Desa Grogol, Mencukupi Kebutuhan Air Bersih

Di desa dimana saya tinggal –hehe, entah kenapa saya suka sekali menggunakan frasa “di desa dimana saya tinggal”– sumur merupakan sumber utama air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Turun temurun dari nenek moyang sudah begitu. Tidak banyak yang berubah sampai sekarang. Bila ada yang berubah itu adalah jumlah sumur yang ada sekarang jauh lebih banyak. Seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

Seperti halnya di desa-desa lain di Gunungkidul yang terkenal kering, masalah yang sama juga dihadapi oleh masyarakat di desa dimana saya tinggal. Masalah air atau kekeringan pada musim kemarau seperti yang terjadi sekarang ini. Masalah yang umum terjadi rutin berulang setiap tahun. Masalah yang tidak mudah diselesaikan oleh masyarakat desa dimana saya tinggal.

Untuk bertahan hidup dan menenuhi kebutuhan air, apa yang bisa dilakukan oleh warga –anggota masyarakat– baru diantaranya membuat sumur di hampir di tiap rumah tangga dan baru-baru ini membuat bak-bak penampungan. Bak-bak penampungan itu ada yang dibangun sendiri oleh warga dan ada pula yang dibangun dengan berbagai program pemerintah dan bantuan sosial. Sumur dan bak penampungan air itu digunakan untuk tandon/menyimpan air tangki yang dibeli oleh warga bilamana air sumur sudah habis.

Belum ada upaya terintegrasi untuk mengatasi masalah air bagi masyarakat. Sampai sekarang.

Sedikit harapan akan jawaban bagi permasalahan air di musim kemarau pernah ada pada tahun 2009. Ketika di pekarangan Pak Ngadiyono, Pejabat Keamanan Desa Grogol, ditemukan sumber air. Di tempat dimana sumber air itu berada kemudian dibangunlah sumur bor dan dibangun instalasi untuk mengangkat air tanah. Menara penampungan air sudah dibangun, begitu pula dengan pompa air bertenaga diesel sudah terpasang dan air pada saat itu bisa diangkat.

Beberapa waktu kemudian masyarakat makin optimis dengan keberadaan sumber air dan instalasi eksploitasi air bersih di pekarangan rumah Pak Ngadiyono di dusun Senedi. Masyarakat kemudian bahu membahu dengan berbagai cara membangun jaringan pipa untuk mengalirkan air bersih yang diangkat dari sumber air di pekarangan rumah Pak Ngadiyono. Jaringan itu seyogyanya akan digunakan untuk mengalirkan air bersih ke bak-bak penampungan air di beberapa tempat di dusun Senedi dan dusun-dusun tetangga termasuk dusun Karangmojo B. Bapak saya pun dulu bersama-sama warga yang lain turut bekerja bakti membangun jaringan pipa.

Proyek pembangunan jaringan air bersih itu dulu pernah saya ceritakan di sini.

Sayangnya entah kenapa, Instalasi pengangkat air bersih di lokasi pekarangan rumah Pak Ngadiyono sejak beberapa lama sudah tidak berfungsi. Bahkan sebelum banyak warga yang bekerja bakti memasang jaringan pipa turut menikmati percikan kesegaran air bersih itu. Saya tidak tahu apa masalah terhentinya aliran air bersih itu. Apakah ada kerusakan mesin. Atau sumber air yang sekarang habis.

Nah, akhir-akhir ini, masyarakat di desa dimana saya tinggal sedang semangat-semangatnya membangun jaringan air bersih yang bersumber dari dusun Toboyo desa Plembutan, dari sumur milik Mas Su. Masyarakat membangun jaringan itu bisa dikatakan secara swadaya, dengan ongkos jaringan yang bervariasi. Biaya ditentukan diantaranya oleh jarak rumah dengan ketersediaan jaringan pipa yang sudah ada. Kalau tidak salah antara 1,5 sampai 2,5 juta. Pembangunan jaringan pipa air bersih ini dulunya dimulai oleh penduduk dusun Grogol. Sekarang jaringan sudah meluas sampai dusun Karangmojo A, Karangmojo B, Senedi, bahkan akan ke dusun Gerjo.

