Pemilu 2014, Masyarakat Tidak Bodoh dan Tidak Mau Dibodohi

Apatisme akan Pemilu 2014 bisa menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas tidak hanya milik orang-orang terpelajar, golongan menengah ngehe dan orang perkotaan. Siapa pun yang jadi wakil rakyat, dari partai apa pun akan saja. Sama-sama akan mengeluarkan banyak uang yang dihamburkan selama masa kampanya. Sama-sama tidak akan membawa perubahan menuju perbaikan. Kepercayaan apatis seperti ini pun saya dapati telah merambah ke desa dimana saya tinggal. Suatu pedesaan di kabupaten Gunungkidul.

Ketidak percayaan masyarakat di desa dimana saya tinggal terhadap para calon wakil rakyat dan wakil rakyat ini membuat rakyat menjadi pragmatis. Pragmatisme itu kini mudah dilihat ketika akhir-akhir ini banyak calon wakil rakyat yang sosialisasi (baca: curi-curi start berkampanye di masyarakat) di lingkungan dimana saya tinggal. Masyarakat kini tidak acuh terhadap program kampanye yang diusung calon wakil rakyat. Mereka tidak percaya janji-janji kampanye, sama sekali.

Misalnya: Di desa dimana saya tinggal, pada bulan lalu ada seorang calon legislatif yang mensosialisasikan pencalonannya. Masyarakat pun tanpa basa-basi langsung bertanya apa yang bisa diberikan sang caleg kepada masyarakat sekarang dalam bentuk yang kongkrit. Poinnya adalah “sekarang” Masyarakat tidak mau percaya apa pun yang dijanjikan akan dipenuhi bila sang calon legislatif terpilih.

Akhirnya antara masyarakat dan sang calon logislatif terjadi kesepakatan. Baca lebih lanjut

Isi Ulang Korek Gas

Tukang Isi Ulang Korek Gas

Tukang Isi Ulang Korek Gas

Di tengah harga korek gas yang telah menjadi sangat murah sekarang ini, ternyata tidak serta merta mematikan profesi tukang isi korek gas. Seorang pemuda yang berprofesi tukang isi korek gas ini tetap ada di Pasar Paliyan, salah satu Pasar Tradisional di Gunungkidul Indonesia.

Keberadaan Tukang Isi Ulang Korek Gas ini merupakan indikator bahwa korek gas yang berharga murah tidak membuat semua orang menggunakan korek gas sebagai benda/alat sekali pakai. Mereka yang mengisi ulang korek gas bisa jadi adalah orang yang suka berhemat? atau orang yang berwawasan lingkungan tinggi. Ingin menunda korek gas yang mereka punya agar tidak cepat-cepat mengisi tempat sampah.

Apakah Anda masih menjumpai seseorang yang berprofesi tukang isi korek gas di lingkungan tinggal Anda.

Foto ini saya ambil pada Minggu pagi kemarin seselesainya saya menunaikan ibadah mingguan jogging.

Belajar itu Dimana Saja Bisa

Belajar di Dalam Angkot

Saya lihat ada pemandangan berbeda yang saya lihat di Angkot yang saya naiki pagi tadi. Pemandangan anak-anak sekolah yang membaca-baca buku dan catatan-catatan di dalam Angkot. Bukan erat-erat memegangi dan mengulik gadget mereka seperti biasa. Malah saya yang memegang gadget. Mengambil foto ini. hihi

Ternyata hari-hari belakangan ini sekolah-sekolah sedang melaksanakan semesteran/ujian semester. Pantas saja. Mudah-mudahan adik-adik kita ini tidak hanya belajar menjelang ujian saja. Saya khusnudzan mereka rajin belajar dan makin intensif belajar di waktu-waktu ujian seperti ini. 🙂

MindTalk, Supporting Indonesia

Hidup itu pilihan. Follow, unfollow, block. Begitu kata Republik Twitter (2011). Film yang pernah saya review di sini.

