T50i : Pesawat Tempur Naas di Jogja Airshow 2015

Suasana di Bandara Adi Sucipto – Yogyakarta terasa biasa-biasa saja ketika saya cheeck in di Counter Garuda Indonesia pada sekitar pukul 09:00 WIB. Memang ada sedikit antrian di counter Garuda dan Citilink yang bersebelahan, tetapi tidak panjang.

Tidak lama berselang, saya menyodorkan tiket elektronik di smartphone dan kartu identitas yang sebelumnya telah saya persiapkan kepada petugas check in Garuda. Seperti biasa proses check in berlangsung cepat.

Sambil memberikan secarik boarding pass, petugas memberi tahu saya kalau pesawat G205 menuju Jakarta yang akan saya tumpangi akan mengalami delay. Berapa lama delaynya belum diketahui dan akan diumumkan kemudian. Alasannya adalah: Di Bandara Adi Sucipto sedang digunakan untuk acara Air Show. Alasan yang bisa saya maklumi.

Terkait event Air Show ini saya memang sudah tahu sebelumnya. Bahkan saya sempat akan mengikuti sebagian rangkaian acara yaitu: Jupiter Fun Run yang diselenggarakan pukul 06:00 WIB tadi. Rangkaian acara Air Show hari ini yang saya ketahui adalah terjun payung dan atraksi pesawat.

Saya pun segera menuju ruang tunggu dan memilih tempat duduk yang nyaman dan tidak terlalu berisik. Agar bila nanti ada pengumuman kapan pesawat yang akan saya tumpangi akan terbang, saya bisa mendengar dengan jelas.

Kira-kira pukul 09:30 WIB, suara gemuruh yang memekakkan telinga menyedot perhatian orang-orang di ruang tunggu bandara. Rupanya atraksi aerobatik pesawat tempur pada pagi ini di mulai. Banyak orang yang mendekat ke kaca-kaca di sisi selatan ruang tunggu. Menyaksikan atraksi aerobatik ini.

Tiba-tiba saya mendengar suara ledakan. Melongok ke sisi selatan, saya melihat ada ledakan besar. Ledakan berwarna merah diikuti asap hitam yang membumbung menyerupai jamur. Atau lebih tepatnya ya seperti di film-film. Gedung STTA Adi Sucipto dalam sekejap diselimuti asap.

Saya pun buru-buru merapat ke sisi kaca selatan ruang tunggu, untuk melihatnya lebih jelas. Mulanya saya ragu. Apakah ledakan itu bagian dari atraksi atau terjadi kecelakaan. Setelah yakin itu merupakan sebuah kecelakaan, saya pun mengambil gambar dengan iPhone saya dan mengunggahnya ke Facebook dan Twitter.

Sebelumnya saya memang mengira kalau ini merupakan pesawat F16. Belakangan saya tahu kalau ini ternyata bukan F16. Dari beberapa petugas di bandara yang kemudian saya tanyai, ternyata ini adalah jenis pesawat T50i Golden Eye.

Memang kedua jenis pesawat ini sepintas mirip.

Ruang tunggu Bandara Adi Sucipto kontan gaduh karena calon dengan calon penumpang yang menjadi saksi peristiwa naas ini. Timeline twitter pun spontan digaduhkan oleh kecelakan T50i. Tweet saya di atas menjadi viral.

Rasanya baru kali tweet saya mendapat retweet sebegitu banyaknya. Menjawab banyak sekali mention twitter di tengah kegaduhan dan kebelum pastian pesawat saya terbang menjadi semakin tidak mudah. Saya hanya merespon sebisanya.

Termasuk merespon WA dari Lolita (Metro TV) yang meminta saya wawancara live pagi tadi. Saya pun mengiyakan, meski saya tahu telinga saya tidak peka di tengah keramaian.

Sekitar Pukul 10:30 WIB pengumuman yang saya tunggu-tunggu datang. GA 205 menuju Jakarta akan terbang pada pukul 11:00 WIB.

Dan alhamdulillah, sekarang saya sudah tiba di Sukarno Hatta International Airport dengan selamat. Saat ini saya menulis posting ini di Old Town Coffe.

Menyisir mention ke saya di twitter, saya menemukan sebuah video yang memuat kecelakan T501 Golden Eye. Videonya adalah:

Saya berharap semoga peristiwa naas ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan bila terjadi korban jiwa, semoga arwah beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Begitu juga dengan segela kerusakan yang terjadi. Semoga mendapatkan penanganan terbaik sehingga kerugian dan dampaknya bisa dikurangi seminimal mungkin.

