Melewati Jalan Pintas

Malas melewati jalan memutar seperti yang tiap hari saya lalui. Saat itu saya tergoda untuk mengambil jalan pintas menerobos pematang sawah yang sudah tidak pernah dilewati orang lagi. Jalan pematang itu berlumpur dan banyak ditumbuhi rerumputan berdaun tajam yang siap menggores kaki – kaki saya. Itu tidak mengurangi nafsu memintas yang menguasai sekujur badan.

Belum  setengah jarak pintasan, saya melihat beberapa ular di kanan – kiri pematang itu. Tidak apa. Ular – ular seukuran itu tidak cukup untuk membahayakan nyali saya. Bukan alasan untuk tidak meneruskan penitian jalan memintas itu. Saya melanjutkan berjalan lagi.

Seekor ular besar memotong pematang yang akan saya lewati. Saya bisa katakan ukuran itu sangat besar. Ular besar itu kok tidak segera bergegas bergerak. Sepertinya diam. Saya memikirkan bagaimana cara untuk melangkahi tubuh ular yang tenang-tenang saja itu. Entah ia menyadari kehadiran saya atau tidak. Mengusir atau mengganggunya saya pikir bukan hal baik. Menunggu ular itu pergi. Akan sampai kapan?

Daripada konyol, saya memutuskan untuk mengurungkan pemintasan jalan ini. Penakut! Biar! Saya membalikan badan dan beberapa langkah berjalan. Melihat ular-ular kecil yang tadi saya sepelekan rupanya sekarang sudah kelihatan galak menegakan leher dengan dan mata mengancam . Seekor ular menyambar mematok.

Dada ini berdebar-debar setelah menemukan diri tanpa luka selamat dari patokan ular. Gerakan menghindar yang bagus. Saya memuji diri sendiri. Nafas masih terengah-engah namun sedikit lega.

***

Itulah salah satu dari beberapa mimpi yang saya selesaikan pada tadi malam. 😀

Pagi Berkabut Tidak Baik Untuk Jogging

Kabut Di Sepanjang Lintasan Jogging

Kabut Di Sepanjang Lintasan Jogging

Benar ngga sih kalau pagi yang berkabut seperti ini tidak bagus untuk jogging. Pernah ada orang yang ngasih saya tahu kalau udara terlalu berkabut bisa menyebabkan paru – paru basah. Dan konon kita lebih baik tinggal di dalam ruang.

Kalau saya sendiri memang jadi menurunkan stamina. Jarak tempuh jogging lebih pendek dari biasanya. Contohnya ya waktu jogging hari minggu kemarin. Alih – alih tidak meneruskan jogging, malah berhenti mengambil foto -foto 😀

Untuk lebih banyak foto foto, sila klik di sini .

Dipanggil “Pak J”

Pak J. Nama yang sering orang – orang pakai untuk memanggil saya. Terutama orang – orang yang belum berkenalan baik dengan saya. Atau orang – orang yang saya kenal dari Social Media. Jujur, saya terkadang agak risih  dipanggil dengan sebutan “pak”. Apalagi oleh orang – orang yang berusia jauh lebih senior dari saya. Meski lama demi lama saya mulai membiasakan diri dengan panggilan yang belum menjadi hak saya itu.

Celakanya ketika seseorang sudah akrab memanggil saya “pak”, kemudian terpaksa bertemu dengan saya, mereka akan menganulir label ‘pak’ yang dulunya ia sematkan di dada saya. Penganuliran label “pak” ini menjadikan penghiburan tersendiri buat saya. Misalnya, ketika kemarin saya ditugasi oleh kawan – kawan relawan peduli Merapi untuk melakukan fun raising yang mana kepedulian teman – teman social media mendorong mereka untuk menitipkan kedermawanan kepada saya. Sesuatu yang istimewa bagi saya untuk bertemu tatap muka dengan teman – teman social media itu. Sebelumnya, kalau tidak ‘terpaksa’ saya memang enggan untuk kopdaran dengan dalih alasan yang sengaja saya cari – cari.

