Masyarakat Yogya Deklarasikan Gerakan #AntiMiras

Minuman Keras (Miras) sudah sejak lama menjadi masalah dan biang keresahan di masyarakat. Miras sering kali didapati sebagai biang dari berbagai tindak kriminalitas dan banyak kecelakaan mematikan. Kita sering kali mendengar kecelakaan lalu lintas yang belakangan diketahui disebabkan oleh pengendara yang sedang dalam pengaruh minuman keras. Pun Miras bukan hanya menjadi masalah di perkotaan. Di pedesaan dimana saat ini saya tinggal pun miras dari dulu sampai sekarang tetap menjadi penyebab banyak masalah sosial.

Ini disebabkan salah satunya oleh  mudahnya akses masyarakat terhadap miras. Tidak peduli berapa umurnya, sekarang ini dimana-mana di Indonesia mendapatkan minuman keras sama mudahnya. Tak heran sejak dini anak-anak bangsa ini sudah banyak yang akrab dengan miras, bahkan telah mengkonsumsinya secara rutin karena kecanduan.

We Support #AntiMiras

We Support #AntiMiras

Peredaran Miras yang memasyarakat bukan berarti karena bahayanya tidak diketahui. Hampir semua orang sudah tahu apa bahanyanya. Yang kurang saat ini adalah kepedulian  terhadap dampak miras. Pemerintah pun seolah setengah hati dalam membuat regulasi peredaran Miras, apalagi penegakannya di lapangan. Regulasi peredaran miras sudah longgar, di lapangan masih ditambah dengan banyak praktek pembiaran.

Salah satu contoh kasus pembiaran peredaran miras ilegal terjadi di Wonosari Gunungkidul yang menyebabkan habisnya kesabaran banyak elemen masyarakat. Sampai masyarakat harus turun dengan tangannya sendiri melakukan penggrebegan. Adalah terjadi pada hari Sabtu malam tanggal 1 Februari 2014, beberapa organisasi masyarakat seperti Forum Jihad, Hizbullah, Komando Keamanan Muhammadiyah melakukan penggrebegan miras milik Marni di Karangsari, Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul. Penggrebegan yang membuat  pihak kepolisian kebakaran jenggot karena belakangan diketahui Marni merupakan keluarga seorang oknum polisi yang bertugas di Gunungkidul. Baca lebih lanjut