Saya sendiri memang belum ikut memasang jaringan pipa air bersih ini. Namun apa yang menarik adalah kegigihan masyarakat desa Grogol untuk menyelesaikan permasalahan air secara mandiri. Tanpa mengharapkan bantuan dari pihak lain. Apalagi bantuan pemerintah.

Dalam ngobrol-ngobrol saya dengan Agung beberapa waktu lalu, kami pun belum tahu pasti kebijakan pemerintah desa Grogol seperti apa terkait pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat. Permasalahan air bersih merupakan permasalahan masyarakat. Kebutuhan Air Bersih adalah hal strategis. 🙂

Tulisan terkait:

Iklan

Download Gratis Cross Over, Khusus Hari Ini Saja

Bagi  yang bekerja dengan menggunakan Linux atau Mac dan menemukan kendala untuk menjalankan aplikasi berbasis Windows. Bila menggunakan Linux pasti untuk hal ini akan mencoba menjembatani dengan Wine. Namun seperti pengalaman kita semua yang mana Wine tidak selalu berjalan lancar.

Sejak awal menggunakan Linux kira-kira 8 tahun yang lalu, saya pernah membaca review tentang Cross Over di Majalah Infor Linux, namun karena Cross Over merupakan aplikasi berbayar, maka sampai sekarang saya urung mencobanya.

Sampai hari ini saya mendapati informasi di  CodeWeavers’ Flock The Vote promotional web site tentang tawaran gratis Cross Over bila di-download dalam 24 jam hari ini. Saya langsung mendaftarkan diri dan mendownload Cross Over untuk Debian baik versi 32 maupun 64 bit. Dan tentu saja sayang untuk melewatkan tidak mendownload installer untuk Mac. 😀

Coba seberapa bagus Cross Over menyelesaikan masalah ini di komputer Ubuntu saya. 😀

Cross Over Free Download Page

Cross Over Free Download Page

Suka Mengunggah Foto Ponsel ke Google+

Ada beberapa alasan kenapa saya suka mengunggah foto-foto ponsel saya secara langsung ke Google+. Google tidak kebangetan dalam me-resize/memperkecil ukuran foto yang diunggah ke Google+. Album foto di Google+ ditampilkan dengan lebih keren. (dibanding Facebook menurut saya) Foto-foto yang diunggah ke Google+ otomatis akan ditaruh ke Picasaweb Album tanpa mengurangi jatah kuota kita di sana.

Alasan yang tidak kalah pentingnya adalah, provider dimana saya berlangganan paket data (Flash pada Kartu Halo) saya ketahui tidak (terlalu) mencekik kecepatan unggah meski kuota saya sudah melebihi fair usage. Atau ini ada hal yang salah yang belum diperbaiki teknisi mereka? hihi

Namun ada sedikit hal yang kurang saya mengerti ada di Google+ Apps for Android. Saya menggunakan Google+ Apps hanya pada ponsel Android saya. Apa yang tidak saya mengerti itu adalah foto-foto yang saya unggah ke Google+ kadang-kadang di resize tanpa konfirmasi ketika saya mengunggahnya dengan mobile apps. Saya pernah mengalami sampai foto saya diperkecil separah seukuran 320: 480 pixel. Jelek sekali kan 😦

Lagi, ada fitur yang saya ingin ditambahkan pada Google+ apps for Android, yaitu upload progress bar. Agar saya bisa melihat sampai sejauh mana/seberapa banyak file foto yang sudah terunggah, berapa yang berhasil dan berapa yang gagal. Tidak hanya diam tanpa ada notifikasi apa-apa.

