Internet Sehat Adalah …

… adalah internet yang di dalamnya tidak terdapat kandungan bermuatan sara, perjudian, materi pornografi, terorisme, akses terhadap peredaran narkotika dan hal-hal lain yang bertentangan dengan norma, etika dan hukum positif yang berlaku di suatu masyarakat? Setuju?

Defini yang saya coba buat dan tulis pada paragraf di atas menurut saya sendiri terasa mengawang-awang, tidak jelas batas-batasnya bahkan seperti apa internet sehat dengan “internet sakit” bisa menjadi sangat subyektif. Akan selalu menimbulkan kontroversi seperti yang terjadi beberapa minggu belakangan ini pada isu pemblokiran beberapa situs web yang dianggap radikal oleh pemerintah.

Sebenarnya, saya sendiri tidak terlalu memusingkan isu internet sehat, internet tidak sehat dan internet sakit. Karena seperti pada defini yang saya coba buat saja hasilnya sudah pusing-pusing. Sampai kemarin di Twitter saya menemukan twit berikut:

Menurut saya defini yang saya kutip dari twitter @ifahmi ini menarik. Suatu pemahaman dalam perspektif yang lebih luas, dari sisi yang berbeda.

Internet sehat dilihat sebagai bagaimana internet bisa meningkatkan kesehatan pribadi, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan taraf hidup manusia pada umumnya. 😉 Bisa kah?

Mungkin diperlukan sebuah riset apakah pengguna aktif internet (yang sudah aktif menggunakan internet lebih dari 5 tahun) lebih tercerahkan untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi junk food, tercerahkan untuk tidak mengkonsumsi apalagi memproduksi makanan yang mengandung formalin, borak dan zat kimia berbahaya lainnya.

@ifahmi menyebut ” … rajin ngegym, sepedaan dan lari. Beberapa tahun terakhir di kota-kota besar di Indonesia bermunculan komunitas-komunitas lari. Olah raga lari di Indonesia dipopulerkan oleh Indorunners. Saya kira popularitas olah raga lari di masyarakat perkotaan saat ini berkait erat dengan internet.

Contoh lain aplikasi Internet dibidang kesehatan adalah Google Dengue Trend, dimana Google menggunakan data dari search engine miliknya untuk memprediksi wabah demam berdarah di Indonesia. Inisiatif yang dilakukan Google ini tak ayal menginpirasi banyak pihak untuk menggunakan big data dalam mengembangkan aplikasi-aplikasi kesehatan masyarakat. Dalam bentuk yang lebih praktis mungkin kita telah mendengar/mengenal aplikasi Google Fit, Apple Health, Apple Research Kit dan sejenisnya.

***

Jadi apa definisi Anda mengenai Internet Sehat?

Iklan

Mendengarkan Radio (streaming)

Untuk menikmati lagu-lagu saya mengandalkan stasiun favorit di Radio FM. Itu dulu. Lebih dulu lagi saya menguping lagu-lagu di pesawat radio AM/MW. Ini jadul sekali hihi.

Sampai kepopuleran mp3 dan mudahnya mp3 diputar dimana-mana membuat radio pelan-pelan terlupakan. Makanya saya sekarang menulis lagi tentang radio. Karena beberapa waktu terakhir saya mendengarkan radio lagi. Bedanya sekarang saya mendengarkan radio streaming di internet.

Kenapa saya mendengarkan radio lagi. Jawabnya: Karena saya males membuat playlist selain karena koleksi mp3 di komputer saya tidak terlalu bertambah. Bosan kalau itu-itu saja. Selebihnya urusan playlist biar diatur oleh operator radio saja. Kalau saya merasa tidak cocok dengan playlist suatu radio akan cukup mudah untuk berpindah channel. Pilihannya pun banyak. Hingga tidak mungkin untuk mencoba semua satu-satu.

Kenapa saya memilih radio streaming, internet streaming daripada radio FM. Iya sih. Padahal radio streaming itu menghabiskan bandwidth dan kuota internet.

Radio streaming tidak “kresek-kresek” seperti radio analog/FM bila sinyalnya lemah atau terkena interferensi. Ini tidak terjadi pada internet streaming. Bila terjadi gangguan koneksi internet, maka siaran radio streaming akan patah-patah atau tidak terdengar sama sekali, hehehe. Tetapi saat ini kualitas koneksi internet saya rasa makin bagus dan musik yang mengalun dari internet streaming berformat mp3 ber-bit rate 128 kbps atau aac ber-bit rate 64 kbps terdengar memang lebih enak didengarkan dibandingkan Radio FM analog.

