Pantai Ngunggah, Keindahan di Balik Belukar

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggahan

Pantai Ngunggahan, Kemolekan Di Balik Semak Belukar

Pantai Ngunggah, ada yang menyebutnya sebagai Pantai Ngunggahan. Merupakan Pantai di Gunungkidul yang sampai saat ini tidak terkenal. Setidaknya oleh pelancong kebanyakan. Kecuali para traveller yang hobinya memang blusukan mencari tempat yang aneh-aneh.

Pantai Ngunggahan merupakan pantai yang terletak di sudut barat Kabupaten Gunungkidul. Bisa dikatakan pantai Gunungkidul terbarat meski bukan benar-benar pantai yang terletak di sisi paling barat kabupaten seribu gunung tanah kelahiran saya ini. Terbarat adalah Pantai Parang Endok (persis berhimpitan dengan Pantai Parangtritis sekaligus pembatas Bantul – Gunungkidul).

Menurut Google Maps, jarak dari rumah saya di Desa Grogol menuju Pantai Ngunggah yang terletak di Dusun Pejaten Desa Giri Wungu Kecamatan Panggang adalah sekitar 27 km. Konon untuk mencapai pantai dengan mengendari mobil membutuhkan waktu 45 menit. Apa kata Google ini diiyain dulu. Meski hati kecil saya membisikkan itu waktu yang terlalu lama.

Latihan lari sudah, sarapan sudah, mandi sudah, wedangan pun sudah. Kira-kira pukul 09:30 WIB, Yamaha All New Soul GT yang kenyang diisi Pertamax saya kendarai menuju Panggang. Sesampai di jalan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) ruas Panggang – Parangtritis saya mulai memelankan laju berkendara.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggah

Petunjuk Arah ke Pantai Ngunggah

Saya tidak ingin terlewat ancar-ancar berbelok menuju pantai. Ancar-ancarnya adalah Gapura Dusun Pejaten yang disebelahnya terdapat suatu Sekolah Dasar. Rupanya patokan ini mudah ditemukan. Pun di sana terdapat plang penunjuk ke arah Pantai Ngunggah.

 

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggah

Pantai Ngunggah : Dusun Pejaten Desa Giriwungu Kecamatan Panggang Kabupaten Gunungkidul

Konon belok kiri mengikuti jalan cor blok ini akan sampai ke pantai dengan sendirinya. Kenyataannya tidak semudah ini. Saya sempat bingung dengan beberapa pertigaan. Untungnya, siang itu saya bertemu seorang nenek-nenek yang ingin pergi ke ladang.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggahan

Pantai Ngunggahan: Nenek Boby Christina Pawiro Setomo

“Nyuwun sewu, mbah, badhe ndherek tanglet. Arah Pantai Ngunggah ingkang pundi nggih?”

Nenek itu menunjukkan arah ke pantai yang menurutnya tidak jauh dari ladang yang ia tuju. Sebuah kebetulan. Saya pun menawari nenek ini untuk saya bonceng motor sampai ke ladang yang ditujunya.

Perkenalan singkat itu membawa kami pada sebuah obrolan, tentang anak-anak si nenek, tentang tanaman si nenek dan anjing peliharaan si nenek yang tidak pernah pulang ke rumah. Adalah seekor anjing yang tinggal di ladang yang tiap hari ia kirim makanan. Oh iya, tentang nama nenek ini. Saya mengenalnya sebagai Boby Christina Pawiro Setomo. Untuk mudahnya panggil saja dengan Nenek Christina.

Tulisan tentang pesona pantai yang aneh lainnya bisa dibaca di:

Nenek Christina minta diturunkan kita – kira 2 km sebelum pantai. Atau kira-kira 6 km dari tempat ia ketemu saya. Saya membatin, nenek Christina adalah sosok yang strong. Dalam usianya yang senja ia mampu berjalan kaki sejauh ini, hampir tiap hari. Pertemuan kebetulan yang menyenangkan. Mudah-mudahan saya bertemu dengan nenek Christina yang lain.

Rasanya belum terlalu jauh saya meninggalkan nenek Christina ketika bau pantai mulai semerbak tercium dan angin laut mulai menyusup membelai wajah. Pantai Ngunggah sudah dekat. Tidak usah buru-buru. Pun jalan cor blok menjelang pantai makin jelek silih berganti dengan tatanan batu cadas.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggahan

Pantai Ngunggahan: Bunga semacam Bunga Jengger Ayam, tapi bukan

Saya malah berhenti dulu. Memotret bunga-bunga ini. Bunga yang entah apa namanya. Sepintas mirip Bunga Jengger Ayam tapi bukan bila beneran diperhatikan. Apa pun namanya pastinya bunga-bunga ini Instagrammable.

