Malon Bakar Klaten Cupuwatu Resto, Mantapnya Kuliner Khas Jogja

Kesan pertama yang baik suatu restoran pasti akan membawa saya suatu saat kembali pada kunjungan berikutnya. Pengalaman saya  menikmati menu spesial Malon Bumbu Kuning, Teh Madu dan aneka camilan di Cupuwatu Resto pada Februari awal tahun ini bukanlah kebetulan yang akhirnya pada siang hari ini, daging lembut Malon kembali mendarat di ujung lidah saya. Bukan Malon Regular/Malon Bumbu Kuning yang saat itu saya cicipi bersama Tina saat itu, tetapi kali ini saya ingin menikmati rasa  yang berbeda, Malon Bakar Klaten. Minumnya pun kali ini saya memilih Es Teler Cupuwatu, bukan teh hangat seperti biasanya. Kali ini semoga Es Teler yang menggoda ini tidak membuat saya pilek. 🙂

Malon atau Manuk Londo bagi saya merupakan nama yang aneh untuk sebuah makanan. Apalagi ini di suatu restoran di Yogyakarta. Di acara food tasting bersama blogger yang diundang oleh Cupuwatu Resto pada siang ini rupanya saya baru mendapatkan jawabannya. Pada postingan blog saya awal tahun ini di SINI, saya menuliskan bahwa Malon merupakan makanan olahan daging burung puyuh (atau gemak) yang dimasak secara khusus sehingga dagingnya empuk tanpa mengurangi rasa unik daging unggas ini. Tidak tepat namun tidak juga benar-benar salah. Menurut Mutia Ulva – Public RelationeCupuwatu Resto, bahan baku Malon adalah unggas, tetapi bukan unggas asli Indonesia, melainkan unggas dari Eropa yang disebut French Quail. Kalau saya terjemahkan secara bebas ini juga berarti: Puyuh Prancis. Kemudian disebut Manuk Londo atau Malon untuk memudahkan penyebutannya saja, agar kejawa-jawaan. Manuk Londo adalah kata dalam Bahasa Jawa. Manuk berarti Burung/Unggas, Londo berarti: Bule.

Sebagai menu andalan di Cupuwatu Resto, Malon saat ini telah dikembangkan menjadi beberapa varian. Ada Malon Bumbu Kuning (Reguler) yang merupakan Malon pertama saya, Malon BBQ, Malon Ala Peking, Malon Bakar Klaten, Mie Malon, Gudeg Malon, Nasi Kebuli Malon dan Sego Wiwit. Lidah dan perut saya rasanya ingin mencicipi semuanya. Nafsu selalu begitu. 😀

IMG_0053

Kali ini saya memilih: Malon Bakar Klaten. Sebagai penggemar kuliner tradisional Ayam Bakar Klaten, tentu saya penasaran seperti apa sambal pedas, lalapan dan bumbu ala Klaten dipadu dengan daging burung bule.

Malon Bakar Klaten disajikan berupa: satu ekor French Quail utuh tanpa jerohan, satu cawan sambal cabe pedas dan lalapan yang terdiri dari: daun selada, daun kemangi, irisan mentimun, dan irisan buah tomat merah. Malon Ayam Bakar ini juga disajikan dengan nasi putih yang pulen. Lihat foto saya di atas.

Daging Malon Bakar Klaten ini empuk. Kesan ini saya dapatkan ketika saya menusukkan garpu ke bagian dada malon, kemudian menggigitnya. Daging French Quail ini nyaman dikunyah. Rasa dan aroma santan terasa dilidah namun tidak cukup menyengat, tidak berlebihan. Malon juga tidak berbau menyengat seperti halnya ayam yang dibakar ala Klaten. Malon Bakar Klaten akan mengeluarkan nikmat yang sebenarnya ketika saya mencocolnya dengan sambal pedas, baru  kemudian disusul dengan nasi sambil sesekali mulut ini mengunyah lalapan yang renyah. Enaaak. Orang bilang makanan itu hanya enak ketika satu kali dua kali mendarat di lidah. Siang ini entah karena saya sedang sangat lapar, rasa enak yang khas ini masih terasa ketika di piring saja tinggal tulang belulang yang berserak dan sambal yang belum habis. Kalau sudah begini rasanya saya ingin nambah dengan menu Malon yang lain. 😀