Baiklah saat ini saya sedang dengerin lagu-lagu slow di sini. 🙂

 

Gosip-Gosip Pilkades

Tahun 2014 masih 2 tahun lagi. Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) atau  Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes) di desa dimana saya tinggal masih cukup lama. Namun saya tidak tahu ada fenomena apa ketika secara tidak sengaja  mulai terdegar di gardu ronda, di tempat-tempat nongkrong di perempatan-perempatan desa di malam hari dan di beberapa tempat lain ada beberapa orang sudah membicarakan hal ini. Masih sebatas ngobrol-ngobrol santai yang terlalu dini sebenarnya untuk dikatakan sesuatu yang serius.

Dan bisa jadi juga bukan hal serius yang perlu diseriusi. Bisa juga hanya angin lalu yang menghalau kebosanan akan isu-isu nasional yang saban hari disuapkan oleh televisi dan media. Bisa pula sebaliknya.

Hehe, saya malah ngomong apa sih di sini. Sebagai bukan seorang yang punya kompetensi untuk menganalisis peristiwa-peristiwa sosial, ada beberapa hal yang mungkin berhubungan: Pilkada Jakarta yang menarik jutaan bola mata dari sepenjuru negeri (1), Pilkades yang baru saja diselenggarakan di desa sebelah (2), Pilurdes yang akan diselenggarakan di beberapa desa tetangga (3),  Kepala Desa incumbent yang sudah dianggap terlalu lama, dua kali masa jabatan (4), Masyarakat yang menginginkan perubahan (5)…. apa lagi (6) hehehe

Seumur hidup, saya sudah menyaksikan 2 kali Pemilihan Kepala Desa di desa dimana saya tinggal. Pada tahun 1997 ketika saya belum mempunyai hak pilih dan pada tahun 2002 yang mana Pilkades saat itu dimenangi oleh kepala desa incumbent. Dan dua tahun lagi mudah-mudahan saya bisa menyaksikan peristiwa yang ketiga.

Coba kita lihat apa yang berbeda dengan Pilkades pada era internet sudah menjadi penduduk tetap di desa dibanding pilkades sebelumnya. 😀

Internet, Kebaikan, Keberhasilan

Kalau ada sesuatu yang dibuktikan oleh internet, itu adalah bahwa sekedar kebaikan bisa menjadi keberhasilan. Gerakan open-source, terbukanya perusahaan pada media sosial, dan terkuaknya hal yang dulunya sangat terbatas pada kalangan tertentu (misalnya, ilmu pengetahuan); semuanya menunjukkan kalau sekedar kepedulian antar manusia yang tak kenal harga dan lelah bisa menang, tanpa melibatkan sepeserpun uang. Wikipedia masih gratis hingga saat ini. YouTube masih penuh dengan hiburan amatir dan informasi sederhana. WordPress semakin berkembang setiap hari.

Di sisi lain, mungkin saya tahu akar masalah ini. Ada kebiasaan dari orang “bisnis” bahwa keberhasilan ditentukan oleh uang. Ini kontras dengan visi orang-orang hebat di internet, di mana keberhasilan ditentukan oleh perubahan yang mereka wujudkan, apakah itu menyebarkan keadilan, informasi, kebaikan atau keterbukaan.

Indonesia, sebagai negara berkembang, ikut hanyut di pandangan “sukses = kaya”. Kita masih kesulitan mendukung organisasi non-profit, masih sulit membiarkan anak kita mempelajari bidang yang tidak jelas pencahariannya, dan masih sulit mendukung program yang nggak jelas “unsur kebanggaannya”.

Kalau ada yang harus diperbaiki… itu.

Saya lihat ini pun tampak di internet. Blog-blog dengan informasi berguna memenuhi website mereka dengan iklan. Orang-orang berbondong-bondong membuat website “portal” atau blog “kutipan”, mengikuti petunjuk di buku “cara kaya lewat internet” di gramedia. Begitu sedikit hal yang tercipta dari sekedar rasa kebaikan.

Merupakan komentar yang ditulis oleh Mas Rizqi Djamaluddin di salah posting Mas Ikhlasul Amal di Google+ di sini.

