Review AKG N20, In Ear Headset Berfitur Basic Dengan Kemampuan Reproduksi Suara Mengagumkan

Sejujurnya saya tidak pernah berencana untuk membeli headset AKG N20. Sebelumnya pilihan saya sudah mantab dengan JBL Endurance Jump. Sebuah wireless sport headset yang sedianya akan saya gunakan sebagai pengusir kebosanan dalam latihan marathon yang menjemukan.

Semua bermula ketika saya mencoba beberapa jenis headset yang terpajang di JBL Outlet Ambarukmo Plaza. Berbekal dengan sebuah smartphone Zenfone 5 dan aplikasi Spotify Premium saya mencoba mulai dari JBL Inspire 700, JBL E25BT, JBL Endurance Run, AKG Y10, AKG N20U, AKG N20 NC, AKG N20LT dan beberapa jenis headset in ear lainnya.

Suara vokal Zayn & Sia yang mengalunkan Dusk Till Dawn ke telinga saya melalui AKG N20 membuat saya mulai jatuh hati. Dengan headset ini saya memutar lagu ini sekali lagi, dengan streaming quality saya set: very high. Kali ini telinga saya mendapatkan suara Zayn rasanya terdengar lebih seksi sekaligus greget.

Makin penasaran dengan kemampuan AKG N20 mereproduksi suara vokal, nada-nada menengah yang kaya, nada-data treble yang menurut saya diamond cut precicion, serta nada sub bass yang mendebarkan membuat saya mencoba beberapa lagu seperti Hotel California (Eagle), Black Magic Woman (Santana), My Love is your Love (Whitney Houston), dan Mengapa (Nicky Astria). Baca lebih lanjut

Harga Gitar Akustik dan Tips Menggunakannya untuk Pemula

gitar-akustik-yamaha-fx310

Kebanyakan diantara anak muda memang memiliki hobby yang berhubungan dengan musik. Entah itu sebatas menyanyi atau menggunakan alat musik. Salah satu jenis alat musik yang banyak mereka miliki sendiri adalah gitar. Khususnya gitar akustik, merupakan jenis alat musik petik yang umum dimainkan oleh anak muda, dari segi harga gitar akustik ini sendiri tak begitu mahal jika dibandingkan dengan listrik sehingga banyak yang menjadikannya sebagai pilihan untuk coba menguasai nada-nada baru. Baca lebih lanjut

Ngayogjazz 2016, Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama

Bila pada tahun 2015 saya gagal nonton Ngayogjazz karena ada sesuatu yang mendadak di Jakarta, alhamdulillah pada tahun 2016 saya berhasil menonton gelaran Ngayogjazz yang bertajuk Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama. Apa itu Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama? Nanti di bagian lain posting ini akan saya coba ceritakan. 😀

Ngayogjazz 2016 kali ini mengambil tempat di Padukuhan Kwagon, Godean, Sleman, Yogyakarta. Ini merupakan pedukuhan di agak jauh di sebelah barat kota Yogyakarta. Tempat yang baru pertama kali menjadi shohibul bait Ngayogjazz. Sebelumnya adalah di Brayut (2015), Brayut lagi (2014), Sido Akur (2013), Brayut lagi (2012). Ngayogjazz sebelum tahun 2012 yang bertempat di Kotagede dan Bantul saya belum nonton.

Berangkat dari kota Yogyakarta sekitar pukul 17:00 WIB saya sampai di Kwagon sudah cukup petang, sudah lepas adzan Maghrib. Rupanya Padukuhan Kwagon ini jauh juga dari kota. Kemacetan kota sore itu rasanya “menambah” jarak ke lokasi gelaran Ngayogjazz. Padahal saya ingin sampai di sana ketika senja. Karena biasanya waktu senja ada banyak hal fotojenik dari pernak-pernik pentas jazz yang legendaris ini.

