Menikmati Keperawanan Pantai Kesirat dan Pantai Woh Kudu

Salah satu hal yang saya percayai tidak baik untuk dilakukan adalah tidur sehabis Subuh. Apalagi pada bulan Ramadhan yang karim ini. Minggu pagi (05/07/2015) udara pagi di desa dimana saya tinggal terasa dingin. Menusuk belulang. Perlu perlawanan gigih untuk menghalau tarikan selimut dan kantuk yang terus menghampiri.  Barangkali matahari sudah setinggi penggalah ketika saya membawa skutik All New Seoul GT keluar dan menyalakannya. Nampak di dashbord indikator bahan bakar menunjukkan pertamax masih cukup untuk pergi saja entah kemana.

IMG_4143.resized

Benar. Ini bukanlah jalan-jalan yang saya rencanakan. Nama Pantai Kesirat baru benar-benar muncul dari dalam batok kepala saya ketika saya sudah menempuh jarak kurang lebih 10 km. Kesirat, meskipun hanya berjarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, kira-kira kurang dari 40 km, namun belum pernah sekali pun saya berkunjung ke sana. Maklum ada banyak sekali pantai di Gunungkidul. Sedikit yang saya pernah dengar tentang Kesirat adalah sebuah pantai yang terletak di kecamatan Panggang dan merupakan pantai yang belum dipikukan oleh pelancong dan wisatawan.

Kira-kira setengah jam melaju sampailah saya di suatu perempatan di kecamatan Panggang. Saya ragu harus memilih ke arah yang mana. Saya berhenti dan mencoba menemukan arah ke Pantai Kesirat dengan Google Map di iPhone. Namun koneksi Telkomsel hanya menyodori saya kekecewaan. Saya baru mendapatkan arah pasti menuju Kesirat setelah bertanya kepada beberapa orang yang berbeda. Saya disarankan untuk mengikuti jalan ke arah ke dusun Wiloso, desa Girikarto, kecamatan Panggang. Rupanya jalan yang harus saya ikuti adalah jalan yang saya lewati ketika Ramadhan tahun lalu saya menuju Pantai Gesing dari arah kecamatan Panggang.

Sampai di dusun Wiloso, jalan yang saya lalui adalah aspal yang cukup baik, enak ditempuh dengan motor matic. Namun dari Wiloso sampai ke pantai adalah jalanan cor blok dan jalan berbatu, lengkap dengan tanjakan dan turunannya yang sadis yang menantang keterampilan mengemudi motor saya yang pas-pasan. Bukit, lembah, pohon nyiur, dan bebatuan cadaslah yang menjadi pemandangan yang terus menyemangati saya pagi itu.

Tidak jauh dari bibir pantai, saya melihat ada beberapa sepeda motor yang terparkir. Mungkin itu adalah sepeda motor para pengunjung pantai seperti saya. Saya pun memarkir sepeda motor di tempat yang saya rasa cukup aman. Saya melepas helm tapi jam delapanan pagi yang tetap dingin itu membuat saya enggan menanggalkan jaket.

Saya berhati-hati melangkah di jalan sesempit tapak kaki di antara tumbuhan belukar dan gundukan batu cadas. Saya menuju bibir pantai. Di Kesirat jangan membayangkan bibir pantai adalah  pasir putih yang saling jamah dengan air laut. Sepanjang bibir Kesirat adalah ujung tebing yang curam dimana di bawah adalah laut yang ombaknya mendera tegarnya bebatuan karang.

Sendirian berdiri di bibir tebing menghadap laut selatan membuat saya hanya bisa melongo, diam, takjub, merasa kecil dan terkadang seolah ada sepi menghampiri. Iya, sepi itu kadang-kadang di sini menjadi nyata. Pada saat yang tidak begitu beda ada rasa damai, bahagia dan rasa syukur yang entah datang darimana. Mungkin itu dibawa matahari pagi yang beranjak meninggi dengan hangat yang diterpakan ke sisi wajah saya. Mungkin dari semilir angin yang kadang membelai, kadang menampar. Atau mungkin mereka bawa bersamaan. Atau mungkin dibawa entah. Subhanallah …

IMG_4155.resized

Beranjak dari tempat saya berdiri di satu ujung tebing, saya menyetapak, terus menyetapak dan yang penting menyetapak sambil sesekali melempar pandang ke biru samudra atau melongok ketika mendengar ada debur ombak dihadang karang.

Kali ini setapak yang saya titi menuju ke arah 2 buah tenda yang berdiri. Biarlah. Itu pasti orang-orang camping yang barangkali menghabiskan semalam di sini, menikmati alam, menikmati kedip bintang di cakrawala malam dengan cara mereka. Saya melangkah dengan hati-hati melewati tenda-tenda yang di dekatnya ada beberapa pemuda dan pemudi yang sebagian tiduran di rerumputan dan sebagian lagi duduk-duduk memandang laut.

Dari sisi ini saya melihat ada satu pohon yang seolah nampak membentuk sebuah landmark. Saya tidak tahu pasti apa nama pohon itu. Saya hanya bisa menduga itu adalah pohon Kesirat yang digunakan sekaligus untuk menamai pantai ini. Entah benar apa salah, toh saya tidak mengkonfirmasikannya kepada siapa pun.

