Sumur Ngoro Oro Ciut dan Air Kehidupan

Semasa masih hidup, simbah saya sering bercerita bagaimana rasa segar mandi di siang hari di sumur ini ketika beliau pulang dari menggembala sapi di hutan. Sumur ini terletak di hutan  sebelah barat desa kami. Di sebelah barat dusun Senedi. Disebut Sumur Ngoro  Oro Ciut. Entah apa maksud dari nama itu, tetapi kalau saya boleh menerjemahkan secara asal, bisa jadi berarti Padang (rumput) yang sempit.

Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya sumur ini dibuat atau siapa yang membuat, yang pasti sumur ini telah puluhan tahun mengabdi memenuhi hajat hidup orang banyak, terutama masyarakat Senedi dan sekitarnya. Baik itu untuk mencuci dan mandi, sanitasi, menyiram tanaman, dan yang terpenting untuk air minum.

Pada jaman simbah saya, keberadaan sumur di lingkungan tempat tinggal belumlah sebanyak apa yang telah ada sekarang. Tidak semua Rumah Tangga menggali sendiri sumur untuk sanitasi seperti masa kini. Entah bagaimana  hidup sehat dan higienis kala itu di jaga. Bagi saya sulit untuk membayangkan bagaimana keras usaha yang diperlukan untuk menempuh sumur Ngoro Oro Ciut yang terletak di tengah hutan untuk mengambil air bersih beralatkan pikulan dan gembreng yang ditopang oleh pundak bertenaga manusia.

Memang pada kala itu, Sumur Noro Oro Ciut bukanlah satu-satunya yang ada. Ada beberapa sumur lagi yang dibuat oleh masyarakat di lingkungan tinggal. Diantaranya ada Sumur Gede, Sumur Njotos, Sumur Sendang, dan lain-lain. Namun demikian ketika  musim kemarau yang panjang tiba dan kebanyakan sumur telah mengering, Sumur Ngoro Oro Ciut -lah salah satu  yang menjadi  pengharapan terakhir bagi kehidupan.

Pohon-pohon hutan yang masih banyak pada saat itu telah menjadi “lumbung” air dan membagi alirkan sedikit demi sedikit namun tidak terputus untuk kehidupan.

Kini, ketika pohon-pohon di sekitar hutan telah habis ditebang dan lahan hutan sudah dialih fungsikan sebagai ladang garapan, sumur ini masih tetap setia mengalirkan empati dan kemaslahatan untuk kehidupan, entah akan sampai kapan akan tetap mampu bertahan. Tidak ada yang tahu pasti masih berapa banyak air yang di simpan dan cadangkan oleh Ngoro Oro Ciut.

Apa yang bisa dilihat oleh mata saya, pada penghujung musim kering yang panjang tahun ini/awal musim hujan, air masih tampak setengah penuh.

PS : Posting ini merupakan oleh-oleh ketika kemarin sore pergi menanam kacang tanah di Hutan Budha.

Iklan

11 thoughts on “Sumur Ngoro Oro Ciut dan Air Kehidupan

  1. Ketika saya masih sd dulu, bersama teman2 selalu menyempatkan untuk merayap turun ke sumur untuk minum sepulang dari cari kayu bakar, juga beristirahat dengan memanjat pohon waru di sampingnya. Menurut cerita mbok tuwek(mbah buyutmu), konon yang bikin sumur tersebut adalah mbah bayan, kakak laki2 kandung mbok tuwek, Sumur itu menjadi bukti kearifan mbah2 kita dulu.

    • wah terima kasih ki ngabehi; jadi posting ini perlu saya update karena muncul informasi penting terkait dengan pembuat sumur ngoro oro ciut, eyang bayan. pasti sumur ini usia seratusan tahun lebih sampai saat ini

  2. disebelah utara sumur jaman dulu ada pasangan icir atau wadong yang ukuranya cukup besar atau diatas-rata, pemiliknya almarhun mbah WASTO, masih adakah sampai saat ini…?

  3. suwargi mbah wasto kalebu tokoh legendaris babagan nangkep mino, daleme kuwi ono tanah perdikan kang kasebut “penthol njotos” (perangan seko tlatah pedukuhan senedi)

  4. Ping-balik: Desa Grogol, Mencukupi Kebutuhan Air Bersih « Menuliskan Sebelum Terlupakan

  5. Ping-balik: Hutan Lestari dan Pragmatisme Ketercukupan Pangan | Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s