IMG_0033.resized

 

Untuk siang ini minuman dingin cocok dipadankan dengan menu utama Malon Bakar Klaten. Minuman dingin pilihan saya adalah Es Teler special Cupuwatu. Sebagai bukan penggemar Es, awalnya saya tidak punya ide minuman apa yang akan saya pilih. Pilihan jatuh pada es teler ini adalah karena namanya saja.

Dari rasanya, Es Teler ini mempunyai rasa susu dan durian yang cukup kuat sekaligus segar. Buah cerry, kelapa muda, alpukat dan nata de coco membuat rasa es ini makin kaya rasa. Tenggorokan saya yang sensitif terhadap es, susu dan minuman dingin pun saya rasa tidak akan menyesal bertaruh untuk menikmati Es Teler spesial Cupuwatu ini. Ini jangan diartikan nekad ya? hihi.

Menikmati dua varian Malon dalam dua kesempatan yang berbeda membuat saya ingin datang untuk yang ketiga kalinya. Untuk kunjungan saya menikmati Kuliner Jogja berikutnya saya ingin menikmati Malon BBQ. Saya tidak akan datang sendirian melainkan mengajak kolega dan teman-teman saya ke sana untuk sekedar hangout ataupun short meeting ditemani dengan Nasi Kebuli Malon atau Sego Wiwit Malon yang nampak enak dinikmati secara “kembulan” di dalam ruangan dengan interior yang didesain klasik dengan semua kekahasan jogja, ruangan yang lega dan suhu yang sejuk.

FullSizeRender

IMG_0060

 

***

Cupuwatu Resto - Yogyakarta

Cupuwatu Resto – Yogyakarta

Cupuwatu Resto merupakan restoran di Yogyakarta dengan menu kuliner khas di Yogyakarta. Cupuwatu Resto beralamat di Komplek Grand Cupuwatu, Jl. Solo Km 11,8, Yogyakarta. Bila Anda sedang berwisata ke kota ini dan mencari kuliner khas di Jogja, Restoran di Yogyakarta ini bisa dijangkau dengan hitungan menit naik taxi dari Adi Sucipto Airport atau dari seputar Kota Jogja, Trans Jogja bisa dipilih sebagai alternatif transportasi yang murah.

Posting saya tentang Manuk Londo dan Cupuwatu Resto sebelumnya bisa dibaca di:

 

 

Power Song untuk Jogging

Entah angin apa yang mendorong saya pada sore hari tadi hingga saya mencuci sepatu lari yang sudah saya biarkan bulukan selama berbulan-bulan. Dorongan angin apa pun itu, yang jelas bagi saya ini adalah niatan yang lebih nyata untuk besok sore kembali menunaikan ritual jogging/latihan lagi, meneruskan latihan yang sudah saya mulai sejak dua pekan lalu. Semoga besok sore sepatu dan kaos kaki yang tadi saya cuci sudah kering dengan baik dan bisa digunakan dengan nyaman.

Melengkapi niatan jogging dan selakigus mempersiapkan jogging saya besok, kali ini saya ingin menuliskan sound track jogging yang kali ini saya perbaruhi dengan lagu-lagu yang terbilang baru, lagu-lagunya anak muda jaman sekarang, hihi. Oh iya sound track kalau menurut istilah aplikasi Nike Running+ yang saya gunakan disebut sebagai Power Song.

Nah, ini nih beberapa lagu yang saya coba gunakan untuk teman jogging:

  • Wrecking Ball – Miley Cyrus
  • Pompeii – E.S Posthumus
  • Burn – Ellie Goulding
  • Wake Me Up – Avicii
  • Counting Stars – One Republic
  • True Love – Pink ft Lily Allen
  • Royal – Lorde
  • Stay the Night – Zedd
  • Roar – Katy Perry
  • Story of My Life – One Direction
  • Let it Go (from Frozen) – Demi Lovato

Lagu-lagu di daftar yang saya buat ini sengaja tidak saya beri nomer. Urutannya bebas-besar saja. Malah kalau saya saya buat suffle acak saja.

