Paradok: Satu Keluarga Berduka, Tetangganya Pesta – Pesta

Salah satu keluarga tetangga saya saat ini sedang berduka. Keluarga itu pada malam hari ini sedang menyelenggarakan amalan tahil/yasinan. Salah satu anggota keluarga mereka pagi tadi meninggal dunia dan baru dikebumikan siang hari tadi setelah waktu shalat Jum’at. Semoga dosa kekhilafan wo Ngadinah diberikan ampunan oleh Allah dan arwahnya mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya. Wo Ngadinah adalah nenek dari kawan saya Mina dan Ari.

Saya menyebutnya sebagai suatu Paradox, ketika pada malam yang sama ada keluarga bertahlil dalam duka, sementara tidak jauh dari rumah duka, tetangga yang lain sedang pesta – pesta hajatan. Musik dangdut diputar dengan lantang. Bahkan suara dari sound system di tempat hajatan masih meraung – raung pada jam 22 -an WIB saat saya menuliskan unek – unek ini sambil tidak habis pikir geleng – geleng kepala pusing – pusing.

Perlu saya jadikan catatan bagi diri saya sendiri terutama, selain ada satu keluarga yang sedang berduka kesripahan, ada beberapa tetangga lain, yaitu mbah Mento, mbah Wir Mangil, mbah Karso, mbah Ponco dan beberapa beliau berusia sepuh ini sedang sakit lanjut usia.

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa sudah lumrah sejak lama, di setiap pesta/hajatan di lingkungan dimana saya tinggal tidak terpisahkan dengan yang namanya memutar musik dangdut sampai larut malam. Itu belum cukup. Masih dilanjutkan dengan memutar Wayang Kulit semalam suntuk sampai subuh. Habis itu dilanjut musik dangdut lagi dan aneka bunyi – bunyian lain sampai acara hajatan kelar.

Barangkali pada jaman dulu, pemutaran bunyi – bunyian seperti itu menjadi hiburan yang dinikmati secara jamaah oleh lingkungan pedesaan dimasa saya tinggal. Itu dulu. Tanya saya, masih relevankah sekarang di tahun 2011 ini. Dimana tiap – tiap orang mempunyai beban hidup dan tanggung jawab individu yang berbeda – beda, memainkan peran sosial yang makin beragam.

Berapa banyak sih kalau ditanya orang – orang di lingkungan dimana saya tinggal menikmati suara gaduh bunyi bunyian musik dangdutan yang dimuntahkan dengan lantang oleh sound system, kalau tidak mau dibilang malah mengganggu ketentraman keamanan ketertiban lingkungan.

Tidak lebih elegankah bila perhelatan pesta/hajatan dilangsungkan di gedung – gedung pesta seperti yang akhir – akhir ini mulai dipilih sebagian kalangan? 😦

Posted with WordPress for BlackBerry 1.5 via Telkomsel network

Iklan

5 thoughts on “Paradok: Satu Keluarga Berduka, Tetangganya Pesta – Pesta

  1. Bisa jadi kan mereka tidak mampu untuk gelar hajatan di gedung-gedung? Tapi ya bukan berarti mereka bisa setel dangdutan sampe subuh gitu dan mengganggu tetangga sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s