Sedikit bercerita. Panggilan “Pak J” pertama kali keluar dari rongga mulut teman – teman dekat. Saat itu sekitar tahun 2002 ketika Mas Susilo, Mas Mahmud SB, Mas Puguh, Mas Amri dkk mendirikan start up yang bertempat di Jalan Sumarwi Wonosari. Hari demi hari dengan panggilan “Pak J”. Anehnya, sampai start up yang kami rintis itu jatuh tewas, nama “Pak J” masih melekat pada saya. 😀

Tetapi kenapa tiba – tiba “Pak J” muncul di social media sejak beberapa tahun. Padahal saat itu geng perintis start up itu tak satupun muncul pada senarai teman.

Wallahu alam bisawab! Hanya Allah Yang Maha Mengerti atas segala fenomena alam.

Trik Mendownload File Film di enterupload.com

Barangkali kita sebel bila men-download file film yang dipotong – potong menjadi beberapa bagian yang mana file – file itu di upload di server file sharing milik http  ://enterupload.com . Yang mana setelah selesai mendownload satu bagian kita disuruh menunggu dalam jeda sekitar 5 menit. Tentu saja yang saya maksud perlu waktu tunggu menyebalkan ini adalah bagi user gratisan. Bagi premium user pasti lain cerita ya 😀

Misalkan mendownload file film ini yang terbagi menjadi tujuh potong. Saya punya trik untuk mendownloadnya lebih mudah. Saya menggunakan alat bantu OS Ubuntu 10.10, Chrome Browser, dan download manager command line: wget . Download manager ini adalah bawaan ubuntu, jadi kita tidak perlu menginstallnya secara manual.

Caranya adalah, cari: download link dari file film part 1, biasanya berexstensi *.mkv.oo1 Biasanya ketika kita klik download, maka secara otomatis akan terdownload dengan download managernya Chrome. Tekan Ctrl+J dan dari situ akan kelihatan proses download dari file yang sedang kita unduh. Klik tombol Pause, dan copy download link dari file yang kita unduh itu.

Buka terminal dan ketikan: wget kemudian paste link file yang didownload tersebut, misalnya: Baca lebih lanjut

Pura – Pura Jadi Teknisi (1)

Kisah pura – pura jadi teknisi ini sudah berlangsung beberapa minggu yang lalu. Caritanya TV milik pakdhe saya rusak. Maka dipanggilah saya untuk memperbaiki. Saya sih siap – siap saja membongkar TV, tetapi tidak janji bisa membereskan kerusakan.

Tiap kali dinyalakan, dalam beberapa detik mati lagi. Tombol On pada remote ditekan nyala beberapa detik mati lagi. Itulah kerusakan TV. Dalam batin, saya menfitnah circuit power supply, horizontal deflection dan paling fatal adalah micro controller.

Dengan hanya berbekal beberapa obeng dan multitester tua, saya nekad meng-oprek TV merk Sanyo flat 21″ itu. Pertama – tama dan paling utama saya melakukan observasi fisik. Siapa tahu ada komponen – komponen yang nampak terbakar atau kelihatan rusak, jadi instinct menfitnah saya mendapatkan petunjuk. Dan ternyata tidak ada yang kelihatan dengan mata telanjang.

Saya mulai mengukur tegangan B+ 110 V dari main power supply. Hasilnya tidak masalah. Begitu juga dengan tegangan +5V untuk micro controller dan 12V untuk low signal processing. Baca lebih lanjut

Matroska Video Container, MKV

Di komputer saya, lama – kelamaan koleksi video berekstensi mkv semakin banyak. Ini umumnya merupakan file – file video atau video klip berdurasi singkat. File – file ini tanpa masalah dapat diputar dengan VLC Media Player.

Saya mulai penasaran dengan tipe file ini setelah pada akhir pekan kemarin saya mengunduh arsip video untuk saya tonton. Jangan menghakimi cepat – cepat menghakimi saya karena kekerasan terhadap hak cipta ini. DVD video yang filenya saya download rusak karena penyimpanan yang tidak baik. Mau mengakui mental pembajak saja pakai mbulet – mbulet 😀 File film yang saya download ini berukuran lumayan besar, yaitu sekitar 700 Mb untuk film berdurasi 2 jam 40 menit. Video beresolusi m-HD alias 920 x 512pixel. Mata saya memang tidak munafik. Kualitas video download an ini berkualitas kinclong.