Dipikir-pikir benar apa kata mas Rizqi. Hal-hal semacam ini banyak luput dari perhatian banyak orang. Untung saya tidak terlewat memantau thread pada diskusi ini. Mau ikut berdiskusi atau sekedar menjadi pendengar? Silakan bergabung mereka di Google+ dan melingkari account-account mereka. 🙂

Guru Sekolah Dasar Alay di Facebook

Saya lihat beberapa waktu terakhir ini orang-orang baru di internet (di facebook) tidak hanya didominasi oleh remaja dan anak-anak muda. Para dewasa dan orang tua yang sebelumnya tidak mengenal internet pun mulai terjun bergaul di facebook. Ini menurut saya kabar bagus. Internet, dalam hal ini facebook, akan menjadi jembatan komunikasi lintas generasi. Generasi muda dan generasi orang tua.

Karena apa yang saya lihat para dewasa ini tidak hanya berteman dengan sesama dewasa. Mereka berteman pula dengan anak-anak muda. Termasuk yang menjadi perhatian saya adalah beberapa guru sekolah dasar yang mulai eksis di facebook itu juga berteman di jejaring sosial itu dengan siswa-siswi para muridnya.

Kenapa pertemanan guru dan murid di jejaring sosial ini menjadi perhatian saya? Sekaligus terlihat bagi saya sebagai kabar prihatin.

Hal ini bermula dari status-status yang ditulis oleh guru-guru itu. Bapak Ibu guru yang terhormat itu saya sayangkan karena mereka menulis status-status itu dengan ejaan alay dan pesan-pesan lebay. Apa-apaan ini seorang guru seolah lupa kalau dimanapun dan kapanpun ia berada ia tetap adalah seorang guru yang menjadi model bagi siswa-siswi mereka. Interaksi guru dengan siswa termasuk di jejaring sosial bukankah membawa dampak didikan juga.

Mungkin saya berlebihan mengharapkan guru-guru institusi pendidikan dasar ini berkemantaban hati untuk menanamkan karakter yang bagus bagi tunas negeri. Saya masih beranggapan bahwa penulisan alay merupakan penghianatan terhadap bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas karakter bangsa. 😀 Kemudian kelebayan. Lebih no comment saya terhadap lebay-lebay-an yang tidak dicontohkan pun anak-anak akan mudah menemukan dimana saja, di sinetron misalnya.

Saya tidak habis pikir pasangan suami istri yang sama-sama guru senior di sekolah dasar sayang-sayangan di facebook. Apa pula guru sekolah dasar yang mengumbar keluh kesah kesah amarah di facebook. Padahal sekali lagi, mereka berteman di jejaring facebook itu dengan siswa-siswi mereka.

Atau barangkali begini. Para guru itu kalah dulu eksis berjejaring di facebook dengan siswa-siswi mereka. Dan ketika mereka hadir di facebook, mereka meniru/mencontoh perilaku siswa-siswi mereka di facebook karena menganggap apa yang dilakukan siswa-siswi di facebook itulah yang benar. Para guru-guru sekolah dasar yang saya maksud itu mengekor. Mungkin inilah yang dimaksud orang Jawa dengan “Kebo nusu gudhel” Ini ibarat kebo yang seharusnya minum susu Anlene tetapi malah minum sufor Pediasure. Maaf menyebut merek. 😀

Jangan-jangan pengejaan alay dan penyingkatan kata semaunya seperti ini tidak hanya dilakukan oleh guru sekolah dasar ketika mereka berada di ranah jejaring sosial. Saya khawatir mereka juga menulis alay di papan tulis sekaligus mengumbar kelebayan di ruang kelas. Hewduuh

Listrik Mati, Internet Mati

Jam 10 -an siang tadi di kantor teman saya dimana saya punya sedikit kerjaan terjadi pemadaman listrik PLN selama beberapa jam. Setidaknya sampai saya meninggalkan kantor itu.

Pekerjaan dan aktifitas kantor yang jumlah karyawannya hanya sekitar 30 orang seolah-olah tidak terganggu ketika listrik PLN tidak mengalir. Karena kebanyakan karyawan bekerja dengan laptop masing-masing. Pekerjaan lancar-lancar saja.

Kecuali untuk mencetak dokumen. 😀 Semua printer di kantor itu tidak ada yang bertenaga barai. Memang ada, printer yang bertenaga baterai? Hehe

Dan tentu saja semua laptop yang dipakai bekerja di situ tidak bisa terkoneksi ke internet, tidak bisa membuka dan mengirim email, mengakses online database dan akses online yang lain, kecuali mungkin yang menggunakan modem pribadi.

