Review Running Shoes: League Kumo Racer

League Kumo Racer

League Kumo Racer

Sejujurnya League Kumo Racer Men’s Running berwarna merah bagi saya nampak lebih menantang, lebih garang, lebih greget. Tegas menampakan peruntukannya sebagai sepatu balap lari.

Kali ini saya memilih running shoes warna hitam karena sampai sejauh ini saya belum punya sepasang sepatu lari berwarna hitam. Sepatu lari-sepatu lari yang sudah saya punyai berwarna merah, biru dan hijau. Kumo Racer akan menjadi sepatu lari berwarna hitam pertama saya.

Rupanya pilihan warna hitam saya ini tidak salah. Setidaknya komentar teman saya, Dewi KR, di Facebook membuat saya tersenyum lega. Menurut Dewi, warna League Kumo Racer yang fotonya saya unggah di Facebook nampak keren. Ia ingin saya segera mereviewnya. Ia ingin memiliki sepatu ini karena League Ghost Runner yang ia punya sudah habis kilo meternya.

Kumo Racer merupakan sepatu yang peruntukannya berbeda dengan Ghost Runner, pun berbeda dengan Volans 2.0/Volans 2.5. Bila Ghost Runner diperuntukkan sebagai sepatu lari harian, Kumo Racer, sesuai namanya diperuntukan sebagai race shoes alias sepatu balap. Kumo Racer diperuntukkan untuk lomba lari cepat jarak dekat sampai menengah. Baca lebih lanjut

Menikmati Senja di Jogja Sunset Park

Capturing Sunsut Moment at Jogja Sunset Park (Bukit Paralayang)

Capturing Sunsut Moment at Jogja Sunset Park (Bukit Paralayang)

Jogja Sunset Park merupakan destinasi baru di sisi timur kabupaten Bantul, di sebelahnya Pantai Parangtritis. Atau lebih tepatnya di sisi barat kabupaten Gunungkidul, di Purwosari, di atas Pantai Parang Endog. Penjelasan kedua ini merupakan versi orang Gunungkidul, versi saya, haha.

Meski saya tidak yakin siapa sebenarnya yang mengembangkan Bukit Paralayang sebagai taman matahari tenggelam, sebagai Sunset Park. Anggap saja orang Gunungkidul.

Saya mendengar keberadaan Jogja Sunset Park seingat saya baru menjelang bulan Ramadan kemarin. Saat itu konon Sunset Park ini pembangunannya dikebut agar pada bulan puasa siap menjadi destinasi wisata ngabuburit di kawasan pesisir selatan Jogja.

Bosan menghabiskan akhir pekan dengan berleha-leha tidur, kemarin pagi setelah kira-kira satu jam menunaikan kewajiban recovery run/workout saya tidur sampai kurang lebih jam 12:00, saya pun mulai kepikiran untuk mencari pelampiasan menghabiskan akhir pekan. Salah satu pilihan yang muncul adalah melewatkannya dengan menikmati sunset. Salah satu pilihannya adalah ke Jogja Sunset Park. Baca lebih lanjut

Running Shorts

14063748_10209580752662980_4992391373744495040_n

Long Run sejauh 17.8 km yang saya lakukan pada hari Rabu, 17/08/2016 itu sampai Sabtu pagi (20/08/2016) ini masih menyisakan sensasi yang aduhai. Paha, betis dan lengan-lengan saya masih terasa berat. Meski tidak sesangat berat kemarin pagi. Mudah-mudahan besok pagi saya bisa melakukan Recovery Run dengan lebih nyaman.

Rute lari yang saya ambil kemarin memang rute yang tidak biasa. Rute yang saya harap menyenangkan. Rute itu adalah jalan raya dari desa dimana saya tinggal menuju pantai Baron. Titik 17.8 km menurut aplikasi Nike+ Running kira-kira 1 km menjelang bibir pantai.

Menyenangkan karena jalanannya naik turun cukup ekstrim. Menurut Nike+ jalanan itu mempunyai elevasi hampir 300 m. Menyenangkan karena saya berharap setelah lari bisa langsung menghirup udara pantai yang segar dan meluruskan kaki-kaki di pasir putih.

Kaki-kaki yang masih merasakan sensasi aduhai sampai sekarang sebenarnya bukan sesautu yang saya duga. 17.8 km seharusnya bukan jarak yang jauh. 21 km bahkan lebih adalah jarak aman buat saya. Itu dulu. hehe

Melihat-lihat activity di aplikasi Nike+ Running mau tidak mau harus membuat saya nyengir kuda. Untuk merayakan Hari Kemerdekaan negara dengan berlari boleh saja saya terlau bersemangat. Saya sudah sangat lama tidak melakukan Long Run adalah kenyataan yang diingatkan kembali oleh nyeri paha dan Nike+. Saya terakhir kali lari jauh rupanya sudah pada tanggal 13 September 2015.

Kembali ke topik. Itu tadi adalah awal yang terlalu melenceng. hihi Baca lebih lanjut

Iseng Mencoba Spotify Premium

Spotify Premium 01

Biaya berlangganan Spotify Premium sekitar Rp 50 ribu cukup mahal. Setidaknya cukup mahal bagi saya. Karenanya selama ini saya mendengarkan Spotify gratisan, yang tanpa berlangganan.

