Klinik Kopi, Kopi Wamena, @escoret dan Asam Lambung

Pagi sampai siang sepanjang hari itu mendung. Menyempurnakan keraguan saya untuk mengikuti ajakan teman-teman saya untuk ngopi-ngopi. Namun, sudah kadung janji untuk ikut datang ngopi-ngopi di @klinikkopi dengan teman-teman, dengan @stwn, @tuanpembual, @milisdad, @yanarif dan lain-lain. Saya memastikan (melalui twitter) cuaca Jogja baik-baik saja. Jogja kondusif. Begitu jawab @yanarif singkat. Sekitar pukul 3 sore saya pelan-pelan menuruni Jogja lantai dua. (baca: Gunungkidul)

Pukul 16:30 WIB (kurang lebih) saya sudah tiba di @klinikkopi di Gejayan. Di sana sudah ada @tuanpembual, @stwn dan Fanda. Fanda adalah mahasiswi Atma Jaya yang sedang mengajukan proposal kegiatan kepada @tuanpembual (KPLI Jogja). Ngobrol-ngobrol beberapa lama, akhirnya kami tahu kalau @milisdad sudah ada di lantai 2 @klinikkopi. Kami pun segera naik ke @klinikkopi, tempat dimana @escoret sedang sibuk dengan pasien-pasiennya.

 

Beberapa saat mengamati @escoret melayani pasien-pasiennya, saya menyela. “Kopi apa yang aman untukku? Asam lambung di perutku sangat sensitif” tanya saya pada @escoret. Sebenarnya keraguan saya untuk ikut ngopi bukanlah hujan. Lelaki tidak takut hujan. :p Tetapi takutΒ asam lambung naik. hehe

Sambil ceplas-ceplos @escoret membeberkan macam-macam karakter kopi dari Aceh sampai Wamena, jenis-jenis roasting (penggorengan) kopi dari level 1 sampai 16, cara menggiling kopi, cara menyeduh sampai cara menuang kopi ke dalam cangkir. Menuang kopi harus di pinggir, di bibir, cangkir. Kenapa? Agar warna kopi tidak pecah.

@escoret merekomendasikan kepada saya kopi wamena dengan level roasting 16. Makin tinggi level roasting berarti makin lama biji kopi digoreng. Kopi dengan level roasting terendah berkadar asam tinggi. Kopi yang aman bagi penderita asam lambung adalah dengan roasting level 16, yang paling hitam, yang paling lama digoreng.

Menyesap kopi Wamena roasting level 16 rasanya pahit. Memang semua kopi di @klinikkopi tanpa pemanis. Menurut @escoret, pemanis merusak rasa kopi, selain akan menambah kadar asam kopi dan memperberat kerja pankreas karena umumnya orang-orang sekarang telah mengkonsumsi gula dari berbagai sumber makanan secara berlebih.

Sambil menyeduh kopi untuk pasien lain, @escoret memberi tahu, kopi sebaiknya diminum ketika panas. Rasa kopi akan berubah seiring turunnya suhu. Umumnya kopi akan makin asam ketika sudah dingin.

Indonesia merupakan penghasil kopi terbaik di dunia, bodohnya, orang-orang Indonesia sehari-hari menikmati kopi berkualitas rendah atau kopi yang melewati proses yang kurang baik. @escoret membuka satu saset kopi Nescafe classic, menyeduhnya dan menyodorkannya kepada saya. Coba bandingkan kopi Wamena seduhanku dengan Nescafe classic ini. Dari aromanya saja sudah ketahuan mana kopi bagus, mana bukan. Benar saja, menurut hidung saya, aroma Nescafe seperti ada kulit kayunya (kelontong kayu basah) Lidah saya yang lama tidak ngopi pun seketika bisa membedakannya, heuheu.

Ini adalah Kopi Wamena seduhan @escoret Senin tempo hari, hehe. Rasa dan aromanya mantab. Mulai menikmati kopi yang benar-benar kualitas Indonesia. Tapi saya tidak boleh kalap. Saya bersabar untuk menyisakan kopi Wamena itu, memastikan bahwa perut saya benar-benar tidak ngambek.

Sampai saya menulis posting ini. Hampir seminggu kemudian, saya tidak merasakan gejala perut saya ngambek karena kopi Wamena seduhan @escoret. Kalau tahu perut saya berjodoh sama kopi-kopi seduhan @escoret, bisa-bisa saya tidak jadi insyaf dari segala kekhilafan ngopi. πŸ˜€

Beberapa saat berada di @klinikkopi milik @escoret ini, saya membaca konsep yang bagus. Pepeng atau beken di twitter dengan nama @escoret membawa konsep berbagi pengalaman menikmati kopi indonesia yang bagus dan berkualitas. Secara “passion” Pepeng memang adalah ngopi, berbagi kepedulian sosial seperti berbagi buku untuk anak-anak Papua, solidaritas untuk korban erupsi Gunung Sinabung, dan lain-lain. @klinikkopi didesain cozy, di tempat yang sejuk dan tenang, tempat yang cocok untuk betah lama-lama belajar, berbagi, ngobrol-ngobrol, tentu saja sambilan ngopi.

Jadi kapan ngopi-ngopi ke @klinikkopi lagi. Lah sekarang malah menantang. … πŸ˜€

Iklan

10 thoughts on “Klinik Kopi, Kopi Wamena, @escoret dan Asam Lambung

  1. kopi oh kopi.
    cause life is too short to drink bad coffee
    saya jg ud lama insyaf dr kopi sachet.
    dan masih bercita2 punya coffee grinder sendiri
    mungkin ad yg mau nyumbang?

  2. Oh, klinik kopi-nya Mas Pepeng. Dulu saya pernah ke sana, pas klinik kopi baru buka tiga hari. Tempatnya memang asyik banget… Kalau saya penggemar kopi, mungkin saya bakalan sering main ke sana. Tapi saya lebih suka air putih daripada kopi, hehe…. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s