Sudahlah … Saya memotret ini saja sebagai penanda kehadiran saya di Ngayogjazz 2016.

img_20161119_181129

Apalagi yang saya lakukan di Ngayogjazz selepas Maghrib? Tentu saja saya jalan-jalan dulu menikmati suasana. Artis-artis keren seperti Fariz RM akan pentas lebih malam. Foto sana sini seperti ini hitung-hitung sambil menunggu.  Baca lebih lanjut

45 Grup Campursari Meriahkan Pagelaran Campursari 90 Jam Nonstop di Alun Alun Gunungkidul

Daftar Grup Campursari dalam Pagelaran Campursari 90 Jam Nonstop di Gunungkidul

Daftar Grup Campursari dalam Pagelaran Campursari 90 Jam Nonstop di Gunungkidul

Berikut ini merupakan Daftar Grup Campursari dalam Pagelaran Campursari 90 Jam Nonstop di Gunungkidul. Mulai pada Hari Sabtu, 21 Mei 2016 sampai Rabu, 25 Mei 2016.

Sabtu, 21 Mei 2016

  1. Pukul 21:00 – 23:00 WIB Tita Arum dari Boyolali
  2. Pukul 23:00 – 01:00 WIB New CSGK Pimpinan Pak Yuni dari Playen

Minggu, 22 Mei 2016

  1. Pukul 01:00 – 03:00 WIB CS dari Kecamatan Wonosari
  2. Pukul 03:00 – 05:15 WIB CS dari Kecamatan Playen
  3. Pukul 05:15 – 07:15 WIB CS dari Kecamatan Patuk
  4. Pukul 07:15 – 09:15 WIB CS dari Kecamatan Gedangsari
  5. Pukul 09:15 – 11:15 WIB Campursari Anak Anak
  6. Pukul 11:15 – 13:30 WIB CS Fokus D Java (Yogya)
  7. Pukul 13:30 – 15:45 WIB Campursari CSGL (Yogya)
  8. Pukul 15:45 – 18:oo WIB CS Sabdo Palon (Sukoharjo)
  9. Pukul 18:00 – 20:15 WIB CS Pemkot
  10. Pukul 20:15 – 22:15 WIB CS dari Pemkab Tegal
  11. Pukul 22:15 – 00:15 WIB CS dari Kabupaten Karang anyar

Baca lebih lanjut

Michael Learn to Rock & Easy Listening Song

Adalah lagu Michael Learn to Rock yang pertama kali saya kenal. Saya mulai mengenalnya setelah sesekali melihat video clip nya yang nongol di televisi dan sekali dua mendengarnya di radio lokal. Entah karena terbawa teman-teman sepermainan saya yang suka menyanyi Nothing to Loose di kamar mandi, lama-lama saya pun menjadi familier dengan lirik lagu ini. Saya jatuh suka pada vokal Jascha Richter yang easy listening.

Saat itu saya kelas dua sekolah menengah. Suka dengerin musik berarti harus suka radio, mau tidak mau. Kaset dan CD adalah kemewahan yang tak terbeli oleh kami. iTune dan Youtube adalah istilah yang barangkali hanya alien yang tahu. Ada satu hal lucu yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh anak-anak jaman sekarang. Yaitu betapa gigih usaha yang harus dilakukan untuk mendapat lirik lagu-lagu terbaru.

Begini yang dilakukan:

Bila di radio akan diputar sebuah lagu baru, beberapa anak akan berkumpul, duduk tenang, hening dengan pulpen dan kertas di tangan. Begitu lagu diputar mereka akan menuliskan liriknya sebisa telinga mereka menangkapnya. Setelah lagu usai mereka akan mencocokan apa yang bisa ditulis. Saling tambal “missing lyric” atau memperbaiki yang salah eja. Bila yang mereka lakukan bersama-sama itu belum baik, mereka akan menunggu lagu yang sama diputar di radio lagi. Kemudian catatan lirik lagu ini akan mereka bukukan dan biasanya akan menjadi sesuatu yang laris jadi pinjaman. hihi. Kalau jaman sekarang tinggal ketik di Google semua beres ya. 😀