Berikut ini adalah salah satu foto yang kemarin sore saya unggah ke google+ dan diteruskan ke picasaweb oleh google:

Dawn Near Home (Karangmojo B)

Dawn Near Home (Karangmojo B)

E-KTP Sudah Jadi

Setelah menunggu hampir setahun, KTP Elektronik saya telah jadi dan saya ambil pagi ini, tanggal 29 Oktober 2012. Saya mengikuti tahapan perekaman data E-KTP pada tanggal 24 November 2011.

Menurut undangan pengambilan E-KTP yang saya terima pada kemarin sore, pengambilan E-KTP dilayani mulai jam 08:00 WIB sampai jam 12:00 WIB. Saya datang kira-kira pukul sepuluh. Di kantor kecamatan Paliyan tidak terlihat banyak antrian. Hanya ada 1 orang mengantri lebih dulu dari saya.

Sampai akhirnya giliran saya. Proses aktivasi dan pengambilan E-KTP berlangsung cepat. Saya hanya diminta sidik jari dan menyerahkan KTP lama. Begitu saya langsung bisa membawa pulang E-KTP baru ini.

E-KTP Baru

E-KTP Baru

Di facebook saya sempat guyonan, E-KTP saya ini mungkin palsu. Selain foto saya jadi kelihatan lebih gemuk dari aselinya, di E-KTP saya tidak terdapat chip elektronik seperti yang terpampang di baliho-baliho promosi E_KTP yang terpasang di pinggir-pinggir jalan. 😀

 

Karangmojo B Menyembelih Hewan Kurban

Begitu selesai melaksanakan shalat Ied di Lapangan Desa Grogol, jamaah segera bergegas ke masjid masing-masing untuk melakukan penyembelihan hewan kurban. Penyelesaian hewan kurban pada hari itu harus bergegas mengingat hari kurban bertepatan dengan hari Jum’at. Seyogyanya masyarakat/jamaah menginginkan daging kurban selesai dibagikan sebelum waktu shalat Jum’at.

Saya dulu pernah mendengar jikalau shalat Ied bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi pria yang sudah melaksanakan shalat Ied tidak dikenakan kewajiban shalat Jum’at. Saya sendiri memang tidak tahu pasti apakah hal itu benar. Jadi untuk amannya kami tetap shalat Jum’at. Lagi pula sekarang masjid jami’, masjid yang digunakan untuk shalat Jum’at ada dimana-mana dan mudah dijangkau. Termasuk di dusun dimana kami tinggal.

Informasi Perolehan Korban di Desa Grogol

Dusun Grogol 6 sapi 6 kambing
Dusun Karangmojo a 4 sapi 7 kambing
Dusun Karangmojo b 4 sapi 2 kambing

Dusun Senedi 2 sapi 11 kambing
Dusun Gerjo 4 sapi 5 kambing
Dusun Tungu 4 sapi 11 kambingTotal 24 sapi 42 kambing

Jumlah ini bisa bertambah sewaktu-waktu

Informasi perolehan kurban ini kemarin diumumkan oleh Pak Edhi Kusmiyanto menjelang dilaksanakan shalat Ied. Persis seperti yang kemudian saya posting di group facebook Konco Ndeso. Jadi bila Anda ingin mendapatkan update tentang apa yang terjadi di desa bisa bergabung di group ini.
Jumlah hewan kurban yang banyak ternyata bukan halangan untuk menyelesaikannya sesuai target sebelum shalat Jum’at. Begitu pun di Masjid At Taqwa Karangmojo B yang di’pangegani’ oleh Pak Suradi. Tentu saja dengan partisipasi semua warga.
Benar bila ada yang mengatakan bahwa Kurban sebenarnya merupakan ibadah sosial. Dalam penyelesaian hewan kurban semua masyarakat berpartisipasi. Tua muda remaja bahkan anak-anak. Tidak ada kelas-kelasan sosial. Semua turun tangan memegang daging tulang bahkan jeroan hewan kurban. Kecuali saya, saya malah asyik foto-foto. hehehe
Berikut ini cerita saya dalam foto ponsel:
Penyembelihan Hewan Kurban di Dusun Karangmojo B

