Republik Twitter #republiktwitter

Poster Republik Twitter

Poster Republik Twitter

Cinta. Mondar-mandir di timeline. Kemudian turun ke hati. Begitulah yang terjadi pada Sukmo (Abimana Arya). Mahasiswa tingkat akhir di Jogja, twitter addict yang nekad ke Jakarta mengikuti logika hati untuk kopdaran dengan seorang wartawati tambatan hati yang bekerja di majalah Linimasa. Ia di twitter dikenal dengan jurnalis bawel, @dyahhanum.

Bukan sebuah perjalanan mulus menemukan cinta, alih-alih Sukmo malah menemukan keminderannya ketika di suatu Cafe dimana mereka janjian ketemu, ia melihat Dyah Hanum (Laura Basuki) jauh melebihi ekspektasinya. Cantik, sangat Jakarta dan terlihat  strata sosial tinggi. Sedang disamperin  cowo berkelas lagi. Ngga level, pikir Sukmo.

Sukmo pun mundur teratur urung menemui Hanum. Ia menjatuhkan diri dalam kegalauan. Dalam keputus asaan ia hanya bisa lunthang-lanthung, menumpahkan segala kekecewaanya dengan twit-twit galau.

Tanpa bermaksud mengejek Sukmo, saya diam-diam senyum-senyum seorangan di dalam gelap ruang bioskop sambil membatin, salah si Sukmo sendiri kenapa sejak awal memilih menggunakan account twitter @LoroSukmo. Dalam bahasa Jawa, loro sukmo berarti sakit jiwa. Maka orang Jawa-pun akan menyebut nasib Sukmo itu ketlamuhan/nlamuhi. 🙂

Hembusan angin nasib kemudian membawa Sukmo jatuh terdampar di bilik warnet kecil milik Belo Harahap (Edi Oglek). Belo secara adalah teman twitter-an Sukmo. Sukmo diberi pekerjaan sebagai penggembala di peternakan twitter milik Belo yang sedang tumbuh pesat. Tidak perlu saya jelaskan bagaimana bisnis peternakan twitter mendulang untung. Bila Anda tahu tentang buzzer, ‘ahensi’-agensi, jual beli follower, account anonym/pseudonym, kampanye produk dan pencitraan, maka urusan Belo dan para penggembalanya tidak akan jauh-jauh dari itu.

Dari sinilah film memulai klimaks dengan segala kasak kusuk kekusutan melampaui urusan roman picisan Sukmo-Hanum. Meski kekusutan itu sendiri lekat tak bisa dipisahkan dari urusan Sukmo untuk membuat Hanum terpesona.

***

Sinematografi yang menurut saya bagus dan penyutradaraan Kuntz Agus yang cukup lumayan membuat film ini sejak adegan awal seolah merupakan cermin kinclong berukuran besar yang dihadapkan langsung ke muka saya. Saya kira orang-orang yang tiap hari hidup berjalin twitter akan seolah duduk-duduk geli di depan cermin begitu film ini dimulai.

Saya suka dengan cara Kuntz memulai film ini dari cara pandang cacing, dari apa yang yang dekat yang bisa disentuh  dirasakan oleh umum. Hati terjatuh pada sosok online bukanlah hal baru lagi saat ini. Ayo, jujur akui, siapa yang pernah mengalami jatuh cinta 2.0? 😀 Ini seolah tidak masuk akal, tapi masuk di hati, begitu kata Sukmo.

Sepanjang film ini bahkan diperutuh dengan kutipan-kutipan yang catchy, cerdas dan mudah diingat dan ‘saya banget dong. Seperti, life is follow, unfollow, block. Suara rakyat adalah suara twitter. Dan lain-lain.

