Ku Pertaruhkan Nyawa untuk Menjaring Hatimu di Pantai Jogan

Pantai Jogan dan Lelaki Penjaring Hati

Pantai Jogan dan Lelaki Penjaring Hati

“Ku pertaruhkan nyawaku untuk menjaring hatimu, iya hatimu”

Menjelang siang yang  terik di Pantai Jogan. Saat itu saya sedang duduk-duduk di bawah rimbun daun pohon pandan di satu sudut pantai. Tepatnya di bebatuan cadas di sebelah timur  Air Terjun Pantai Jogan.

Merasakan debur ombak pasang dari ketinggian, memandang samudera biru, sambil sesekali melihat beberapa orang yang sedang asyik menantang adrenalin dengan rappelling menuruni tebing yang diguyur oleh air terjun. Baca lebih lanjut

Pantai Ngunggah, Keindahan di Balik Belukar

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggahan

Pantai Ngunggahan, Kemolekan Di Balik Semak Belukar

Pantai Ngunggah, ada yang menyebutnya sebagai Pantai Ngunggahan. Merupakan Pantai di Gunungkidul yang sampai saat ini tidak terkenal. Setidaknya oleh pelancong kebanyakan. Kecuali para traveller yang hobinya memang blusukan mencari tempat yang aneh-aneh.

Pantai Ngunggahan merupakan pantai yang terletak di sudut barat Kabupaten Gunungkidul. Bisa dikatakan pantai Gunungkidul terbarat meski bukan benar-benar pantai yang terletak di sisi paling barat kabupaten seribu gunung tanah kelahiran saya ini. Terbarat adalah Pantai Parang Endok (persis berhimpitan dengan Pantai Parangtritis sekaligus pembatas Bantul – Gunungkidul). Baca lebih lanjut

Pantai Ngeden di Desa Krambil Sawit, Apa yang Membuatnya Berbeda?

IMG_4720.ngeden landscape

Memang, Pantai Ngeden di Gunungkidul keberadaannya belum cukup banyak diketahui dan dikenal wisatawan. Pantai yang bisa digolongkan baru dalam destinasi wisata di kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta ini terletak di desa Krambil Sawit, kecamatan Saptosari. Untuk menuju ke Pantai Ngeden dari arah kota Wonosari, pengunjung bisa mengikuti arah jalan Paliyan Panggang. Sesampainya di pertigaan Jetis silakan belok kiri mengikuti petunjuk arah yang sudah manis terpasang. Petunjuk arah ini bertuliskan jarak ke pantai 7 km. Jarak sebenarnya menurut odometer All New Soul GT saya adalah kurang lebih 10 km. Bila melancong ke sana seyogyanya menempuh dengan sepeda motor atau kendaraan off road mengingat beberapa kilo meter jalan menjelang pantai belum lebar dan belum beraspal. Masih berupa jalan berbatu bercor blok.

Minggu (12/07/2015) saya sengaja berangkat ke sana pada pagi cukup awal. Sebagai penyuka keheningan saya berharap menemukan pantai yang belum hiruk pikuk dengan sesedikit pengunjung. Ini tentu menjadi akan susah saya temukan setelah liburan lebaran nanti dimana biasanya semua destinasi wisata di Gunungkidul tumpah ruah oleh wisatawan terutama dari luar daerah.

Ini adalah kunjungan pertama saya ke Pantai Ngeden. Saya menemukan Ngeden adalah tipikal pantai-pantai di Gunungkidul yang mempunyai ciri utama: terletak di antara gugusan-gugusan bukit kapur, mempunyai pasir putih yang halus, berombak besar dan di sekitarnya terdapat banyak bebatuan cadas dan tebing-tebing karang.