Bila kamu seperti saya, suka jogging lagu-lagu apa saja yang bisa membuatmu bersemangat dan bertenaga? Bagikan dong. 🙂

Lagi-Lagi Batuk dan Pilek

Rasanya dalam beberapa tahun terakhir, kalau tidak salah ingat, pilek dan batuk saya kali ini adalah yang paling parah. Hari Minggu lalu, berarti seminggu yang lalu karena sekarang sudah hari Minggu lagi, saya mulai merasakan gejalanya. Tidak mau flu berkepanjangan, saya pun membeli obat flu. Rasanya obat flu yang saya beli ngefek juga. Senin saya beraktifitas seperti sedia kala.

Senin siang hari, saya pulang dari beraktifitas, rupanya jalan yang saya lalui menuju rumah sedang direnovasi. Aspal yang rusak-rusak dikeruk dengan alat-alat berat. Mau tidak mau saya terekspose dengan beraneka debu dan asap-asap mesin. Sial saya tidak menyisakan masker di dalam tas. Kali ini stamina saya yang memang kurang prima mau tidak mau harus berhadapan dengan situasi kurang baik.

Sesampai dirumah pun bersin-bersin menjadi-jadi, suhu badan naik dan hidung bocor, meler, pilek. Saya merasa daya tahan tubuh saya sudah kacau dan KO. Petang harinya, saya pun segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang lebih tepat.

Hari Selasa kebetulan tanggal merah. Kalau tidak salah libur Isra’ Mi’raj? Ini saya manfaatkan benar untuk istirahat agar hari berikutnya saya sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Meski kenyataannya karena hidung masih terus bocor dan suhu tubuh belum stabil, saya memilih untuk istirahat di rumah dulu. Begitu pun pada tanggal merah pada Hari Kamis. Sampai hari Jum’at pun saya memilih untuk beribadah Jum’at di masjid di lingkungan dimana saya tinggal. Alias saya masih istirahat di rumah belum beraktifitas.

Hari Sabtu, alhamdulillah, saya bisa memulai beraktifitas. Sebenarnya saya belum sehat benar. Tapi sudah lumayan. Kebocoran hidung relatif terkendali dan batuk sudah berjeda.

Sabtu siang saya langsung pulang dan beristirahat di rumah. Obat dari dokter rupanya habis pada hari Sabtu kemarin. Ingin memastikan perkembangan kesehatan saya, dan karena saya sudah bosan sakit, Sabtu petang pun saya kembali ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan menjelaskan ke ibu-ibu dokter yang cantik bahwa saya sudah bosan sakit. Saya ingin lekas sembuh.

Minggu siang ini saya merasa kesehatan saya sudah berangsur membaik. Belum sembuh. Masih batuk-batuk dan masih pilek. Demamnya yang saya rasa sudah tidak ada.

Menulis posting ini saya rasa sebagai cara, atau sebagai awal untuk mengumpulkan semangat saya yang rontok didera batuk dan pilek. Lagi pula sudah lama saya tidak posting di sini. Ingus dan pilek ternyata penyumbat yang bagus bagi saluran otak kreatif saya. 😦 Sekaligus ingus dan dahak ini sebagai pengingat agar saya sabar dan tidak sembrono dalam menjaga kesehatan di tengah-tengah pergantian musim dan lingkungan yang sedang kurang bersahabat terhadap kesehatan.

Semoga Lekas Sembuh bagi diri saya sendiri. 🙂

 

Pengalaman Adalah Guru Privat Termahal

Jadi ceritanya begini:

Kemarin petang tahu cicak tiba-tiba jatuh di layar laptop yang sedang saya gunakan. Bermaksud membersikan layar Laptop, saya membasahi tisu dengan air, kemudian menyeka layar laptop. Saya mengambil tisu lagi untuk menyerap sisa-sisa air yang saya gunakan untuk membersihkan tahu cicak tadi. Beberapa kali usap pun layar laptop terlihat kering dan bersih.

