Kabut Mudahkan Warga Gunungkidul Melihat Gerhana Matahari

gerhana matahari parsial di gunungkidul.resized

Gerhana Matahari di Gunungkidul

Berniat ikut melaksanakan Shalat Gerhana Matahari di Masjid Ki Ageng Pemanahan di Desa Grogol, pagi ini saya bangun, sarapan dan mandi lebih awal dari biasanya. Hawa dingin dan kabut yang turun menyelimuti desa dimana saya tinggal tidak menghalangi niat saya ini. Kapan lagi saya berkesempatan shalat gerhana matahari bila tidak sekarang. Ini tidak boleh disia-siakan. Menunggu gerhana matahari berikutnya, 30-an tahun yang akan datang terlalu lama. Baca lebih lanjut

Memotret Pelangi di Musim Pelangi

tips memotret pelangi dengan iphone

Pelangi di Musim Pelangi

Menjelang Maghrib kemarin petang, saya sedang nge-teh, bersantai di teras rumah sambil menikmati sore yang sejuk ketika tiba-tiba saya melihat di langit timur ada semburat pelangi. Saya pun langsung meraih ponsel dan bergegas menuju ke tempat yang lapang. Beruntung tidak jauh dari rumah saya ada hamparan persawahan yang cukup lapang, yang memungkinkan saya melihat pelangi dari ujung yang satu ke ujung yang lain.

Tidak mau kehilangan pelangi yang saya tahu munculnya tidak akan lama, saya pun segera memotret pelangi itu dengan iPhone 5s. Saya terus memotret pelangi petang itu dengan dalam berbagai komposisi dan berbagai angel semakin sampai pelangi itu memudar. Harapan saya siapa tahu saya mendapatkan satu atau dua, syukur lebih banyak  foto pelangi yang bagus. Kalau pun tidak mendapatkan foto yang bagus pun tidak apa-apa. Maklum saya hanya menggunakan kamera ponsel.

Nah, kalau kalimat yang terakhir itu tadi memang kalimat alasan yang dicari-cari. hihi.

Seingat saya, pelangi kemarin petang itu adalah pelangi ke-3 yang saya potret pada musim ini. Pelangi pertama (di tempat dan waktu yang hampir yang sama) saya juga berusaha memotret tetapi tidak bisa memotret dengan baik. Saat itu pelangi sudah memudar ketika saya mengetahui ada pelangi itu. Pelangi ke-2, saya menemukannya di dekat Balai Desa Banyusoca dalam perjalanan saya pulang dari Turunan (Watu Payung) Geoforest. Baca lebih lanjut

One Last Sunset of 2015 & Pantai Kesirat – Gunungkidul

Masih ingat dengan Pantai Kesirat yang terletak di kecamatan Panggang kabupaten Gunungkidul Yogyakarta yang saya tulis pada bulan Ramadhan tahun lalu?  Bila sudah lupa silakan baca lagi tulis saya terdahulu di sini. Namun tanpa membaca tulis lama saya pun saya rasa sunset penghujung tahun yang akan saya post di sini pun saya rasa tidak kurang menarik.

Siang tahun lalu (baca: siang hari tanggal 31 Desember 2015), ini sih kemarin,  awan nampak bergerombol di langit Gunungkidul, tapi sampai Azhar tidak hujan. Cuaca bagus. Saya rasa ini adalah akhir tahun yang bagus untuk memotret sunset.

Angan angan saya untuk memotret senja di Pantai Kesirat seperti yang saya tuliskan dulu bisa saya eksekusi hari itu. Tidak apa apa meski saya hanya berbekalkan kamera ponsel. Iphone lawas 5s dan sebuah Asus Zenfone.

Karena kebetulan saudara saudara saya sedang ngumpul di rumah,  ada adik saya dan kakak anak dari pakdhe sedang liburan akhir tahun, saya pun mengajak mereka untuk menikmati senja terakhir di tahun 2015 lalu. Senangnya mereka tanpa basa basi mengiyakan ajakan saya. Kami bertiga pun menuju pantai dengan mengendarai sepeda motor. Meniti jalan yang naik turun berkelok apalagi 5 kilometer sebelum pantai merupakan jalan cor blok yang diujungnya terdapat turunan ekstrim benar-benar memacu adrenalin kami.

