Bahasa Indonesia, Mau Dibawa ke Mana?

Ada yang tahu, kapan bulan Bahasa Indonesia. Benar bagi yang menjawab bulan Oktober. Bulan lalu. Bagi yang tidak tahu bulan bahasa jatuh pada bulan apa, itu persis dengan saya. Saya juga tidak tahu sampai saya kemarin membaca sebuah artikel di suatu koran dinding.

Sebuah artikel berjudul “Bahasa Indonesia, Mau Dibawa Kemana?” ini berusaha mengingatkan kita semua tentang arti penting sebuah bahasa, terutama Bahasa Indonesia. Artikel yang bertujuan bagus untuk mengingatkan “Bahasa Indonesia” ini entah apakah mendapatkan perhatian dari pembaca atau tidak sehingga pesannya tersampaikan. Namun setidaknya artikel ini telah berhasil menarik perhatian saya.

Harapan saya mudah-mudahan niat baik ini mendapat sambutan lebih banyak di tengah-tengah ketidakpedulian banyak orang terhadap bahasa nasional kita. Entah diakui atau tidak kepedulian terhadap bahasa, bulan bahasa sekalipun tidak menggaung seperti pada jaman saya masih duduk di sekolah menengah dahulu. Barangkali hal itu terjadi karena semakin rumitnya persoalan hidup di negara ini sehingga permasalahan bahasa ditempatkan dalam skala prioritas yang rendah, bisa dikesampingkan dulu, karena toh tidak akan mempengaruhi apa makan siang kita nanti. 馃榾

Dan untuk artikel ini sendiri, sebagai turut peduli saya terhadap bahasa, saya sedikit mengoreksi penulisan kata “Kemana”, yang seharusnya “Ke Mana”. Penulisan judul yang benar menurut saya adalah yang saya gunakan untuk memberi judul tulisan ini. 馃檪

Tidak Perlukah Test Kelancaran Berbahasa Indonesia?

Sejak saya masih duduk di bangku SMA, saya sudah mengenal TOEFL, test kelancaran berbahasa Inggris bagi non English native speaker. Teman-teman sebaya saya saat itu berusaha bagaimana caranya agar mendapatkan skor TOEFL bagus. Untuk ukuran anak SMA pada saat itu, bisa dapat skor 400-450 saja sudah membuatnya berani menepuk dada.

Beberapa waktu kemudian selain TOEFL, kami mengenal 聽TOEIC,聽dan lain-lain. Ada banyak sekali. Saat itu di kota saya, Yogyakarta, banyak sekali lembaga kursus yang menawarkan kelas-kelas sukses mendapatkan nilai TOEFL dan TOEIC tinggi. Buku-buku sukses TOEFL juga bertebaran di kios-kios buku murah di 聽kompleks Shopping Center sampai Gramedia.

Seiring perkembangan teknologi sampai kini banyak sekali layanan untuk belajar dan uji coba test TOEFL dan TOIC secara online. CD/DVD program e-learning untuk komputer bahkan marak lebih mendahului layanan belajar dan test TOEFL/TOEIC online.

Artinya (di sekitar kita, di Indonesia ini) minat terhadap TOEFL/TOEIC tinggi. Minat untuk bagus berbahasa Inggris bagus.

Saya jadi mempunyai suatu pertanyaan, kenapa saat ini tidak ada (belum ada) semacam test standard kelancaran berbahasa Indonesia, baik untuk native maupun non native. Atau sudah ada tetapi saya belum mengetahui, hehe. Apakah karena bahasa Indonesia itu dianggap mudah sehingga semua orang menganggap kurang penting untuk mengukur kemampuan berbahasa Indonesia-nya?

Saya sendiri tidak lahir dan dibesarkan dengan bahasa Indonesia. Saya mulai belajar bahasa Indonesia ketika memasuki kelas satu Sekolah Dasar. Bahasa sehari-hari saya mulai dari ayunan sampai sekarang adalah Bahasa Jawa. Kalau tidak salah ingat, saya mulai bisa agak lancar berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia ketika 聽memasuki kelas dua Sekolah Dasar.