Social media banyak membawa hal baru dalam kehidupan saya, dalam kehidupan kita. Social media membawa apa yang belum jelas dan tidak menarik untuk dibahas di tanah daratan menjadi suatu hal yang terasa biasa. Social media membawa istilah-istilah baru. Seperti apa kata orang twitter yang saya kutip di atas.

Facebook punya istilah sendiri.Friend, unfriend, block. Google+ punya istilah circle, uncircle, block. Sementara jejaring sosial buatan anak negeri, Mindtalk membawa untuk kita istilah tersendiri yaitu supporting dan unsupporting. Kalau di twitter kita punya follower maka di Mindtalk kita punya supporter. Istilah supporter ini sepintas mengingatkan kita dengan Bonek supporter Persebaya, Viking – Persiba dan Jakmania. hehe

Keberadaan Mindtalk ini sebenarnya sudah cukup lama saya dengar, akan tetapi saya baru mendaftar ke layanan ini beberapa minggu yang lalu. Itu pun saya tidak langsung eksis di sana. Saya baru login ke Mindtalk dua hari yang lalu.

Begitu login ke Mindtalk, sensasi yang saya dapatkan adalah: P U S I N G. Mindtalk langsung tanpa ampun menyuapi saya dengan banyak sekali konten. (informasi) Ibarat ada banyak sekali makananan enak yang tersedia di meja makan, saya kebingungan dari mana akan mulai mencicipi.

Kata Pak Rahard merespon kebingungan yang saya twit -kan, itu adalah tampilan Mindtalk yang baru, dulu tampilannya sederhana, tidak rumit. Pak Rahard ternyata sudah cukup lama eksis di Mindtalk. 🙂 Baca lebih lanjut

Indonesia, Identik dengan Kopi atau Teh

Teh atau Kopi? Kalau ditanya mana yang lebih saya, jawabnya tentu saja teh. Saya ngeteh dan menikmati teh. Saya suka mencoba-coba berbagai jenis dan merek teh. Lebih dari itu saya suka “ngoplos” mencampur beberapa jenis dan merek teh menjadi satu ramuan. Maksud saya agar mendapatkan tingkat rasa dan kekentalan teh tertentu. hehe

Memang ada berapa banyak jenis teh Indonesia? hihi Ini bukan pertanyaan yang mudah untuk saya. Yang saya ketahui hanya teh Slawi. Aneka merek teh yang biasanya saya beli juga merupakan jenis Teh Slawi. Apa teh Indonesia itu hanya teh Slawi. Entahlah. Sebagai pengeteh biasa mungkin saya perlu googling untuk menyebut apa saja persisnya jenis teh Indonesia itu. 😀

Berbeda dengan kopi. Saya sebagai bukan pria sejati karena ngopi pun bisa dengan mudah menyebutkan jenis-jenis kopi seperti: Kopi Gayo, Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Bali, Kopi Toraja, Kopi Luwak yang sangat tersohor, dan lain-lain. Pengopi sejati pasti akan menyebutkan berlusin-lusin jenis kopi Indonesia.

Selain mudah sekali disebutkan jenis-jenis kopi Indonesia, di Indonesia, hehe akan mudah sekali dimana-mana ditemukan kedai kopi dengan kekhasan masing-masing. Sampai ada yang bilang Indonesia is Coffe Paradise.

Kopi Aceh Gayo

Gambar diambil dari sini.

Dan entahlah kok kedengaranya Indonesia memang lebih ngopi. Apakah yang suka ngeteh hanya orang Jawa (Jawa Tengah) saja?

Kerupuk, Kamu Suka?

Kerupuk

Kerupuk

Anda suka kerupuk?

Saya tidak. Serius, saya adalah satu di antara sangat sedikit orang Indonesia yang tidak suka menikmati kerupuk. Baik itu kerupuk untuk pelengkap makan maupun kerupuk sebagai camilan. Kenapa saya tidak suka? Pokoknya saya tidak suka, begitu saja. Tidak perlu ditanya apa alasanya. Saya sendiri tidak punya alasan untuk tidak maupun suka kerupuk.