Sesampai di pantai yang biasanya sepi pengunjung, rupanya menjelang malam pergantian tahun ini banyak sekali orang yang ingin menikmati malam pergantian tahun di alam. Nampak banyak yang mulai dan sudah mendirikan tenda. Nampak pula banyak orang berfoto foto bersenjatakan tongsis. 

Saya pun,  dan tentunya kedua saudara saya tidak mau ketinggalan memotret apa saja.

Pemandangan pantai kesirat sore itu memang bagus. Terpapar sinar matahari air laut nampak kuning keemasan.  Sinar matahari menjelang senja yang lembut membuat rumput rumput yang mulai menghilang di awal musim hujan ini nampak lebih indah.

Nah,  ini foto foto yang saya jepret kemarin sore dengan ponsel.

image

Baca lebih lanjut

Masalah Fokus pada Kamera iPhone 5s

Setiap mempunyai ponsel baru, maka apa yang saya coba-coba pertama kali (dan fitur yang paling saya sukai) adalah kamera. Begitu pun dengan iPhone 5s yang baru saja sampai di genggaman saya beberapa hari yang lalu. Saya menggunakannya untuk memotret apa saja. Dari benda-benda di sekitar saya, landscape sampai hewan-hewan kecil seperti capung, kupu-kupu, lebah dan sejenisnya.

Masalah fokus ini saya temukan beberapa hari yang lalu ketika saya memotret capung di sawah. Sulit sekali untuk memotret capung dengan hasil yang bagus. Kebanyakan gambar capung yang saya dapatkan kabur. Namun aneh ketika saya memotret capung yang berwarna hijau. iPhone 5s cukup mudah menemukan fokus untuk capung berwarna hijau ini.

Kemudian saya menemukan kupu-kupu berwarna cokelat. Memotret kupu-kupu sambil menahan nafas pun tidak menghasilkan foto yang bagus. Foto kupu-kupu kabur, blur. Sampai saya mempunyai sedikit trik untuk mengakali hal ini. Saya mencoba mencari fokus pada obyek lain sebelum memotret obyek utama. Apa yang saya coba adalah daun yang berada di dekat obyek yang akan saya potret. Dengan syarat daun itu kira-kira sama terangnya dengan obyek yang ingin saya potret. Kemudian saya mengambil jarak kira-kira sama dengan rencana saya mengambil jarak dengan obyek yang ingin saya potret. Nah, kepada daun ini lah saya mengunci fokus dan eksposure (sampai di layar iPhone 5s muncul tulisan AF/AE locked berwarna kuning). Baru saya memotret kupu-kupu dan capung itu. Hasilnya lumayan.

 

Nah, dengan trik ini, untuk mendapatkan foto-foto yang lebih bagus sedikit banyak dipengaruhi seberapa akurat saya memperkirakan jarak obyek dengan kamera (untuk dipergunakan menentukan jarak dengan dummy focus). Ini tidak mudah. Toh tidak mungkin saya mempergunakan penggaris untuk menghitung jarak itu. Dan harus hati-hati biar obyeknya (capung, belalang, kupu-kupu) tidak terbang.

Harus banyak latihan!

Foto-foto saya di atas bisa dilihat di akun instagram saya di: http://instagram.com/jarwadi. Silakan tengok ya…

Hujan Sudah Mulai Turun di Gunungkidul. Alhamdulillah

Langit Angkara

Langit Angkara

Langit terlihat angkara. Seolah dunia sedang murka. Hehe. Itu kan masalah intepretasi saja. Bagi kami di sini, di Gunungkidul, saat ini kami menganggap awan gelap itu sebagai kabar gembira. Hujan akan segera tercurah.

Dan benar. Sore tadi hujan cukup deras telah turun di desa Grogol dimana saya tinggal selama sekitar setengah jam. Melalui pantauan saya di social media, terutama facebook dan twitter, hujan kali ini cukup merata di kawasan Gunungkidul dan daerah-daerah sekitarnya.

Alhamdulillah. Bumi yang telah cukup lama mengering mulai membasah. Aroma harum bau tanah kering yang  tersiram air hujan yang khas mulai tercium dimana-mana. Sampai sekarang.

Bagi saya sendiri, bau tanah basah seperti ini membawa sensasi tersendiri. Seolah merupakan suatu pemuasan akan hasrat rindu yang dalam.