Merasa layarnya sudah bersih dan kering, saya pun menyalakan laptop. Setelah layar laptop menyala, secara mengejutkan saya melihat tampilan layar laptop belang. Belang yang sangat menggangu. Saya langsung curiga ini gara-gara air yang saya gunakan untuk bersih-bersih tadi masuk ke dalam lapisan layar laptop.

Saya pun segera mematikan, melepas batere, berpikir sejenak kemudian memutuskan untuk membuka layar laptop dan membersihkan bagian dalam layarnya. Membongkar layar Laptop Lenovo G480 pun mudah dan cepat saya kerjakan dalam beberapa menit. Bagaimana saya bisa adalah karena saya menonton video tutorial di Youtube.

Lapisan demi lapisan layar laptop saya buka pun membenarkan dugaan saya. Air rupanya merembes masuk dan terserap naik ke bagian atas lapisan layar. Saya pun membuka satu demi satu lapisan layar itu dan membersihkan dengan tisu. Merasa airnya sudah cukup bersih, saya pun memasang kembali layar dan mencoba menghidupkan laptop.

Tadaa, Laptop pun menyala. Namun dengan belang yang masih tersisa. Sudah berkurang banyak. Saya pun dengan percaya diri membongkar layar laptop bermaksud membersihkan sisa-sisa air yang masih tertinggal.

Saya pun membongkar tiga lapisan plastik di belakang LCD yang ternyata masih ada airnya. Kali ini saya bersihkan sampai benar-benar bersih. Saya pun tergesa-gesa memasang kembali layar LCD dengan cepat-cepat memasang lapisan plastik, LCD itu sendiri, kabel-kabel dan baut sampai semua terpasang. Kemudian Laptop saya hidupkan dengan penuh semangat.

Namun kali ini yang terjadi terlihat retakan-retakan di layar laptop yang menyala dengan penuh cacat. Rupanya ketika tadi memasang kembali bongkaran layar LCD saya kurang hati-hati sampai merusakan layar LCD itu sendiri.

Setelah tahu akibat dari kecerobohan saya tadi, saya jadi mengelus dada. Andai saya cukup bersabar dan membiarkan sampai Layar Laptop itu kering sendiri, tentu saya tidak akan mengalami kerusakan separah ini. Andai tadi saya istirahat dulu dan besok saja membersihkannya mungkin LCD pecah tidak ajan terjadi. Andai dan Andai yang lain …

Ya, semuanya sudah terjadi. Pengalaman memang guru privat yang paling mahal. Untuk kali ini saya harus membayar guru privat yang bernama pengalaman membongkar layar notebook seharga mungkin hampir 800 ribu untuk membeli Layar LCD Laptop. Mudah-mudahan dapat harga lebih murah dan cepat dapat rejeki untuk membayar pak bu guru privat.

Malon Spesial di Cupuwatu Resto Yogyakarta

Cupuwatu, bukan Uluwatu, merupakan salah satu restoran termasyur di Yogya. Resto yang terletak di jalan Solo Km 11, Yogyakarta. Tidak jauh dari Adisucipto Airport. Jarak dari bandara Adisucipto bisa ditempuh dengan kira-kira Rp 20.000,- naik taxi. Saya bisa bilang begitu karena kebetulan begitu selesai makan siang di sana, saya langsung menuju ke bandara dengan menggunakan taxi.