Saya ingat betul bagaimana perjuangan saya agar bisa berbahasa Indonesia. Kelas dua Sekolah Dasar ketika saya sudah merasa bisa berbahasa Indonesia, saya pernah harus belajar menerima kenyataan ternyata saya tidak bisa berbuat banyak ketika seorang anak tetangga dari Jakarta berbicara Bahasa Indonesia. Saya hanya bisa ‘ndomblog‘ tidak sepenuhnya paham apa yang diucapkan anak itu. Anak itu adalah Andry Prastyawan, sekarang bekerja sebagai IT support di istananya pak sby.

Belajar dari pengalaman itu, sampai sekarang saya tidak yakin dengan kelancaran berbahasa Indonesia saya. Kalau ada standardnya, saya ingin tahu Bahasa Indonesia saya ada di level mana, skor saya berapa.

Saya pikir bukan hanya kelancaran berbahasa Indonesia saja yang perlu dibuat standard dan instrumen pengujiannya, bahasa Jawa dan bahasa lain pun perlu. 馃檪

Sebenarnya, apa tidak memalukan bila kita bangga dengan skor TOEFL 600-an, tapi giliran ditanya skor kelancaran berbahasa Indonesia dan skor bahasa daerah yang digunakan sehari-hari saja tidak tahu.

Ngomong-ngomong berapa skor TOEFL Anda? 馃檪

Guru Sekolah Dasar Alay di Facebook

Saya lihat beberapa waktu terakhir ini orang-orang baru di internet (di facebook) tidak hanya didominasi oleh remaja dan anak-anak muda. Para dewasa dan orang tua yang sebelumnya tidak mengenal internet pun mulai terjun bergaul di facebook. Ini menurut saya kabar bagus. Internet, dalam hal ini facebook, akan menjadi jembatan komunikasi lintas generasi. Generasi muda dan generasi orang tua.

Karena apa yang saya lihat para dewasa ini tidak hanya berteman dengan sesama dewasa. Mereka berteman pula dengan anak-anak muda. Termasuk yang menjadi perhatian saya adalah beberapa guru sekolah dasar yang mulai eksis di facebook itu juga berteman di jejaring sosial itu dengan siswa-siswi para muridnya.

Kenapa pertemanan guru dan murid di jejaring sosial ini menjadi perhatian saya? Sekaligus terlihat bagi saya sebagai kabar prihatin.

Hal ini bermula dari status-status yang ditulis oleh guru-guru itu. Bapak Ibu guru yang terhormat itu saya sayangkan karena mereka menulis status-status itu dengan ejaan alay dan pesan-pesan lebay. Apa-apaan ini seorang guru seolah lupa kalau dimanapun dan kapanpun ia berada ia tetap adalah seorang guru yang menjadi model bagi siswa-siswi mereka. Interaksi guru dengan siswa termasuk di jejaring sosial bukankah membawa dampak didikan juga.

Mungkin saya berlebihan mengharapkan guru-guru institusi pendidikan dasar ini berkemantaban hati untuk menanamkan karakter yang bagus bagi tunas negeri. Saya masih beranggapan bahwa penulisan alay merupakan penghianatan terhadap bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas karakter bangsa. 馃榾 Kemudian kelebayan. Lebih no comment saya terhadap lebay-lebay-an yang tidak dicontohkan pun anak-anak akan mudah menemukan dimana saja, di sinetron misalnya.

Saya tidak habis pikir pasangan suami istri yang sama-sama guru senior di sekolah dasar sayang-sayangan di facebook. Apa pula guru sekolah dasar yang mengumbar keluh kesah kesah amarah di facebook. Padahal sekali lagi, mereka berteman di jejaring facebook itu dengan siswa-siswi mereka.