Gambar-gambar berikut biarlah melanjutkan cerita hujan yang jatuh pada waktu senja menanti Maghrib. Baca lebih lanjut

Review #K800Fotografia Dony Alfan

Kamera yang bagus adalah …. . Kamera yang bagus adalah kamera yang selalu dibawa kemana-mana. Dan tombol shutter -nya paling sering dipencet-pencet. 😀 Sony Ericsson Cybershot K800 pasti merupakan kamera yang bagus bagi mas Dony Alfan. Saya percaya Mas Dony mempunyai kamera-kamera lain dengan spesifikasi teknis yang lebih mumpuni.

Kenapa saya bilang K800 adalah kamera bagusnya Mas Dony Alfan? Lihat saja ebook yang ia terbitkan yang berjudul K800 Fotografia. Kita bisa melihat aneka photo shot dalam ebook setebal 70 halaman itu. Bener ngga saya bilang “setebal”. Bagaimana kita bisa mengatakan sebuah ebook itu tipis atau tebal. 😀 Dalam ebook 70 halaman itu kita bisa melihat photo shot yang diambil dari berbagai tempat dan kesempatan. Kalau tidak karena selalu dibawa kemana-mana, mana mungkin Mas Dony bisa mendapatkan gambar-gambar yang nampak ditemukan secara alami. Baca lebih lanjut

Pantai Watu Lawang – Gunungkidul dan Kehidupan

Pantai Watu Lawang - Mencari Cangkang Kerang

Pantai Watu Lawang – Cecilia Lasiyem

Wanita pencari kulit kerang yang saya jumpai di Pantai Watu Lawang – Gunungkidul. Sebut saja namanya Cecilia Lasiyem. Agar terasa lebih akrab saya panggil Cecil saja.

Nyonya Cecil ini seorang wanita yang bersahaja, ramah dan dari garis-garis diwajahnya terlukis betapa keras sebuah kisah kehidupan.

Mencari kulit kerang bukanlah pekerjaan utamanya. Mencari kerang hanya dilakoni sebagai kerjaan sampingan ketika ia sedang tidak sibuk bekerja di lahan pertanian yang tidak jauh dari rumah tinggalnya di Tepus.

Untuk kita semua tahu. Jarak rumah tinggal nyonya Cecil dengan Pantai Watu Lawang sekitar 5 km. Menurut nyonya Cecil, kecuali ojek motor yang bertarif Rp 3.000,- sekali jalan, tidak ada angkutan dari rumah tinggal ke pantai ini. Naik ojek bukanlah pilihan bagi nyonya Cecil. Ia memilih jalan kaki saja. Iya jalan kaki. Uang Rp 6.000,- untuk naik ojek pulang-pergi bukanlah besaran yang sepadan dengan penghasilan dia mengumpulkan kulit-kulit kerang ini.

Barangkali kita penasaran, kulit kerang yang dikumpulkan nyonya Cecil dari hamparan pantai pasir putih yang terik akan di-monetize dengan cara apa.

Pantai Watu Lawang - Gunungkidul : Memungut Kulit Kerang di antara pasir putih

Pantai Watu Lawang – Gunungkidul : Memungut Kulit Kerang di antara pasir putih

Kulit-kulit kerang seperti ini adalah bahan untuk aneka souvenir dan hiasan yang banyak dijual di Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal dan pantai-pantai lain yang berpengunjung banyak. Tapi nyonya Cecil bukanlah tangan terampil yang bisa menyulap kulit-kulit kerang ini menjadi benda-benda cantik. Nyonya Cecil menjualnya kepada pengepul.

Apabila wadah yang dipakai nyonya Cecil di atas penuh, maka ia akan mengantongi Rp 3.000. Berapa banyak wadah yang bisa ia penuhi dengan kulit-kulit kerang per hari? Tidak pernah bisa dipastikan.

Kerajinan dari kulit kerang

Kerajinan dari kulit kerang

Gambar di ambil dari sini

Oleh tangan-tangan terampil kulit-kulit kerang yang dipungut nyonya Cecil dari hamparan pasir tadi disulap menjadi souvenir cantik yang banyak dijajakan di Pantai Baron dan sekitarnya.