 

Curhat Sakit …

Saya lupa kapan persisnya saya mulai merasakan gejala sakit yang sampai hari ini belum sepenuhnya sembuh. Seingat saya, pertengahan bulan November saya sudah merasakan suhu tubuh saya kadang-kadang terasa meningkat, kadang tubuh terasa lemas dan sesekali kepala merasa pening.

Karena seperti rutin terjadi pada tahun yang sudah-sudah, yang mana akhir tahun banyak pekerjaan baik yang terduga maupun yang tiba-tiba “menjadi pekerjaan” harus saya selesaikan, saya pun tidak begitu menghiraukan gejala sakit yang saya rasakan. Saya keep go on saja. Tubuh masih kuat kok.

Di sela-sela pekerjaan dan rutinitas, pada pertengahan bulan November saya menenuhi undangan dari ASUS untuk mengikuti acara Zen Festival di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place. Acara yang memang menarik bagi tech blogger seperti saya. Namun sebenarnya ada hal di luar acara itu yang saya harapkan bisa saya temui. Meski, toh, sampai saya pulang lagi ke Yogyakarta tidak kesampaian. 😦

Selesai acara gala dinner di Ritz Carlton ketika saya sudah di kamar hotel dimana menginap yaitu di Grand Mercure Gajah Mada, perut saya mulai terasa tidak enak. Mual, perih dan sejenisnya. Ada semacam rasa ingin BAB. Dan beberapa menit kemudian saya BAB beneran dan dalam frekuensi yang sangat sering. Singkatnya saya diare yang disusul muntah-muntah.

Sambil menggigil kedinginan, saya pun mematikan AC kamar. Rasa mual berlanjut dan antara mengerang dan muntah terjadi berulang-ulang. Saya bahkan sampai pingsan dan terjatuh ke lantai kamar.

Pukul 6 lebih saya baru berusaha bangun. Di antara ragu apakah saya bisa terbang kembali ke Jogja pagi itu apa tidak. Saya pun mencoba melakukan sesuatu. Saya menuangkan air mineral ke dalam pemanas air yang ada di kamar hotel. Kemudian saya berusaha membersihkan diri, mandi dengan air hangat dan berusaha menunaikan shalat Subuh meski saya tahu waktunya sudah sangat terlambat. Bisa dibilang saya shalat Subuh pada waktu Dhuha. I think Allah will always understand me …

Air yang saya panaskan tadi sudah mendidih. Saya mengambil mug dan membuka teh celup yang tersedia, menuanginya dengan air panas, menambahkan dengan gula dan perlahan-lahan meminumnya. Rupanya sebotol air mineral kira-kira 600 ml hampir saya habiskan pada pagi itu.  Saya harus berusaha menolong diri sendiri sebelum orang lain yang menolong saya.

Dan pelan-pelan saya mulai merasa kuat.

Alhamdulillah, pagi itu saya berani memutuskan untuk menuju bandara dengan bus yang telah disediakan oleh panitia Zen Festival. Kenyataan yang harus saya hadapi berikutnya adalah berjalan dari drop in Terminal 2 Soekarno Hatta. Ya ampun jauh banget dengan melewati beberapa kali pemeriksaan X-ray. Di Terminal 2 saya sekali mencari toilet dan meneruskan ritual diare.

Satu jam peberbangan dengan Garuda alhamdulillah saya lalui dengan selamat. Di dalam pesawat saya memesan teh panas dan berusaha memakan kue yang diberikan oleh pramugari.

Tantangan berikutnya adalah perjalanan dari Bandara Adi Sucipto ke Gunungkidul. Ini lebih menantang karena saya mengendarai sendiri sepeda motor. Masa iya saya mau naik taxi dan lebih lama menginapkan motor saya di penitipan di sekitar Bandara.

Alhamdulillah saya selamat sampai tempat kerja saya di Gunungkidul.

Loh, kok ke tempat kerja? Benar, Jum’at itu saya harus meneruskan pekerjaan saya sehari-hari. Jadwalnya memang sampai sekitar jam 17:00 WIB. Meski prakteknya saat itu pekerjaan selesai lebih awal.

Sesampai di rumah, saya mengemasi pakaian-pakaian kotor dan mengirimnya ke laundry service tidak jauh dari rumah saya. Kemudian saya langsung menuju ke tempat praktek dokter Nila.