Terkadang saya heran dan tersenyum mendapati teman-teman saya yang sangat menikmati kerupuk. Misalnya ketika kami sama-sama makan siang dengan lunch box, mendapati teman saya yang menikmati ekstra kerupuk dari porsi lunch box saya yang saya berikan. Kalau ada teman yang mau menikmati extra kerupuk seperti ini, saya tidak jadi merasa berdosa karena kerupuk yang menjadi jatah pada lunch box tidak jadi mubadzir.

Ada lagi, beberapa waktu lalu, ketika kami membayar sarapan bersama, seorang teman meminta ekstra kerupuk kepada pelayan untuk dinikmati sembari berjalan meninggalkan restoran. Yang terakhir ini pasti penikmat kalau malah bukan pecandu kerupuk. hehehe

Selamat Pagi. Apakah kerupuk ada pada menu sarapan Anda pagi ini. 🙂

Gambar kerupuk diambil dari sini.

Musuh Kemerdekaan

Dalam cerita-cerita sejarah perjuangan bangsa mengusir penjajah yang saya baca dan dengar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ada satu hal menarik yang sampai sekarang tetap terdengar relevan dan tidak pernah usang.

Kebanyakan penyebab kekalahan perjuangan para pahlawan bukan karena musuh yang lebih kuat dan tangguh. Akan tetapi dalam tiap kisah itu kerap kali diceritakan ada sosok pribumi yang berkhianat. Ada oknum pedagang pribumi yang takut kepentingan bisnisnya terganggu. Ada Ki Lurah yang lebih suka hidup menor menjadi antek Belanda sehingga melaporkan keberadaan para pejuang yang sedang berada di suatu desa. dll

Beranjak  duduk di bangku SMA, tentu saja pada jaman SMA saya, Belanda sudah 50 tahun meninggalkan Indonesia, praktek ki Lurah menjadi antek kaum penjajah malah terang-terangan saya lihat dengan mata kepala sendiri. Yang mana pada saat itu, sekitar tahun 1997, Ki Lurah memanggil beberapa pemuda yang berkampanye bukan untuk the ruling party, berkampanye bukan untuk Partai Beringin yang pada saat itu secara munafik tidak mau disebut sebagai Partai Politik. Apalagi kalau bukan GOLKAR si nomor 2 yang bernaung di bawah keangkeran pohon beringin.

Ki Lurah pada 50 tahun Indonesia tidak mengirim upeti pada Belanda tetapi menghamba pada cara-cara penjajah untuk menindas bangsa sendiri. 😀

Eksistensi penjajah saat ini tidak perlu dilihat dari Bendera Merah Putih Biru, Bendera Matahari Terbit atau Bendera Biru berlogo Bintang Bersinar Tiga yang berkibar di negeri ini. Pun, jangan anggap berkibarnya Bendera Merah Putih sampai ke pelosok negeri sebagai indikator kalau kita telah Merdeka seutuhnya.

Bentuk penjajahan dapat dilihat sebagai jalan – jalan desa yang rusak dimana – mana, banyaknya pungli, pelayanan publik yang lelet, mengurus Kartu Keluarga/C1 yang tidak selesai secara semestinya, subsidi yang tidak terasakan oleh masyarakat miskin, katanya bantuan tapi potong sana potong sini potong bebek angsa :D, pejabat yang tidak tersentuh hukum, dll.

Nampaknya, kini, pada Indonesia 66, musuh terkuat dan paling julig dari kemerdekaan masih sama, yaitu dari bangsa sendiri. Masih Ki Lurah, Ki Demang, Ki Jogoboyo dan Ki Ki yang lain yang tanpa malu menyematkan gelar koruptor di depan nama pemberian orang tuanya.

Buat apa pada hari ini kita menjemur kepala di bawah terik matahari berupacara bendera bila kita tidak pernah secara serius memberantas Ki Ki Ki Koruptor yang senantiasa menggerogoti sendi – sendi bangsa ini?