Rasa heran dengan ukuran file yang cukup “mungil” untuk video dengan resolusi 920x512pixel durasi 2 jam 40 menit mendorong rasa penasaran saya untuk nge googling untuk mengetahui lebih jauh apa itu file mkv. Rupanya itu merupakan file container pesaing avi. Hebatnya lagi mkv merupakan container yang open source. Silakan baca, disini, disini dan disini.

Satu kekurangannya mkv adalah, saya hanya bisa memutarnya dengan komputer. Belum banyak dijual player sebagaimana divx atau dvd atau blueray player. Ya, saya memang bisa menggunakan software encoder yang bertebaran untuk menyulapnya menjadi avi-divx atau HD-DVD 😀

Akhirnya saya nyadar, walau file film yang saya download disertakan audio bertata suara surround 7.1 bukan jaminan telinga saya bisa mendengarkan dengan baik semua percakapan sepanjang film. Orang yang mengunggah file tidak menyertakan file srt (sub title). My listening skill is d*mn poor. Ah … paragraf terakhir ini kok malah curhat saudara 😀

Ribut – Ribut Quora: Open Source SocMed

Masih ingat ribut – ribut tentang Quora beberapa hari yang lalu? (Quora.com) Saya pun ikut – ikutan heboh. Dan segera sign up ke situs jejaring sosial kode terbuka ini tanpa berpikir panjang. Tanpa tahu akan apa yang ingin saya perbuat dalam outlet baru ini.

Satu langkah tidak cukup untuk menempuh dunia dalam Quora. Dalam browser chrome yang terpasang pada Maverick Meerkat saya ditanya – tanya oleh satpam yang dipekerjakan oleh Quora. Kira – kira begini: “Maaf tuan, bisakah anda menunjukan undangan?” Tentu saja saya tidak punya. Pada waktu itu saya berpikir untuk meminta lembar undangan pada teman – teman saya yang sudah lebih dulu memasuki Quora. Tetapi pekerjaan saya di pabrik membuat saya menunda sign up dan mengurusi mesin – mesin pabrik dulu.

Sampai pada waktu saya pulang, di perjalanan saya iseng mendaftar menggunakan ponsel. Saya menggunakan Blackberry Browser. Viola! Proses sign up berhasil. Aneh! Belakangan saya baru tahu bahwa untuk registrasi dari Amerika sudah tidak memerlukan lagi invitasi. Baiklah – baiklah. Dunia memang panggung sandiwara penuh diskriminasi dan kepentingan 😀

Nah! Bagi yang pengin mencoba Quora, silakan menggunakan proxy gratis yang bertebaran yang berlokasi di Amrik. Bisa juga menggunakan Browser Blackberry atau mencoba dengan Operamini. Atau paling gampang, mintalah invitasi kepada saya.

Eh! Tapi saya belum tahu bagaimana caranya membagi – bagi tiket undangan 😀

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.5

Nestle Pure Life: Kekuatan Desain

Untuk mengenyahkan rasa haus selama mengantri pada kemarin siang, saya mampir ke warung kelontong pinggiran jalan untuk membeli air mineral. Saya menuju warung kedua setelah di warung pertama tidak mendapatkan merk air mineral dalam kemasan yang saya cari. Di warung pertama tadi saya ditawari Aquaria. Padahal saya penginnya Aqua. Maaf ya dalam postingan ini saya secara blak – blakan menyebut merek. Tidak sopan ya 😀

Nah, di toko kedua, saya langsung melihat deretan botol Aqua yang tertata apik. Dan di tidak jauh dari tatanan botol – botol Aqua itu saya melihat air minum dalam kemasan yang lain, yaitu Nestle Pure Life. Di kebanyakan toko – toko kelontong Pure life tidaklah selalu tersedia. Dan saya baru sadar rupanya di minimarket/supermarket saya terlalu cuek sehingga Pure Life luput dari perhatian saya.

Singkatnya, saya terpesona dengan desain kemasan apik dari Nestle Pure Life dan mengurungkan niatan yang sujak semula sudah berniat fanatik dengan Aqua. Apa yang membelokan iman saya adalah desain. Baru kemudian dijustifikasi oleh nama besar merek dagang Nestle. Saya tidak tahu apakah saya juga akan murtad ke lain hati bila melihat misalnya air minum dalam kemasan merk Sega yang notabene saya meresa pernah terkena radang tenggorokan gara – gara setengah hati meminumnya.

