Makin Elektronik

e-payment poster

e-payment poster

Sejak beberapa waktu yang lalu, saya melihat semacam reader di halte trans Jogja. Saya kira itu merupakan reader untuk kartu berlangganan yang khusus diterbitkan oleh Jogja Tugu Trans (pengelola Trans Jogja).

Ternyata kartu berlangganan ini tidak diterbitkan sendiri oleh Jogja Tugu Trans. Saya baru melihat dari dekat posternya tadi. Seperti yang terfoto di atas. Kartu itu diterbitkan oleh BCA, Bank Mandiri, dan bahkan Indomart Card. Iklannya mengatakan lebih murah berlangganan. Namun mungkin yang lebih menarik adalah kepraktisannya.

Namun saya juga tidak tertarik untuk memiliki kartu-kartu itu. Meski saya sering naik Trans Jogja. Saya pikir akan mempertebal dompet dengan kartu baru itu.

Saat ini Trans Jogja terlihat akrab dengan Telkomsel. Ini saya lihat dari logo Telkomsel di seragam harian karyawan Trans Jogja dan iklan-iklan yang terpasang di halte-halte Trans. Maksud saya kenapa Trans Jogja tidak bekerja sama dengan Telkomsel Tap Izy. Bila tiket Trans Jogja bisa dibayar dengan Tap Izy, tentu akan lebih manfaat buat saya. hehehe

Kalau dilihat secara fisik, reader itu halte trans itu sepertinya menggunakan teknologi RFid sebagaimana halnya dengan Telkomsel Tap Izy. Bener ngga sih?

E-Money Bisa Tumbuh di Indonesia

Bank Indonesia juga mencatat pengguna uang digital meningkat dari 7.9 juta menjadi 9.4 juta atau sebesar 18% dibandingkan tahun lalu. BI juga mencatat jumlah transaksi digital yang mencapai 8.3 juta transaksi dengan nominal Rp. 176.56 miliar

Demikian yang ditulis Dailysocial.net. Masih menurut yang ditulis oleh Dailysocial di sini, diprediksikan pada tahun 2012, di Indonesia pengguna e-money akan tumbuh menjadi 12 juta-an. Artinya apa yang diharapkan Bank Indonesia untuk mendorong transaksi secara elektronik untuk mengurangi uang fisik yang beredar seperti yang diberitakan di Detikinet di sini tidak hanya angan-angan.

Namun yang menjadi angan-angan saya adalah bagaimana bila pertumbuhan penggunaan uang digital di Indonesia terlalu cepat. Tidak mungkin ya? 😀

Angan-angan buruk saya itu seperti ini: Uang digital (e-money) yang berlebih akan mematikan pasar tradisional dan pedagang-pedangan kecil. Uang digital sependek penerawangan saya akan sangat berpihak pada pedagang-pedagang dan retailer besar. Masih sulit bagi saya membayangkan simbok-simbok pedagang sayur di pasar bisa menerima pembayaran dengan Kartu Debet, Kartu Kredit, Telkomsel Cash, XL Tunai, BCA Flazz, BNI Kartuku, Tap Izy, dan sejenisnya.

Sampai saya bertemu ngobrol-ngobrol berdua di kereta Pramex dengan Mr Recaredo Babasa. Dia adalah  VP Digital Money Management di Telkomsel. Saat itu ketika saya menyinggung dampak buruk e-money bagi pedagang mikro, karena saat itu memang di acara launching Tap Izy (produk e-payment baru -nya Telkomsel) ia menceritakan ide pengembangan masa depan Tap Izy. Tap Izy sendiri dapat di baca di sini atau di sini.

Menurut Babasa, saat ini Tap Izy (RFid) memang baru bisa diisi deposit uang tertentu dan digunakan berbelanja di merchant-merchat khusus yang telah berafiliasi. Namun kelak akan dikembangkan Tap Izy bisa saling mengirim uang dengan perangkat ber-Tap Izy yang lain. Misalnya A ingin memberikan sejumlah “uang” ke B, tinggal si A mengetikan nominal uang yang akan diberikan, memasukan PIN dan mendekat pada perangkat RFid (Tap Izy) milik si B.

Keren membayangkan simbok menjual seekor ayam jago ke pasar, menerima pembayaran jual ayam di handphone ber-RFid, kemudian berbelanja bumbu dapur di lapak jualan mbok Supiah di pasar Playen dengan deposit uang di perangkat RFid, saya meminta tolong simbok untuk dibelikan gudeg kuali namun deposit simbok hasil jualan ayam ternyata sudah tidak cukup dan saya bisa mengirim sejumlah “uang digital” dari rumah. Kalau angan-angan yang ini barangkali keren yang kebablasen. 😀 Tidak ya?

Bayarlah Dengan Uang Pas

Kalau kita sedang naik angkot sebaiknya kita memang membayar ongkos dengan uang pas. Daripada kita cape sendiri menunggu uang kembalian dari mamang kernet atau mas sopir bila angkot tak berkondektur. Di Angkot biasanya semua serba tergesa-gesa berburu waktu. Memasuki terminal pun sebaiknya kita menyiapkan uang koin recehan untuk membayar tarif peron. Harap maklum.

Namun pemakluman saya itu menjadi kadaluwarsa ketika saya berbelanja di mini market atau super market dan mbak kasir masih bertanya, “Pak. Ada uang pas?”

Dalam hal ini saya menuntut urusan uang kembalian adalah tugas managemen toko, dalam hal ini yang berurusan langsung dengan pembeli adalah kasir. Bisa jadi seorang pembeli membayar dengan uang tidak pas bukan karena dia tidak punya iang pas. Bisa jadi ia sedang membutuhkan uang pecahan. Urusan uang kembalian seharusnya merupakan pelayanan standard di super market/mini market sebagaimana kita berhak dibantu menemukan suatu barang dan sambutan ramah dan sejenisnya.

Saya pernah suatu ketika, alih-alih mbak kasir Indomart cepat-cepat menyelesaikan uang kembalian saya malah dia bertanya apakah saya membutuhkan barang ini itu. Padahal di belakang saya masih ada antrian panjang. Dia seorang kasir atau SPG? grrrrrr

Urusan uang kembalian memang tidak selalu praktis. Namun pengalaman saya, pembayaran elektronik pun tidak serta merta menyelesaikan ketidak praktisan pembayaran secara cash. Misalnya, belanjaan kita minimal harus sekian ratus ribu, misalnya minimal Rp 200.000 untuk bisa dibayar dengan Kartu Kredit atau Kartu Debet.

Nah, bagaimana seandainya tidak ada belanja minimal untuk bisa dibayar dengan CC atau DB?

Memang berapa orang sih di Indonesia yang punya CC/DB, hehe Atau ini kesempatan untuk mengembangkan e-payment /pembayaran secara elektronik, yang lebih sesuai dengan karakter orang Indonesia?