Atau barangkali begini. Para guru itu kalah dulu eksis berjejaring di facebook dengan siswa-siswi mereka. Dan ketika mereka hadir di facebook, mereka meniru/mencontoh perilaku siswa-siswi mereka di facebook karena menganggap apa yang dilakukan siswa-siswi di facebook itulah yang benar. Para guru-guru sekolah dasar yang saya maksud itu mengekor. Mungkin inilah yang dimaksud orang Jawa dengan “Kebo nusu gudhel” Ini ibarat kebo yang seharusnya minum susu Anlene tetapi malah minum sufor Pediasure. Maaf menyebut merek. 馃榾

Jangan-jangan pengejaan alay dan penyingkatan kata semaunya seperti ini tidak hanya dilakukan oleh guru sekolah dasar ketika mereka berada di ranah jejaring sosial. Saya khawatir mereka juga menulis alay di papan tulis sekaligus mengumbar kelebayan di ruang kelas.聽Hewduuh

Insya Allah …

Assalamu alaikum …

Alhamdulillah, sakit kepala saya semalam, yang, astagfirullah, sangat menyiksa, pada pagi ini sudah mereda. Sehingga, insya Allah, saya akan dapat beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin.

Beberapa kata yang saya pertebal pada paragraf di atas saya temukan akhir – akhir ini makin banyak dan luas digunakan dalam pemakaian sehari – hari. Kata alhamdulillah, astagfirullah, insya Allah, masa Allah, Amiin, naudzubillah dan sejenisnya yang dulu hanya digunakan oleh muslim, merupakan kata serapan dari bahasa Arab, kini lebih banyak kerap saya temui sehari – hari bahkan digunakan oleh kawan-kawan non muslim. Tentu saja kata tersebut berkembang dengan berbagai variasinya. 馃檪

Ngomong-ngomong tentang kata serapan, sebenarnya orang Indonesia termasuk orang yang suka menyerap kosa kata dari bahasa-bahasa lain meskipun dalam bahasa Indonesia sendiri terdapat padanan kata yang tepat.

Ya, tidak ada yang aneh sebenarnya dengan penyerapan kata – kata dari bahasa Arab yang saya sebutkan dalam tulisan ini. hehe. Apakah Anda termasuk orang yang suka sering menggunakan lebih banyak kata serapan dalam berbahasa Indonesia?

“Aq” Kata Baru Dalam Bahasa Indonesia

Pernah dapat SMS atau email yang didalamnya ada kata “Aq”? Saya tidak ingat persis kapan persisnya pertama kali membaca kata “Aq” dalam kalimat berbahasa Indonesia. Akhir-akhir ini saya semakin sering mendapatkan kata “Aq” dalam setiap pesan elektronik yang saya terima.

Saya tahu maksud kata “Aq” bisa dipandankan dengan kata baku “Aku” dalam bahasa Indonesia yang telah saya kenal sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Tetapi perubahan kata “Aku” menjadi “aq” bagi saya yang bukan ahli bahasa bukan sesuatu yang mudah dimengerti. Yang saya tahu beberapa tahun belakangan ini nampaknya (hampir) semua orang bisa mengerti maksud dan menerima kata “Aq”. Baca lebih lanjut

Kecele dan Sepele

Kata “kecele” menarik perhatian saya ketika diucapkan berkali kali oleh Khotib 聽pada suatu Khotbah Jum’at yang saya ikuti di Masjid Al Mutaqin dusun Karangmojo A pada beberapa hari yang lalu. Tepatnya hampir seminggu yang lalu, karena besok sudah hari jum’at lagi. Bapak Tukirman, pada khotbah yang disampaikan dalam bahasa Jawa itu, beberapa kali menggunakan kata “kecele” untuk menjelaskan akibat dari apa yang saat ini orang – orang kerjakan untuk meraih banyak hal tetapi pada akhirnya (mungkin maksudnya di akherat kelak) tidak benar – benar mendapatkan apa yang berguna dan memberi manfaat bagi mereka. Orang – orang yang kecele ini adalah orang – orang yang mencari selain apa yang ditunjukan dalam ajaran agama. Dan atau adalah mereka yang meniti jalan selain yang dituntunkan oleh Rasulullah.