Menu Special di Cupuwatu Resto adalah Malon atau Manuk Londo. Nama menu ini kedengaran aneh, sekaligus menarik. Saking menariknya,  saya penasaran ingin menikmati Malon sejak pertengahan puasa Ramadhan tahun lalu. Saat itu oleh seorang kawan, saya diundang buka bersama di sana. Namun ada-ada saja yang membatalkan niat saya waktu itu. Sampai niatan untuk menikmati Malon itu terpenuhi kemarin ketika kebetulan taxi yang membawa saya dari Gunungkidul mampir di POM bensin di ruas Jalan Solo, tidak jauh dari Resto Cupuwatu. Kebetulan yang dilengkapi kebetulan yang lain, kebetulan saya juga baru saja mendapatkan voucher diskon untuk Cupuwatu Resto. Kata orang Jawa ini ‘Tumbu oleh Tutup’, kebetulan yang lengkap.
image

Karena ini pertama kali saya akan menggunakan voucher diskon, saya pun berkonsultasi terlebih dulu dengan kasir di sana sebelum makan. Kasir Cupuwatu yang cantik-cantik itu helpful semua. Setelah paham aturan main menggunakan voucher diskon, saya pun siang itu segera mencari meja ternyaman. Tidak begitu segera sebenarnya, karena seperti biasa, saya suka foto sana-sini apa saja obyek yang kelihatan photogenic yang terdapat di Cupuwatu.

Beberapa saat duduk, petugas resto datang mengantar buku menu. Apa yang pertama kali saya pesan tentu saja Manuk Londo special yang tersohor itu. Ada beberapa jenis Malon rupanya. Ada Malon regular, Malon Bakar, Malon Bakar Klaten dan Malon BBQ. Membingungkan memilih Malon yang paling enak. Ingin sih saya memesan semua jenis Malon, masalahnya bagaimana memakannya bila dipesan semuanya. Naluri akhirnya yang berbicara. Pilihan jatuh pada Malon Reguler.

Pesanan saya berikutnya adalah Teh Madu Spesial, Kacang Rebus, Air Mineral, Wedang Uwuh dan Sop Iga. Cukup banyak memang yang saya pesan karena memang ingin berlama-lama di resto ini.

Teh Madu dan Wedang Uwuh datang lebih dulu, kemudian disusul oleh Malon dan pesanan yang lain. Apa yang saya cicipi pertama kali tentu adalah pesanan yang tiba di meja lebih dulu.
image

Teh Madu mempunyai cita rasa khas, pahit sepat dan tidak manis. Pemanisnya terpisah. Dinikmati dengan cara digigit seperti menikmati biskuit. Teh Madu disajikan tidak panas seperti teh poci. Teh Madu di Cupuwatu disajikan dengan temperatur hangat.

Malon (Manuk Londo)

Malon (Manuk Londo)

Nah, Manuk Londo, Malon, yang membuat saya penasaran sejak lama akhirnya mendarat di ujung lidah. Malon mempunyai cita rasa yang striking, maknyus. Rasa gurih cenderung manisnya menghentak. Malon berbahan semacam burung gemak, burung yang dagingnya biasanya akan berserat dan alot, namun entah bagaimana resep Malon di Cupuwatu, daging Malon terasa empuk, lunak dan nyaman di gigi. Kenyamanan mengunyah dading Malon ini baru saya sadari setelah saya selesai makan. Saya tidak perlu tusuk gigi karena memang daging-daging tidak ada yang tertinggal di sela-sela gigi.

Menimati Malon sampai habis hampir separohnya membuat saya tertawa-tawa. Kenapa? Ternyata saya lupa dengan nasi yang sudah dari tadi tersaji di meja. Kekuatan rasa Malon membuat saya lupa kalau seharusnya Malon dinikmati dengan nasi. 😀 Tidak apa-apa sebenarnya, karena toh nanti semua makanan akan bertemu di dalam perut. Nasi yang menyertai Malon ini pulen, enak. begitu saja.

Pelayan yang ramah, menu yang enak dan maknyus, satu lagi, tempat yang cozy membuat kami betah berlama-lama di Cupuwatu. Kira-kira jam 14:00 WIB kami mengakhiri makan siang di Cupuwatu.

Harga. Saya tidak ingat harga satuan masing-masing item yang saya pesan. Seingat saya jumlah harga total makanan pesanan kami adalah Rp 109.000,-. Harga ini masih mendapat diskon 25% dari voucher yang saya gunakan. Jadi uang 100 ribuan yang saya bayarkan ke kasir masih mendapatkan kembalian.