Wajah Indonesia Lebih Cantik dari Rasellya Rahman Taher alias Selly

  • Dompet saya pernah tercecer di sekitar lapangan basket di suatu sekolah. Petang itu saya mencarinya, tapi hasilnya nihil. Barangkali itu belum rejeki saya. Beberapa hari kemudian, saya menerima SMS yang berisi agar saya mengambil dompet yang hilang itu di rumahnya. Dompet saya dikembalikan dengan segenap isi tidak ada yang kurang oleh seorang Pak Wasto.
  • Di Angkot Kobutri, ada seorang siswi SMK N 1 Wonosari yang memberikan sebuah flashdisk. Dia bilang itu flashdisk milik saya karena di dalamnya ada foto – foto mirip saya. Rupanya flashdisk itu tercecer ketika saya ke sekolah dia.
  • Seseorang menemui saya dan mengembalikan ponsel Sony Ericsson Cybershoot kesayangan saya. Padahal saya belum merasa kehilangan.
  • Kamera Digital Nicon Coolpix saya disimpan oleh seorang sopir angkot jurusan Paliyan – Wonosari sehingga  dapat dengan mudah saya temukan lagi.
  • Lupa tidak membawa dompet membuat saya panik ketika harus membayar ongkos angkot. Untungnya ada seorang cewek cantik yang tiba – tiba membayari ongkos itu. Pak Sopir maklum untuk kesekian kalinya saya tidak bisa membayar angkot karena ketinggalan dompet. Sambil senyum – senyum, pak sopir bilang, “Ngga apa apa mas. Lain kali masih ngangkot lagi kan :), Enak ya mas diongkosin sama cewek cantik”.

Cerita – cerita saya ini membuat saya tidak mudah untuk mengerti bila ada orang yang mengidentikan watak orang Indonesia itu sama dengan wajah Rasellya Rahman Taher alias Selly, Melinda Dee, Gayus Tambunan, dan lain – lain.

Ada lebih banyak wajah Indonesia yang lebih cakep dan ganteng dari mereka. Apabila ada orang mengidentikan wajah Indonesia itu secantik Rasellya Rahman Taher alias Selly, itu karena mereka kurang beruntung tidak lebih dulu bertemu dengan Indonesia Indonesia yang hatinya sehari hari saya temui.

Kata “Contreng” mempopuler

Dalam Bahasa Indonesia kami, akhir – akhir ini ada peningkatan intensitas penggunaan suatu kata, kata itu adalah “mencontreng”, dari kata dasar “contreng”. Mungkin merupakan dampak ikutan dari penggunaanya yang semakin intensif, penggunaan kata ini pun, menurut pengamatan saya yang bukan seorang pengamat bahasa, bukan pula seorang ahli bahasa, nampaknya mengalami perluasan arti atau makna.

Kata “contreng” digunakan dan bisa ditemui dimana mana dan mungkin juga suatu kata yang termasuk sering di ucapkan penutur asli Bahasa Indonesia selama beberapa bulan terakhir.

Kata “contreng” menjadi sepopuler sekarang, saya pikir tidak bisa begitu saja dipisahkan dari peran Komisi Pemihan Umum (KPU) saat mensosialisasikan cara pemilihan dalam pemilu legislatif dan capres yang baru saja usai. Bagi rakyat Indonesia, pada pemilu yang baru lalu merupakan pengalaman baru dalam tata cara pemilihan yang melepaskan diri dari tradisi menggunakan cara “coblos”, “mencoblos” untuk opsi yang mereka pilih.

Dalam Workshop database selama hari pertama kemarin, saya juga mendapati dengan setengah tertawa, ternyata kata “mencontreng” juga telah menjadi kosakata baru dalam penggunaan aplikasi komputer berbasis GUI. Saya baru mulai mengerti bahwa memberi tanda pada check list untuk pengaturan opsi tertentu juga disebut mencontreng. Berarti ketika saya menulis posting dan men-checklist pada opsi kategori juga sedang “mencontreng!