Bayarlah Dengan Uang Pas

Kalau kita sedang naik angkot sebaiknya kita memang membayar ongkos dengan uang pas. Daripada kita cape sendiri menunggu uang kembalian dari mamang kernet atau mas sopir bila angkot tak berkondektur. Di Angkot biasanya semua serba tergesa-gesa berburu waktu. Memasuki terminal pun sebaiknya kita menyiapkan uang koin recehan untuk membayar tarif peron. Harap maklum.

Namun pemakluman saya itu menjadi kadaluwarsa ketika saya berbelanja di mini market atau super market dan mbak kasir masih bertanya, “Pak. Ada uang pas?”

Dalam hal ini saya menuntut urusan uang kembalian adalah tugas managemen toko, dalam hal ini yang berurusan langsung dengan pembeli adalah kasir. Bisa jadi seorang pembeli membayar dengan uang tidak pas bukan karena dia tidak punya iang pas. Bisa jadi ia sedang membutuhkan uang pecahan. Urusan uang kembalian seharusnya merupakan pelayanan standard di super market/mini market sebagaimana kita berhak dibantu menemukan suatu barang dan sambutan ramah dan sejenisnya.

Saya pernah suatu ketika, alih-alih mbak kasir Indomart cepat-cepat menyelesaikan uang kembalian saya malah dia bertanya apakah saya membutuhkan barang ini itu. Padahal di belakang saya masih ada antrian panjang. Dia seorang kasir atau SPG? grrrrrr

Urusan uang kembalian memang tidak selalu praktis. Namun pengalaman saya, pembayaran elektronik pun tidak serta merta menyelesaikan ketidak praktisan pembayaran secara cash. Misalnya, belanjaan kita minimal harus sekian ratus ribu, misalnya minimal Rp 200.000 untuk bisa dibayar dengan Kartu Kredit atau Kartu Debet.

Nah, bagaimana seandainya tidak ada belanja minimal untuk bisa dibayar dengan CC atau DB?

Memang berapa orang sih di Indonesia yang punya CC/DB, hehe Atau ini kesempatan untuk mengembangkan e-payment /pembayaran secara elektronik, yang lebih sesuai dengan karakter orang Indonesia?

Iklan

32 thoughts on “Bayarlah Dengan Uang Pas

  1. “Sering menemui&sering tjd”???Entah mengapa sekarang udah membudidaya yg merambah ke toko2 besar.kasir tahuny cepet,praktis,gk perlu susah2.mesti ada kembalianny kadang masih suka berbelit2 dg alasan biar simple at kebiasaan?&itu trs blnjut! atau mgkin kasirny pernah nemenin mbokny jualan di pasar kaki lima.(luar biasa pengalamanny!!).sampai kbwa ke supermarket sgl! pdhal it kan tingkatan kls tinggi.”memuaskan sekali!!!hee..

  2. selain dimini market , di pompa bensin juga sering bertanya ada uang pas? saya pernah bilang kalau ga ada kembalian saya tidak jadi membeli eh ternyata ada kok kembaliannya.mereka malas harus mengeluarkan recehannya

  3. Mudah-mudahan itu bukan di toko tempat saya bekerja, ya Mas. 🙂
    Tentang masalah pembayaran minimum pakai kartu kredit seharusnya yang standar minimum transaksinya adalah Rp 50 Ribu. Dan kalau kartu debit Rp 25 ribu. Ini yang berlaku umum. Kalau sampai ada yang memberlakukan Rp 200 Ribu nilai minimumnya itu kebacut, Mas. Saya menduga itu tokonya sengaja begitu supaya customer membayar tunai saja. Maklum pembayaran pakai card kalau dari sisi merchant memang kena potong fee dari banknya antara 1-2% per transaksi. Jadi tokonya tak mau rugi. Apalagi bayar pakai card itu mundur bayarnya.

    • saya malah sebaliknya, saya kepikiran justru untuk membayar belanjaan yang kecil-kecil nilai transaksinya lebih praktis dibawar secara elektronik. Mungkin kita tahu betapa repotnya bila aplikasi di app store yang dijual secara receh/berkisar mulai US $ 1 harus dibayar secara cash

      automatic vending machine yang menjual minuman botol, permen dan lain lain kan bagusnya kalau bisa dibayar secara elektronik, dll dll

  4. Di dekat rumahku ada minimarket Ind*maret. Kalau belanja di sana aku pake Ind*maret Card. Jadi, gak perlu ribet lah minta2 uang kembalian. Kalau mau bayar tinggal dipotong saja nominalnya dari Ind*maret Card itu. Yaaa…asal ingat top-up aja sih kartunya. 😀

    • wah, aku baru sekali ini mendengar ada Ind*mart Card, kuper sekali aku. namun kalaupun ada menurutku akan nyaman bila e-payment bisa dipakai untuk banyak merchant 🙂

  5. aku pernah belanja 35ribu terus ngasih uang 100ribuan dan yang jualan gak punya kembalian. Terus nyruh aku nuker uangnya dulu supaya bisa bayar pake uang pas 😀

    Gue bilang gue gak jadi beli, capek nuker2 duitnya terus gue pergi haha..