Oleh dokter saya diberi beberapa obat, seingat saya adalah: tablet obat diare, lanzophrasol dan paracetamol. Hari berikutnya diare saya sudah berkurang. Hari Sabtu saya tetap bekerja. Hari Minggu ketika gejala sakit saya menurun saya pun merasa perlu refreshing dengan jalan ke Jogja City Mall. Berharap syaraf-syaraf saya yang tegang sedikit kendur. Kenyataannya malah ada kejadian yang tidak terduga menimpa yang mempuat kepala saya makinpening dan telinga berdenging.
Baca lebih lanjut

Menikmati Keperawanan Pantai Kesirat dan Pantai Woh Kudu

Salah satu hal yang saya percayai tidak baik untuk dilakukan adalah tidur sehabis Subuh. Apalagi pada bulan Ramadhan yang karim ini. Minggu pagi (05/07/2015) udara pagi di desa dimana saya tinggal terasa dingin. Menusuk belulang. Perlu perlawanan gigih untuk menghalau tarikan selimut dan kantuk yang terus menghampiri.  Barangkali matahari sudah setinggi penggalah ketika saya membawa skutik All New Seoul GT keluar dan menyalakannya. Nampak di dashbord indikator bahan bakar menunjukkan pertamax masih cukup untuk pergi saja entah kemana.

IMG_4143.resized

Benar. Ini bukanlah jalan-jalan yang saya rencanakan. Nama Pantai Kesirat baru benar-benar muncul dari dalam batok kepala saya ketika saya sudah menempuh jarak kurang lebih 10 km. Kesirat, meskipun hanya berjarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, kira-kira kurang dari 40 km, namun belum pernah sekali pun saya berkunjung ke sana. Maklum ada banyak sekali pantai di Gunungkidul. Sedikit yang saya pernah dengar tentang Kesirat adalah sebuah pantai yang terletak di kecamatan Panggang dan merupakan pantai yang belum dipikukan oleh pelancong dan wisatawan.

Kira-kira setengah jam melaju sampailah saya di suatu perempatan di kecamatan Panggang. Saya ragu harus memilih ke arah yang mana. Saya berhenti dan mencoba menemukan arah ke Pantai Kesirat dengan Google Map di iPhone. Namun koneksi Telkomsel hanya menyodori saya kekecewaan. Saya baru mendapatkan arah pasti menuju Kesirat setelah bertanya kepada beberapa orang yang berbeda. Saya disarankan untuk mengikuti jalan ke arah ke dusun Wiloso, desa Girikarto, kecamatan Panggang. Rupanya jalan yang harus saya ikuti adalah jalan yang saya lewati ketika Ramadhan tahun lalu saya menuju Pantai Gesing dari arah kecamatan Panggang.

Sampai di dusun Wiloso, jalan yang saya lalui adalah aspal yang cukup baik, enak ditempuh dengan motor matic. Namun dari Wiloso sampai ke pantai adalah jalanan cor blok dan jalan berbatu, lengkap dengan tanjakan dan turunannya yang sadis yang menantang keterampilan mengemudi motor saya yang pas-pasan. Bukit, lembah, pohon nyiur, dan bebatuan cadaslah yang menjadi pemandangan yang terus menyemangati saya pagi itu.

Tidak jauh dari bibir pantai, saya melihat ada beberapa sepeda motor yang terparkir. Mungkin itu adalah sepeda motor para pengunjung pantai seperti saya. Saya pun memarkir sepeda motor di tempat yang saya rasa cukup aman. Saya melepas helm tapi jam delapanan pagi yang tetap dingin itu membuat saya enggan menanggalkan jaket.

Saya berhati-hati melangkah di jalan sesempit tapak kaki di antara tumbuhan belukar dan gundukan batu cadas. Saya menuju bibir pantai. Di Kesirat jangan membayangkan bibir pantai adalah  pasir putih yang saling jamah dengan air laut. Sepanjang bibir Kesirat adalah ujung tebing yang curam dimana di bawah adalah laut yang ombaknya mendera tegarnya bebatuan karang.

Sendirian berdiri di bibir tebing menghadap laut selatan membuat saya hanya bisa melongo, diam, takjub, merasa kecil dan terkadang seolah ada sepi menghampiri. Iya, sepi itu kadang-kadang di sini menjadi nyata. Pada saat yang tidak begitu beda ada rasa damai, bahagia dan rasa syukur yang entah datang darimana. Mungkin itu dibawa matahari pagi yang beranjak meninggi dengan hangat yang diterpakan ke sisi wajah saya. Mungkin dari semilir angin yang kadang membelai, kadang menampar. Atau mungkin mereka bawa bersamaan. Atau mungkin dibawa entah. Subhanallah …

IMG_4155.resized

Baca lebih lanjut

Masuk Angin

Entah karena tidur dengan posisi miring, karena masuk angin, terlalu banyak duduk atau karena sebab lain pundak sebelah kanan saya sakit. Untuk menengok kekiri sulit. Kaku. Gejala seperti ini, atau bapak saya menyebutnya dengan istilah “tengeng” dalam beberapa bulan terakhir ini beberapa kali saya alami. Umumnya gejala seperti ini akan menghilang sendiri dalam beberapa hari. Sekitar 3 hari.

