Penghujung 2012

Pada penghujung 2012 ini wordpress.com rupanya telah memberikan annual report untuk saya.

Sila lihat di https://jarwadi.me/2012/annual-report/

Biasa-biasa saja sebenarnya apa yang saya lakukan untuk blog ini selama satu tahun yang beberapa jam lagi segera berlalu. Yaitu menulis dan menulis.

Hanya apa yang belum pernah saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya adalah menggunakan domain name sendiri. Tidak nge-sub di wordpress.com lagi. Meskipun hosting dan engine blog ini ya tetap nebeng di wordpress.com.

Semoga tetap rajin ngeblog di tahun depan, tahun 2013 kelak.

Iklan

Foto Saja

butterfly

Karena otak menulis saya sedang buntu maka kali ini saya akan memposting foto-foto saja di blog ini. Bolehkan? Bukankah blog tidak wajib berisi tulisan saja? Boleh berisi foto saja, suara saja, video saja, atau bahkan tidak berisi apa-apa saja. hehe.

Kupu-kupu berwarna kuning yang sedang hinggap disekuntum bunga sepatu warna merah ini saya potret pada tadi pagi ketika saya sedang menunggu angkot. Pikir saja tadi menfoto kupu-kupu lebih maslahat daripada kelamaan jengkel menunggu angkot datang. Lagi pula kupu-kupu ini terlihat jinak. Dan memang jinak. Saya berhasil memotretnya sekali. Saya sebenarnya ingin memotret kupu-kupu ini beberapa kali. Sayangnya saya gagal menahan bersin. Jadi kupu-kupu ini terkejut dan terbang.

Ini masih kupu-kupu yang sama yang saya potret sebelumnya. Kupu-kupu yang terkejut karena bersin yang tak tertahankan itu untungnya tidak terbang jauh. Kupu-kupu ini masih baik hati memberi kesempatan kedua untuk saya. 🙂

Foto-foto ini saya ambil dengan ponsel Samsung Galaxy Ace Duos.

Bersiap-siap Untuk Jogging Lagi

Sakit tipes yang mendera pada satu setengah tahun yang lalulah yang menjadi alasan yang kuat (alibi) bagi saya untuk berhenti jogging. Harus beristirahat dulu bila ingin sembuh dari tipes. Itulah bisikan yang selalu saya percaya. Beberapa bulan kemudian setelah sembuh dari tipes saya menemukan sepatu lari yang lama digantung telah rusak. Tidak nyaman lagi dipakai untuk jogging. Ini alasan berikutnya untuk tidak jogging.

Jogging memang olah raga yang telah menjadi kebiasaan saya selama bertahun-tahun. Tetapi memulai kembali kebiasaan baik yang terhenti cukup lama bukanlah hal yang mudah. Mungkin tidak lebih sulit dari memulai kebiasaan yang benar-benar baru.

Oleh seorang teman saya ditanyai kapan akan memulai jogging lagi. Biasanya jawaban saya adalah kalau sudah punya sepatu Nike Running. Ini seolah alasan yang dicari-cari. Saya sendiri masih ingat bagaimana saya sendiri ketika sejak SMA ikut berlatih karate selalu tim karate saya berlari bertelanjang kaki dan semuanya baik-baik saja. Sepatu seolah bukan alasan yang relevan.

Sambil berkelakar saya melanjutkan argumen saya kepada teman saya itu. Sepatu mahal adalah hal yang tepat yang bisa membangunkan saya dari kemalasan. Betapa tidak ketika suatu pagi akhir pekan saya bermalas-malasan tentu sepatu saya akan berteriak, “Buat apa nabung buat beli sepatu mahal-malah kalau ngga jadi lari? Kenapa duitnya ngga dipakai buat hang out atau foya-foya saja?”

Ah, besok kalau sudah beli sepatu mahal paling-paling juga tetap males jogging. Sudahlah balik tidur saya. Mumpung weekend. Lagian sepatu mahalnya akan jadi lebih awet, dijual lagi jadi lalu :p. Begitu ejekan teman saya.

Begitu kemarin siang seorang teman tahu kalau saya sudah membawa pulang sepasang sepatu Nike Running, seorang teman saya langsung menyambar, Now lets see. Which voice will win! Kalimat teman saya ini benar-benar saya camkan baik-baik.

Saya memang menjadikan jogging sebagai bagian dari resolusi 2013, namun saya harus memulainya sesegera mungkin.

Tidak peduli badan masih belum fit karena kerja lembur selama sepekan kemarin. Dan juga perut yang masih belum pada tempatnya gara-gara nekat makan baso malang kemarin siang. Saya katakan kepada diri saya sendiri. Pagi ini.

Selesai shalat Subuh. Minum air putih secukupnya. Mengenakan kaos, celapa lari dan sepatu lari yang baru saya dapatkan. Menyalakan aplikasi Nike Running+ di ponsel Android saya. 3 – 2 – 1, begitu hitungan yang terdengar dari ponsel saya yang memicu saya bergegas jogging.

nike

“You’ve done one kilometer!” begitu kata ponsel Android saya. Pikir saya ini lumayan saya bisa mencapai jarak 1 km. Saya makin bersemangat jogging. Sampai jalanan menanjak di kawasan hutan lor cangkring nafas saya makin terengah dan kepala pusing-pusing. Sampai di sini saya merasa tidak kuat lagi dan memutuskan berhenti jogging. Beberapa menit berhenti kepala saya makin pusing dan rasanya ingin muntah, hehehe

Saya pun memutuskan untuk pulang dan istirahat dulu. Ini baru permulaan.  Jogging yang sebenarnya baru akan saya mulai tahun depan. Tahun 2013. Jadi kali ini log lari dari Nike Running+ di ponsel saya belum saya share baik ke facebook maupun twitter. 🙂

Mudah-mudahan saya segera bisa mencapai jarak tempuh saya seperti dulu yang saya ceritakan di sini.