Pantai Ngunggahan Pantai Gunungkidul

Pantai Ngunggahan : Tempat Parkir sederhana

Phew … Ini tempat saya menghela nafas. Setelah menamatkan ujian perjalanan berupa bunga dan jalan terakhir dengan turunan brutal. Entah ini tempat parkir beneran atau tempat istirahat, yang jelas saya memang memarkir motor dan istirahat di sini.

Tapi mana pantainya?

Melongok ke sana kemari, tak ada pantai yang terlihat. Yang nampak hanyalah tebing tebing curam yang saling hadap dengan laut. Malah dikejauhan nampak para pemancing sedang menikmati ketinggian di ujung tebing yang lain. Saya harus menemukan pantai pasir putih di sini.

Pantai Gunungkidul Pangai Ngunggah

Pantai Ngunggahan : Bapak Joshua Ngatijan Hoo, Pembuat Arang dari Desa Giri Wungu

Tidak banyak orang yang bisa ditanya di sini. Kecuali harus mencarinya sendiri atau bertanya kepada orang satu-satunya yang ada di balik bukit. Saya mencoba mendekati seorang bapak-bapak yang sedang menata beberapa karung arang. Iya, rupanya di sini ada tempat pembuatan arang secara tradisional.

Sebagai orang kampung yang alim, saya pun menghampiri si bapak untuk berkenalan dan bersopan santun. Sebelum akhirnya bertanya jalan setapak mana yang harus saya lewati untuk mencapai bibir Pantai Ngunggah.

Pak Pembuat Arang yang kemudian saya tahu namanya adalah Joshua Ngatijan Hoo ini menunjukkan saya dan berpesan untuk berhati-hati. Saya mengangguk, memperhatikan dan berusaha mengobrol dengan Pak Joshua.

Pak Joshua meski kadang berbicara lirih adalah pribadi yang ramah, semanak dan enak diajak ngobrol. Perkenalan saya ini tidak sia-sia. Dari Pak Joshua saya jadi tahu cerita di balik pembuatan dan bisnis arang di desa Giri Wungu, tentang tanah-tanah di sekitar pantai yang telah dibeli oleh orang asing.

Untungnya siang itu tidak terlalu terik, ada mendung menggelayut yang menemani saya berjalan menuju pantai sendirian. Bagi saya meniti setapak di antara semak belukar dimana sesekali wajah terkena jaring laba-laba adalah sebuah perjalanan yang meditatif. Perjalanan yang ditemani oleh bayang-bayang nenek Christina, Pak Joshua, dan jalan setapak yang kelak belum tentu masih gratis dilewati orang-orang desa. Bisa jadi kelak saya harus membayar untuk sekedar trekking di sini.

Pantai Gunungkidul Tebing Pantai Ngunggahan

Tebing Pantai Ngunggahan

Jalan setapak itu cukup panjang dan jauh, saya tidak mengira akan sejauh ini, pula semakin licin karena memang basah habis hujan s. Saya merasakan lelah semalam meskipun bisa dikatakan saya adalah jenis orang yang suka dan betah berjalan.

Sebagai penawar lelah, untungnya di sepanjang setapak saya mudah menemukan bunga-bunga angleng warna warni yang menghibur hati, kupu-kupu yang seksi, debur ombak di kejauhan yang terdengar merdu dan aneka cicit cuit kicau suara burung.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggahan

Pantai Ngunggahan : Bunga Angleng, Penghias Perjalanan

Semua itu yang membuat saya bersemangat bahkan ketika saya harus berhadapan dengan turunan yang sangat curam. Di turunan curam ini saya terpeleset, terjatuh. Bukan karena tidak hati-hati, tetapi sandal jepit swallow yang saya pakai seharusnya memang tidak dipakai di sini. Untungnya saya masih bisa meraih batang semak untuk perpegangan. Saya terselamatkan dari jatuh bebas. Celana dan baju kotor berlumpur tidak masalah.

Pantai Ngunggah ada di balik semak. Di balik tumbuhan perdu berupa bunga Angleng dan Pohon Sengon laut yang nampaknya belum terlalu lama ditanam di lembah Ngunggahan ini.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggah

Obak Pantai Ngunggah

Menginjakkan kaki di Pasir Putih Pantai Ngunggahan saya boleh bersenang hati tanpa berlebihan. Merasa satu-satunya orang di pantai di balik tebing yang jauh dari peradaban maka keselamatan diri sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Tidak boleh bertingkah laku konyol di sini.

Pantai Gunungkidul Pantai Nunggah

Meluruskan Kaki di Pasir Putih Pantai Ngunggah

Alhamdulillah, saya bisa meluruskan kaki-kali, beristirahat, menyeka keringat dan menenggak air mineral yang saya bawa.

