Pengumuman Jam Belajar Masyarakat sudah Lapuk

Kalau pada posting terdahulu, saya sudah belajar mengarang, maka pada posting kali ini saya akan bernostalgia. Baiklah saya mulai.

Peristiwa itu terjadi pada beberapa tahun yang silam. Mungkin 13 tahun yang lalu. Pada saat itu sebagai pemuda anggota Karang Taruna Cahaya Timur, dengan teman-teman pemuda pemudi yang lain sedang bekerja bakti membuat fasilitas umum. Apa yang ditugaskan kepada Karang Taruna oleh Bapak Kepala Dusun Karangmojo b, Bapak Adiwono, adalah membuat papan-papan penunjuk arah dan papan-papan pengumuman.

Salah satu papan pengumuman yang kami buat adalah Himbauan Jam Belajar Masyarakat. Saat itu Jam Belajar Masyarakat/JBM memang sedang dicanangkan oleh pemerintah yang sedang galak-galaknya. Pemerintahan saat itu di komandoi oleh Presiden dengan masa jabatan terlama di negeri 1001 kisah, Indonesia. Dengan kegalakannya, Jam Belajar di patok pada jam 19:00 sampai 21:00 WIB. Papan Pengumuman pun kami patok di setiap sudut dusun kami.

Entah, apa pada saat itu masyarakat mengindahkan himbauan untuk menggunakan jam belajar. Saya sendiri bukan termasuk golongan anak pemuda pelajar yang rajin. Mau belajar menjelang ulangan/ujian saja bagi saya sudah lebih dari cukup. Tidak pernah tinggal kelas dan lulus dengan nilai pas pasan bagi saya sudah bagus. Pasti karena faktor keberuntungan ikut campur tangan dalam perjalanan nasib diri ini.

Kini, setelah lewat masa 13 tahun, pemimpin negeri telah lima kali berganti, papan-papan pengumuman yang pernah kami buat dan pasangkan di setiap sudut dusun telah tiada. Memang apa hubungannya dengan pergantian RI 1? Alasan yang masuk akal mungkin papan-papan kayu itu sudah habis di makan rayap atau ada simbok-simbok yang perlu menggunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Papan-papan itu telah terlalu lelah bertugas menempuh kurun waktu, telah terlapukan oleh jaman yang konon semakin moderen dan canggih.

Kini, di dusun dimana saya tinggal, angka 19 -21 sudah di beli oleh sinetron. Entah kapan tender penjualan time slot itu di umumkan. Yang jelas sampai saat ini tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Kalau tidak percaya silahkan beranjang tandang ke rumah-rumah dimana di setiapnya minimal ada 1 set perangkat TV. Mereka menikmati 19 -21 yang peruntukannya sudah dialihkan, kecuali di rumah keluarga simbok yang belum mampu membeli set TV. Mungkin masyarakat di dusun kami akan lebih pintar dengan menonton sinetron. Di punggung sinetron masa depan bangsa ini mungkin kini dipikul.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s