Ku Pertaruhkan Nyawa untuk Menjaring Hatimu di Pantai Jogan

Pantai Jogan dan Lelaki Penjaring Hati

Pantai Jogan dan Lelaki Penjaring Hati

“Ku pertaruhkan nyawaku untuk menjaring hatimu, iya hatimu”

Menjelang siang yang  terik di Pantai Jogan. Saat itu saya sedang duduk-duduk di bawah rimbun daun pohon pandan di satu sudut pantai. Tepatnya di bebatuan cadas di sebelah timur  Air Terjun Pantai Jogan.

Merasakan debur ombak pasang dari ketinggian, memandang samudera biru, sambil sesekali melihat beberapa orang yang sedang asyik menantang adrenalin dengan rappelling menuruni tebing yang diguyur oleh air terjun.

Rappeling di Air Terjun Pantai Jogan itu sendiri saat itu kurang menarik bagi saya. Selain ketinggiannya yang memang kurang menantang, hanya puluhan meter, debit air terjun Jogan pun sedang berkurang drastis, tidak deras. Hujan yang menopang sungai kecil Jogan sudah berminggu lamanya tidak turun.

Tulisan saya lainnya tentang tempat asyik yang berdekatan dengan Pantai Jogan:

Apa yang saat itu malah membuat saya beranjak dari duduk adalah seorang pria setengah baya bertelanjang dada yang nampak menuruni tebing di sebelah air terjun. Ia nampak dengan mudahnya melompat dari satu batu ke cadas lainnya. Hantaman ombak pasang tak membuatnya nampak gentar untuk menjamah laut.

Saya diam-diam terus memotretnya. Memotret bagaimana pria setengah baya bertelanjang dada itu menebar jaring ke laut yang berombak. Ada satu hati ikan yang dari kejauhan nampak terjaring.

Lelaki bertelanjang dada ini membuat saya makin penasaran. Saya ingin melihatnya lebih dekat.

Ke bibir pantai dimana lelaki bertelanjang dada itu menjamah laut tidaklah mudah. Saya harus berjalan memutar untuk menuju ke sana, cukup jauh. Kemudian menuruni tebing cadas yang pria itu tadi lewati.

Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul Pria Telanjang Dada

Tetapi kali ini saya harus kecewa. Perjalanan tergesa-gesa siang itu sia-sia. Saya harus berpapasan dengan lelaki bertelanjang dada itu persis di ujung tebing dimana ada setapak menuju ke bibir pantai.  Saya tidak bisa melihatnya dari dekat menebar jaring.  Pria itu sudah selesai dengan jaringnya.

Berusaha sopan saya pun berbasa basi.

“Pak tadi dapat ikan berapa?” tanya saya
“Dapat. satu …” jawabnya
“Seminggu ini ombak di sini sangat besar, sulit menjaring ikan di sini” ia meneruskan dengan senyum khas yang memancarkan kearifan.

“Dari sini mau menjaring lagi Pak?” tanya saya lagi.
“Iya” jawabnya sambil mengangguk

“Boleh saya ikut, Pak. Saya ingin melihat bapak menjaring ikan?” pinta saya.
“Maaf, tempatnya sangat jauh. Jalan kaki menuju ke sana sulit. Jalannya curam?” Ia menolak permintaan saya.

“Setelah itu saya mau balik ke ladang” ia melengkapi penolakannya.

Dalam waktu kurang dari satu jam, siang itu saya harus menelan kekecewaan untuk yang kedua kalinya. Namun saya tidak boleh bersedih. Sebagai obat kecewa siang itu saya meminta sekali lagi bapak itu untuk saya foto. Untungnya pria aseli Desa Purwodadi Tepus Gunungkidul yang kemudian saya tahu namanya adalah Bapak Frank Ngatijan Tupelo mengiyakan permintaan saya. Dengan penampilannya yang khas beliau berkenan saya foto.

Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

Gagal memotret Lelaki Penjaring Hati pada siang yang terik itu bukan melulu menjadi kekecewaan saya saja. Kokoh, blogger imut Pendekar Tidar yang saya ajak berjalan tergesa-gesa menyisir sisi tebing pun tidak kalah kecewanya. Saya berusaha mengobati kekecewaanya dengan foto-foto di sini.

Kokoh di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul Kokoh

Kokoh di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul Kokoh

Di ujung tebing, jauh di belakang kokoh mungkin nampak seperti orang yang bermesraan. Saya tidak tahu apakah mereka mesra betulan atau pura-pura, yang jelas mereka adalah teman-teman saya yang sedang menunaikan ibadah #dolanbareng Komunitas Blogger Jogja.

Kokoh di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

 


 

Pantai Jogan merupakan salah satu Pantai di Gunungkidul yang dikenal menyimpan keunikan. Keunikan itu berupa air terjun yang terletak persis di bibir tebing. Air terjun itu langsung jatuh ke laut, ke bibir pantai.

Oleh masyarakat setempat, keunikan ini dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata tersendiri. Berupa wisata minat khusus berupa rappeling (disebut juga canyoning) menuruni tebing mengikuti aliran air terjun.

Memang untuk mendapatkan pengalaman terbaik rappeling air terjun Pantai Jogan di Purwodadi Tepus Gunungkidul disarankan untuk berkunjung ke sana pada puncak musim hujan. Puncak Musim Hujan jatuh kira-kira akhir bulan Desember sampai bulan Februari.

Debit Air Terjun menurun drastis pada musim kemarau. Pada akhir bulan Mei ini saja ketika saya berkunjung ke sana, debit air terjun sudah jauh berkurang.

Air Terjun Pantai Jogan biasanya sangat ramai pada hari Minggu dan Musim Liburan. Bila ingin mendapatkan pengalaman terbaik menikmati alam Pantai Jogan di Gunungkidul, saran saya ke sanalah pada hari selain Minggu dan musim liburan. Siapa tahu Anda cukup beruntung bertemu Pak Frank Ngatijan Tupelo atau lelaki penjaring ikan lainnya.

Air Terjun di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

Air Terjun di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul

 


 

Bila traveller dan para pengunjung pantai mengambil foto-foto ketika sedang rappelling Air Terjun Pantai Jogan, menggunggahnya ke sosial media untuk menebar  perhatian dan menjaring hati kekasihnya, Pak Frank Ngatijan menjaring dalam arti sebenarnya. Ia menjaring di tengah ganasnya ombak pantai selatan untuk memenangkan hati hati yang telah menunggunya di rumah.


Bila Anda tertarik untuk mengunjungi Pantai Jogan, silakan mengikuti Peta Google berikut:

Bila sudah sampai di Pantai Jogan Purwodadi Tepus Gunungkidul, mungkin Anda sekaligus ingin menikmati snorkeling di Pantai Nglambor atau menikmati hamparan pasir putih di Pantai Gesing, atau melewatkan petang di semenanjung Pantai Gesing untuk menjadi saksi matahari yang ditenggelamkan di laut selatan.

Ketiga pantai ini berdekatan dan sudah termasuk dalam satu tiket  Rp 5000,- yang dibeli sebagai retribusi pantai.

Iklan

11 thoughts on “Ku Pertaruhkan Nyawa untuk Menjaring Hatimu di Pantai Jogan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s