Menghabiskan Waktu, Mengisi TTS

Mengisi TTS, Mengisi Waktu

Mengisi TTS, Mengisi Waktu

Ketika kebanyakan orang mengisi waktu atau lebih tepatnya menghabiskan waktu dengan mainan gadget baik itu twitter -an, facebook -an, nge-game dan sejenisnya, di kereta pagi Arya Dwipangga menuju Jogja pada hari Kamis yang lalu, saya melihat seorang wanita yang melakukannya dengan mengisi Teka Teki Silang.

Saya pikir ini so 90 πŸ˜€ meski tidak ada yang mengharamkanya di tahun 2012 ini. πŸ˜€ Sensasi mengisi TTS barangkali bagi sebagian orang tidak akan pernah tergantikan dengan mainan apa pun. πŸ™‚

Anda pernah merasa senang bisa memecahkan sebuah Teka Teki Silang?

 

Iklan

Traffic Blog Menurun

Beberapa waktu lalu, saya menuliskan di blog ini bahwa penggantian nama domain yang baru saja saya lakukan untuk blog ini tidak mempengaruhi traffic ke blog ini. Ternyata saya salah. Selang dua hari kemudian saya baru melihat penurunan traffic yang signifikan. Traffic turun sampai separo sebelum saya mengganti ke top level domain jarwadi.me πŸ˜€

Pengecekan saya selanjutnya menunjukan Page Rank blog ini menjadi 0 (nol). Nah, kalau sudah mengalami PR 0 seperti sekarang bisa merasakan secara langsung apa arti page rank. Dulu saya juga pernah menanyakan di sini di blog ini juga. πŸ˜€ Beberapa posting saya yang banyak dikunjungi orang dari mesin cari pun sekarang entah terlempar kemana.

Decreasing Blog Traffic

Decreasing Blog Traffic

Dari sini harus kembali melihat niat awal nge-blog dulu untuk apa. Bukankah niatnya untuk curhat saja, dan sekarang pun tetap berisi postingan curhat, hehe. Selebihnya kalau ada orang yang membaca adalah bonus semata. πŸ™‚

Tidak Ada Uang Kembalian

Kemarin pagi saya naik taxi Bluebird dari depan Trans Super Mall ke Gedung Rektorat ITB. Sopir taxi Bluebird itu cukup ramah dam menguasai jalanan kota Bandung. Dalam beberapa menit, kurang dari 20 menit saya sudah sampai di lingkungan parkir rektorat ITB.

Permasalahannya begitu saya akan membayar ongkos taxi sejumlah 23 ribu sekian-sekian, si akang sopir taxi tidak punya uang kembalian. Dia bilang, saya adalah penumpang pertama di hari itu.

Akhirnya saya ajak sopir taxi itu keluar untuk mencari uang pecahan. Sampai saya membeli air mineral di minimarket untuk mendapat uang pecahan. Padahal saya tidak sedang butuh air mineral. Ya, tidak apa-apa. Saya kasih saja ke akang sopir taxi itu,Β  siapa tahu dia butuh. πŸ˜€

Begini, menurut saya alasan sopir taxi sekelas Bluebird tidak punya uang kembalian bagi saya kurang masuk akal. Kenapa manajemen tidak membekali sopir dengan uang pecahan? Dan bagaimana melayani penumpang dengan baik.

Ngomong-ngomong apa tidak mungkin di tiap taxi sekelas Bluebird memasang e-money reader. Sekarang bukankah ada banyak produk uang digital. Hihihi, maksud saya kan jadi bisa memanfaatkan e-money gratisan saya. :d

image

Bluebird driver ID

Ini kemarin saya menfoto ID akang sopir taxi. Tidak saya blurr sih ID nya. Mudah-mudahan akang sopir ini tidak dapat masalah dengan manajemen. Saya toh tidak begitu kecewa karena ketika mencari uang pecahan argo ia matikan.

Sosial Media dan Perjuangan Hak di Depan Hukum

Permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan oleh Ibu Prita Mulyasari atas dakwaan pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional akhirnya dikabulkan oleh Mahkamah Agung. Prita sekarang terbebas dari status hukumnya yang menggantung. Alhamdulillah.

Kabar ini telah berlangsung beberapa hari yang lalu. Sudah bergeser dari halaman utama media. Sekarang sudah tertimpa oleh berita kekalahan Foke Nara dalam perhelatan Pilkada Jakarta.