Musim Bertanam Padi Tiba

Meski agak terlambat, tetapi musim tanam padi sawah di desa dimana saya tinggal akhirnya tiba. Musim hujan tahun ini memang terlambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terlambat sekitar satu setengah bulan. Sudah begitu, sampai saat ini curah hujan juga belum begitu bagus.

Musim hujan yang kadang terlambat kadang datang lebih cepat dan curah hujan yang kadang kurang kadang berlebih adalah realitas. Kenyataan yang selalu bisa dihadapi dengan wajah bersahaja oleh petani, terutama petani yang ada di desa dimana saya tinggal. Bagaimana pun petani wajib berusaha, harus “menanam”. Bukankah rejeki itu sudah ada yang mengatur. Tuhan. 🙂

Mencangkul Sawah

Mencangkul Sawah

Menanam Padi

Menanam Padi

 

Satu Langit Tiap Hari

#skytoday

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya, Crypto Code tiba-tiba punya ide untuk memotret langit dan makanan tiap hari. Kemudian foto yang dipotret pada suatu hari diunggah ke internet pada hari itu juga. Tiap hari begitu dengan cinta-cita dalam satu tahun mempunyai 356 foto langit dan atau makanan.

Hehe, bagi saya memotret langit setiap hari tidak terlihat akan ada masalah. Tetapi makanan, apa yang saya makan tiap harinya kurang variatif, jadi saya pikir akan membosankan memotret makanan yang itu-itu saja.

We live under the same sky but we eat different food.

Kemudian muncul pertanyaan lagi, dimana enaknya memposting foto-foto langit itu. Di Google+, Picasa, Tumblr atau Posterous yang pernah saya gunakan dulu untuk ikut-ikutan #365shots, meski gagal.

Wedhang Teh Nasgitel Pak Bedher Lagi

Poci Teh khas Pak Bedher. Penyuka teh nasgitel yang mana yang tidak ngiler melihat teh yang disajikan dengan piranti ini.

Malam ini, akhirnya saya dan beberapa teman yang biasanya nongkrong di wonosari[dot]com kesampaian untuk ngumpul-ngumpul menikmati suasana malam kota Wonosari. Sambil menikmati teh nasgitel racikan Pak Bedher. Jayeng teh yang paling menjadi ikon kuliner malam Wonosari.

Rencana untuk ngumpul-ngumpul wedangan sebenarnya adalah kemarin malam. Namun rencana kemarin gagal oleh hujan. Sampai rencana dadakan yang baru beberapa jam tadi dibuat dengan mention-mention di twitter -lah yang seolah mendapat restu oleh alam. Malam ini berlangsung cerah. Jadi wedangan tidak masalah.

Wedangan saya kali ini adalah yang pertama kali sejak kepindahan Pak Bedher ke tempat berjualan yang baru. Tidak jauh sebenarnya dari tempat jualan sebelumnya. Sebelumnya tempat jualan Pak Bedher ada di depan Bank BNI 46 Cabang Wonosari. Sekerang di seberang jalan. Di sebelah selatan jalan. Baca lebih lanjut

Hati-Hati Berkendara, Jalanan Rusak

Kemarin malam, ketika saya mengendarai sendiri sepeda motor  dari rumah ke Playen, saya merasakan jalan sepanjang kira-kira 5 km yang saya lewati sangat tidak aman. Jalan bergelombang dengan retakan dan lobang dimana-mana. Penerangan di sepanjang jalan pun tidak semuanya bagus. Ditambah lagi air hujan yang mengisi lobang-lobang di sepanjang jalan itu. Saya harus mengendarai dengan sangat berhati-hati bila ingin pulang dengan selamat.

Saya tidak tahu apakah buruknya kualitas jalan antar kecamatan, jalan Playen-Paliyan itu karena terbatasnya anggaran perawatan jalan oleh Pemda atau masalah lain.

Tetapi saya kira, makin ramainya wisata pantai di Gunungkidul turut menyumbang cepat rusaknya jalan kecamatan ini. Betapa tidak, jalan yang dulunya hanya dilewati mobil-mobil kecil seukuran minibus mobil keluarga dan angkot, kini dilewati oleh bus-bus pariwisata berukuran besar. Tahu sendiri berapa bobot bus-bus seperti Karya Jasa, Blue Star, Sar Gede, Gunung Harta dan lain-lain.

Penyebab kerusakan jalan yang saya sebut pada paragraf di atas adalah dampak sebuah kemajuan tentu saja. Kemajuan menggeliatnya industri pariwisata di Gunungkidul. Ini perlu pengertian masyarakat pemakai jalan seperti saya. Sekaligus perlu pemikiran dari pemerintah untuk menentukan kebijakan pembangunan yang paling tepat. Karena saya kira, pemasukan dari retribusi, seramai-ramainya wisata pantai sekarang, belum ada apa-apanya bila akan digunakan untuk pembangunan perbaikan jalan.

Jadi apa yang bisa saya lakukan selain berhati-hati berkendara melintasi jalanan yang makin rusak? Di sisi lain kecelakaan lalu lintas di sepanjang jalan antar kecamatan ini makin bertambah. 😐