Menilai Uji Kompetensi

Oleh corporate dimana biasanya saya nongkrong, saya dimintai bantuan untuk mewakili mereka memenuhi permintaan beberapa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) untuk menjadi assessor eksternal (penguji dari industri) untuk Uji Kompetensi Produktif. Uji Kompetensi Produktif itu semacam tugas akhir untuk siswa-siswi kelas 3 SMK sebagai salah satu penentu kelulusan.

Menjadi penguji yang kerjanya menilai dan membubuhkan tanda tangan dan angka-angka itu seolah pekerjaan yang mudah. Menurut saya tidak demikian. Apalagi nilai-nilai yang akan diberikan ini sedikit banyak berpengaruh terhadap masa depan seseorang. Apalagi kali ini yang akan dinilai adalah kompetensi Multimedia. Yang mana sebagian yang dinilai adalah kemampuan seni. Bukan hanya teknik mengoperasikan software multimedia.

Jadi bagian kerja assessor adalah menilai karya seni siswa-siswi SMK? Ini mirip dengan mencicipi makanan. Selera (dan preferensi)  sangat menentukan. Jadi bagaimana bisa memberikan penilaian yang obyektif. 🙂 Ini menjadi beban moral tersendiri. Baca lebih lanjut

Iklan

Meringkas Pendidikan Kita

Kapur Tulis dan Pendidikan Indonesia

Kapur Tulis dan Pendidikan Indonesia

Melihat gambar ini sekilas barangkali anda  menduga kalau saya akan menceritakan kebandelan yang saya tekuni di Sekolah Dasar SD Negeri Karangmojo II atau SMP N 1 Playen. Betapa tidak. Perintah Guru agar siswa meringkas pelajaran dari Buku. Di tulis dengan kapur pada papan tulis berwarna hitam. Dikukuhkan oleh Garuda Pancasila disaksikan oleh Presiden dan Wakil Presiden.

Tetapi, silakan lihat lebih lama. Itu BUKAN gambar Bapak Suharto dan Bapak Sudharmono. Bukan pula Bapak Suharto dan Bapak Try Sutrisno. Melainkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Budiono. Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang dipilih secara langsung oleh segenap rakyat Indonesia pada Pilpres 2009 yang lalu.

Hadeuh! Ternyata Presiden dan Wakil Presiden yang baru yang dipilih secara langsung oleh rakyat belum terasakan pada perbaikan pendidikan yang dikenyam oleh sebagian rakyat Indonesia. Mudah – mudahan siswa siswi yang masih mendapatkan tugas meringkas buku pelajaran dari guru – guru mereka hanyalah sebagian kecil putra putri Indonesia. Atau masih banyak?

Hadiah Bila Nilai Bagus

Beberapa hari yang lalu, saya mendengar dialog antara seorang teman dengan sang putra yang sedang menempuh ujian semester. Persisnya seperti apa dialog itu sekarang tidak terlalu dapat saya ingat degan baik. Tetapi poin menariknya masih nyantol.

Ayah : “Kamu belajar yang rajin, entar kalau dapat nilai 9, papa kasih hadiah”,
Anak : “Hadiahnya apa yah?”
Ayah : “Yaa, pokoknya kamu belajar yang rajin dan dapat nilai bagus”
Anak : “Ke Pantai ya yah”
Ayah : ” ngngng, ya, asal semua pelajaran loh, dan ngga boleh kurang meski koma”

Saya pun senyum – senyum seorangan, bagi seorang anak usia sekolah dasar, pantai jauh lebih indah dari pada nilai yang bagus. Atau, apa memang sekarang ini, tidak hanya anak anak saja, tetapi semua orang sudah tidak peduli akan “nilai – nilai”?

Pengumuman Jam Belajar Masyarakat sudah Lapuk

Kalau pada posting terdahulu, saya sudah belajar mengarang, maka pada posting kali ini saya akan bernostalgia. Baiklah saya mulai.

Peristiwa itu terjadi pada beberapa tahun yang silam. Mungkin 13 tahun yang lalu. Pada saat itu sebagai pemuda anggota Karang Taruna Cahaya Timur, dengan teman-teman pemuda pemudi yang lain sedang bekerja bakti membuat fasilitas umum. Apa yang ditugaskan kepada Karang Taruna oleh Bapak Kepala Dusun Karangmojo b, Bapak Adiwono, adalah membuat papan-papan penunjuk arah dan papan-papan pengumuman.

Salah satu papan pengumuman yang kami buat adalah Himbauan Jam Belajar Masyarakat. Saat itu Jam Belajar Masyarakat/JBM memang sedang dicanangkan oleh pemerintah yang sedang galak-galaknya. Pemerintahan saat itu di komandoi oleh Presiden dengan masa jabatan terlama di negeri 1001 kisah, Indonesia. Dengan kegalakannya, Jam Belajar di patok pada jam 19:00 sampai 21:00 WIB. Papan Pengumuman pun kami patok di setiap sudut dusun kami. Baca lebih lanjut

Welcome our Next Graphic Designer

Ini oleh oleh saya kemarin, menjadi pengamat generasi IT masa depan yang saat ini sedang belajar.

Pasti mereka kelah akan lebih pintar dari kita kita (generasi saat ini)

[ Saya mengambil screen shot dengan ponsel, khawatir mengganggu perhatian mereka] Baca lebih lanjut

Benarkah Pendidikan memainkan fungsi Pertahanan dan Keamanan?

Ketika saya dibangku sekolah menengah, yah masa itu adalah masa dimana dominasi orde baru dan militer sangat kuat, dalam Studi PPKn kalau tidak salah, Bahwa peran Hankam (Pertahanan Keamanan) merupakan (fungsi) dan tugas dari ABRI. hihi hi hi — sampai sekarang saya masih sedikit hafal

Kemudian ketika angin reformasi berhembus, kira kira saya kelas 2 atau 3 SMA, ada pendapat seorang “…” lupa namanya, bahwa sebenarnya peran Pertahanan dan Keamanan suatu bangsa/negara itu akan dimainkan dengan baik oleh pendidikan masyarakat yang maju. Singkatnya Pola pikir, tingkat intelektual dan moral dari masyarakatnya. Baca lebih lanjut