Social Media kok Bikin Tawuran

REPUBLIKA.CO.ID, PALU–Dua kelompok pemuda di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), terlibat bentrok yang didipicu oleh komentar-komentar provokatif di sebuah situs jejaring sosial facebook. Bentrok yang terjadi di Kelurahan Tatura Utara pada Senin (17/1) malam itu tidak menimbulkan korban luka-luka.

Bentrokan itu merupakan aksi lanjutan dari kejadian serupa pada Sabtu (15/1) dini hari, sekitar pukul 02.30 Wita. Tawuran itu mengakibatkan beberapa bangunan rusak akibat terkena lemparan batu dan benda keras lainnya.

Informasi yang dihimpun di Polsek Palu Selatan, menyebutkan bentrok itu berawal ketika seorang pemuda yang tinggal di Jalan Anoa melakukan perang kata-kata di Facebook dengan seorang pemuda yang tinggal di Jalan Darussalam. Tidak puas perang kata-kata di Facebook, kemudian kedua pemuda itu sepakat bertemu di Jalan Anoa untuk berkelahi. Selengkapnya baca di http://goo.gl/14d2z

Saya sih ngga habis mengerti membaca berita tawuran antar kelompok pemuda di suatu desa di propinsi Sulawesi Tenggara itu gara – gara cekcok di Facebook. Karena mereka saling perang kata – kata di Facebook. Berarti sebelum cecok mereka adalah teman. Kecuali di setting publik bukankah yang bisa saling komentar itu teman? 😀

Pengalaman saya yang dibesarkan di desa yang mana pada jaman saya SD – SMP kerap kali terjadi tawuran antar dusun dalam satu desa, biasanya tawuran terjadi karena saling ejek di lapangan sepak bola atau lapangan bola voli. Tawuran tidak jarang merupakan ending dari pertandingan sepak bola atau bola voli. Kejadian ini dulu umumnya terjadi sehabis pertandingan final. 😀Menurut saya kenapa pada jaman itu di desa dimana saya tinggal sering terjadi tawuran adalah karena biasanya dalam satu dusun hanya nongkrong dengan teman – teman satu dusun. Katakanlah saat itu pemuda – pemuda itu nongkrong di Gardu Ronda tiap malam atau di Lapangan Bola Voli masing – masing dusun pada tiap sore.

Katakanlah Gardu Ronda dan Lapangan bola voli itu adalah Social Media mereka pada saat itu, maka itu merupakan Social Media berbasis Lokasi yang ekslusif. Yang bisa menjadi member hanya yang legitimate sebagai anak dusun itu. Biasanya masing – masing Social Media di tiap dusun itu ada key personnya, atau istilah twitter nya adalah influencer, atau kalau di foursquare bisa disebut Mayorship.

Masih ingat si Mayor sangat berpengaruh untuk menentukan Socmed suatu dusun mau berterman atau berseberangan dengan Socmed di dusun lain. 😀

Seiring dengan waktu dan perubahan sosial ekonomi, lama – lama pengaruh “Location Based Social Media” ini luruh. Perkembangan jaman membuat lebih banyak pemuda – pemudi yang bisa meneruskan di sekolah kecamatan dan sekolah kabupaten. Sampai saat ini Sekolah SMP hanya ada di pusat kecamatan dan SMA di pusat kabupaten, serta Perguruan Tinggi di pusat propinsi.

Interaksi individu – individu dari dusun – dusun di desa dimana saya tinggal dan dari desa – desa tetangga mulai terjadi ketika mereka mulai mempunyai kesempatan bersekolah SMP dan SMA … (wah ada interupsi nih. Pelajaran mengarang bebas akan saya lanjutkan kapan – kapan kalau sedang mood …)

Iklan

4 thoughts on “Social Media kok Bikin Tawuran

  1. Ha ha…, saya ndak bisa membayangkan kalau mau tawuran mesti nengok ponsel lihat GPS di Google Maps/Latitude buat ngecek di mana posisi lawan tawuran :D.

    Ah, generasi 2.0 yang memperihatikan :|.

  2. makin hari perubahan sosial sudah terjadi, tidak seprti dulu lagi…
    pengaruh sosial diakibatkan latar belakang sosial, dan pergaulan sosial, serta sosial media…
    jadi ujung2nya gara2 sosial ya :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s