Untuk meringankannya biasanya saya menggosoknya dengan minyak urut atau balsem. Ayah saya terkadang menyarankan saya agar kerokan. Karena bila ia mengalami hal sama, kerokan baginya sangat membantu meringankan rasa sakit tengeng ini. Saya sendiri tidak suka dengan solusi kerokan. Kerokan ini rasanya sakit dan bekas-bekas merahnya itu terlihat ngeri. Merusak permukaan kulit, saya pikir.

Bila saya duduk sakit pundak sebelah kiri saya kali ini kumat. Bila saya berdiri dan berjalan-jalan sakit pundaknya berkurang drastis. Ini menyebalkan. Masa iya saya harus berdiri dan berjalan-jalan terus menerus biar sakit pundak tidak menggejala. Kebanyakan pekerjaan saya minta dikerjakan sambil duduk. Mengetik di laptop tidak bisa dikerjakan sambil berdiri. Membaca-baca dan mengetik akan aneh dan bisa menjadi bahan tertawaan teman-teman bila saya lakukan sambil berdiri atau berjalan-jalan. Kalau sambil tiduran? Entar tidak jadi mengerjakan melainkan kebablasan jadi tidur beneran.

Kali ini saya mencoba menggunakan koyo. Ada yang tidak tahu koyo? Saya tadi membeli koyo Cabe di minimarket sebelah, kemudian meminta teman saya menempelkan di pundak dan di punggung. Dalam beberapa menit tempelan koyo ini mulai memberi rasa hangat, dan makin hangat. Apalagi setelah saya jalan ke dan dari tempat makan siang. Efeknya jadi makin gerah dan berkeringat. Rasa sakit pundak saya sekarang pun berangsur berkurang. Ini buktinya. Saya bisa mengetik posting ini. Padahal tadi menulis komentar di facebook saja tidak nyaman. 😀

Saya tidak tahu apakah setelah efek hangat tempelan koyo hilang sakit pundak saya akan kambuh atau sembuh. Adakah yang punya pengalaman jitu menyembuhkan sakit pundak seperti yang saya derita ini?

Sunday Morning Rainbow is Showing Up

Pelangi Minggu Pagi

Pelangi Minggu Pagi

Awal tahun ini saya merasa beruntung. Kenapa? Karena pada awal tahun ini, tepatnya Minggu pagi kemarin saya bisa memotret dengan tangan saya sendiri satu pelangi yang indah. Sesuatu yang sulit kesampaian pada beberapa tahun yang lalu sampai-sampai saya hanya bisa iri melihat orang lain mengunggah foto-foto indah pelangi di jejaring sosial. 😀

Pelangi yang indah ini terjadi tepat di atas persawahan di sebelah rumah saya. Melihat pelangi yang membentang saya hanya bisa selekasnya mengambil ponsel, berlari ke tempat yang terbuka, dan …. tentu saja memotret. Memotret cepat-cepat sebelum pelangi memudar. Pelangi adalah momen singkat yang tidak pernah mau menunggu orang yang suka berlama-lama. Benar. On rainbow every second is worth shutter count. 😀

Semoga pelangi ini menjadi pertanda bahwa tahun 2015 adalah tahun yang indah untuk saya dan kita semua. Aamiiin.

Mari bekerja dan berkarya. 🙂

Selamat Datang Optimisme

Ada banyak hal terjadi di sepanjang tahun 2014 saya. Akan panjang bila saya tuliskan semuanya. Bila pun saya mencoba tuliskan semuanya toh ada lebih banyak yang sudah tidak saya ingat dengan baik.

Nah, jadi tahu kalau di sepanjang tahun 2014 kemarin saya jarang membuka blog saya sendiri, blog yang ini. Membuka saja jarang, hihi, apalagi membuat posting di dalamnya. Kalau saja saya rajin setidaknya membuka blog saya sendiri pasti saya akan diingatkan “Menuliskan Sebelum Terlupakan”, tagline blog ini. hihi.