Namun demikian pertengahan film ini membuat saya nyengir. Bila Sukmo menemukan Dyah Hanum jauh melebihi ekspektasinya. Saya pun menemukan Republik Twitter juga jauh dari ekspektasi saya, jauh dibawah ekspektasi saya terhadap judul Republik Twitter. Kepopuleran Arif Cahyadi secara tiba-tiba di twitter sampai pada ‘dukungan’ untuk maju sebagai DKI 1 yang ujung-ujungnya diungkap oleh reportase investigasi sebuah majalah sebagai rekayasa dari Kemal, Belo dan kepawaian jemari Sukmo memainkan 140 karakter, menurut saya terlalu sederhana dan sangat mudah ditebak.

Hal itu menurut saya terlalu sederhana. Masalah yang berinti #pencitraan tidak cukup layak untuk diberi judul Republik Twitter. Apa yang terjadi di twitter menurut saya bisa lebih lebih lebih dari itu. Dan bisa digarap lebih dari yang berlebih-lebih itu.

Meskipun saya tahu film ini harus banyak berkompromi untuk mendulang uang dari pasar penonton Indonesia yang belum pernah cukup memberi apresiasi untuk pelayar-lebaran hal-hal yang sarat rumit politik. 😀

Oh, iya, anti klimaks film yang dengan cepat ditutup dengan Sukmo dan Belo yang direkrut sebagai PR oleh Arif Cahyadi, padahal beberapa saat sebelumnya orang-orang inilah yang menyumbang malapetaka bagi Arif. Saya belum menangkap film ini memberi solusi yang masuk akal. Apa iya, Nadya, putri Arif Cahyadi yang masih anak SMA yang kebetulan berteman dengan mereka cukup memadai digambarkan mampu menfasilitasi permasalahan ini.

Iklan

21 thoughts on “Republik Twitter #republiktwitter

  1. … loro sukmo berarti sakit jiwa

    Jika ditinjau dari bahasa tulis, bukankah loro sukmo berarti dua sukma mas?
    Inilah akibat dari pencampuradukan bahasa Jawa lisan dan bahasa Jawa tulis. Saya sering cerewet pada teman saya yang melakukan pencampuradukan tersebut.Sering teman saya menulis “ora ono”, “ono opo”, dkk. Menurut saya penulisan yang sebenarnya adalah “ora ana”, “ana apa”, dkk.

    • kalau dari penulisan kata ‘loro’, saya sepakat kata ini berarti ‘dua’ tetapi kalau saya memahami dalam frase ‘loro sukmo’ menurut saya lebih masuk ditafsirkan sebagai ‘sakit jiwa’. Orang jawa tidak pernah menyebut loro untu sebagai dua gigi. dua gigi oleh orang jawab disebut dengan untu loro, hehe

  2. Jadi kayak gini toh sedikit dari tentang film Republik Twitter?

    Hampir di setiap media online akhir-akhir ini, saya sering kali membaca judul film ini, tapi lagi kurang tertarik untuk menonton, jadinya gak tertarik juga untuk membaca detailnya hehe… 🙂

  3. oalah jadi ini cerita yang sempet heboh kemaren.. hmm, kalo baca dari isi postingan mas jar, kok kayaknya nih film biasa aja ya.. kayak kurang greget gitu, bener gk mas?? jadi makin ragu untuk nonton film ini..

  4. Alur skenario film Indonesia memang masih jarang yang pas menurut saya. Kebanyakan agak dipaksakan dan terburu-buru. Kurang ada unsur kejutan yang berarti. Tapi kalau film ini, saya belum nonton sih. Mungkin nanti akan saya tonton, soalnya ceritanya cukup menarik buat saya, terlepas dari sejumlah kekurangan yang sudah mas Jarwadi tuliskan.

  5. Resensi yang apik mas. Saya jadi ikutan tertarik untuk pengen jg nonton filmya. Tapi masalahnya waktu untuk hang-out nonton bareng istri sekarang ini semakin sempit.. 😦

  6. Ping-balik: MindTalk, Supporting Indonesia « Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s