Namun ada hal menarik yang ingin saya catat di sini. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di hari lebaran, saya Β berbincang-bincang dengan teman-teman sepermainan saya dulu ketika mereka sedang pulang mudik. Di antara yang kami percakapkan adalah dampak sosial media dan keterbukaan pers terhadap kesempatan memperjuangkan hak-hak orang yang lemah secara ekonomi.

Saya menceritakan kasus yang terjadi di desa saya beberapa tahun yang lalu, yang saya tuliskan di sini. Di antara teman-teman saya ada yang bisa menerima sebagai dampak positif sosial media.

Dan ada yang kurang optimis. Yang kurang optimis mengkritisi bahwa untuk kasus yang saya ceritakan itu, karena di antara pihak yang bersengketa tidak terlalu kaya dan penguasanya tidak terlalu berkuasa. Dia mencontohkan kasus di perusahaan-perusahaan di Jakarta yang mengingkari janji kepada para karyawan namun tidak tersentuh hukum. Perusahaan itu tidak tersentuh hukum karena mereka punya uang yang bisa digunakan untuk mempengaruhi segalanya (perangkat-perangkat hukum). Dengan begitu mereka dengan berbagai cara bisa memecundagi serikat pekerja yang ada di sana. …

Dalam kasus ini, kepada teman saya itu, saya memberi contoh kasus Prita Mulyasari. Rumah Sakit Omni Internasional jelas mempunyai semua uang yang diperlukan. Namun kenyataan Prita mendapat dukungan yang sangat luas karena mendapat dorongan dari sosial media dibuktikan dengan ratusan juta uang receh koin yang terkumpul, dan pengabulan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung yang baru saja diberikan.

Perjuangan butuh waktu. Perlu kesabaran dan keuletan seperti yang ditunjukan oleh Ibu Prita. Dan kebenaran pun tidak bisa menang secara serta merta.

Sekali lagi yang ingin saya sampaikan: Sosial Media dan Kebebasan Pers menurut saya memberi/memperluas kesempatan semua orang untuk berjuang memperjuangkan hak-hak hukumnya. Atau dengan kata lain ruang ini akan sempit sampai hampir tiada tanpa adanya kemerdekaan pers dan sosial media.

Suara Rakyat Adalah Suara Rakyat, Bukan Suara Partai

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok mengalahkan pasangan Foke – Nara pada Pilkada DKI Jakarta yang dilangsungkan kemarin (Kamis, 20 September 2012) sampai saat ini masih mendominasi pemberitaan baik di media mainstream maupun di media sosial. Apa yang ditampilkan media-media tersebut menggambarkan bahwa kemenangan Jokowi – Ahok merupakan kabar baik. Ini tentu saja sepihak, pasangan Foke-Nara tentu menganggapnya sebagai berita duka.

Saya sendiri tidak terlalu mendukung Jokowi, tetapi jelas sangat tidak mendukung Foke. Faizal Biem yang saya jagokan telah jatuh pada Pilkada putaran pertama. Habis saya tidak memiliki KTP Jakarta sih, jadi saya tidak bisa menyoblos Faizal. hehe

Begini; menurut saya, kabar kemenangan Jokowi setidaknya menunjukan bahwa suara partai, elit-elit partai tidak begitu mencerminkan suara rakyat. Ada yang bilang suara partai sama sekali berbeda dengan suara rakyat. Foke – Nara yang didukung secara keroyokan oleh partai-partai gajah pemenang pemilu legislatif di Jakarta tidak mengalahkan Jokowi – Ahok yang hanya didukung oleh PDI P dan Gerindra. Keduanya tidak mendapatkan suara yang sangat signifikan pada pemilu-pemilu legislatif di Jakarta.

Apakah ini berarti suara-suara (elit) partai kelak tidak akan laku lagi dijadikan barang jualan oleh pihak-pihak tertentu? Entahlah, Mau tidak mau, setidaknya saya sendiri makin muak dengan ulah (elit) partai yang makin tidak malu untuk mengambil posisi oportunis. πŸ˜€

Belajar Memotret (Bunga)

Bunga MerahJambu

Bunga Merah Jambu

Bunga Merah Jambu ini baru saja saya potret dengan ponsel Android entry level, Samsung Galaxy Ace Duos.

Maksud saya tadi sebenarnya hanya ingin mencoba fasilitas unggah gambar di Scope, suatu twitter client di Android yang menurut saya mempunyai tampilan yang enak dibaca. πŸ™‚