Ngomong-ngomong menulis posting ini sambil dengerin lagu-lagunya MLTR kok hampir semua lagu yang saya hafal lagi liriknya. Ini mengingatkan saya pun pernah menyalin lirik-lirik lagu itu dari buku kumpulan lirik yang saya pinjam dari teman sekelas saya, Usman, padahal saya tidak pernah bisa dan tidak pernah suka nanyi beneran. 😀

Tung Tak Tung Jazz, Ngayogjazz 2014

Esensi ngayogjazz adalah hujan-hujan. Begitu seorang kawan meyakinkan saya agar tidak jera untuk datang lagi menikmati ritual ngayogjazz tahun ini di Dewa (Desa Wisata) Brayut, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Saya memang ragu apakah tahun ini saya akan ke ngayogjazz apa tidak. Ini tidak lepas dari pengalaman saya hampir masuk angin ketika pada tahun 2012 saya kedinginan dan hujan-hujanan di tengah-tengah Ngayogjazz. Ngayogjazz yang sama-sama bertempat di Desa Brayut. Hujan-hujanan yang tidak kalah basah terjadi pada Ngayogjazz tahun 2013 di Desa Sidoakur, Godean, Sleman, Yogyakarta.

Ngayogjazz memang selalu unik dan kreatif. Konsep membaur dan merakyatnya saya kira tidak akan pernah ada di tempat lain. Inilah yang menghapus bimbang saya.

Tidak peduli pagi harinya (Sabtu, 22 November 2014) saya sudah menguras banyak energi mengikuti 11 K Birthday Run Indo Runner chapter Yogyakarta, sore harinya saya lanjutkan mengeluarkan motor dari rumah. Motor yang akan saya kendarai sejauh lebih dari 50 km menuju Desa Wisata Brayut dimana Tung Tak Tung Jazz dihelat.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya memperkirakan akan sampai dalam waktu 1 jam. Saya berangkat jam 4 sore berharap akan tiba di sana sekitar pukul 5 menjelang Maghrib. Saya membayangkan jam-jam itu adalah waktu ideal memotret kreatifitas yang bertaburan di Ngayogjazz sepanjang sore.

Sayang keberuntungan kurang begitu berpihak. Macet di Jalan Wonosari – Jogja menahan laju saya. Kenaikan harga BBM rupanya tidak cukup menghalangi nafsu orang untuk berwisata ke Gunungkidul. Banyaknya bus wisata dan kendaraan pribadi wisatawan, diperparah oleh sebuah truk rusak membuat ruas jalan Pathuk, Gunungkidul sampai Piyungan macet total dengan panjang macet sekitar 5 km. Perjalanan Rumah – Ngayogjazz yang seharusnya cukup sekitar 1 jam berubah menjadi 2,5 jam.

554

Sekitar pukul 18:30 WIB tempat-tempat parkir di area Ngayogjazz penuh. Beruntung saya masih mendapat satu slot  parkir di SMA N 2 Sleman.

555

Saya segera bergegas menembus kepadatan manusia di Ngayogjazz, melihat peta panggung dan jadwal pentas untuk kemudian menuju Panggung Bangbung dimana Dewa Bujana melakukan pertunjukan. Manusia berjubel di depan dan kanan kiri Panggung Bambung. Panggung Bang Bung -nya sendiri tidak cukup terlihat dari balik manusia yang berjubel. Saya berusaha menengok Panggung Bang Bung dengan memanjat pagar tembok seperti orang-orang yang lain. Hanya untuk mendapati bahwa menembus ke depan panggung itu susah.

589

592

Meski sulit, saya pun berusaha legowo untuk tidak merangsek ke depan. Saya legowo dengan mencoba menikmati permainan gitar bujana dengan telinga dan dari kejauhan saja. Tidak apa-apa tanpa melihat wajah Bujana. Aku ora popo.

607

609

613

Dewa Bujana kelar, saya pun menuju ke panggung yang lain. Sayup-sayup terdengar suara seorang MC Senior yang sudah lama hilang dari peredaraan. Ia adalah Endro Plered. Saya pun segera mendekat ke panggung itu dan ketawa ketiwi bebarengan dengan penonton-penonton lain yang mulai merangsek ke depan panggung. Blues is another Jazz. Di Panggung ini artis nge-blues Syarif Hidayatullah saya nikmati beberapa permainan lagunya.