Sebelum meninggalkan meja kasir kami bertanya dimana mencari taxi untuk menuju bandara. Bukan dijawab, tetapi salah satu kasir menelpon taxi untuk kami. Keramahan pelayanan yang lengkap pikir saya. Jadi suatu kali nanti kami pengen makan di Cupuwatu lagi. Lagi pula voucher diskon saya juga masih beberapa lembar. 🙂

image

Foto-foto yang lain bisa dilihat akun Instagram saya di: http://instagram.com/jarwadi

Klinik Kopi, Kopi Wamena, @escoret dan Asam Lambung

Pagi sampai siang sepanjang hari itu mendung. Menyempurnakan keraguan saya untuk mengikuti ajakan teman-teman saya untuk ngopi-ngopi. Namun, sudah kadung janji untuk ikut datang ngopi-ngopi di @klinikkopi dengan teman-teman, dengan @stwn, @tuanpembual, @milisdad, @yanarif dan lain-lain. Saya memastikan (melalui twitter) cuaca Jogja baik-baik saja. Jogja kondusif. Begitu jawab @yanarif singkat. Sekitar pukul 3 sore saya pelan-pelan menuruni Jogja lantai dua. (baca: Gunungkidul)

Pukul 16:30 WIB (kurang lebih) saya sudah tiba di @klinikkopi di Gejayan. Di sana sudah ada @tuanpembual, @stwn dan Fanda. Fanda adalah mahasiswi Atma Jaya yang sedang mengajukan proposal kegiatan kepada @tuanpembual (KPLI Jogja). Ngobrol-ngobrol beberapa lama, akhirnya kami tahu kalau @milisdad sudah ada di lantai 2 @klinikkopi. Kami pun segera naik ke @klinikkopi, tempat dimana @escoret sedang sibuk dengan pasien-pasiennya.

 

Beberapa saat mengamati @escoret melayani pasien-pasiennya, saya menyela. “Kopi apa yang aman untukku? Asam lambung di perutku sangat sensitif” tanya saya pada @escoret. Sebenarnya keraguan saya untuk ikut ngopi bukanlah hujan. Lelaki tidak takut hujan. :p Tetapi takut asam lambung naik. hehe

Sambil ceplas-ceplos @escoret membeberkan macam-macam karakter kopi dari Aceh sampai Wamena, jenis-jenis roasting (penggorengan) kopi dari level 1 sampai 16, cara menggiling kopi, cara menyeduh sampai cara menuang kopi ke dalam cangkir. Menuang kopi harus di pinggir, di bibir, cangkir. Kenapa? Agar warna kopi tidak pecah.

@escoret merekomendasikan kepada saya kopi wamena dengan level roasting 16. Makin tinggi level roasting berarti makin lama biji kopi digoreng. Kopi dengan level roasting terendah berkadar asam tinggi. Kopi yang aman bagi penderita asam lambung adalah dengan roasting level 16, yang paling hitam, yang paling lama digoreng.

Menyesap kopi Wamena roasting level 16 rasanya pahit. Memang semua kopi di @klinikkopi tanpa pemanis. Menurut @escoret, pemanis merusak rasa kopi, selain akan menambah kadar asam kopi dan memperberat kerja pankreas karena umumnya orang-orang sekarang telah mengkonsumsi gula dari berbagai sumber makanan secara berlebih.

Sambil menyeduh kopi untuk pasien lain, @escoret memberi tahu, kopi sebaiknya diminum ketika panas. Rasa kopi akan berubah seiring turunnya suhu. Umumnya kopi akan makin asam ketika sudah dingin.

Indonesia merupakan penghasil kopi terbaik di dunia, bodohnya, orang-orang Indonesia sehari-hari menikmati kopi berkualitas rendah atau kopi yang melewati proses yang kurang baik. @escoret membuka satu saset kopi Nescafe classic, menyeduhnya dan menyodorkannya kepada saya. Coba bandingkan kopi Wamena seduhanku dengan Nescafe classic ini. Dari aromanya saja sudah ketahuan mana kopi bagus, mana bukan. Benar saja, menurut hidung saya, aroma Nescafe seperti ada kulit kayunya (kelontong kayu basah) Lidah saya yang lama tidak ngopi pun seketika bisa membedakannya, heuheu.