Sama seperti printer yang tidak bisa digunakan mencetak selama aliran listrik dari PLN padam, Hotspot Acces Point, Switches, Modem dan semua perangkat jaringan tidak ada yang bertenaga baterai. Semua tidak bisa bekerja selama pemadaman aliran listrik. Sama ya dengan kantor-kantor kecil seperti ini yang lain.

Dari sini saya jadi kepikiran, andai untuk perangkat jaringan itu dibuatkan power supply khusus untuk mengantisipasi down jika aliran listrik PLN terhenti. Cara yang paling murah, namun belum tentu yang paling praktis mungkin adalah dengan menggunakan UPS. Saya pikir modem, switches, acces point dan perangkat jaringan sejenis tidak amat rakus daya. Mungkin 1 atau 2 UPS berdaya menengah sudah mampu menopang supply listrik perangkat jaringan selama beberapa jam.

Sebenarnya saya akan googling untuk melihat-lihat daya UPS yang berharga kurang dari satu jutaan dan berapa konsumsi daya dari acces point, switches, modem dan lain-lain sehingga saya bisa menghitung berapa jam internet yang bisa diselamatkan oleh satu UPS. Sayang cuaca buruk di rumah saya menyebabkan internet saya jatuh bangun. Saya mengetik posting ini dengan Libre Office, kemudian mengirim file ketikan ke Blackberry, baru kemudian saya mempostingnya dengan WordPress for Blackberry. 😀

Anda punya ide lain?

Posted with WordPress for BlackBerry 1.5 via Telkomsel network

Kenapa Website Terasa Menyebalkan?

Apa yang membuat seseorang lekas meninggalkan sebuah website?

Melalui account twitter UbuntuID saya menemukan sebuah info graphic menarik di sini, yang menjelaskan secara visual kenapa seseorang yang sampai kepada suatu website namun segera bergegas meninggalkan website itu. Barangkali Anda pun pernah bergegas menutup sebuah page yang baru saja Anda klik. Demikian pula saya.

Biasanya kita sampai kepada sebuah website atas rekomendasi Google atau search engine yang lain, referral link,  suatu rekomendasi, dan lain-lain. Saya sendiri lebih sering tiba di sebuah website baru berawal dari key word yang saya ketikan di Google.

Nah setibanya suatu website ini saya seringkali harus mengambil keputusan. Memutuskan untuk mendapatkan informasi yang saya cari di website itu atau berpindah ke website lain. Biasanya saya akan meneruskan mencari informasi di website itu bila kenal dengan pemilik atau pengisi konten di web. (kredibilitas)

Kemudian kenapa saya bergegas meninggalkan suatu web dimana saya baru saja tiba?

Iklan. Sejujurnya, iklan adalah parameter penting saya untuk menilai sebuah website. Website saya anggap tidak kredibel bila memuat iklan secara berlebihan, iklan-iklan yang memperberat bandwidth internet saya. Website dengan iklan-iklan mesum dan terkesan tipu-tipu pasti akan segera saya abaikan. Iklan berbau mesum bagi saya adalah indikator si owner website bukanlah seorang yang punya idealisme. 😀 Ini adalah hal ke-2 yang dimuat dalam kissmetrics.com yang malah saya nomor satukan.

Registrasi. Saya akan langsung meninggalkan sebuah web kalau hanya untuk mencari informasi yang belum tentu saya dapatkan saja sudah meminta syarat registrasi. Jangan-jangan ini identity theft site. 😦 Ini adalah hal kelima menurut kissmetrics.com

Penggunaan Audio dan Video yang berlebihan. Saya tidak mau bandwidth internet saya terbuang sia-sia untuk sesuatu yang belum jelas. Saya pernah punya pengalaman menyebalkan, ketika malam-malam khusuk sepi sendiri ada interupsi musik/suara antah barantah dari suatu web. Teriring kaget saya akan segera menekan tompol X pada web browser saya. Ini adalah hal keempat menurut kissmetrics.com

Ada 8 butir What not to do dalam mendesain sebuah website atau blog agar tidak membuat pengunjung sebal bebal dan segera angkat kaki hengkang meninggalkan yang selengkapnya bisa Anda baca sendiri di:

http://blog.kissmetrics.com/leave-a-website/?wide=1