Hati-Hati Promosi Brand di Social Media

Beberapa hari yang lalu, seseorang nge-add friend saya di Facebook. Saya kira orang itu mengetahui account facebook saya dari group facebook wonosari.com. Saya melihat beberapa aktifitasnya di group wonosari.com. Dan bisa jadi aktifitas saya di group facebook wonosari.com juga terbaca oleh dia. Karena kebetulan sedang berbaik hati, saat itu saya mengonfirmasi permintaan pertemanan itu.

Sampai di situ hampir tidak terjadi interaksi antara aku dan dia di jejaring social facebook. Sampai kemudian dia menambahkan saya ke group facebook Maju Lancar Lover.

Hah! Apa-apaan ini. Ini menurut saya sangat tidak sopan dan sudah keterlaluan. Atas dasar apa dia menambahkan saya sebagai member Maju Lancar Lover?

Saya kemudian membaca-baca dokumen di group facebook Maju Lancar Lover untuk memastikan dia itu siapa. Ternyata dia adalah salah satu koordinator berdasarkan struktur organisasi yang terpampang dalam group Maju Lancar Lover. Tidak ingin facebook saya tambah riuh oleh sesuatu yang kurang penting bagi saya, maka saya pun segera mencari tombol leave group.

Saya memilih hidup damai tanpa aliran informasi kurang berarti dari group Maju Lancar Lover. Perlu diketahui sampai saat ini saya selektif mengikuti beberapa group facebook hanya untuk membantu mempermudah kehidupan sehari-hari dan kebutuhan bersenang-senang.

Cerita seseorang yang tak diduga tanpa dinyana menambahkan saya ke suatu group facebook tak dikehendaki itu rupanya sedikit banyak ada keterkaitan dengan kejadian di salah satu posting di group facebook wonosari.com. Tepatnya di post yang: INI

Maju Lancar Lover ternyata sedang gencar melakukan promosi di ranah daring dalam hal ini di jejaring pertemanan facebook.

Ada hal menarik yang pantas dipelajari dari kejadian di posting di group facebook wonosari.com ini:

Pertama, sekaligus hal yang perlu diapresiasi adalah usaha untuk menggunakan internet dan jejaring social untuk mendekatkan diri dengan pasar (pasar dalam pengertian saya adalah pelanggan, calon pelanggan dan masyarakat online pada umumnya). Saya sendiri termasuk orang yang mempromosikan internet untuk hal-hal yang lebih produktif seperti bisnis, pendidikan, informasi dan sejenisnya.

Kedua, sekaligus yang perlu disayangkan adalah usaha membabi buta dari orang-orang yang mengaku anggota Maju Lancar lover itu sendiri. Nampak terlihat dari bagaimana kedewasaan mereka dalam menyikapi dan menanggapi setiap kritik dari onliner dalam hal ini anggota group facebook wonosari.com. Saya tahu member wonosari.com ini termasuk orang-orang yang sudah cukup makan garam berinteraksi sebagai onliner Gunungkidul yang sudah lama cuap-cuap di forum wonosari.com sejak jaman facebook dan twitter belum sememasyarakat sekarang.

Dari hal kedua ini timbul pertanyaan. Bagaimana mungkin ketika mereka sudah mau terjun di dunia social media dan dengan berani memposting konten di group yang dibuat oleh orang lain (wonosari.com) begitu tidak dewasa menangani kritik. Bahkan saya lihat malah terlibat konfrontasi dengan salah seorang member group wonosari.com. Ini sangat tidak sopan, memupuk kebencian dan sangat tidak produktif.

Alih-alih si produk lebih dekat dengan pasar, malah-malah memupuk ketidak nyamanan dan ketidak sukaan pasar akan produk itu melalui pertontonan ketidak dewasaan di social media.

Dalam insiden tidak menyenangkan ini saya sendiri menggaris bawahi sebenarnya group wonosari.com merupakan pasar potensial. Member wonosari.com saat saya menulis posting ini berjumlah 2.633. Jauh lebih banyak dari Maju Lancar Lover sendiri yang baru mengumpulkan sebanyak 1.244. Belum kalau aset wonosari.com itu dilihat dari volume postingnya. Belum berapa jumlah member group facebook wonosari.com yang aktif per harinya.

Dalam kehumasan, perilaku tidak menyenangkan itu sudah pasti akan dikalkulasi sebagai kerugian yang harus dikompensasi dengan biaya yang tidak murah.

***

Sebenarnya bisa engga sih produk yang sudah banyak mengecewakan konsumennya di masa lalu itu untuk kini memperbaiki reputasinya?

Jawab saya tentu saja BISA. Asal punya kedewasaan dan strategi yang matang sehingga tiap tindakan bukanlah produk emosional yang sporadis dan temperamental.

Halaaaah … kok posting saya malah panjang seperti ini. Hihi, padahal bila saya terus ngelantur akan jauh lebih panjang dan panjang lagi πŸ˜€ Ya sudah kapan-kapan kalau sempat dan ngga males saya mau mengarang lagi tentang kehumasan di social media dan internet πŸ˜€

Iklan

29 thoughts on “Hati-Hati Promosi Brand di Social Media

  1. Sebenarnya sayang kurang tahu apa alasan Facebook mengizinkan penambahan kita dalam sebuah group melalui jejaring kita tanpa persetujuan terlebih dahulu. Kadang sistem ini membuat tidak nyaman. Saya belum melihat apakah ada setelan privasi untuk mengatur ini.

  2. Memang, kemudahan dunia digital suka membuat kita lupa diri. Sebuah promosi yang seharusnya dirancang dan ditempatkan hati-hati dapat membuat merek kita jadi amburadul

  3. Iya, kadang banyak yang tidak mengerti beretikan di ranah online, kasus serupa juga beberapa kali saya alami. Nggak hanya itu pernah juga di tag di produk2 jualan mereka. Terpaksa deh di remove untuk orang2 seperti itu

  4. Dengan maraknya pengguna social media khususnya di indonesia, tentu saja menjadi ladang yang sangat potensial dalam melakukan branding produk maupun kegiatan bisnis lainnya. Cuman tetap harus dengan cara-cara yang beretika dan konstruktif πŸ™‚

  5. wah…memang rada males klo diculik tiba2 untuk masuk ke sebuah group. tp klo barangnya emg bagus dan dibutuhkan, ya ttp disitu tapi matiin notifikasi, hihihiii… πŸ˜€

  6. Internet memang dunia tanpa batas makanya sekarang ini semakin banyak saja hal-hal yang mungkin tidak bisa kita kontrol, tapi jika dilihat secara lebih dalam, maka kita bisa melihat bahwa batasan-batasan dalam dunia maya itu justru bisa membahayakan untuk diri sendiri jika kita tidak mematuhi batasan-batasan itu.

  7. Saya juga paling malas mas kalo ada yang ngeadd saya secara sepihak di group FB’nya.
    Tapi salah FB’nya juga sih, harusnya kita diberi kewenangan untuk memberikan konfirmasi apakah ingin bergabung atau tidak.

  8. Sah-sah saja orang ber-iklan, merayu dan mengajak pada orang lain dalam upaya memasarkan sebuah produk, akan tetapi memang dalam pemasaran itu sendiri ada etika-nya kok … jadi tidak ada pemasaran yang akan berhasil dengan baik jika dilakukan dengan membabi buta … salam kenal dan sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s