Namanya juga gratisan, tanpa berlangganan saya mau tidak mau harus ikhlas mendengarkan lagu-lagu dengan diselang-selingi iklan, tidak bisa menyimpan lagu-lagu kesukaan di perangkat (device) saya dan tidak bisa menggunakan sejumlah fitur premium lainnya. Pikir saya, yang penting saya bisa streaming-an, bisa menikmati aneka musik dan lagu baik baru maupun lama secara legal.

Terkait lagu (musik dan album), mahal dan tidak mahal itu sebenarnya relatif. Atau lebih tepatnya tergantung niatnya. Saya teringat akan jaman analog dulu, saat itu toh saya tidak merasa berat mengeluarkan uang Rp 20 ribu untuk membeli sebuah kaset album kesukaan saya saat itu. Rp 20 ribu pada tahun 90 an untuk sebuah album yang rata-rata berisi 12 lagu, paling banyak 15 lagu pasti jauh lebih mahal dibandingkan biaya berlangganan Spotify Premium yang menyediakan jumlah lagu yang jumlahnya teramat sangat banyak itu. Ada yang tahu berapa jumlah lagu dalam database Spotify? Baca lebih lanjut

Puma Trac, Pendamping Lari yang Menyenangkan

Puma Trac, Aplikasi Pendamping Lari yang bisa bikin meme lucu

Puma Trac, Aplikasi Pendamping Lari yang bisa bikin meme lucu

Kebanyakan pelari hobi seperti saya kemungkinan sudah familier dengan aplikasi-aplikasi semacam Runtastic, Endomondo, Strava, Nike Running+ dan sejenisnya. Kehadiran aplikasi-aplikasi ini bagi saya sendiri sangat membantu dalam menjaga komitmen, kualitas dan kemampuan lari pribadi sampai sejauh ini.

Baru-baru ini ada sebuah aplikasi latihan lari baru, Puma Trac. Baru dalam arti saya baru tahu. Baru-baru ini beberapa teman saya di facebook membagikan aktivitas latihan larinya menggunakan aplikasi Puma Trac. Sebagai orang berpribadi penasaran dan suka mencoba-coba, saya pun memasang aplikasi Puma Trac di iPhone.

Proses instalasi Puma Trac di iPhone berlangsung cepat dan mudah. Cukup mengunduhnya dari Appstore (bagi pengguna Android bisa mengunduhnya dari Playstore), proses instalasi berlangsung secara otomatis. Proses registrasi pun sama mudahnya. Agar lebih mudah lagi, saya mendaftar menggunakan akun Facebook. Dengan cara ini saya tidak perlu mengunggah lagi foto profil, foto cover dan data-data pribadi lainnya. Seingat saya, saya hanya perlu menambahkan informasi berat badan dan tinggi badan. Informasi ini akan berguna untuk menghitung jumlah kalori terpakai ketika berlatih lari nantinya. Baca lebih lanjut

Ahaaa, Ada Pelangi di Bulan Juli

Ada Pelangi di Bulan Juli

Ada Pelangi di Bulan Juli

Bila hujan bulan juni begitu istimewa bagi Sapardi Joko Damono, pelangi di bulan Juli hadir begitu mempesona bagi saya.

Pelangi itu hadir pada Jum’at sore suatu akhir Juli. Tepatnya pada tanggal 22 Juli 2016. Melengkung di atas hamparan kebun singkong. Di langit yang sebagian biru dan sebagian lainnya bermuram awan. Di atas lintasan dimana saya mulai berkeringat. Baca lebih lanjut

Mencari Gua Pertapan di Turunan Panggang Gunungkidul

Saya telah beberapa kali menyebut nama Gua Pertapan ketika saya menceritakan tentang betapa indahnya matahari terbit berbalut kabut di Watu Payung Turunan Geoforest Panggang Gunungkidul. Bahkan saya sampai menamai “Punthuk Setumbu”nya Watu Payung sebagai Bukit Pertapan. Karena di punggung bukit ini konon terdapat sebuah gua yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Gua Pertapan.

Bukit Pertapan  Turunan Watu Payung Girisuko Panggang Gunungkidul Yogyakarta

Bukit Pertapan Turunan Watu Payung Girisuko Panggang Gunungkidul Yogyakarta

Padahal, saat itu saya belum berhasil menemukan sendiri Gua Pertapan. Pencarian saya saat itu belum berhasil menemukan gua yang tak banyak dijamah orang. Jalan setapak di punggung bukit yang memang mempunyai banyak percabangan cukup menyesatkan saya ke belukar satu ke balik belukar yang lainnya.

Namun bukan saya namanya kalau tersesat sekali saja menjadi putus asa. Pencarian saya ulangi lagi pada Sabtu sore, 16 Juli 2016. Bukan 100% niat untuk ke Pertapan, melainkan alternatif ketika gerimis sore itu menggagalkan perjalanan saya ke Pantai Kayu Arum lagi.

Hawa adem yang sempoi menyambut begitu saya memarkir motor tidak jauh dari pohon sawo milik warga setempat. Seolah tak menghiraukan kesejukan yang mengajak berleha-leha itu saya langsung bergegas, berjalan cepat menyusuri setapak menuju ke balik bukit, ke Gua Pertapan. Seorang pecari rumput yang kebetulan saya temui saya sapa sekenanya saja. Baca lebih lanjut