Ribut – Ribut Quora: Open Source SocMed

Masih ingat ribut – ribut tentang Quora beberapa hari yang lalu? (Quora.com) Saya pun ikut – ikutan heboh. Dan segera sign up ke situs jejaring sosial kode terbuka ini tanpa berpikir panjang. Tanpa tahu akan apa yang ingin saya perbuat dalam outlet baru ini.

Satu langkah tidak cukup untuk menempuh dunia dalam Quora. Dalam browser chrome yang terpasang pada Maverick Meerkat saya ditanya – tanya oleh satpam yang dipekerjakan oleh Quora. Kira – kira begini: “Maaf tuan, bisakah anda menunjukan undangan?” Tentu saja saya tidak punya. Pada waktu itu saya berpikir untuk meminta lembar undangan pada teman – teman saya yang sudah lebih dulu memasuki Quora. Tetapi pekerjaan saya di pabrik membuat saya menunda sign up dan mengurusi mesin – mesin pabrik dulu.

Sampai pada waktu saya pulang, di perjalanan saya iseng mendaftar menggunakan ponsel. Saya menggunakan Blackberry Browser. Viola! Proses sign up berhasil. Aneh! Belakangan saya baru tahu bahwa untuk registrasi dari Amerika sudah tidak memerlukan lagi invitasi. Baiklah – baiklah. Dunia memang panggung sandiwara penuh diskriminasi dan kepentingan 😀

Nah! Bagi yang pengin mencoba Quora, silakan menggunakan proxy gratis yang bertebaran yang berlokasi di Amrik. Bisa juga menggunakan Browser Blackberry atau mencoba dengan Operamini. Atau paling gampang, mintalah invitasi kepada saya.

Eh! Tapi saya belum tahu bagaimana caranya membagi – bagi tiket undangan 😀

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.5

Software Alternatif Mirip Pengobatan Alternatif? #ubuntu

Pada acara Lucid Release Party yang diadakan oleh komunitas Ubuntu loco Yogyakarta di Fakultas Kesehatan UGM pada hari Sabtu, 15 Mei 2010 yang lalu, pada hampir semua sesi, pembicara tidak jarang menyebut bahwa software Open Source itu bisa jadi Alternatif. Pendek kata mereka menyebut Open Source Software sebagai Software alternatif dari software proprietary yang mahal.

Mendengar kata Software alternatif serta merta ingatan saya mengaitkan dengan Pengobatan Alternatif yang memang menjamur di Indonesia. Alasannya hampir sama. Masalah biaya yang jauh lebih terjangkau. Dengan kualitas dan kemungkinan keberhasilan untung – untungan.

Padahal kan tidak selalu demikian. Ada banyak di maya pada ini Software Open source yang jauh lebih cespleng bin mujarab dibanding dengan Proproetary 😀