Pantai Watu Lawang : Barbara Niken Sumilah

Pantai Watu Lawang : Barbara Niken Sumilah

Saya lupa bertanya, siapa nama nona yang ini. Tetapi saya mengira tidak berlebihan bila saya menamai Barbara Niken Sumilah.

“Hey, Barbara, apa yang kamu cari di Pantai ini?” tanya saya

Oh, I am gathering seaweed for money here” jawab Barbara “If I am lucky enough, I’ll get about 10 kg during mid day and the collectors will pay me about Rp 10.000,-

I know Rp 1.000 each kilo gram seaweed is not  a good rate, but I don’t know where place else to go” keluh Barbara.

Pantai Watu Lawang : Mencari Rumput Laut

Pantai Watu Lawang : Mencari Rumput Laut

Pantai Watu Lawang : Rumput Laut

Pantai Watu Lawang : Rumput Laut

Barbara dan Cecil, keduanya datang ke sini dengan berjalan kaki  dari Tepus sejauh kira – kira 5 km. Kalau di iklan Anlene menyarankan berjalan kaki sebanyak 4 ribu langkah per hari agar tidak terkena osteoporosis, saya yakin Barbara dan Cecilia bisa melangkah lebih dari 2 X 4 ribu langkah per hari.

Hamparan pasir putih di Pantai Watu lawang dan bentang laut yang luasnya hanya dibatasi oleh cakrawala boleh dikatakan sebagai tempat yang merumahi bentang kehidupan.

Cecilia dan Barbara mempunyai definisi kehidupan yang berbeda dengan makhluk Tuhan yang bernama Jacques, pelancong dari negeri menara Condong, Paris. Di pantai yang sama Jacques mendifinisi dan menikmati kehidupan dengan caranya sendiri. Ia bernafsu menikmati sensasi berjemur di pantai pasir putih yang tidak ia temukan dinegaranya.

Pantai Watu Lawang : Jacques, tourist from France

Pantai Watu Lawang : Jacques, tourist from France

Bonjour. Jacque, Que pensez-vous de cette chienne, ehh plage?” saya bertanya sekenanya.

“Apik tenan dab, segarane ombak e gede banget, watu karang pancen peni, opo maneh wedi putih prasasat oro-oro” jawab Jacques” ngerti ora dab, opo maneh aku nggowo wedhokan cacah telu, nganti sayah ngayahi, hahaha.”

Bajigur, yo wis, profiter de vos vacances

Sebenarnya, pada hari Minggu kemarin, saya tidak merencanakan untuk berlibur ke Pantai Watu Lawang ini. Sebelumnya, dalam rencana teman-teman online, direncanakan untuk berkunjung ke Pantai Watu Manten yang bersebelahan dengan Pantai Drini. Entah kenapa teman saya. Annot, Amma, Tri Nur Ahmadi dan Nduk Ayoe keranjingan untuk ke Pantai ini.

Batuan di Pantai Watu Lawang

Batuan di Pantai Watu Lawang

Pantai Watu Lawang

Pantai Watu Lawang

Sebelum saya mengakhiri posting ini, ijinkan saya untuk bernarsis-narsis sendiri sementara saya belum mendapatkan foto-foto bareng dengan gerombolan itu. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama foto narsis berjamaah dapat segera disusulkan. 😀

Narsis di Pantai Watu Lawang

Narsis di Pantai Watu Lawang

Pantai Watu Lawang merupakan Pantai yang baru dibuka sebagai obyek wisata pantai di Gunungkidul. Pantai Watu Lawang menawarkan keunikan pantai laut selatan dengan pasir putih dengan gundukan – gundukan batu karang dengan aneka formasi. Barangkali batuan karang inilah cikal bakal kenapa disebut Pantai Watu Lawang. Meski saya belum menemukan batu karang mana yang berformasi seperti pintu. Dalam bahasa Jawa, Watu Lawang berarti, watu : batu; Lawang : pintu. Dugaan saya Watu Lawang berarti pintu batu, pintu yang terbuat dari batu, atau batu yang berformasi menyerupai pintu.