Pantai Gunungkidul Pantai Nunggah

Pantai Gunungkidul Pantai Nunggah

Dari hamparan pasir ini saya memperhatikan ombak. Kapan ombak membesar dan kapan menyurut. Saya ingin memastikan benar-benar aman sebelum saya mencicipi air laut dengan berendam kaki.

Bukan melulu berendam kaki, sejujurnya saya ingin menuju ke bongkahan-bongkahan batu karang di sisi timur pantai, di bawah tebing, yang nampak seperti batu-batu di Pantai-Pantai di Belitong dalam film Laskar Pelangi.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggahan

Pantai Ngunggahan : Bongkahan Batu Karang

Dorongan nafsu seringkali harus berselisih dengan kehati-hatian. Memanjat bongkahan karang dengan kaki telanjang adalah kemenangan nafsu yang harus ditebus dengan perih di sekujur telapak kaki. Di sini saya kepalang basah sampai nekad turun ke air pantai dimana ombak besar silih berganti.

Pantai Gunungkidul Pantai Nunggah

Pantai Gunungkidul dan Tebing Pantai Nunggah

Toh, siang itu saya tidak kenapa-kenapa. Saya selamat tak kurang suatu apa. Hanya sekembalinya di pasir putih, ada sedikit hal aneh yang seolah tadi saya lihat. Ketika saya sedang di atas bongkahan karang saya melihat seorang lelaki berkulit hitam bertelanjang dada di dekat tebing di sisi pasiran namun tidak lagi saya temukan kelihatan. Entah ia pergi kemana.

Pantai Gunungkidul Pantai Nunggah

Bongkah Bongkah Cadas di Pantai Ngunggah

Lepas siang hari itu saya merasa cukup berfoto-foto dengan iPhone 5s jadul. Termasuk foto-foto selfie yang tidak akan saya upload ke IG dan ke blog.

Pantai Gunungkidul Pantai Ngunggah

Tebing Menjulang Tinggi Mengapit Pantai Ngunggahan

Sebenarnya siang itu sambil beristirahat di pasir putih Pantai Ngunggah, saya ingin meng upload foto-foto ke Instagram, sayangnya tidak ada sinyal seluler yang bisa ditangkap oleh handphone warna silver ini.  Bila ada sinyal seluler seharusnya saya bisa menggunakan aplikasi semacam Strava dan Endomonto untuk men-track jalan setapak yang akan saya lalui  kembali ke tempat dimana memarkir sepeda motor.

Bila nafsu narsis dan eksis tanpa tanggung seperti ini mungkin saya harus berlangganan koneksi satellite semacam Inmarsat atau Byru (eh Byru handal ngga sih) dan membawa Mobile Satelitte device semacam Hughess 9211 BGAN Satelitte Terminal kemana mana, di dalam ransel. Jadi saya selalu bisa internetan dimana pun di pelosok negeri sekalipun hehe.

hughes 9211 BGAN Satellite Terminal

Sendirian di alam bebas seperti Minggu siang itu seberapa lama pun tak akan membuat saya bosan. Untungnya perut saya mengingatkan dengan rasa laparnya yang meronta-ronta. Rasa lapar yang mendorong saya untuk tidak malas pulang berjalan kaki meniti setapak menuju parkiran motor.

Jarak pulang dari Pantai Ngunggah ke tempat parkir terasa jauh, lebih jauh dari jarak yang harus saya tempuh ketika saya tadi datang. Entah apa karena saya cukup kepayahan.

Niat saya untuk segera berkendara pulang ketika berhasil meraih motor siang itu urung. Saya urungkan. Ada seorang bapak-bapak nampak duduk-duduk di dekat saya memarkir motor. Bila tidak salah pria itu mirip dengan orang bertelanjang dada yang sepintas tadi saya lihat di pantai. Saya tidak bisa langsung mengambil motor. Jiwa kejawaan saya mengajarkan untuk sedikit bersopan santun.

Saya kembali menyapa, berkenalan dan ngobrol dengan bapak-bapak ini. Mulanya tidak ingin lama, sebagai basi basa saja. Sayangnya kenyataan tidak demikian. Pak Soni namanya, rupanya benar pria yang saya lihat tadi di pantai.

Kali ini saya asyik menyimak cerita Pak Soni yang menginap sendirian di Pantai Ngunggahan untuk bertarung melawan ombak mencari lobster dan rajungan sambil mencari pompongan. Pompongan adalah semacam binatang yang banyak dijual sebagai mainan anak-anak di Pasar Malam.