Nestle Pure Life

Nestle Pure Life

Gambar saya comot dari sini

 

Kena Tilang Operasi Lantas? Jangan Bayar Di Tempat. Itu Ilegal

@dennyindrayana: 1. Jangan bayar denda razia di tempat. Dulu ada dasarnya. Sekarang sudah tidak. Datanglah ke sidang atau bayar dibank. #razia

@dennyindrayana: 2. Pagi tadi saya naik sepeda motor di suatu kota. Ada razia. Kami dicek tidak ada masalah. Surat lengkap, helm standar. #razia

@dennyindrayana: 3. Saya minta istri lihat kerumunan orang yang kena tilang. Saya menunggu di sepeda motor. Karena wajah saya dikenali. #razia

@dennyindrayana: 4. Istri kembali mengabarkan terjadi pembayaran di tempat. Satu pelanggar berkisar lebih kurang 30 ribu. Tidak ada tanda terima #razia

@dennyindrayana: 5. Saya kebetulan bawa kamera. Dengan helm standar terpasang, saya coba ambil gambar dokumentasi. #razia

@dennyindrayana: 6. Setelah terkumpul cukup bukti ganbar, saya tanya komandan lapangan, apa dasarnya pembayaran di tempat. #razia

@dennyindrayana: 7. Sang komandan ngotot ada dasarnya, sambil tunjukkan surat perintah razia dari atasannya. Saya tegaskan bayar di tempat tidak boleh #razia

@dennyindrayana: 8. Saya lepas helm. Polisi yang mengenali wajah saya meminta maaf dan mengaku salah. Razia segera berhenti. Polisi mengaku ditarget #razia

@dennyindrayana: 9. Saya tanya dapat berapa sekali razia. Disebut angka, tidak sampai 2 juta. Untuk dibagi-bagi hingga ke jaksa. #razia

@dennyindrayana: 10. Dia katakan berani jamin di kota lain juga begitu. “Kami hanya dapat tambahan biaya makan”, katanya.

@dennyindrayana: 11. Ini model corruption by need yang sudah parah. Corruption by greed lebih parah dan merusak. #razia

@dennyindrayana: 13. Setelah saya korek semua informasi, sang polisi berkata, “habis ini kami harus razia tempat lain, kejar target”. #razia

@dennyindrayana: 14. Sebentar saya masuk desa yg sulit sinyal, cerita #razia akan saya sambung lagi ketika sinyal kembali kuat.

@dennyindrayana: 15. Teman Polisi saya memastikan bayar razia di tempat sudah tidak boleh. Sebaiknya memang denda razia dibayar dng cara lain. #razia

@dennyindrayana: 16. Banyak contoh denda dikaitkan dengan kewajiban warga yang lain. Misalnya perpanjangan SIM, STNK dll. Tentu dng sistem yg canggih. #razia

@dennyindrayana: 16. Masalah razia ini adalah contoh yang ada di keseharian kita. Sebagaimana pungli koruptif lainnya. #razia

@dennyindrayana: 17. Peningkatan kesejahteraan adalah salah satu solusi. Tetapi itu hanya satu cara. Penyelesaian menyeluruh yang lebih diperlukan. #razia

@dennyindrayana: 18. Pungli razia: Corruption by need tentu tidak boleh. Meski corruption by greed yang harus dibasmi dan diberi sanksi menjerakan. #razi

Posting ini merupakan dokumentasi yang saya buat dari rangkaian twit Denny Indrayana, Sekretaris Satgas Mafia Hukum. Agar kelak kemudian saya mudah menemukan informasi penting ini. Mengingat saya sendiri sering berpapasan dan diperiksa oleh Petugas Operasi Lalu Lintas.

Anda bisa menfollow account twitter @dennyindrayana untuk berinteraksi dan mendapatkan update dari beliau.

Dan menfollow @jarwadi untuk berinteraksi dengan saya. Kalau yang terakhir ini promosi diri 😀

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.5