Untuk mencapai Pantai Watu Lawang kita tinggal mengarahkan kendaraan ke arah Timur dari Pantai Indrayanti. Dengan berjalan perlahan dan hati-hati, Anda akan menemukan plang papan nama seperti ini. Jalan sekitar 200 meter menuju pantai memang jalan berbatu yang belum diaspal. 🙂

Pantai Watu Lawang : Plang Penunjuk Pantai

Pantai Watu Lawang : Plang Penunjuk Pantai

Salam dari bumi Handayani – Gunungkidul 🙂

Kebebasan Untuk Burung dan Semua

Pelepasan Burung di Botanic Garden - Jababeka

Pelepasan Burung di Botanic Garden - Jababeka

Pelepasan burung ini merupakan bagian dari rangkaian acara temublogger nasional yang diselenggarakan oleh teman-teman blogger Bekasi atau yang terkenal dengan Amprokan Blogger. Di tempat ini pula, di Botanic Garden, Jababeka City, pada acara yang sama pada tahun lalu kawan-kawan blogger sudah memulai dengan penanaman pohon. Jadi ceritanya pelepasan burung merupakan kelanjutan dari penanaman pohon itu.

Nah, pada acara ini saya ikut-ikutan narsis saja. 😀 Sedangkan cerita lebih lengkap tentang AB2011 dapat Anda cari sendiri dengan peralatan seadanya + Google.

Foto oleh mas Amril Taufiq Gobel

Air Terjun Sri Gethuk

Memasuki area parkir komplek wisata alam air terjun Sri Gethuk, pengunjung akan disambut oleh petugas parkir yang ramah, dan pemandangan yang kontras dengan batuan kars yang umumnya terbayang bila orang mendengar “Gunungkidul”. Persawahan hijau, pematang, pohon pisang, nyiur berbuah serta gemericik asri air pegunungan.

Tidak ingin menyia – nyiakan waktu, saya memilih  jalur perahu. Saya mengorbankan sensasi berjalan di atas pematang sawah menuju Air Terjun mengingat saya memang berangkat dari rumah sudah bakda Shalat Ashar. Sekitar jam 16:00 WIB di area wisata pada tanggal 6 September 2011.

Saya Memilih Jalur Perahu saja ...

Hati-hati menuruni jalan setapak menuju tempat pemberhentian perahu karet. Lembah hijau di sepanjang sungai Oya memang membuat tangan tidak tahan untuk mengambil foto-foto baik itu dengan Camdig atau Camera Ponsel. Apalagi jangkauan sinyal ponsel yang mantap di sini memudahkan anda untuk langsung membagikan foto yang diambil dengan Camera ponsel dengan keluarga, ke teman – teman anda di facebook, twitter, blog atau layanan internet yang lain.

Lembah Sungai Oya

Lembah Sungai Oya

Jalan Setapak Menuju Sungai Oya

Jalan Setapak Menuju Sungai Oya

Wah, saya sudah ketinggalan perahu. Jadi saya harus menunggu perahu berikutnya. Tidak apa – apa. Sambil menunggu perahu saya meng-upload foto – foto ponsel ke internet.

Nah, perahu yang dinanti datang …

Perahu Karet Menuju Air Terjun  Sri Gethuk

Perahu Karet Menuju Air Terjun Sri Gethuk

Siap - Siap Naik Perahu Karet Menuju Sri Gethuk

Siap – Siap Naik Perahu Karet Menuju Sri Gethuk

Percayalah, meski perahu karet yang kita naiki ini terlihat aneh dan tidak ada duanya di dunia, barangkali, tetapi untuk keselamatan tidak perlu menjadi kekhawatiran. Mas – mas ganteng operator perahu karet ini adalah pemuda aseli Desa Bleberan sekaligus sing mbaurekso kali Oya.

Mas - Mas Operator Perahu Karet

Mas – Mas Operator Perahu Karet

Mas – mas ini akan menjalankan perahu dengan kecepatan yang ideal dan stabil. Bagi anda yang merekam video dengan camcorder tidak perlu khawatir rekaman anda akan shakky alias goyang – goyang. Bagi anda yang suka fotografi berleluasalah untuk mengambil sebanyak jepretan yang anda suka.