IMG_4138.resized

Pohon (Kesirat) itu menarik. Nampak tumbuh di bibir tebing berbatu cadas. Batang pohon dan dahan-dahannya yang nampak kokoh seolah ingin bicara bahwa ia tidak pernah lelah menantang jaman, apalagi hanya hembus dan dera angin. Dari satu jarak adalah sebuah pohon yang bersanding dengan gugus-gugus bukit kapur bertebing curam. Bila imaji tidak kalah liar tentu  akan mudah menyebut formasi-formasi yang terbentuk sesuka hati. Kali ini saya menikmatinya dengan banyak cara, dengan sambil duduk di rerumputan kering, sambil duduk di bebatuan, menatapnya dari rerimbunan pohon pandan dan seringkali saya menikmati sambil memotretnya.

IMG_4165.resized

Bagi saya memotret (meski hanya dengan beralat ponsel) merupakan ritual tersendiri. Ini cara saya berkontemplasi. Cara saya menapaki sudut imaji. Saya tidak bilang Minggu pagi ke pantai Kesirat bukanlah waktu yang tepat, imaji saya di sini berandai. Andaikan saya datang sore hari menjelang maghrib. Bila imaji beruntung tentu akan menemukan cinta di atas bebukitan sekaligus di cakrawala laut. Menemukan sunset dan membiarkan jiwa terperangkap semburat jingga.

Matahari mulai terasa menyengat, buih-buih ombak setelah membentur karang memantulkan cahaya yang makin menyilaukan, embun-embuh di rerumputan nampaknya sudah mulai lenyap. Iya sudah siang. Saya melangkah ke tempat dimana tadi memarkir motor. Pelan-pelan saja saya mengendarai skutik melewati jalan cor blok berbatu yang menanjak.

IMG_4166.resized

Pantai Woh Kudu yang saya tuju berikutnya tidaklah jauh dari Kesirat. Kurang dari 10 menit saya sudah sampai di tempat menitipkan motor. Perjalanan ke bibir pantai berlanjut dengan jalan kaki menuruni jalan terjal di lereng perbukitan. Jaraknya mungkin lebih dari 1 km. Tidak masalah. Toh saya sudah biasa berjalan dan berlari.

IMG_4169.resized

Masih dari balik bukit debur ombak sayup terdengar, bau pantai yang damai terembus oleh si hidung ini. Dari kejauhan kemudian pantai berpasir putih itu benar-benar nampak. Saya tidak ingin tergesa menjamah air laut. Orang berpuasa bukankah harus sabar. Saya menikmati berjalan di atas setapak, menikmati belukar di kiri kanan tapak, menikmati perbukitan dan semuanya. Dari perdu dan belukar yang terlihat, ada pohon yang nampak hijau beda. Tidak perlu lama saya mengenalinya sebagai Pohon Mengkudu, yang di desa dimana saya tinggal di sebut Pohon Pace yang buahnya bisa digunakan sebagai bahan aneka obat. Sekarang saya jadi mengerti kenapa pantai ini disebut Pantai Woh Kudu. Mungkin karena di sekitar pantai ini memang ada banyak woh (buah) kudu (mengkudu).

IMG_4172.resized

Membasuhi wajah yang baru saja terpapar panas matahari dengan air laut yang asin pada siang itu terasakan sebagai sensasi tersendiri. Saya tidak peduli wajah saya makin melegam dan lengket. Saya ingin menikmati sepenuhnya. Toh kencang hembus angin laut tidak perlu lama mengesatkan lengket-lengket di wajah.

IMG_4226.resized

Di bawah tebing sisi barat pantai saya duduk di pasir putih pantai. Saya meluruskan kaki-kaki agar beristirahat. Kali ini biar mata saya saja yang berlari-lari sesuka hati. Melompat dari satu batu karang ke karang yang lain, ke tebing melompati laut, atau mengejar cakrawala biru bertabur sedikit awan putih.

IMG_4208.resized

IMG_4182.resized

IMG_4185.resized

IMG_4203.resized

IMG_4217.resized

Menghabiskan seberapa lama waktu rasanya tidak akan merasa cukup puas menikmati pantai perawan yang belum hiruk ini. Namun kali ini saya memutuskan menyudahi sebelum dhuhur. Saya ingin shalat dhuhur di rumah kemudian istirahat.

Kelak bila berlapang sempat tentu saya ingin lebih baik menghabiskan waktu menikmati Woh Kudu dan Kesirat dengan cara lain. Dalam angan saya, sebaiknya pagi-pagi saya lebih dulu ke Pantai Woh Kudu. Baru menjelang sore beranjak mengejar senja di Pantai Kesirat.

Bagi yang belum pernah ke Pantai Kesirat dan Pantai Woh Kudu, saran saya siapkan stamina sebaik-baiknya terlebih dulu, berangkatlah pagi-pagi dan berangkatlah dengan menggunakan sepeda motor ber-groud clearing tinggi. Pengalaman saya ke sana mengendarai skutik ternyata melelahkan dan tidak nyaman. Mobil? Kecuali Anda sangat terlatih menggunakan mobil off road 4 wheel drive, sebaiknya jangan. 🙂

 

Iklan

8 thoughts on “Menikmati Keperawanan Pantai Kesirat dan Pantai Woh Kudu

  1. Ping-balik: Nikmat dan Hikmah Ramadhan | Menuliskan Sebelum Terlupakan

  2. Ping-balik: One Last Sunset of 2015 & Pantai Kesirat – Gunungkidul | Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s