Ini adalah Kopi Wamena seduhan @escoret Senin tempo hari, hehe. Rasa dan aromanya mantab. Mulai menikmati kopi yang benar-benar kualitas Indonesia. Tapi saya tidak boleh kalap. Saya bersabar untuk menyisakan kopi Wamena itu, memastikan bahwa perut saya benar-benar tidak ngambek.

Sampai saya menulis posting ini. Hampir seminggu kemudian, saya tidak merasakan gejala perut saya ngambek karena kopi Wamena seduhan @escoret. Kalau tahu perut saya berjodoh sama kopi-kopi seduhan @escoret, bisa-bisa saya tidak jadi insyaf dari segala kekhilafan ngopi. 😀

Beberapa saat berada di @klinikkopi milik @escoret ini, saya membaca konsep yang bagus. Pepeng atau beken di twitter dengan nama @escoret membawa konsep berbagi pengalaman menikmati kopi indonesia yang bagus dan berkualitas. Secara “passion” Pepeng memang adalah ngopi, berbagi kepedulian sosial seperti berbagi buku untuk anak-anak Papua, solidaritas untuk korban erupsi Gunung Sinabung, dan lain-lain. @klinikkopi didesain cozy, di tempat yang sejuk dan tenang, tempat yang cocok untuk betah lama-lama belajar, berbagi, ngobrol-ngobrol, tentu saja sambilan ngopi.

Jadi kapan ngopi-ngopi ke @klinikkopi lagi. Lah sekarang malah menantang. … 😀

Gula Aren, Nikmati Manisnya Dapatkan Sehatnya

Wedang Sereh di Raminten House Yogyakarta

Wedang Sereh di Raminten House Resto Yogyakarta

Membaca-baca daftar menu makanan dan minuman di Raminten House Resto di Yogyakarta membuat saya  bingung sendiri. Semua makanan di daftar menu itu pasti enak yang khas. Memilih makanan yang paling enak dari banyak sekali makanan enak itu sulit. Apalagi memilih minuman yang jenisnya banyak sekali itu. Agak berbeda memang, memilih minuman dengan memilih makanan, dalam memilih minuman saya mengutamakan memilih jenis minuman yang aman untuk tenggorokan. Karena entah kenapa banyak jenis minuman berasa manis yang mudah membuat saya menderita radang tenggorokan (sore throat).

Saat itu saya memilih jenis minuman: Wedang Sereh. Memang bukan pilihan yang berdasar, melainkan pilihan naluriah saja. hehe. Sementara Mas Karmin Winata, seleb blogger dari Jakarta yang saya temani di Raminten, memesan jenis minuman: Jamu Godogan.

Tidak terlalu lama  pesanan Wedang Sereh saya datang. Namanya Wedang pasti rasanya manis, dan hangat. Rasa khawatir radang tenggorokan kambuh pasti ada. Tapi  saya segera menyeruput Wedang pesanan saya ini. Rasa manisnya khas. Tidak terasa lekat di lidah maupun di rongga mulut. Begitu pun aroma serehnya, membuat penasaran.

Ketika pelayan datang lagi mengantarkan Jamu Godogan dan pesanan makanan kami, saya pun bertanya kepada pelayan itu. Apa bahan-bahan untuk membuat Wedang Sereh yang khas ini. Wedang Sereh di Raminten House berbahan Batang Sereh saja. Pemanisnya adalah Gula Aren saja. Tanpa pemanis lain. Begitu jawab mas (atau mbak?) pelayan Raminten yang terkenal Semua Luar Biasa.

Siang sampai sore itu saya memang menikmati semua makanan dan minuman yang saya pesan di Raminten, tetapi kekhawatiran akan radang tenggorokan setelah meminum minuman manis menyelimuti sampai esok harinya. Baca lebih lanjut