Tour Guide Desa Wisata Bleberan

Tour Guide Desa Wisata Bleberan

Oh iya, bila anda ingin bertanya tentang sejarah, mitos dan seluk beluk dibalik Sri Gethuk, mas – mas ini adalah sumber informasi yang jauh lebih mengerti dari wikipedia sekalipun. 🙂

Apa yang terlintas di benak saya melihat pemandangan dari perahu seperti gambar di bawah hanyalah Ciamis Canyon yang masyur itu. Untuk Wisata Air Terjun Sri Gethuk saya rasa hanya menunggu waktu dan uluran kepedulian dari otoritas pariwisata setempat dalam kaitan ini adalah Dinas Pariwisata Pemda Gunungkidul.

Cimais Canyon -nya Gunungkidul

Cimais Canyon -nya Gunungkidul

Inilah Air Terjun Sri Gethuk. Dulu pada sekitar tahun 1992 ketika saya dan teman – teman sebaya saya berkunjung ke sini dengan berjalan kaki dari rumah di desa dimana saya tinggal, Air Terjun ini hanya diketahui bernama Slempret. Saya lupa bertanya kepada Tour Guide kenapa nama Slempret dirubah menjadi Sri Gethuk.

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Bagi yang suka mandi menikmati air bersih pegunungan dibawah air terjun Sri Gethuk agar berhati – hati apabila menaruh pakaian dan barang – barang pribadi anda. Masih ingat cerita dewi – dewi yang pakaiannya dicuri saat mandi di sungai kan? Kasian dewi yang kecolongan itu tidak bisa kembali terbang ke kahyangan. 🙂

Sebenarnya saya masih ingin jeprat jepret foto lebih banyak dan mencoba bermain – main ban – ban karet dan berenang di kali Oya.

Main - Main Ban Karet di Sungai Oya

Main – Main Ban Karet di Sungai Oya

Sayang waktu sudah cukup sore dan petugas operator perahu karet memberi tahu saya kalau perahu terakhir sudah mau berangkat. Kalau ketinggalan perahu saya harus jalan kaki.

Meninggalkan Air Terjun Sri Gethuk

Meninggalkan Air Terjun Sri Gethuk

Sebenarnya, setelah menikmati wisata air, saya bisa menikmati aneka kuliner tradisonal yang dijual oleh warga sekitar, sayang teman main saya sedang berpuasa Syawal.

Meski berat, saya harus segera meninggalkan eksotisme obyek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Berat karena eksotisme itu sendiri. Dan berat dalam arti yang sebenarnya.

Kenapa? Jalan sejauh 7 km menuju Air Terjun Sri Gethuk dari arah kecamatan Playen sangatlah burut. Jalan menuju tempat wisata yang curam yang sebagian belum beraspal dan sebagian lagi jalanan aspalan yang rusak – rusak. Itulah kenapa untuk foto foto ini harus saya bayarkan diri saya sebagai korban kecelakaan sepulang dari Air terjun seperti yang saya ceritakan pada posting terdahulu. 😀

Mudah – mudahan dalam waktu tidak lama, Pemda Gunungkidul sudah membangun akses yang lebih baik menuju desa – desa wisata yang sedang katanya gencar – gencarnya dipromosikan. Terutama Air Terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang yang berlokasi di dusun Menggoran, desa Bleberan, kecamatan Playen, kabupaten Gunungkidul.

Foto – foto lebih banyak bisa dilihat di [Picasaweb Album di sini]

UPDATE:

Air Terjun Sri Gethuk dapat ditempuh dari kota Wonosari ke barat melalui Playen (sekitar 5 km), atau yang dari Yogya bisa belok kiri di pertigaan Gading menuju Playen, dari kota Playen ambil jalur menuju Paliyan kira – kira 1 km sampai menemukan papan penunjuk arah ke Air Terjun Sri Gethuk. Ikuti penunjuk arah itu ke barat kira-kira 7km. Papan penunjuk arah sampai Air Terjun yang berjumlah banyak sangat mudah diikuti bahkan oleh pengunjung yang belum hafal daerah

Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Iedul Fitri 1432 H

Alhamdulillah, pagi ini kami, warga Desa Grogol telah menyelenggarakan shalat Iedul Fitri di bawah cuaca yang sangat bagus, khusuk sekaligus meriah. Hanya ucapan Mohon Maaf Lahir Batin yang bisa saya tuliskan dan foto – foto yang dapat saya bagikan. Untuk foto – foto lebih banyak, silakan click thumb nail di atas.

Preview nya satu foto saja ya, hehe

Dari Iedul Fitri 1432 H