Penyembelihan Hewan Kurban di Dusun Karangmojo B

Pak Suradi, penyembelihnya adalah yang berkaos merah

Pak Suradi, penyembelihnya adalah yang berkaos merah

Foto-foto lebih banyak bisa dilihat di Album Google + saya di :

https://plus.google.com/u/0/photos/110405561136709185275/albums/5803468131848642001

Iedul Adha 1433 H / 2012 M

Di desa dimana saya tinggal, di desa Grogol, shalat Iedul Adha tahun ini diselenggarakan pada hari Jum’at, 26 Oktober 2012 di lapangan desa Grogol. Di desa ini, shalat Ied memang diselenggarakan di tanah lapang, kecuali bila turun hujan. Bila turun hujan maka terpaksa dilaksanakan di Masjid Ki Ageng Pemanahan yang tentu saja tidak cukup untuk menampung jamaah satu desa.

Lapangan Desa Grogol, Tempat diselenggarakan Shalat Ied Adha

Lapangan Desa Grogol, Tempat diselenggarakan Shalat Ied Adha

Shalat Ied kali ini dilaksanakan pada pukul 06:30 WIB mengingat saat ini masih musim kemarau yang panas. Panitia Shalat Ied tidak ingin kekhusukan shalat tertanggu oleh terik panas bila shalat dilaksanakan pada pukul 07:00 WIB seperti biasanya.

Nampak di bawah ini jamaah yang sudah berduyun-duyun menuju lapangan desa.

Menuju Lapangan Desa

Menuju Lapangan Desa

Selanjutnya foto-foto berikut adalah sebagai ganti untuk melanjutkan cerita dari paragraf-paragraf sebelumnya:

Memilih Shaf yang lebih depan

Memilih Shaf yang lebih depan

Korban tahun sebelumnya:

 

Wedhang Uwuh

Bukan jenis minuman baru. Ini adalah minuman tradisional yang tentu saja sudah ada sejak lama. Kalau jenis minuman baru pasti tidak akan disebut minuman tradisional. hehehe. Wedhang Uwuh merupakan minuman tradisional yang berasal dari Imogiri – Bantul. Tepatnya di kompleks pemakaman raja-raja kerajaan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta.

Menurut cerita, cerita versi ini saya dengar dari kawan saya Miss Lusi, wedhang uwuh ditemukan pada saat itu ketika pembuat minuman (saya lupa nama orangnya dan wedhang apa yang ingin dibuat) ingin membuat wedhang tetapi pada saat itu secara kebetulan bahan-bahan wedhang sedang habis. Dan pembuat minuman membuat wedhang dari bahan seadanya dan hanya mengumpulkan sisa-sisa bahan yang ada.

Karena dibuat dari pungutan bahan-bahan sisa inilah kemudian minuman ini disebut wedhang uwuh.

Nah, meskipun terbuat dari pungutan bahan-bahan sisa, ternyata cita rasa wedhang ini enak. Dan belakangan disukai banyak orang. Dan tentu saja menjadi rejeki si pembuat minum wedhang uwuh itu sampai sekarang.

Kemarin sore, saya menyeduh wedhang uwuh di rumah. Saya menikmati wedhangan uwuh bersama segenap keluarga. Bahan-bahan wedhang uwuh yang kami nikmati kemarin sore saya beli nitip pada teman saya Theo yang kebetulan melewati Imogiri. Rasa wedhang uwuh ini tetep khas meski merupakan seduhan rumah.

Wedhang Uwuh

Wedhang Uwuh

Hihi, nampak seperti uwuh/sampah beneran yang mengisi gelas putih saya. Tapi percaya lah minuman yang berbahan daun cengkih, daun pala, daun jangan manis, jahe dan berpemanis gula batu ini benar-benar khas. 🙂