Panggung yang menurut saya berdesain paling unik dan indah dengan konsep hutan cahayanya adalah Panggung Dang Dung. Di sinilah saya menyelesaikan menonton Ngayogjazz dengan pementasan Band Syahdu yang luar biasa.

578

621

622

625

Oh iya…

Ada satu hal yang menurut saya istimewa dalam Ngayogjazz 2014 ini. Dalam 3 pentas Ngayogjazz yang terakhir, ini adalah satu-satunya Ngayogjazz yang tidak diguyur hujan. Sehingga pengalaman ber-ngayogjazz bisa dinikmati tanpa khawatir masuk angin. Sekaligus bisa dianggap sebagai satu-satunya Ngayogjazz “tanpa esensi”, tanpa hujan-hujanan. Ini sekaligus menjadi berkah bagi warga Desa Brayut yang aneka dagangannya laris manis tanpa takut rusak oleh hujan. Mati listrik di sepenjuru desa yang terjadi sejak pukul delapan malam tidak begitu masalah. Malah menciptakan potongan-potongan romantisme.

Lorong Gumantung Tresnamu/Lurung Gumantung Atimu

Lorong Gumantung Tresnamu/Lurung Gumantung Atimu

Menurut Mas Lantip desa dimana yang akan ditempati Ngayogjazz itu “pepulungan”, serba kebetulan, termasuk tahun 2014 yang “balen” di Brayut maupun dimana Ngayogjazz 2015. Apakah #ngayogjazz 2015 kelak akan diguyur hujan atau tidak itu juga sepenuhnya hak prerogatif Gusti Alloh, bukan tergantung kinerja pawang hujan apalagi pawang ular.

Semoga kita senantiasa Sehat Jazz-mani dan Rohani. Sampai Jumpa di Ngayogjazz 2015, bila kita dikaruniai umur panjang! 🙂

Merekam Video dengan iPhone 5s

Menginginkan bisa merekam video dengan bagus dengan menggunakan kamera ponsel seolah kedengaran kurang kerjan. Kalau ingin merekam video berkualitas bagus kenapa tidak mau sedikit repot menggunakan Camcorder atau DSLR yang mempunyai fitur perekaman video yang baik. Benar juga sih.

Tapi ini bukan perkara mau repot apa engga. Tidak jarang keadaan memaksa kita dengan tidak memungkinkan membawa Camera atau Camcorder. Entah itu karena alasan kepraktisan maupun ya karena larangan. Misalnya di dalam sebuah konser musik, seorang penonton dilarang untuk membawa Camera atau Camcorder. Namun diperbolehkan tetap membawa ponsel masing-masing.

Selain itu merekam video dengan menggunakan ponsel/smartphone memiliki beberapa kelebihan selain alasan kepraktisan dan portabilitasnya. Dengan iPhone 5s misalnya, saya bisa langsung menyunting video yang baru saja direkam dengan aplikasi yang bernama iMovie. Kemudian saat itu juga kita bisa langsung mengunggahnya ke Youtube via koneksi 3G maupun Wi-fi yang saat ini terdapat dimana-mana.

Mengunggah video kemana pun boleh ding, tidak harus ke Youtube. Video bisa mudah diunggah ke Vimeo, Facebook, Vine, Flickr dan layanan-layanan lain sejenis. Berikut ini adalah salah satu video konser musik yang saya rekam dengan iPhone 5s. Video berformat HD ini tentu saja berukuran file sangat gendut. Untungnya saya bisa mengunggahnya melalui jaringan internet Speedy. 🙂

Video ini saya ambil beberapa waktu yang lalu ketika saya menonton konser Closer2Tulus di Liquid Cafe Yogyakarta. Di video memang tidak saya beri titel apa lagu ini. Karena saya memang tidak mengenal Tulus sebelumnya dan belum cukup akrab dengan karya musiknya, hehehe.