Daripada saya menuliskan satu per satu dengan kurang akurat, maka saya menuliskan garis merah yang ingin saya lihat dengan persepsi saya kali ini saja. Subyektif toh tidak apa-apa.

Di antara banyak peristiwa yang terjadi pada tahun 2014 tersebut beberapa diantaranya adalah sesuatu yang sebelumnya saya pikir mustahil bisa saya lakukan apalagi saya capai. Nyatanya kenyataan berbicara lain. Saya bisa mencapainya dengan cara-cara yang tidak saya duga-duga.

Ini modal besar bagi saya. Ini modal sekaligus kekuatan diri untuk menyambut tahun 2015 dengan optimisme penuh dan positif. Lesson learned dari 2014 adalah: jangan ragu/takut merencanakan dan menentukan target yang besar. Set a target, make plan and and just do it

Selamat datang optimisme dan tak bosan-bosannya berniat untuk lebih rajin nge-blog lagi di tahun 2015 yang penuh optimisme ini. Ini posting pertama saya tahun ini. Jreeeeng! 🙂

Batere iPhone 5s Jadi Boros Setelah Upgrade iOS 8?

Rasanya belum lama mencoba-coba fitur-fitur baru  iOS 8, batere iPhone 5s saya sudah memberi notifikasi kalau kapasitas batere sudah kurang dari 20%. Baru beberapa jam saja. Padahal batere sudah terisi 100% ketika iOS 8 menyambut saya dengan Hello begitu proses upgrade hampir selesai.

Phew.. iOS 8 ini benar-benar bikin iPhone 5s saya rakus batere?

Ini bisa jadi ada benarnya, bisa jadi karena iPhone 5s dengan iOS 8 belum menemukan “titik stabil”nya.

Dengan iOS 8 barunya tentu saja saya ingin mencoba-coba semua fitur baru yang dibawa oleh OS baru ini. Mulai mengamat-amati perubahan desain UI di tiap menunya, mencoba-coba aplikasi baru seperti Health App, iBook, Podcast, iSight Camera dengan fitur-fitur yang baru ditambahkan dan lain-lain. Ini saja tentu sudah memerlukan waktu lebih dari penggunaan sehari-hari yang tentu mengkonsumsi energi batere lebih banyak.

Di iPhone 5s saya ada banyak sekali, ada foto yang jumlahnya ribuan, ratusan musik, setting dan file-file lain yang tentu perlu diindex lagi. Proses pengindeksan ini tentu saja memerlukan tenaga processor yang perlu energi batere sebagai makanannya. Indexing ini tidak perlu dikhawatirkan. Proses ini umumnya tidak akan sering dilakukan oleh iOS.

Saya menggunakan iPhone 5s saya dengan banyak aplikasi 3rd party yang terinstall. Kebanyakan aplikasi ini memerlukan update agar aplikasi-aplikasi itu bisa berjalan sesuai/compatible dengan iOS 8. Proses update itu memerlukan koneksi internet baik melalui wifi ataupun seluler. Yang mana koneksi internet akan membutihkan konsumsi batere.

Untuk memastikan apakah iPhone dengan iOS 8 benar-benar rakus atau normal-normal saja, berikut ini menurut saya beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Tes daya tahan batere dalam keadaan iPhone sedang Stand by

Sebelum melakukan pengecekan ini, pastikan proses indexing foto, lagu dan file-file lainnya sudah selesai. Pastikan juga aplikasi Music tidak sedang mendownload lagu dari iTune dan tidak sedang men-sync foto-foto dari iCloud. Pastikan juga tidak ada aplikasi yang sedang melakukan proses download dan upgrade.

Bila sudah, biarkan beberapa saat agar masuk mode stand by atau tekan tombol power/sleep. Biarkan iPhone antara 15 menit – 30 menit. Perhatikan apakah kapasitas batere berkurang secara significant atau bahkan drastis. Bila kapasitas batere berkurang drastis kemungkinan memang ada masalah pada batere atau penggunaan batere. Bila tidak kemungkinan konsumsi batere iPhone 5s dengan iOS 8 normal-normal saja

Periksa apakah ada Aplikasi/Sofware yang bermasalah

Aplikasi atau software yang bermasalah biasanya akan mengkonsumsi batere secara berlebihan. Untungnya di iOS 8 ini ditambahkan fitur untuk memeriksa penggunaan batere (battery usage). Fitur ini bisa diakses dari Menu: Setting> General> Usage> Battery Usage.

IMG_0074

Hihi, dari tangkapan layar di atas kelihatan kalau saya senang Facebook-an di iPhone.

Baca lebih lanjut