IMG_4619.resized landscape 2

Kalau ‘hanya’ seperti itu apa istimewanya ketika untuk sampai ke sana saja harus membayar dengan menempuh jalan berbatu yang tidak begitu ‘ramah’? Baca lebih lanjut

Menikmati Keperawanan Pantai Kesirat dan Pantai Woh Kudu

Salah satu hal yang saya percayai tidak baik untuk dilakukan adalah tidur sehabis Subuh. Apalagi pada bulan Ramadhan yang karim ini. Minggu pagi (05/07/2015) udara pagi di desa dimana saya tinggal terasa dingin. Menusuk belulang. Perlu perlawanan gigih untuk menghalau tarikan selimut dan kantuk yang terus menghampiri.  Barangkali matahari sudah setinggi penggalah ketika saya membawa skutik All New Seoul GT keluar dan menyalakannya. Nampak di dashbord indikator bahan bakar menunjukkan pertamax masih cukup untuk pergi saja entah kemana.

IMG_4143.resized

Benar. Ini bukanlah jalan-jalan yang saya rencanakan. Nama Pantai Kesirat baru benar-benar muncul dari dalam batok kepala saya ketika saya sudah menempuh jarak kurang lebih 10 km. Kesirat, meskipun hanya berjarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, kira-kira kurang dari 40 km, namun belum pernah sekali pun saya berkunjung ke sana. Maklum ada banyak sekali pantai di Gunungkidul. Sedikit yang saya pernah dengar tentang Kesirat adalah sebuah pantai yang terletak di kecamatan Panggang dan merupakan pantai yang belum dipikukan oleh pelancong dan wisatawan.

Kira-kira setengah jam melaju sampailah saya di suatu perempatan di kecamatan Panggang. Saya ragu harus memilih ke arah yang mana. Saya berhenti dan mencoba menemukan arah ke Pantai Kesirat dengan Google Map di iPhone. Namun koneksi Telkomsel hanya menyodori saya kekecewaan. Saya baru mendapatkan arah pasti menuju Kesirat setelah bertanya kepada beberapa orang yang berbeda. Saya disarankan untuk mengikuti jalan ke arah ke dusun Wiloso, desa Girikarto, kecamatan Panggang. Rupanya jalan yang harus saya ikuti adalah jalan yang saya lewati ketika Ramadhan tahun lalu saya menuju Pantai Gesing dari arah kecamatan Panggang.

Sampai di dusun Wiloso, jalan yang saya lalui adalah aspal yang cukup baik, enak ditempuh dengan motor matic. Namun dari Wiloso sampai ke pantai adalah jalanan cor blok dan jalan berbatu, lengkap dengan tanjakan dan turunannya yang sadis yang menantang keterampilan mengemudi motor saya yang pas-pasan. Bukit, lembah, pohon nyiur, dan bebatuan cadaslah yang menjadi pemandangan yang terus menyemangati saya pagi itu.

Tidak jauh dari bibir pantai, saya melihat ada beberapa sepeda motor yang terparkir. Mungkin itu adalah sepeda motor para pengunjung pantai seperti saya. Saya pun memarkir sepeda motor di tempat yang saya rasa cukup aman. Saya melepas helm tapi jam delapanan pagi yang tetap dingin itu membuat saya enggan menanggalkan jaket.

Saya berhati-hati melangkah di jalan sesempit tapak kaki di antara tumbuhan belukar dan gundukan batu cadas. Saya menuju bibir pantai. Di Kesirat jangan membayangkan bibir pantai adalah  pasir putih yang saling jamah dengan air laut. Sepanjang bibir Kesirat adalah ujung tebing yang curam dimana di bawah adalah laut yang ombaknya mendera tegarnya bebatuan karang.

Sendirian berdiri di bibir tebing menghadap laut selatan membuat saya hanya bisa melongo, diam, takjub, merasa kecil dan terkadang seolah ada sepi menghampiri. Iya, sepi itu kadang-kadang di sini menjadi nyata. Pada saat yang tidak begitu beda ada rasa damai, bahagia dan rasa syukur yang entah datang darimana. Mungkin itu dibawa matahari pagi yang beranjak meninggi dengan hangat yang diterpakan ke sisi wajah saya. Mungkin dari semilir angin yang kadang membelai, kadang menampar. Atau mungkin mereka bawa bersamaan. Atau mungkin dibawa entah. Subhanallah …

IMG_4155.resized

Baca lebih lanjut