Yah, bagi saya travelling memang tidak harus ke tempat yang jauh, tidak melulu menikmati keindahan alam. Bertemu dengan Nenek Christina, Pak Joshua Ngatijan dan Pak Sony adalah berkah.

Pada hari yang baik itu saya dan Pak Soni bertukar nomer handphone dan berencana suatu kelak menginap di Pantai Ngungahan dan menikmati kerang bakar.

Oh iya bagi yang mau ke Pantai Ngunggah atau Pantai Ngunggahan di Panggang Gunungkidul Yogyakarta bisa mengkuti peta Google ini:

Iklan

42 thoughts on “Pantai Ngunggah, Keindahan di Balik Belukar

  1. Banyak yg saya garis bawahi dr tulisan ini. Pertama, huaa pasir putihnya menggoda, itu pasirnya segede merica ga ya Mas? Kalo iya kayak pantai Sepanjang yang selalu membuat saya ingin kembali ke sana.

    Kedua, nenek Christina yg strong mengingatkan saya pada sosok Mbak Mini GK yang juga wanita strong dari Gunkid=), btw nama-nama seperti Christina,Joshua, sepertinya di sana mayoritas bukan Muslim ya?(penasaran aja)

    Ketiga, itu kenapa sinyal Telkomsel dibawa-bawa, sebagai istri dr suami yg kerja di sana jadi berasa gimana gitu..hehe, just kidding.

    Keempat, kenapa foto selfie nggak muncul di IG dan blog, Mas? Duh berasa tersindir kayak cerita gincu merah dan badan gendut tempo hari=D

  2. Berarti njenengan traveler berjiwa mblusuk donk, mas.
    Ngobrol sama warga lokal emang menyenangkan ya, aku ngerasa justru lebih banyak di situ nilai perjalanan buat pribadi nya. Syukur syukur bisa live in.

  3. duh marai kangen pantai mas.. terakhir kali di ngrumput-kosakora-lemahsangar.. dari dulu nyimpen koordinat ngunggah tapi belum kesampaian, malah keduluan pantai lain yang di luar rencana.. mungkin besok kalo pas balik ke jogja bisa nih nyari pantai-pantai belum mainstream kayak hobi jaman dulu lagi.. ahaha

  4. Wah yang tinggal di sekitar daerah situ bersyukur banget ya mas, banyak rejeki dan mudah mendapatkan rajungan,lobster dsb. Itu kan sumber bahan yg mahal bgt jika sudah nyampe di resto atau di ekspor ke mancanegara😊😊😊

  5. Lagi asik asik menikmati gunung kidul dan pantainya .. Nah Lo kok ada wifi ruter.. Kirain ngga dapet sinyal disana..

    But anyway .. Pantai ngunggahan masih banyak karangnya ya mas.. Dan belum ada campur tangan pemerintah untuk dikelola sebagai wisata pantai.. Secara masih bagus banget

  6. Perjalanan yang luar biasa Mas Jar. Tujuannya mencari pantai indah tapi dalam perjalanan bersua dengan orang-orang dan mendengarkan kisah mereka. Pengamatan Master terhadap lingkungan keren sekali. Dan semoga nenek Christina dan Bapak penjual arang sehat-sehat terus ya

  7. Kumpulan bunga-bunga cantik ya g katanya Instagramable, di antara semak belukar…bikin pemandangan makin seger tuh mas.

    Pernah sekali ke pantai di daerah Gunung Kidul, dan perjalanan ke arah sana emang cukup menantang perut…berkelok-kelok tak berujung hehe.

  8. Pantainya cakep tapi karangnya serem. Itu klo gak pake alas kaki kayaknya ngeri-ngeri sedap deh lewat sana ya

    Nenek christina hebaaaaat. Selalu salut pada mereka yang masih aktif diumur setua itu. Semoga saya bisa begitu juga

    Btw itu semacam wifi portable ya. Keren banget sih

  9. Pantai ngunggah, kalau udah sampai parkiran gubug kayu itu memang ga ada petunjuknya sama sekali ya mas?
    dan ga direkomendasikan ke sini ketika musim hujan, aku pernah terpeleset tanahnya turun licin banget :’)

  10. Wow pantainya indah bangeeeett, pasti betah deh duduk-duduk di pantai ini.
    Btw itu nama neneknya, sama dengan nama putri sulungku hehehe 😀

  11. Habis baca disini kemaren ane berangkat ke pantai ngunggah, akses jalannya masih sama kayak diskripsi agan.
    Ccoknya klo pagi2 ke pantai ngunggahnya, pas sore susah jalan naek dari pantainya, makin gelap makin membingungkan lewat semak2nya. Pakai motor was2 jg klo ninggalin lama2,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s