Foto Saja

butterfly

Karena otak menulis saya sedang buntu maka kali ini saya akan memposting foto-foto saja di blog ini. Bolehkan? Bukankah blog tidak wajib berisi tulisan saja? Boleh berisi foto saja, suara saja, video saja, atau bahkan tidak berisi apa-apa saja. hehe.

Kupu-kupu berwarna kuning yang sedang hinggap disekuntum bunga sepatu warna merah ini saya potret pada tadi pagi ketika saya sedang menunggu angkot. Pikir saja tadi menfoto kupu-kupu lebih maslahat daripada kelamaan jengkel menunggu angkot datang. Lagi pula kupu-kupu ini terlihat jinak. Dan memang jinak. Saya berhasil memotretnya sekali. Saya sebenarnya ingin memotret kupu-kupu ini beberapa kali. Sayangnya saya gagal menahan bersin. Jadi kupu-kupu ini terkejut dan terbang.

Ini masih kupu-kupu yang sama yang saya potret sebelumnya. Kupu-kupu yang terkejut karena bersin yang tak tertahankan itu untungnya tidak terbang jauh. Kupu-kupu ini masih baik hati memberi kesempatan kedua untuk saya. 🙂

Foto-foto ini saya ambil dengan ponsel Samsung Galaxy Ace Duos.

Iklan

Kamera di Samsung Galaxy Ace Duos

Sepeninggal ponsel Sony Ericsson K810i saya, ponsel yang saat ini saya gunakan untuk foto-foto adalah Samsung Galaxy Ace Duos. Ponsel yang pada beberapa bulan lalu saya dapatkan dari Mas Rama Klik IT. Hampir semua foto yang saya ambil sendiri yang saya gunakan untuk blog ini, saya unggah ke jejaring facebook, twitter, google+, posterous, dan lain-lain merupakan hasil memotret saya dengan Galaxy Ace Duos.

Inline image 2

Kamera pada Samsung Galaxy Ace Duos menurut saya cukup bagus untuk pengambilan gambar luar ruang dengan cahaya di sekitar yang memadahi.

Inline image 3

Inline image 5

Kekurangan yang paling saya rasakan ketika memotret dengan Samsung Galaxy Ace Duos diantaranya adalah: Baca lebih lanjut

Senja Itu … (ya seperti ini)

Belum cukup puas menyesap teh manis di mug bermotif hijau kesayangan, warna sekeliling teras yang mendadak berubah jingga membuat saya terperangah. Mug itu segera saya letakkan. Saya terburu beranjak, bergegas menuju tempat terbuka tidak jauh dari rumah. Jingga itu membuat saya tidak peduli lagi tubuh saya basah oleh hujan.

Dan dalam beberapa jurus kemudian tweet-tweet berikut muncul di timeline saya:

Bagi saya sesuatu itu  merupakan perpaduan warna jingga, senja, bau basah tanah habis hujan dan segelas teh. Itu sepuluh tahun yang lalu. Kalau sekarang ditambahkan twitter.

Dan tidak jarang bahagia itu datang mendadak dan dalam bentuk yang terlalu sederhana, hehe 😀

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Selain kemampuan teknis dan artistik beserta dukungan alat (kamera, lensa, dan lain-lain), ada satu hal lagi yang menentukan gambar-gambar bagus ditampilkan dalam foto. Yaitu keberuntungan.

Foto di atas saya ambil di tempat biasa. Di atas persawahan tidak jauh dari rumah saya. Di tempat ini saya sering kali melihat pemandangan bagus. Langit yang berseri-seri dengan warna biru yang bersih dan awan yang menawan.

Namun pada pagi hari ini saya juga kurang beruntung. Ketika saya sedang membawa kamera yang siap digunakan, langit malah kelihatan pucat. Langit sedang murung. Mendung dan awan yang muncul pun nampak biasa-biasa saja.

Langit ceria dan keberuntungan tidak sedang menghampiri. Jadi pagi ini tidak bisa saya gandeng dan ajak ke sini untuk saya pamerkan ke Anda sekalian.

Semoga lain waktu keberuntungan yang menjemput saya. Eh saya ya yang harus menciptakan keberuntungan untuk diri saya sendiri. 🙂

[Photo] Parenting

Parenting

Parenting

Seekor ayam yang sedang memainkan peran parenting. (single parenting) Mengasuh beberapa anaknya di pinggiran sawah.

Foto saya ambil dengan kamera ponsel beresolusi 2 mega pixel tanpa ada fitur auto focus, alias fix focus. Saya mencoba menggunakan mode hitam-putih sekaligus mencoba trik yang dibagikan oleh Mas Ikhlasul Amal beberapa waktu lalu. Menurut mas Amal, dengan mode hitam putih kekurangan dari kamera tidak terlalu kelihatan. Gambar yang dihasilkan tidak terlalu terlihat jelek, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mengantarkan suatu gambar yang artistik. 🙂

Bener ngga sih? hehe

Mengejar Senja

Kemarin sore, ketika sedang berwudlu di padasan di sekitar sumur keluarga, saya melihat di langit semburat-semburat senja warna jingga. Jingga berbaur dengan warna abu-abu, putih, dan biru. Alih-alih segera menyelesaikan wudlu, saya malah beranjak ke rumah. Mencari kamera secepatnya. Ingin mengambil gambar senja yang memanjakan mata itu.

Saya bergegas berlari mencari tempat terbuka di persawahan tidak jauh dari rumah. Begitu menengadah dan mengarahkan kamera, seketika mood saya hilang. Senja yang indah itu telah berlalu. I missed that beautiful sunset. Moment happened so instant.

Senja

Senja

Foto senja yang jelek, seperti mood saya yang langsung memburuk saat itu. Barangkali benar apa kata Dafhy begini:

Warna-Warni

Mainan itu harus warna-warni. Warna-warni cerah tentu saja. Kalau warna-warni suram bisa-bisa malah menimbulkan efek murung dan galau. hehe

Dari warna-warninya gambar berikut memperkenalkan diri sebagai mainan pula.

Coba kalau saya punya mainan ini. Seberapa bagus kira-kira bisa menghalau kegalauan. hehehe