seseorang nge-add friend saya di Facebook. Saya kira orang itu mengetahui account facebook saya dari group facebook wonosari.com. Saya melihat beberapa aktifitasnya di group wonosari.com. Dan bisa jadi aktifitas saya di group facebook wonosari.com juga terbaca oleh dia. Karena kebetulan sedang berbaik hati, saat itu saya mengonfirmasi permintaan pertemanan itu.

Sampai di situ hampir tidak terjadi interaksi antara aku dan dia di jejaring social facebook. Sampai kemudian dia menambahkan saya ke group facebook Maju Lancar Lover.

Hah! Apa-apaan ini. Ini menurut saya sangat tidak sopan dan sudah keterlaluan. Atas dasar apa dia menambahkan saya sebagai member Maju Lancar Lover?

Saya kemudian membaca-baca dokumen di group facebook Maju Lancar Lover untuk memastikan dia itu siapa. Ternyata dia adalah salah satu koordinator berdasarkan struktur organisasi yang terpampang dalam group Maju Lancar Lover. Tidak ingin facebook saya tambah riuh oleh sesuatu yang kurang penting bagi saya, maka saya pun segera mencari tombol leave group.

Saya memilih hidup damai tanpa aliran informasi kurang berarti dari group Maju Lancar Lover. Perlu diketahui sampai saat ini saya selektif mengikuti beberapa group facebook hanya untuk membantu mempermudah kehidupan sehari-hari dan kebutuhan bersenang-senang.

Cerita seseorang yang tak diduga tanpa dinyana menambahkan saya ke suatu group facebook tak dikehendaki itu rupanya sedikit banyak ada keterkaitan dengan kejadian di salah satu posting di group facebook wonosari.com. Tepatnya di post yang: INI

Maju Lancar Lover ternyata sedang gencar melakukan promosi di ranah daring dalam hal ini di jejaring pertemanan facebook.

Ada hal menarik yang pantas dipelajari dari kejadian di posting di group facebook wonosari.com ini:

Pertama, Baca lebih lanjut

Sahur di Social Media, Sepi

Dua atau tiga Ramadhan yang lalu, pada waktu makan sahur sampai menjelang subuh, feed dan timeline social media yang saya ikuti (diantaranya adalah twitter dan facebook) ramai. Bisa dibilang sangat ramai. Apapun, oleh kawan – kawan online saya itu dengan mudah dijadikan bahan update.

Berbeda dengan Ramadhan kali ini, feed dan timeline terlihat sepi. Tinggal ada beberapa kawan saya yang kadang kala masih menyempatkan iseng memposting sesuatu di sela – sela menikmati hidangan santap sahur. Padahal pada Ramadhan kali ini di facebook saya berteman dengan lebih banyak orang. Di twitter -pun saya telah men-follow orang yang berjumlah kira – kira dua kali lipat dibanding yang saya follow pada tahun lalu. Baca lebih lanjut