Alih 聽– alih membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring karena ingin lebih mengerti 聽tentang arti kata “kecele”.聽Kata “kecele” juga merupakan bagian dari perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Yang dijelaskan demikian,聽ke路ce路le /kecel茅/聽a cak dl keadaan tidak mendapat (menemukan, memperoleh) apa yg diharapkan (diduga, dicari, dsb):聽penonton — krn setelah menunggu lama sekali, ternyata pertunjukan dibatalkan.

Sedangkan kata “sepele” dijelaskan dengan se路pe路le /sep茅l茅/聽a remeh; enteng; tidak penting:聽masalah –; banyak penduduk yg menganggap — thd KTP;聽me路nye路pe路le路kan v menganggap sepele:聽kita tidak boleh – masalah yg penting itu.

Loh kemudian apa hubungan antara kata “kecele” dan “sepele” yang saya gunakan sebagai judul posting ini? 馃檪

Ingin memerika arti kata dalam bahasa Indonesia? Silahkan klik pranala dibawah ini :

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Bahasa Indonesia dan keIndonesiAan kita

Kemarin siang, saya chating dengan teman daring (baca : on line) saya, mbak Darmala Majid, dia bercerita kalau beliau sedang di Jakarta untuk mengikuti konggres Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia. Saya untuk sejenak mengambil nafas dalam. Ada sebuah momentum yang digelar bersamaan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda. Sebuah Momentum dimana 80 tahun yang lalu, anak bangsa ini menemukan bentuknya dan terkristalisasi dalam bait bait Sumpah Pemuda.

PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Pada saat itu Pemuda Bangsa ini menyadari arti penting suatu Bahasa sehingga mereka menuangkan dalam butir sumpah ketiga. Bahasa sebagai kekuatan perekat untuk mengintegrasikan banyak ragam etnis dan suku dengan sumbang sih berupa adat, budaya dan tentu saja bahasa masing – masing. Sehingga berbahasa Indonesia adalah identik dengan menyatakan keindonesiaan diri.

Ketika perjalanan waktu sudah menginjak pada suatu tempat yang disebut sekarang, banyak orang termasuk saya yang tidak benar – benar merasakan ruh perjuangan dalam Bahasa Indonesia. Seorang saya lebih banyak menonjolkan egoisme dan berbahasa dalam arti yang sempit. Kekuatan Persatuan dan integrasi kerap kali tidak muncul sebagai nilai yang dibawa oleh sebuah Bahasa Nasional.

Hal ini dapat saya rasakan ketika saya berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dengan teman dan kerabat yang lebih berbhineka (baca : beragam). Ketika saya berbicara dengan teman – teman dari Indonesia Timur atau Indonesia Barat sekalipun, ternyata dalam bahasa yang kami pergunakan, yang konon merupakan sesama berbahasa Indonesia ternyata banyak hal yang tidak terkomunikasikan dengan benar. Muncul banyak perbedaan pemahaman dan persepsi didalam penggunaan bahasa yang konon juga merupakan Bahasa yang sama, Bahasa Indoneia.

Sebuah perenungan untuk menanyakan kembali keindonesiaan saya.

Dalam artikel inipun saya percaya banyak sekali penyimpangan secara tidak sengaja dari aturan baku berbahasa Indonesia walaupun dalam menulisnya sudah berusaha untuk berhati – hati. Pasti tulisan saya yang lain lebih buruk lagi bila dicermati dari sudut pandang pembahasaan. Hal tersebut bukan berarti saya sepenuhnya cuek dengan urusan berbahasa. Karena Bahasa itu sesuatu yang dinamis dan mengikuti jaman, maka saya lebih suka dalam menuturkan sesuatu dengan cara kekinian yang mengalir.

Untuk lebih jauh tentang sejarah Bahasa Indonesia klik disini.