    IMO tugas yang jualan untuk membekali dirinya dengan uang kembalian

  6. berhubung setiap hari saya bergelimang uang recehan, jadinya ga ribet klo belanja dimanapun eh kecuali di shopping centre yang di mal yah 😀 pasti mereka manyun klo saya bayar pake lembaran 1000 or 2000 an 😛

    sebaliknya alfamart dan indomaret seneng banget liat saya belanja, karena sudah pasti mbayarnya dengan koin 100,200 dan lembaran 1000 & 2000 hehehe

    • Idem. Bikin malas itu kalau dikasih kembalian pakai permen. Aku pernah nanya ke salah satu kasir di minimarket, “Besok saya boleh belanja di sini pakai permen? Saya nggak suka permen. Saya mau dibayar pakai uang.” Mingkem dia. 😆

  7. eemmm… pernah jadi hampir berantem gara2 uang kembalian, ini terjadi di salah satu pengiriman express, alhi2 harusnya memberikan service yang baik (termasuk mempersiapkan uang kembalian) laah malah si bapaknya yang marah2, ueegh beneran emosi saat itu. dan sejak saat itu gak lagi2 dateng ke pengiriman kilat itu, males !

  8. biasanya yang sering kayak gitu mah minimarket mas, dan alasannya adalah karena stok uang pecahan mereka udah menipis.. hehe, jadi ingat rumah saya yang selalu di datangi sama pegawai minimarket untuk nukar uang.. bahkan saking hebohnya, kalo setiap saya atau keluarga yang belanja ke minimarket tsb mereka selalu nanya, dirumah ada tukaran uang gk mbak?? 😀

  9. hal2 sepele namun masih disepelekan ini ya mas…
    sepertinya sampai sekarang pun masih saja seperti itu, pihak2 supermarket atau minimarket masi kurang dalammemberikan pelayanan kepada konsumen. padahal keluhan2 sudah sering dilontarkan, tpi tanggapan mereka kurang.

  10. dan yang paling penting kalo di depan kasir pikiran jangan kosong. si mbak selalu bilang,” pak belanjanya digenapi 100 rb, nanti dapat bonus” seperti si bapak di depanku dia harus ambil barang lagi. nah ketika giliranku si mbak sama memintaku menggenapi belanjaku. aku pun balik bertanya, emang bonusnya apa mbak?” we leh tu bonus pembersih lantai berapa cc saja. lha mending aku beli pembersih lantai aja dari pada mengeluarkan 50 rb lagi sementara barang penggenap tidak ada daftar belanjaku.

  11. KAdang ada kadang enggak…. saya pernah waktu kuliah jaga kasir sebuah warnet yang emang kadang ada kadang enggak….
    kalo gak ada mau gimana lagi….
    Saya udah siapin receh dan habis… kalo saya tinggal cari receh yang jaga warnetnya siapa….

    Dilema….

  12. Kalau ada kasir yang tanya ” Ada uang kecil pak ?”, saya langsung jawab ”
    Lha 50 ribuan itu uang saya yang paling kecil, emangnya masih ada uang dibawah 50 ribuan ?”..ha ha ha ha ha.
    Kasir mau enaknya saja kan yaaa

    Salam hangat dari Surabaya

  13. Memang sih, urusan kembalian adalah urusan manajemen toko sebagai bagian dari pelayanan. Namun, terkadang ada masa di mana mereka sulit menyediakan uang recehan itu. Jadi, menurut saya nggak ada salahnya kalau kita membantu. Kebetulan ini pengalaman pribadi pas dulu jadi kasir, hehe….

  14. Saya justru ngga tahu berapa harga angkot di tempat saya soalnya kemana-mana bawa motor… Jadi kalau kebetulan naik angkot saya kasih uang 10rb biar nanti tinggal tunggu uang kembaliannya (dari pada nanya ke sopir, dipikir yang tidak-tidak lagi)

  15. Betul it kasir indomrt memang kurang ajar g kadang2 jg g sopan..?kayak aq kemarin ke indomaret adam malik2..deplu cipadu larangan..mau beli di tolak dgn alasan g ad kembalian ..bener2 kurang ajar kasir indomaret yg bernama YULI HASTUTI

  16. Bukan SDM kasir yang disalahkan..!!
    tetap kesalahan ada di manajemen kontrol, baik itu dari sisi Training, sistem kasir, sampai Personalianya.
    terkadang, SDM yang ngawur juga ada pengaruh dari lokasi merchant/toko itu berada.. kalo didaerah yang bronx, dijamin pegawainya kebanyakan karakternya juga bronx.
    Karena banyak merchant/toko franchise made in indonesia, belum punya SOP atw sistem yang standar untuk semua. dikarenakan kemajemukan masyarakat di indonesia.
    Berbeda dengan franchise asing yang bisa membuat semua tokonya setara/selevel, co 7.11. mereka punya standarisasi yang sama. walau kadang masih ada beberapa hal yang tetap harus ikut kultur daerah tersebut.
    Nah gag mungkin juga kalo kasir toko harus selalu tukar uang di daerah yang mungkin agag “bronx”, tukar uang gag dapat, malah dirampok uangnya.
    Selama permen bukan jadi mata uang yang sah, permintaan untuk membayar pas/ uang lebih kecil wajar dilakukan.

  17. kalau ada orang mau fotokopi satu lembar 500 perak, setelah itu dibayar dengan uang 10rb, jadi kembaliannya 9.500 rupiah, masih etiskah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s