Dipanggil “Pak J”

Pak J. Nama yang sering orang – orang pakai untuk memanggil saya. Terutama orang – orang yang belum berkenalan baik dengan saya. Atau orang – orang yang saya kenal dari Social Media. Jujur, saya terkadang agak risih  dipanggil dengan sebutan “pak”. Apalagi oleh orang – orang yang berusia jauh lebih senior dari saya. Meski lama demi lama saya mulai membiasakan diri dengan panggilan yang belum menjadi hak saya itu.

Celakanya ketika seseorang sudah akrab memanggil saya “pak”, kemudian terpaksa bertemu dengan saya, mereka akan menganulir label ‘pak’ yang dulunya ia sematkan di dada saya. Penganuliran label “pak” ini menjadikan penghiburan tersendiri buat saya. Misalnya, ketika kemarin saya ditugasi oleh kawan – kawan relawan peduli Merapi untuk melakukan fun raising yang mana kepedulian teman – teman social media mendorong mereka untuk menitipkan kedermawanan kepada saya. Sesuatu yang istimewa bagi saya untuk bertemu tatap muka dengan teman – teman social media itu. Sebelumnya, kalau tidak ‘terpaksa’ saya memang enggan untuk kopdaran dengan dalih alasan yang sengaja saya cari – cari.

Sedikit bercerita. Panggilan “Pak J” pertama kali keluar dari rongga mulut teman – teman dekat. Saat itu sekitar tahun 2002 ketika Mas Susilo, Mas Mahmud SB, Mas Puguh, Mas Amri dkk mendirikan start up yang bertempat di Jalan Sumarwi Wonosari. Hari demi hari dengan panggilan “Pak J”. Anehnya, sampai start up yang kami rintis itu jatuh tewas, nama “Pak J” masih melekat pada saya. 😀

Tetapi kenapa tiba – tiba “Pak J” muncul di social media sejak beberapa tahun. Padahal saat itu geng perintis start up itu tak satupun muncul pada senarai teman.

Wallahu alam bisawab! Hanya Allah Yang Maha Mengerti atas segala fenomena alam.