Desa Grogol : Lomba Desa

Minggu sore, bapak ketua RT di lingkungan saya tinggal mengantarkan undangan untuk bapak saya. Intinya melalui undangan itu, Pemerintah Desa Grogol menghendaki bapak untuk menghadiri acara Penilaian Lomba Desa di Balai Desa Grogol yang berlangsung pada hari Senin 2 April 2012. Miyanto, tetangga saya, mendapatkan undangan yang sama. Baik bapak maupun Miyanto bukanlah siapa-siapa, bukan perangkat desa, bukan pula pemegang kepengurusan apapun di desa. Singkat kata bapak dan Miyanto (dan warga yang lain) diperlukan kehadiranya di Balai Desa sebagai penggembira. 😀

Lomba Desa Grogol

Lomba Desa Grogol

Foto oleh Agung Thet

Meskipun akhirnya baik Bapak maupun Miyanto tidak hadir ke Balai Desa. Bukan bermaksud mbalelo. Permasalahannya adalah apa relevansi ‘penggembira’ dengan penilaian lomba.  Gayeng regeng?

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Pertanyaan yang diposting di dinding group facebook teman-teman di desa, Konco Ndeso,  ini adalah salah satu dari banyak diskusi baik offline maupun online terkait masih relevankah format Lomba Desa seperti yang diikuti oleh Desa Grogol tercinta sekarang ini dalam mengukur pembangunan dan pertumbuhan desa. Meminjam kata satire, Lomba Desa apa Lomba Bethek? Pembangunannya atau seremonialnya?

Saya melihat munculnya pertanyaan dan diskusi semacam ini sangat wajar. Dan arahnya positif. Dari sini paling tidak bisa digunakan sebagai indikator untuk melihat arah pertumbuhan pola pikir, terutama pemuda-pemudi di Desa Grogol.

Sebuah pertanyaan “Apa manfaatnya?” merupakan hal yang alamiah ketika kita harus mengeluarkan uang (kenyataanya ada banyak iuran baik itu yang dipungut langsung dari KK maupun pungutan dari dana kas kelompok), waktu tenaga (untuk bekerja bakti, memperbaiki pagar, sarana umum secara dadakan dan meluangkan waktu sebagai penggembira di Balai Desa pada hari H -nya) dan kondisi psikologis yang memanas karena rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. (kenyataanya meskipun harga BBM belum jadi naik, tetapi harga-harga kebutuhan masyarakat mendahului naik)

Seorang tetangga saya yang berprofesi sebagai buruh tani, yang kebetulan menjanda, suatu kali mengeluhkan pekarangannya yang cukup luas yang dikelilingi jalan. Ia pusing dengan uang yang harus ia belanjakan untuk membeli bambu untuk gapit pagar yang jumlahnya tidak sedikit, dan masih harus membayar tenaga kerja untuk menyelesaikan bethek yang bukan jenis pekerjaan wanita.

Ala Indonesia memang apa-apa serba mendadak. Infrastruktur, sarana dan prasarana dipersiapkan ‘dalam rangka’ Penilaian Lomba Desa. Ibu Rumah Tangga tetangga saya berhari-hari lemburan mengerjakan kelengkapan dan buku administrasi kegiatan di lingkungan dimana saya tinggal. Bisa dibayangkan bila buku keuangan, dokumentasi, notulen rapat, dan sejenisnya dikerjakan lembur demi nilai. Saya tidak mengatakan mereka memanipulasikan lhooo, hehehe  Dan lain-lain, dll dll.

Dalam hal ini saya lihat yang menjadi permasalahan adalah format Lomba Desa yang digunakan yang sepintas dari kejauhan terlihat sebagai warisan saklek dari jaman Orde Baru. 😀

Saya punya angan-angan seperti ini:

  • Dalam suatu periode Lomba Desa, Desa itu dipertandingkan dengan desa-desa lain dalam satu kecamatan atau desa-desa yang bertetangga. Misalnya Desa Grogol, Desa Plembutan, Desa Pampang, Desa Karang Asem.
  • Penilaiannya, sebaiknya penilaiannya dilakukan dalam satu tahun atau dalam 6 bulan. Bukan satu hari seperti model yang digunakan sekarang.
  • Apa yang dinilai, bisa diantaranya adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan perangkat desa (instrumen dan indikatornya merupakan masalah teknis yang bisa didiskusikan bersama), pertumbuhan pendidikan, pertumbuhan perekonomian, tingkat pengembalian kredit, keamanan lingkungan, pelayanan kesehatan, indeks korupsi, dan lain-lain. Olah raga, kesenian, budaya, kehidupan beragama bisa dimasukan kedalam penilaian.
  • Apa lagi … ? (silakan ditambahkan)

Inti dari ide saya ini adalah bagaimana Lomba Desa bisa memberi manfaat sebaik-baiknya bagi masyarakat. Makin baik manfaat kegiatan Lomba Desa bagi masyarakat otomatis akan meningkatkan partisipasi dan dukungan dari elemen masyarakat tanpa rasa ngowel dan keterpaksaan.

Lomba Desa bukanlah selalu identik menang kalah dan bubar cangak gulung tenda begitu penilaian lomba selesai dibacakan. 🙂

Iklan

10 thoughts on “Desa Grogol : Lomba Desa

  1. keren nih ide, lomba desa makin keren siapa yg bisa memimpin desa sebagai percontohan mulai dari lomba rt tingkat desa …

  2. Cara berpikir pendek ala aparat desamu, kan cuma sedikit dari serpihan puncak gunung yang dilakukan oleh seluruh aparat pemerintah RI, Mas. Lomba-lomba yg gak ada manfaatnya bagi pertumbuhan desa, sama seperti kerja tiap tahun pemerintah memberantas kemiskinan, tapi sudah puluhan tahun merdeka ya tetap saja miskin.

    Gak tahu apakah isi pemikiran kaum muda yg lebih maju, yang tak melihat manfaat dari perlombaan desa macam itu, sampai pada aparat desa? Kalau gak mah, yah sama saja, kumur-kumur dan buang ludah di belakang. Gak ngepek ..hehehe…

  3. lomba desa adalah aspek politis peninggalan orba. kalo dilombakan. rt dengan koceknya sendiri membangn infrastruktur, pagar dan lingkungan bersih adlah simbol pembangun maju. dan simbol ini dibebankan pada masyrakat(RT) dg imbalan hadiah yg tidak sumbut dr biaya yg dikeluarkan. pdahal masyarakat shrusnya mendapat jatah pembangun dr pemerintah. maka suami saya pas jadi ketua rt tidak menyambut metode pembangun ala lomba desa. kita hnya ngecet pagar saja dg ngambil kas rt tanpa merogoh kocek warga.

  4. Desa saya juga belom lama ini dinobatkan sebagai daerah paling ndeso no 3 se Indonesia (juara 3 lomba desa tingkat nasional). Hadiahnya, beberapa ratus juta yang harus “dihabiskan” untuk proyek pembangunan. Sisi negatifnya ya itu tadi, masyarakat beberapa kali harus nombok bikin pager bambu yang tak tahan lama. Bahkan konon meninggalkan hutang bagi desa yang lumayan besar untuk acara penyambutan juri lomba. Kebetulan kang @jauhari di atas saya ini jadi saksi dan terlibat dalam kegiatan-kegiatannya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s